TAREKAT SYATTARIYAH NUSWANTARA
Dibina dan Dibimbing langsung oleh Guru Mursyid
KH.Bagus Fanani / Kang Agus Santoso
🟢 INFO BAI'AT DAN TALQIN DZIKIR
TAREKAT SYATTARIYAH 🟢
Kami Pengurus MAJELIS TAREKAT SYATTARIYAH NUSWANTARA
Menyediakan waktu dalam SEBULAN 1 kali ( Minggu Pertama ) Pukul : 20 : 00 WIB.
Untuk informasi detail
Silahkan Masuk :
GROUP WA CALON SALIK
Link dibawah ini👇👇👇
chat.whatsapp.com/Bg5lVGE9W2zGLCHjnhpAC9
🟢🟢🟢
HOTLINE CENTER
🟢🟢🟢
1. wa.me/6285314034108
2. wa.me/6285222314485
3. wa.me/6289524539889
4. wa.me/6281398726326
🟢🟢🟢
➡️ LOKASI PONDOK
- Alamat Majelis Tarekat Nuswantara
Jl. Surah Bakti No.01 Desa Karang Anyar Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon - Jawa Barat 45163
- Google Maps :
maps.app.goo.gl/Hsw4VhAMzmo6GKxZ8
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Dialog Ruhani Syattariyah:
Nyai Sirr dan Ibu Markonah
Tema: "Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan"
[Sore itu, angin sepoi berhembus lembut. Ibu Markonah datang menghadap Nyai Sirr dengan wajah berbinar, walau ada sedikit kegugupan.]
Ibu Markonah:
"Assalamualaikum, Nyai...
Alhamdulillah, saya sedang mengandung satu bulan.
Tapi saya masih bingung, bagaimana caranya mulai mendidik anak sejak dalam kandungan?
Saya takut salah langkah."
Nyai Sirr:
(tersenyum, mengelus punggung Ibu Markonah)
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ibu Markonah...
Selamat atas anugerah dari Allah.
Setiap anak membawa rahmat.
Mendidik anak sejak dalam kandungan itu seperti menanam cahaya di dalam jiwa.
Tak tampak sekarang, tapi akan bersinar dalam akhlaknya kelak."
Nyai Sirr melanjutkan:
"Sebelum lahir, manusia sudah dipersiapkan Allah dalam perjalanan ciptaan-Nya.
Saat hamil satu bulan, wajah seorang ibu sering memancarkan kebahagiaan.
Ini tanda bahwa Allah sedang memperjalankan Cahaya-Nya di dalam kandungan.
Karena itu, suami-istri harus saling menyayangi agar anak yang lahir membawa sifat-sifat luhur dari leluhur mereka."
(Ibu Markonah mendengarkan dengan sungguh-sungguh)
Nyai Sirr meneruskan:
Umur 2 Bulan:
Aura ibu bersinar lebih terang.
Ini saat Nurullah (Cahaya Allah) menerangi rahim, membentuk sifat-sifat anak.
Karena itu, orang tua harus memperbaiki akhlaknya, memperbanyak sifat terpuji.
Umur 3 Bulan:
Anak mulai menerima rasa dari Tuhan.
Orang tua harus menjaga perasaan, menjauhi amarah, sedih berlebihan, atau pikiran buruk, agar rasa itu tersalur baik ke anak.
Umur 4 Bulan:
Organ tubuh anak mulai lengkap, dan ruh dari Allah ditiupkan.
Anak mulai merekam gerak-gerik orang tuanya.
Maka hindarilah perkataan kasar, celaan, dan perbuatan buruk.
Umur 5 Bulan:
Anak mulai menerima daya (nafsu).
Orang tua harus menjaga hawa nafsunya, agar anak tumbuh dengan daya yang bersih.
Umur 6 Bulan:
Anak menerima budi pekerti.
Penting untuk menjaga tutur kata, menghindari kekasaran dan keburukan.
Umur 7 Bulan:
Seluruh unsur cipta, rasa, dan karsa anak sudah lengkap.
