Dengan penuh rasa hormat, izinkan saya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Bapak Menteri Pertahanan Republik Indonesia, atas genap satu tahun pengabdian di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto.
Dalam waktu yang singkat namun sarat makna ini, Bapak telah menunjukkan keteguhan, visi, dan komitmen besar dalam membangun sistem pertahanan negara yang modern, tangguh, dan berpihak pada kepentingan Nasional. Langkah langkah reformasi kelembagaan, peningkatan kesejahteraan prajurit, serta penguatan industri pertahanan menjadi bukti nyata dari dedikasi Bapak untuk kejayaan Bangsa.
Semoga segala ikhtiar dan perjuangan Bapak senantiasa mendapat ridho Alloh SWT, serta menjadi bagian dari perjalanan besar menuju Indonesia yang semakin kuat, bersatu, dan berdaulat.
Bukan sekadar tanggal, bukan sekadar bulan. Ia adalah ruang waktu yang mengingatkan kembali tentang perjalanan.
Yang memilih untuk terus menyala, bukan sekadar menyulut. Yang berusaha memberi, bukan hanya mengajar. Yang mencoba tetap tegak, meski sering dalam sunyi. Yang menanam benih nilai, bukan untuk dipetik buru-buru, melainkan untuk diwariskan dalam perjalanan panjang.
Hari ini adalah anugerah, kesempatan untuk menoleh ke belakang sejenak — melihat jejak, syukur, dan pelajaran. Juga saat untuk menatap ke depan dengan doa dan harapan. Semoga cahaya yang sudah dinyalakan tidak padam, semoga langkah yang sudah ditempuh tetap memberi arti, semoga setiap nafas yang tersisa menjadi ladang amal kebaikan.
Terima kasih untuk setiap cinta, doa, dan kebersamaan yang telah hadir selama ini. Ada tawa, ada air mata, ada kesetiaan dalam bentuk-bentuk yang sederhana. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang layak disyukuri.
21 September.
Semoga Alloh selalu melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan kedamaian. Semoga cahaya ini terus terjaga, agar hidup tetap menjadi lentera bagi siapa pun yang membutuhkan arah.
Perubahan Dimulai dari Diri: Jalan Sunyi yang Menggema
Banyak orang berkata: “Kami ini kecil, tidak mungkin bisa mengubah negeri sebesar Indonesia.” Kalimat ini terdengar rendah hati, tapi kalau ditelan mentah-mentah, ia bisa berubah jadi dalih malas, bungkus manis dari sikap apatis.
Padahal, Alloh sampun paring dawuh: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini jelas. Perubahan bangsa tidak lahir dari teriakan kosong di mimbar politik, apalagi dari komentar sarkastis di media sosial. Ia dimulai dari perubahan diri—jagad alit—yang kemudian menular menjadi getaran perubahan bagi jagad ageng.
Jagad Alit vs Jagad Ageng
Orang Jawa menyebut manusia sebagai jagad alit (alam kecil), sedangkan dunia luas ini jagad ageng (alam besar). Barang siapa mampu menaklukkan jagad alit, ia sejatinya sedang membuka pintu pengaruh bagi jagad ageng. Maka tidak benar bila perubahan dianggap mustahil hanya karena jumlah kita sedikit. Segelintir yang jernih hatinya bisa menggerakkan arus sejarah.
Transformasi Ruhani: Dari Pasrah ke Tegas
Mengaku kecil boleh, tapi jangan kecilkan semangat. Perubahan diri bukan berarti menyerah, tapi strategi tertinggi: memperkuat pondasi iman, membersihkan hati, dan menegakkan disiplin amal. Orang yang jernih batinnya tidak perlu banyak bicara—getarannya saja cukup untuk mengguncang lingkungannya.
Politik Ruhani, Bukan Sekadar Politik Bendera
Banyak yang merasa paling NKRI hanya karena pandai teriak “NKRI Harga Mati”, tapi lupa bahwa NKRI butuh jiwa yang bersih, bukan sekadar slogan. Politik yang paling menentukan bukanlah politik kursi, melainkan politik hati. Kalau hati ini keropos, negeri sebesar apa pun akan runtuh. Tapi bila hati bersih, sekecil apa pun lingkarannya, ia bisa jadi mercusuar bangsa.
Jejak Kanjeng Rasūlulloh
Rasūlulloh tidak menunggu jadi mayoritas. Beliau memulai dari diri sendiri, keluarga, lalu sahabat dekat. Dari lingkaran kecil itulah lahir peradaban yang mengguncang dunia. Itulah strategi abadi: minoritas yang kokoh lebih bernilai daripada mayoritas yang rapuh.
Kesimpulan Perubahan tidak butuh orang yang merasa paling nasionalis, paling NKRI, atau paling pahlawan. Perubahan butuh manusia yang sanggup menyalakan pelita di dadanya sendiri. Karena perubahan besar selalu berawal dari perubahan yang paling sunyi: perubahan diri.
Dan mungkin inilah hadiah terbesar untuk negeri: ketika kita mampu menjaga iman, mengasah akhlak, dan menegakkan kebenaran—tanpa perlu sibuk mengklaim paling cinta tanah air.
Sejarah mencatat, ketika Rasululloh hijrah ke Madinah pada tahun 622 M, beliau tidak mewarisi negeri yang stabil. Madinah kala itu penuh luka. Dua kabilah besar, Aus dan Khazraj, baru saja mengakhiri perang panjang. Komunitas Yahudi memegang kendali ekonomi, sementara Abdullah bin Ubay bin Salul dan kelompok munafiknya menebar intrik dari dalam. Negeri itu rapuh, rawan meledak kapan saja.
Namun Rasul tidak datang dengan pedang untuk menaklukkan, melainkan dengan akhlak dan kebijakan untuk merangkul. Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang menjadikan semua golongan—Muslim, Yahudi, bahkan musyrik—setara di bawah hukum yang sama.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat Alloh orang-orang yang bersaudara.” (Āli ‘Imrān: 103)
Langkah berikutnya, Rasul mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, menyatukan pendatang dan pribumi, kaya dan miskin, hingga lahir kekuatan baru yang berakar pada persatuan.
Dalam perjalanan berikutnya, ketika Madinah diguncang perang demi perang, dari Badar (624 M), Uhud (625 M), hingga Khandaq (627 M), Rasul mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya soal jumlah pasukan, tapi soal disiplin, inovasi, dan keberanian moral. Kekalahan di Uhud menjadi cermin, bahwa sebuah bangsa bisa runtuh bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh kelalaian dan ketidaktaatan dari dalam.
“Seorang mukmin tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhārī dan Muslim)
Puncaknya, saat Rasul memasuki Makkah pada tahun 630 M dengan kekuatan penuh, beliau memilih memaafkan musuh-musuhnya. Tidak ada balas dendam, tidak ada penghakiman massal. Kata-kata beliau menggema di hadapan orang-orang yang dulu mengusir dan menyakitinya:
“Pergilah, kalian bebas.” (HR. Ibn Hishām dalam Sīrah Nabawiyyah)
Itulah strategi rekonsiliasi paling agung dalam politik manusia.
Refleksi untuk Indonesia
Jika saja para pemimpin hari ini meneladani Rasululloh, tentu Indonesia tidak akan terjebak dalam lingkaran konflik yang melelahkan. Tidak akan ada lagi kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir golongan, sementara rakyat banyak dibiarkan lapar. Tidak akan ada lagi perebutan kuasa dengan intrik yang mengorbankan masa depan bangsa.
Bayangkan bila setiap keputusan politik diambil dengan semangat Piagam Madinah: konstitusi yang adil bagi semua. Bayangkan bila setiap konflik disikapi dengan jiwa persaudaraan Muhajirin–Anshar: tidak ada kesenjangan, tidak ada saling curiga. Bayangkan bila setiap kekalahan bangsa dipahami seperti Uhud: bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk bercermin dan memperbaiki diri. Bayangkan bila setiap kemenangan politik ditutup dengan sikap pemaaf Rasul saat Fathu Makkah: kekuasaan bukan untuk balas dendam, tapi untuk menebar rahmat bagi seluruh rakyat.
Indonesia hari ini menghadapi ancaman yang tak kalah besar dari Madinah masa lalu: perpecahan sosial, infiltrasi asing, korupsi, hingga perang informasi. Namun sejarah Madinah mengajarkan, jalan keluar bukanlah saling menuding, melainkan kepemimpinan yang berani, adil, dan mempersatukan.