Orang tua dianjurkan memperbanyak doa, bayangkan anak ini sebagai manusia sempurna ciptaan Allah.
Umur 8 Bulan:
Anak sudah menerima kuasa untuk hidup.
Ibu harus memperkuat tekad, bersiap diri lahir batin untuk persalinan.
Umur 9 Bulan:
Anak diatur dalam "keraton agung" di dalam dirinya:
kepala (Baitul Makmur), dada (Baitul Muharram), dan kemaluan (Baitul Muqaddas).
Orang tua hendaknya memperbanyak hening dan menjaga kesucian hati.
Nyai Sirr menutup dengan pesan:
"Ingat, Bu Markonah...
Anak ini berasal dari Yang Maha Suci.
Dia terlahir dalam keadaan suci, dan harus dijaga kesuciannya sepanjang hidup."
---
Amalan Harian untuk Ibu Hamil:
1. Niat dan Doa:
Tanamkan niat dari awal:
"Ya Allah, jadikan anak ini kekasih-Mu, penjaga agamamu, penyejuk hatiku."
2. Dzikir dan Qur'an:
Baca Al-Qur'an setiap hari.
Perbanyak dzikir "Laa ilaaha illallah".
Perbanyak sholawat untuk menghidupkan ruh kebaikan.
3. Menjaga Emosi:
Tenangkan hati, jauhi amarah.
Rasa ibu akan ditangkap langsung oleh janin.
4. Menjaga Makanan dan Adab:
Makan makanan halal dan thayyib.
Hindari makanan haram dan ucapan buruk.
Amalan Praktis Harian:
Pagi: Bacakan Al-Fatihah untuk anak dalam kandungan.
Siang: Istighfar 100x.
Sore: Dzikir "Ya Hayyu Ya Qayyum, bi rahmatika astaghitsu" 100x.
Malam: Bacakan surat Maryam atau Luqman, niatkan agar anak menjadi saleh/salehah.
---
Nyai Sirr berkata:
"Bu Markonah, Allah menitipkan dunia kecil di dalam rahimmu.
Didiklah ia dengan cinta, dzikir, dan doa.
Jadikan sabar dan syukur sebagai madrasah pertamanya.
Semoga anakmu menjadi mata air kebaikan di dunia dan cahaya bagimu di akhirat."
---
✅️Majelis Tarekat Syattariyah Nuswantara
✅️Dibimbing & Dibina oleh Guru Mursyid KH.Bagus Fanani / Kang Agus Santoso
▶️Jl. Surah Bakti No.01 Desa Karang Anyar Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon - Jawa Barat 45163
▶️Pengurus Majelis 089661091565 ■ 082333348774
"Jadilah pelita dalam rumah tanggamu."
#nyaisirr #curhatanhatiwanita #curhatrumahtangga #hamil #pendidikananak #bayi #bumilbahagia #bumilsehat #syattariyahnuswantara #khbagusfanani #istrisolehah
1 month ago | [YT] | 18
View 0 replies
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Berikut dialog ruhani antara Nyai Sirr dan Ratna,
" Suami selingkuh dan tidak peduli keluarga, dan sang istri ingin introspeksi serta memohon solusi dzikir dan doa agar suami kembali sadar dan mencintai keluarganya.
🟢🟢🟢
Ratna (suara lirih dengan mata sembab):
“Nyai… saya sudah lama memendam ini. Suami saya berubah. Dia lebih memilih perempuan lain… dan sekarang tak peduli lagi dengan saya dan anak-anak. Tapi saya masih bertahan, saya masih cinta, dan saya ingin dia kembali… tapi saya juga ingin memperbaiki diri. Apakah ada yang salah dari saya, Nyai?”
Nyai Sirr (menatap penuh kasih):
“Nak Ratna, tidak semua luka datang karena salahmu. Kadang Allah mengizinkan hati orang lain berpaling… agar hatimu berpaling pada-Nya. Tapi pertanyaanmu tentang introspeksi adalah tanda hatimu sedang disucikan oleh Allah. Itu tanda awal suluk ruhani.”