“Sesungguhnya Alloh memerintahkan (kamu) untuk berlaku adil, berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat; dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Naḥl: 90)
Jika saja para pemimpin seperti Rasululloh negeri ini akan berdiri tegak di atas pondasi keadilan dan kasih sayang. Bukan sekadar kuat dalam ekonomi atau militer, tapi kokoh dalam ruhani. Sebab sejatinya, kekuatan sebuah bangsa tidak terletak pada senjatanya, melainkan pada akhlaknya.
Sentuhan Adab Jawa
Tulisan ini kiranya bisa menjadi pengeling-eling bagi kita semua, bahwa kepemimpinan sejati bukan semata perkara kuasa atau kekuatan, melainkan perkara welas asih, keadilan, dan keluhuran budi.
Dalam laku Jawa, seorang pemimpin itu dianggep pepundhen. Bukan untuk disembah, tetapi untuk digugu lan ditiru. Yang utama bukan apa yang diucapkan, melainkan bagaimana ia menuntun, nguwongke wong, dan ngemong rakyatnya.
Sebagaimana pepatah Jawa ngendika: “Memayu hayuning bawana, ambrasto dur angkara.” Kewajiban luhur manusia adalah menjaga keindahan dunia, sekaligus meredam angkara murka. Begitulah mestinya kepemimpinan hadir: nggulowentah, ngopeni, lan maringi rasa teduh.
Kiranya bangsa ini akan tegak bila para pemimpin mampu ngrekso rakyat dengan rasa adil, dan rakyat pun sami legowo ngluhurake aturan, kanthi dasar gotong royong.
Doa Penutup
Allohumma, anugerahkanlah kepada negeri kami pemimpin-pemimpin yang meneladani RasulMu. Pemimpin yang adil, berani, dan penuh kasih sayang. Jauhkan bangsa kami dari perpecahan, fitnah, dan tangan-tangan yang ingin merusak persatuan. Satukan hati kami dalam kebenaran, kokohkan langkah kami dalam keadilan, dan limpahkan rahmatMu agar negeri ini menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.
Tujuan: Mengosongkan diri dari sifat negatif, kotoran batin, dan gangguan energi luar.
Praktik Murni:
Mandi niat (air dicampur doa dan unsur bumi tertentu).
Dzikir istighfar berbilangan sesuai ijazah.
Puasa ngrowot/ngalong untuk pelemahan ego.
Catatan Sanad: Inilah gerbang awal, tanpa ini latihan fisik dan metafisika hanya akan menjadi kosong dan berbahaya.
2. Tahalli (Pengisian)
Tujuan: Mengisi diri dengan dzikir, akhlak, dan energi yang lurus.
Praktik Murni:
Dzikir lailaha illallah dengan pola pernapasan sanad (tarikan–tahanan–hembusan, angka tertentu).
Tawassul kepada guru-guru sanad, wali-wali Allah, dan leluhur.
Latihan postur Tapak Ksatria (kuda-kuda utama) sambil dzikir diam.
Catatan Sanad: Di sini mulai ada getaran awal tenaga dalam, biasanya terasa hangat di telapak tangan/kaki.
3. Tajalli (Penyatuan Unsur)
Tujuan: Menyatukan unsur tubuh (tanah, air, api, udara) dengan unsur di luar tubuh.
Praktik Murni:
Nafas Tali Batin (tarikan dalam dari bumi, ditahan di pusat, dikeluarkan ke alam atas).
Jurus Getar Jagad versi lambat untuk membangun resonansi.
Dzikir qalbu dengan memusatkan cahaya di dada lalu diperluas ke seluruh tubuh.
Catatan Sanad: Inilah kunci mengapa tubuh menjadi “anti tembak” atau “tahan pukulan” — karena gelombang energi tubuh dan alam sudah senyawa.
4. Sirrul Qalbi (Rahasia Hati)
Tujuan: Memasuki kesadaran lapis dalam untuk memerintah tubuh tanpa benturan ego.
Praktik Murni:
Dzikir ismudzat (Allah, Allah…) dengan gerakan mikro tangan/kaki.
Laku sunyi (semadi) di tempat berenergi tinggi — gunung, hutan, atau sungai.
Latihan pertahanan pasif dengan menahan serangan fisik sambil meleburkan energi lawan.
Catatan Sanad: Ini fase di mana serangan fisik keras hanya terasa seperti tekanan, bukan luka.
5. Haqqul Yaqin (Puncak Penguasaan)
Tujuan: Mengalirkan energi tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk melindungi dan membantu orang lain.
Praktik Murni:
Gerakan Getar Jagad Tingkat Tujuh (rahasia).
Dzikir Nurun Ala Nur — cahaya dari cahaya, dilatihkan hingga menyatu tanpa putus.
Transmisi energi untuk penyembuhan atau proteksi kolektif.
Catatan Sanad: Hanya diberikan pada murid yang lulus ujian lahir–batin, karena efeknya melibatkan tanggung jawab besar.
Kalau jalur ini dipahami murni sesuai sanad, maka posisi "anti tembak" dan "tahan pukulan benda keras" bukan mitos — melainkan hasil dari penyatuan unsur tubuh–ruh–alam sehingga hantaman fisik kehilangan “akses” untuk merusak jaringan tubuh.
📚 Corpus ajaran yang bersifat esoterik dan hanya diturunkan pada murid terpilih
📌 Makna Nama:
Adhi = Unggul, tinggi, transenden
Jñāna = Pengetahuan batin/spiritual
🧠 Isi Pokok:
Tataran Kesadaran Lima Lapisan (Pañca Kosha)
Mengupas struktur kesadaran manusia mulai dari:
Annamaya kosha (tubuh fisik)
Pranamaya kosha (energi hidup)
Manomaya kosha (pikiran/emosi)
Vijnanamaya kosha (pengetahuan intuitif)
Anandamaya kosha (kebahagiaan ilahi)
Teknik Transformasi Energi:
Pengolahan tenaga dalam menjadi senjata spiritual
Penggunaan mantra dan mudra untuk membuka gerbang alam gaib
Hukum Resonansi Jiwa (Gati Jiva):
Prinsip bahwa setiap niat, pikiran, dan tindakan akan membentuk pola getar, yang akan beresonansi ke dalam struktur semesta (mirip dengan hukum karma namun lebih berbasis frekuensi energi).
⚔️ Fungsi Strategis:
Menjadi dasar ajaran Silat Getar Jagad
Digunakan dalam pelatihan kader intelijen spiritual (pengendalian diri, deteksi niat, pelumpuhan non-fisik)
Gus Nggedabrus
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan penuh rasa hormat, izinkan saya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Bapak Menteri Pertahanan Republik Indonesia, atas genap satu tahun pengabdian di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto.
Dalam waktu yang singkat namun sarat makna ini, Bapak telah menunjukkan keteguhan, visi, dan komitmen besar dalam membangun sistem pertahanan negara yang modern, tangguh, dan berpihak pada kepentingan Nasional.
Langkah langkah reformasi kelembagaan, peningkatan kesejahteraan prajurit, serta penguatan industri pertahanan menjadi bukti nyata dari dedikasi Bapak untuk kejayaan Bangsa.
Semoga segala ikhtiar dan perjuangan Bapak senantiasa mendapat ridho Alloh SWT, serta menjadi bagian dari perjalanan besar menuju Indonesia yang semakin kuat, bersatu, dan berdaulat.
Dengan hormat dan doa terbaik,
*_Pejalan Sunyi_*
2 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
https://gusmasruralmalangi.blogspot.com/2025/09/hakikat-pengabdian-jejak-dalam.html
3 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
21 September
Bukan sekadar tanggal, bukan sekadar bulan. Ia adalah ruang waktu yang mengingatkan kembali tentang perjalanan.
Yang memilih untuk terus menyala, bukan sekadar menyulut. Yang berusaha memberi, bukan hanya mengajar. Yang mencoba tetap tegak, meski sering dalam sunyi. Yang menanam benih nilai, bukan untuk dipetik buru-buru, melainkan untuk diwariskan dalam perjalanan panjang.
Hari ini adalah anugerah, kesempatan untuk menoleh ke belakang sejenak — melihat jejak, syukur, dan pelajaran. Juga saat untuk menatap ke depan dengan doa dan harapan. Semoga cahaya yang sudah dinyalakan tidak padam, semoga langkah yang sudah ditempuh tetap memberi arti, semoga setiap nafas yang tersisa menjadi ladang amal kebaikan.
Terima kasih untuk setiap cinta, doa, dan kebersamaan yang telah hadir selama ini. Ada tawa, ada air mata, ada kesetiaan dalam bentuk-bentuk yang sederhana. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang layak disyukuri.