Ratna:
“Jadi… apa yang harus saya benahi dalam sikap saya, Nyai? Saya ingin jadi istri yang Allah ridhoi, bukan hanya istri yang ditoleransi suami.”
Nyai Sirr:
“Nak, benahilah bukan karena ingin dicintai manusia, tapi karena ingin menjadi pantas dicintai oleh Allah. Bicaralah lembut, walau hatimu luka. Jangan mengungkit kesalahan suami terus-menerus. Bangun kembali rumah tangga bukan dari marahnya, tapi dari doamu. Diam yang mengadu pada Allah lebih tajam daripada ribut yang sia-sia.”
Ratna (meneteskan air mata):
“Saya takut kehilangan dia, Nyai. Tapi saya juga lelah. Apa dzikir yang bisa saya pegang… supaya Allah bantu saya dan jaga hati suami saya kembali?”
Nyai Sirr:
“Amalkan ini tiap malam, setelah anak-anak tidur, di ujung sepi yang hanya kau dan Allah tahu:
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
✔️ Ya Allah, kembalikan cinta suamiku yang hilang, bukan demi egoku, tapi demi anak-anak yang butuh rumah.
Ya Waduud… lembutkan hatinya. Ya Hadi… tuntun langkahnya.
Ya Jabbar… sembuhkan hatiku yang pecah.
Ya Rahman… peluklah rumah tangga kami dengan rahmat-Mu.
Bihaqqi Lailahailallah
Bihaqqi Muhammad Rosulullah saw.
Alfatihah...
Lalu setiap habis shalat, ucapkan dengan hati khusyuk:
✔️ "Hasbiyallahu laa ilaaha illa Huwa ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azim" (7x)
"Ya Waduud, Ya Latif, Ya Hadi, Ya Jabbar, Ya Rahim, Ya Allah…" (sebut berulang-ulang dalam hati saat mengurus rumah)
✔️ Jangan lupa dzikir nafas: tarik nafas “Allāh…” hembus “Allāh…” sambil membayangkan hatimu dipeluk oleh Cahaya Kasih-Nya.”
Ratna:
“Nyai… jika dia tak kembali juga… apakah Allah tetap sayang pada saya?”
Nyai Sirr (mengusap bahunya):
“Sayang Allah tak tergantung manusia kembali atau tidak. Jika kau bertahan dalam doa, sabar, dan tidak berubah jadi dendam… maka kau sudah menjadi wali kecil di rumahmu. Dan Allah akan menurunkan cahaya untuk anak-anakmu… melalui air matamu yang sabar.”
---
Hati Ratna berangsur-angsur tenang dia kembali ke rumah dengan membawa sebuah harapan baru dan bekal dzikir dan doa dari Nyai Sirr.
#nyaisirr #rumahtangga #curhatanistri #istrisolehah #nasehatislami #suami #dzikir #tuntunandzikir #kisahinspirasi #kisahkehidupan #pasutribahagia #selingkuh #suamiselingkuh #waliyullah #waliyullahperempuan
1 month ago | [YT] | 16
View 0 replies
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Dialog ruhani bertema: “Mendidik Anak Sambil Suluk” – lanjutan percakapan Nyai Sirr dan Ibu Dewi:
Dialog Ruhani: Anak Adalah Ladang Suluk
Siang yang teduh, suara burung dan gemericik air kolam mengiringi langkah Ibu Dewi yang datang dengan wajah lelah namun penuh harap.
Ibu Dewi:
Nyai… setelah mulai berdzikir sambil mengurus rumah, saya merasa hati lebih damai. Tapi kadang muncul keraguan. Saya ini masih belajar suluk, tapi di rumah saya juga harus mendidik anak-anak. Kadang marah, kadang lelah. Apa bisa suluk jalan, tapi tetap jadi ibu yang mendidik?
Nyai Sirr:
Nak Dewi… justru anak-anakmu adalah bagian dari sulukmu. Mereka bukan penghalang jalanmu, tapi jalan itu sendiri. Mendidik mereka adalah medan suluk paling murni yang Allah titipkan padamu.