21 September.
Semoga Alloh selalu melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan kedamaian. Semoga cahaya ini terus terjaga, agar hidup tetap menjadi lentera bagi siapa pun yang membutuhkan arah.
3 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Perubahan Dimulai dari Diri: Jalan Sunyi yang Menggema
Banyak orang berkata: “Kami ini kecil, tidak mungkin bisa mengubah negeri sebesar Indonesia.”
Kalimat ini terdengar rendah hati, tapi kalau ditelan mentah-mentah, ia bisa berubah jadi dalih malas, bungkus manis dari sikap apatis.
Padahal, Alloh sampun paring dawuh:
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini jelas. Perubahan bangsa tidak lahir dari teriakan kosong di mimbar politik, apalagi dari komentar sarkastis di media sosial. Ia dimulai dari perubahan diri—jagad alit—yang kemudian menular menjadi getaran perubahan bagi jagad ageng.
Jagad Alit vs Jagad Ageng
Orang Jawa menyebut manusia sebagai jagad alit (alam kecil), sedangkan dunia luas ini jagad ageng (alam besar). Barang siapa mampu menaklukkan jagad alit, ia sejatinya sedang membuka pintu pengaruh bagi jagad ageng. Maka tidak benar bila perubahan dianggap mustahil hanya karena jumlah kita sedikit. Segelintir yang jernih hatinya bisa menggerakkan arus sejarah.
Transformasi Ruhani: Dari Pasrah ke Tegas
Mengaku kecil boleh, tapi jangan kecilkan semangat. Perubahan diri bukan berarti menyerah, tapi strategi tertinggi: memperkuat pondasi iman, membersihkan hati, dan menegakkan disiplin amal. Orang yang jernih batinnya tidak perlu banyak bicara—getarannya saja cukup untuk mengguncang lingkungannya.
Politik Ruhani, Bukan Sekadar Politik Bendera
Banyak yang merasa paling NKRI hanya karena pandai teriak “NKRI Harga Mati”, tapi lupa bahwa NKRI butuh jiwa yang bersih, bukan sekadar slogan. Politik yang paling menentukan bukanlah politik kursi, melainkan politik hati. Kalau hati ini keropos, negeri sebesar apa pun akan runtuh. Tapi bila hati bersih, sekecil apa pun lingkarannya, ia bisa jadi mercusuar bangsa.
Jejak Kanjeng Rasūlulloh
Rasūlulloh tidak menunggu jadi mayoritas. Beliau memulai dari diri sendiri, keluarga, lalu sahabat dekat. Dari lingkaran kecil itulah lahir peradaban yang mengguncang dunia. Itulah strategi abadi: minoritas yang kokoh lebih bernilai daripada mayoritas yang rapuh.
Kesimpulan
Perubahan tidak butuh orang yang merasa paling nasionalis, paling NKRI, atau paling pahlawan. Perubahan butuh manusia yang sanggup menyalakan pelita di dadanya sendiri. Karena perubahan besar selalu berawal dari perubahan yang paling sunyi: perubahan diri.
Dan mungkin inilah hadiah terbesar untuk negeri: ketika kita mampu menjaga iman, mengasah akhlak, dan menegakkan kebenaran—tanpa perlu sibuk mengklaim paling cinta tanah air.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved.
Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
4 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Jika Saja Para Pemimpin Seperti Rasululloh.
Sejarah mencatat, ketika Rasululloh hijrah ke Madinah pada tahun 622 M, beliau tidak mewarisi negeri yang stabil. Madinah kala itu penuh luka. Dua kabilah besar, Aus dan Khazraj, baru saja mengakhiri perang panjang. Komunitas Yahudi memegang kendali ekonomi, sementara Abdullah bin Ubay bin Salul dan kelompok munafiknya menebar intrik dari dalam. Negeri itu rapuh, rawan meledak kapan saja.
Namun Rasul tidak datang dengan pedang untuk menaklukkan, melainkan dengan akhlak dan kebijakan untuk merangkul. Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang menjadikan semua golongan—Muslim, Yahudi, bahkan musyrik—setara di bawah hukum yang sama.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat Alloh orang-orang yang bersaudara.”
(Āli ‘Imrān: 103)
Langkah berikutnya, Rasul mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, menyatukan pendatang dan pribumi, kaya dan miskin, hingga lahir kekuatan baru yang berakar pada persatuan.
Dalam perjalanan berikutnya, ketika Madinah diguncang perang demi perang, dari Badar (624 M), Uhud (625 M), hingga Khandaq (627 M), Rasul mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya soal jumlah pasukan, tapi soal disiplin, inovasi, dan keberanian moral. Kekalahan di Uhud menjadi cermin, bahwa sebuah bangsa bisa runtuh bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh kelalaian dan ketidaktaatan dari dalam.
“Seorang mukmin tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.”
(HR. Bukhārī dan Muslim)
Puncaknya, saat Rasul memasuki Makkah pada tahun 630 M dengan kekuatan penuh, beliau memilih memaafkan musuh-musuhnya. Tidak ada balas dendam, tidak ada penghakiman massal. Kata-kata beliau menggema di hadapan orang-orang yang dulu mengusir dan menyakitinya:
“Pergilah, kalian bebas.”
(HR. Ibn Hishām dalam Sīrah Nabawiyyah)
Itulah strategi rekonsiliasi paling agung dalam politik manusia.
Refleksi untuk Indonesia
Jika saja para pemimpin hari ini meneladani Rasululloh, tentu Indonesia tidak akan terjebak dalam lingkaran konflik yang melelahkan. Tidak akan ada lagi kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir golongan, sementara rakyat banyak dibiarkan lapar. Tidak akan ada lagi perebutan kuasa dengan intrik yang mengorbankan masa depan bangsa.
Bayangkan bila setiap keputusan politik diambil dengan semangat Piagam Madinah: konstitusi yang adil bagi semua.
Bayangkan bila setiap konflik disikapi dengan jiwa persaudaraan Muhajirin–Anshar: tidak ada kesenjangan, tidak ada saling curiga.
Bayangkan bila setiap kekalahan bangsa dipahami seperti Uhud: bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk bercermin dan memperbaiki diri.
Bayangkan bila setiap kemenangan politik ditutup dengan sikap pemaaf Rasul saat Fathu Makkah: kekuasaan bukan untuk balas dendam, tapi untuk menebar rahmat bagi seluruh rakyat.
Indonesia hari ini menghadapi ancaman yang tak kalah besar dari Madinah masa lalu: perpecahan sosial, infiltrasi asing, korupsi, hingga perang informasi. Namun sejarah Madinah mengajarkan, jalan keluar bukanlah saling menuding, melainkan kepemimpinan yang berani, adil, dan mempersatukan.
“Sesungguhnya Alloh memerintahkan (kamu) untuk berlaku adil, berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat; dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
(An-Naḥl: 90)
Jika saja para pemimpin seperti Rasululloh negeri ini akan berdiri tegak di atas pondasi keadilan dan kasih sayang. Bukan sekadar kuat dalam ekonomi atau militer, tapi kokoh dalam ruhani. Sebab sejatinya, kekuatan sebuah bangsa tidak terletak pada senjatanya, melainkan pada akhlaknya.
Sentuhan Adab Jawa
Tulisan ini kiranya bisa menjadi pengeling-eling bagi kita semua, bahwa kepemimpinan sejati bukan semata perkara kuasa atau kekuatan, melainkan perkara welas asih, keadilan, dan keluhuran budi.
Dalam laku Jawa, seorang pemimpin itu dianggep pepundhen. Bukan untuk disembah, tetapi untuk digugu lan ditiru. Yang utama bukan apa yang diucapkan, melainkan bagaimana ia menuntun, nguwongke wong, dan ngemong rakyatnya.
Sebagaimana pepatah Jawa ngendika:
“Memayu hayuning bawana, ambrasto dur angkara.”
Kewajiban luhur manusia adalah menjaga keindahan dunia, sekaligus meredam angkara murka. Begitulah mestinya kepemimpinan hadir: nggulowentah, ngopeni, lan maringi rasa teduh.
Kiranya bangsa ini akan tegak bila para pemimpin mampu ngrekso rakyat dengan rasa adil, dan rakyat pun sami legowo ngluhurake aturan, kanthi dasar gotong royong.