Ibu Dewi:
Tapi Nyai, kadang saya merasa dzikir saya rusak karena harus teriak menegur anak, atau melerai pertengkaran…
Nyai Sirr:
Itu bukan merusak dzikirmu, Nak. Justru saat kamu menahan amarah karena Allah, itu bagian dari sulukmu. Saat kamu mendidik dengan sabar, itu dzikirmu. Bahkan dalam Tarekat Syattariyah, menjaga adab lahir sambil menjaga hati tetap hadir pada Allah adalah bentuk suluk yang tinggi nilainya.
Ibu Dewi:
Berarti saya bisa mendidik anak sambil suluk?
Nyai Sirr:
Bisa, bahkan seharusnya begitu. Ajak anak berdzikir bersama, tapi jangan memaksa. Jadilah contoh. Saat mereka melihat ibunya tenang, sabar, lembut, mereka sedang melihat pantulan dari cahaya sulukmu. Itu pendidikan ruhani yang paling kuat.
Ibu Dewi:
Apakah saya harus mengajarkan tarekat pada anak saya sejak kecil?
Nyai Sirr:
Ajarkan cinta kepada Allah dan Rasul terlebih dahulu. Ajarkan bahwa hati kita harus selalu bersama Allah. Tarekat bukan soal istilah, tapi soal cinta. Bila cinta itu tumbuh sejak kecil, kelak anakmu sendiri akan mencari jalan tarekatnya.
Ibu Dewi:
Terima kasih Nyai… jadi selama saya mendidik anak dengan cinta dan dzikir, itu juga bagian dari perjalanan saya menuju Allah?
Nyai Sirr:
Ya, Nak. Itulah jalanmu. Bukan dari gua atau gunung, tapi dari dapur, pelukan anak-anakmu, dan kesabaranmu mendidik mereka. Sulukmu suci karena Allah memuliakan ibu-ibu yang sabar mendidik generasi dengan cahaya.
🟢🟢🟢
#nyaisirr #pendidikananak #suluk #nasehatislami #nasehatrumahtangga #tarekatsyattariyahnuswantara #khbagusfanani #hijrah #kisahinspirasi #dialogruhani #kisahkehidupan #pendidikanruhani #caramendidikanak
2 months ago | [YT] | 34
View 0 replies
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Dialog Ruhani Nyai Sirr dan Ibu Qona'ah,
kali ini mengangkat tema:
“Perempuan yang Disayang Penduduk Langit karena Kesabarannya”
kisah tentang keagungan sabar seorang istri yang tak dikenal manusia, tapi masyhur di sisi langit.
🟢🟢🟢
Petang itu hujan turun rintik-rintik. Di kaki bukit Cakrabuana di antara gemerisik air yang jatuh ke daun bambu, Nyai Sirr masih duduk tenang dalam dzikir di teras mushola bambu. Seorang ibu rumah tangga bernama Qona'ah datang dengan langkah pelan, mengenakan kerudung basah air gerimis.
Ibu Qona'ah (duduk bersimpuh):
Nyai… saya hanya ingin tahu satu hal. Apakah Allah benar-benar melihat perempuan seperti saya? Yang hanya di dapur, di sumur, dan di balik air mata yang ditahan. Saya tidak pernah berdakwah, tidak punya majelis. Hanya menjaga rumah, dan bersabar atas suami yang keras. Apakah itu ada nilainya?
Nyai Sirr (tersenyum haru):
Nak… engkau tak dikenal di bumi. Tapi namamu bisa sangat harum di langit.
Perempuan yang bersabar bukan karena lemah, tapi karena memilih jalan ridha itulah kekasih Allah yang tersembunyi.
Ibu Qona'ah:
Benarkah, Nyai?
Nyai Sirr:
Di zaman Nabi, ada perempuan yang tidak terkenal. Tapi karena ia sabar menghadapi suaminya yang sakit, yang tidak pernah lembut, lalu ia bangun malam hanya untuk berkata lirih:
"Ya Allah, aku tak sanggup lagi… tapi aku bertahan karena Engkau."