Doa Penutup
Allohumma, anugerahkanlah kepada negeri kami pemimpin-pemimpin yang meneladani RasulMu. Pemimpin yang adil, berani, dan penuh kasih sayang. Jauhkan bangsa kami dari perpecahan, fitnah, dan tangan-tangan yang ingin merusak persatuan. Satukan hati kami dalam kebenaran, kokohkan langkah kami dalam keadilan, dan limpahkan rahmatMu agar negeri ini menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.
Āamiīn Yā Rabbal ‘Āalamīn.
Ditulis oleh:
Analis Pertahanan & Keamanan, Pengamal Tasawuf
4 months ago (edited) | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Tahapan Praktik Murni Sesuai Sanad Ebes
1. Takhalli (Pembersihan)
Tujuan: Mengosongkan diri dari sifat negatif, kotoran batin, dan gangguan energi luar.
Praktik Murni:
Mandi niat (air dicampur doa dan unsur bumi tertentu).
Dzikir istighfar berbilangan sesuai ijazah.
Puasa ngrowot/ngalong untuk pelemahan ego.
Catatan Sanad: Inilah gerbang awal, tanpa ini latihan fisik dan metafisika hanya akan menjadi kosong dan berbahaya.
2. Tahalli (Pengisian)
Tujuan: Mengisi diri dengan dzikir, akhlak, dan energi yang lurus.
Praktik Murni:
Dzikir lailaha illallah dengan pola pernapasan sanad (tarikan–tahanan–hembusan, angka tertentu).
Tawassul kepada guru-guru sanad, wali-wali Allah, dan leluhur.
Latihan postur Tapak Ksatria (kuda-kuda utama) sambil dzikir diam.
Catatan Sanad: Di sini mulai ada getaran awal tenaga dalam, biasanya terasa hangat di telapak tangan/kaki.
3. Tajalli (Penyatuan Unsur)
Tujuan: Menyatukan unsur tubuh (tanah, air, api, udara) dengan unsur di luar tubuh.
Praktik Murni:
Nafas Tali Batin (tarikan dalam dari bumi, ditahan di pusat, dikeluarkan ke alam atas).
Jurus Getar Jagad versi lambat untuk membangun resonansi.
Dzikir qalbu dengan memusatkan cahaya di dada lalu diperluas ke seluruh tubuh.
Catatan Sanad: Inilah kunci mengapa tubuh menjadi “anti tembak” atau “tahan pukulan” — karena gelombang energi tubuh dan alam sudah senyawa.
4. Sirrul Qalbi (Rahasia Hati)
Tujuan: Memasuki kesadaran lapis dalam untuk memerintah tubuh tanpa benturan ego.
Praktik Murni:
Dzikir ismudzat (Allah, Allah…) dengan gerakan mikro tangan/kaki.
Laku sunyi (semadi) di tempat berenergi tinggi — gunung, hutan, atau sungai.
Latihan pertahanan pasif dengan menahan serangan fisik sambil meleburkan energi lawan.
Catatan Sanad: Ini fase di mana serangan fisik keras hanya terasa seperti tekanan, bukan luka.
5. Haqqul Yaqin (Puncak Penguasaan)
Tujuan: Mengalirkan energi tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk melindungi dan membantu orang lain.
Praktik Murni:
Gerakan Getar Jagad Tingkat Tujuh (rahasia).
Dzikir Nurun Ala Nur — cahaya dari cahaya, dilatihkan hingga menyatu tanpa putus.
Transmisi energi untuk penyembuhan atau proteksi kolektif.
Catatan Sanad: Hanya diberikan pada murid yang lulus ujian lahir–batin, karena efeknya melibatkan tanggung jawab besar.
Kalau jalur ini dipahami murni sesuai sanad, maka posisi "anti tembak" dan "tahan pukulan benda keras" bukan mitos — melainkan hasil dari penyatuan unsur tubuh–ruh–alam sehingga hantaman fisik kehilangan “akses” untuk merusak jaringan tubuh.