Maka langit pun membalas doanya. Malaikat menyebut namanya setiap malam. Ia menjadi penghuni surga yang disiapkan di sisi Rasul.
Ibu Qonaah (meneteskan air mata):
Kalau begitu… saya tidak sia-sia?
Nyai Sirr:
Tidak. Bahkan bisa jadi, sabarmu lebih tinggi nilainya daripada seribu rakaat orang yang sombong atas ibadahnya. Ketahuilah, Nak…
Perempuan yang menahan lisannya dari mengumpat, menahan tangannya dari membalas, dan tetap setia merawat keluarganya karena Allah, dialah kekasih rahasia yang disayang penduduk langit.
Ibu Qona'ah:
Apa dzikir untuk saya, Nyai?
Nyai Sirr:
“Ya Shabur… Ya Rahim… Ya Latif.”
Ucapkan perlahan setiap habis sholat, dan ketika ingin menangis, ucapkan dalam hati. Itu akan menjadi pelindung jiwamu. Dan bacalah ini sebagai doa:
“Ya Allah… jadikan sabarku ini sebab turunnya rahmat-Mu. Jangan biarkan hatiku mengeras karena sakit yang kupendam, tapi lembutkan aku agar tetap bisa mencintai-Mu di dalam luka.”
Nyai Sirr memeluk ibu Qona'ah, dan berbisik:
"Sabar yang kau sembunyikan akan tumbuh jadi cahaya yang menerangi jalan ke surga. Bukan karena kau kuat… tapi karena Allah telah memilihmu sebagai wali di balik tirai rumah."
#salik #suluk #rumahtangga #surga #dzikir #nyaisirr #kisahinspirasi #kisahislami #mursyid #dzikir #suami #istrisolehah #nasehatislami #nasehatislam #rumahtangga #curhatanistri #penduduklangit
2 months ago | [YT] | 17
View 0 replies
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Dialog ruhani bertema: “Dzikir Ringan untuk Ibu Rumah Tangga yang Aktif” – lanjutan dari percakapan Nyai Sirr dan Ibu Dewi.
---
Dialog Ruhani: Dzikir di Tengah Kesibukan
Pagi itu, Ibu Dewi kembali datang ke mushola bambu. Dengan wajah berseri, ia membawa segenggam pertanyaan dan segunung kesibukan yang belum usai.
Ibu Dewi:
Nyai… setelah saya niat belajar tarekat dari rumah, rasanya hati ini mulai lebih tenang. Tapi jujur saja, kadang saya masih bingung. Apa dzikir yang bisa saya amalkan ringan, tapi tetap bermakna? Saya ingin tetap hadir bersama Allah meski tangan sibuk di dapur.
Nyai Sirr:
Nak Dewi… dzikir bukan hanya tentang lafaz di lisan, tapi tentang ingatan di hati. Tarekat Syattariyah mengajarkan bahwa “hadirnya hati” jauh lebih utama daripada panjangnya bacaan.
Ibu Dewi:
Lalu dzikir apa yang bisa saya mulai, Nyai?
Nyai Sirr:
Mulailah dengan “Laa ilaha illallah”. Ucapkan itu pelan dalam hati, sambil memasak, menyapu, menyusui, bahkan saat mengantar anak sekolah. Jika sulit, cukup ingat nama Allah saja… “Allah… Allah…” pelan, seperti napas.
Ibu Dewi:
Tapi kadang lupa, Nyai…
Nyai Sirr:
Itu wajar. Tapi setiap kali ingat, langsung sambung lagi dzikirmu. Allah suka pada hamba yang terus kembali. Bahkan jika kamu lupa seribu kali, dan ingat lagi sekali, Allah lebih melihat yang ‘sekali’ itu.
Ibu Dewi:
Apakah dzikir seperti itu cukup untuk mendekat kepada Allah?