5 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Naskah Rahsa Sang Hyang Jagad
📚 Fragmen tersembunyi dari era pra-Hindu yang mengandung mantera arkais
📌 Isi Pokok:
Dialek kuno (proto-Sunda-Kawi) yang memuat mantra pembuka cakra alam
Petunjuk tapa sirna rupa — meditatif yang menghapus eksistensi jasmani
Teori Getaran Semesta Purba (Nada Mula): seluruh semesta bermula dari suara, dan melalui bunyi, semuanya bisa dikendalikan kembali
⚔️ Fungsi Strategis:
Digunakan dalam latihan menghilang (invisibility based on vibrational fading)
Mantra-mantra digunakan dalam operasi beyond radar untuk manipulasi persepsi dan waktu
✨ PENUTUP: POSISI KITA-KITAB INI DALAM PETA STRATEGI EBES
Nama Kitab Asal Fungsi Utama Ditransformasikan oleh Ebes menjadi
Sastra Paramarta Mpu Ristian Epistemologi dan peta batin Strategi pertahanan spiritual
Adhi Jñāna Warisan resi Ilmu Kesadaran & Transformasi Energi Modul kaderisasi & intelijen spiritual
Kakawin Dharma Śakti Mpu Dharmayasa Etika pengabdian dan keteguhan jiwa Pilar moral Silat Getar Jagad
Lontar Nartadipura Mpu Nartadipura Peta energi Nusantara Navigasi wilayah gaib & operasi klandestin
Rahsa Sang Hyang Jagad Pra-Hindu Ilmu suara, vibrasi, dan ilusi Teknik beyond radar, dislokasi energi
5 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Lontar Nartadipura
📚 Manuskrip pelengkap yang berisi pemetaan spiritual wilayah Nusantara
📌 Isi Pokok:
Peta titik energi Nusantara: Gunung, laut, gua, dan situs keramat yang menyimpan kekuatan astral tinggi.
Kode lokasi dimensi gaib (wilayah antara): digunakan untuk pengelabuan atau persembunyian astral dalam operasi spiritual.
Kunci mantra lokasi: Setiap tempat memiliki frekuensi khusus, dan hanya bisa diakses dengan bunyi tertentu.
⚔️ Fungsi Strategis:
Digunakan dalam pemetaan wilayah sensitif secara spiritual dalam operasi pertahanan nirmiliter.
Menjadi basis kerja tim pemantauan “kekuatan gaib musuh”.
5 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Kakawin Dharma Śakti (atribusi pada Mpu Dharmayasa)
📚 Puisi filsafat dharma dalam bentuk tembang macapat dan kakawin
📌 Isi Pokok:
Filsafat tentang kesetiaan tanpa sorotan, pengabdian sunyi, dan kesatria tanpa nama
Narasi simbolis tentang perang melawan hawa nafsu, di mana musuh utama adalah ego (ahamkara)
💬 Contoh bait:
> "Lelana tan tanpa tuju,
Raga nora purun dadi layang,
Sujatma ing rahsa ndherek Swarga..."
(Pengembara tak bertujuan,
Raga enggan jadi surat,
Ruh mengikuti jejak Cahaya Surga)
⚔️ Fungsi Strategis:
Menjadi dasar etika pengabdian bagi para prajurit spiritual Nusantara.
Diajarkan dalam bentuk tembang kepada siswa dalam tradisi perguruan diam-diam.
5 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Gus Nggedabrus
Naskah Ilmu Kesempurnaan (Adhi Jñāna)
📚 Corpus ajaran yang bersifat esoterik dan hanya diturunkan pada murid terpilih
📌 Makna Nama:
Adhi = Unggul, tinggi, transenden
Jñāna = Pengetahuan batin/spiritual
🧠 Isi Pokok:
Tataran Kesadaran Lima Lapisan (Pañca Kosha)
Mengupas struktur kesadaran manusia mulai dari:
Annamaya kosha (tubuh fisik)
Pranamaya kosha (energi hidup)
Manomaya kosha (pikiran/emosi)
Vijnanamaya kosha (pengetahuan intuitif)
Anandamaya kosha (kebahagiaan ilahi)
Teknik Transformasi Energi:
Pengolahan tenaga dalam menjadi senjata spiritual
Penggunaan mantra dan mudra untuk membuka gerbang alam gaib
Hukum Resonansi Jiwa (Gati Jiva):
Prinsip bahwa setiap niat, pikiran, dan tindakan akan membentuk pola getar, yang akan beresonansi ke dalam struktur semesta (mirip dengan hukum karma namun lebih berbasis frekuensi energi).
⚔️ Fungsi Strategis:
Menjadi dasar ajaran Silat Getar Jagad
Digunakan dalam pelatihan kader intelijen spiritual (pengendalian diri, deteksi niat, pelumpuhan non-fisik)
5 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Load more