Nyai Sirr:
Sangat cukup, asal dilakukan dengan hati. Apalagi dari seorang ibu yang sedang melayani keluarganya dengan cinta. Di situlah nilai dzikirmu menjadi mulia. Bahkan Nabi SAW bersabda, “Zikir yang paling utama adalah yang terus-menerus, meskipun ringan.”
Ibu Dewi:
Nyai… saya terharu. Rasanya Allah itu dekat sekali…
Nyai Sirr:
Karena memang begitu, Nak. Allah tidak menunggu kita di atas sajadah, tapi mengintai kita di tengah cucian, di belakang panci, di balik senyum anak-anakmu. Teruslah berdzikir dalam diam, karena itu sulukmu, itu jalan pulangmu.
---
Dialog ruhani berikutnya bertema: “Mendidik Anak Sambil Suluk” – lanjutan percakapan Nyai Sirr dan Ibu Dewi
#nyaisirr #dialogruhani #tarekatsyattariyahnuswantara #kisahinspirasi #kisahkehidupan #rumahtangga #pendidikanruhani #nasehatislami #dzikirharian #hijrah
2 months ago | [YT] | 22
View 2 replies
Tarekat Kita
● MAQOMAT SHOLAT ●
SHOLAT SEJATI
Dialog Ruhani Aki Baqo dan Dakir
Dakir:
Ki… selama ini aku sholat 5 waktu. Tapi knpa hatiku masih tersa jauh? Apakah sholatku belum sampai?
Aki Baqo tersenyum lembut, memandang Dakir dgn mata yg teduh.
Aki Baqo:
Dakir… sholat itu bukan sekadar gerak berdiri dan sujud. Sholat adlh perjalanan kembali. Kau berdiri menghadap kiblat, tapi sudahkah hatimu menghadap Yg Maha Dekat?
Dakir:
Bukankah Allah jauh di langit, Ki?
Aki Baqo:
Langit memutari rahasia. Bumi memutari matahari. Matahari memutari galaksi. Semua bergerak dalam putaran. Tapi ada satu pusat yang tidak bergerak hati manusia. Di situlah rahasia penghadapan.
Dalam Al-Qur'an Allah berfirman: “Peliharalah segala sholatmu & peliharalah sholat wustho.”
Itu bukan hanya menjaga waktu, tapi menjaga kesadaran.
Dakir:
Lalu apa itu sholat wustho, Ki?
Aki Baqo:
Sholat raga adlh tiang. Itu wajib, jgn ditinggalkan. Tapi sholat wustho adlh sholatnya budi & hati. Ketika engkau berjalan, bekerja, berbicara, hatimu tetap ingat.
Jika 5 waktu adalah pintu, maka wustho adalah penjaga di dlm rumah.
Dakir:
Dan sholat daim?
Aki Baqo:
Sholat daim adalah ketika batinmu tidak pernah merasa lepas dari Allah. Engkau sadar setiap tarikan napas adalah izin-Nya. Setiap detak jantung adalah panggilan-Nya.
Itulah ketika sholat tidak lagi terikat waktu.
Dakir:
Ki… lalu apa itu sholat Dzati yang sering Kiai sebut?
Aki Baqo:
Itu ketika rahsa berdiri sendiri di hadapan-Nya. Tidak ada lagi rasa aku menyembah. Yang ada hanya penghadapan yang jernih. Engkau tidak merasa dekat, tapi juga tidak merasa jauh. Karna yg ada hanya Dia.
Dhohir menyembah. Batin menyaksikan.
Dakir menarik napas panjang.
Dakir:
Kenapa aku sering merasa selesai sholat ketika keluar dari masjid?
Aki Baqo tersenyum.
Aki Baqo:
Karna kau mengira masjid itu bangunan. pdhl ragamu adalah masjid. Hatimu adalah mihrab. Rahsamu adalah imam. Akal budimu adalah makmum.
Jika setelah keluar engkau lalai, berarti engkau meninggalkan masjid batinmu sendiri.
Dakir menatap tangannya.
Dakir:
Jadi hidup ini sebenarnya sholat, Ki?
Aki Baqo:
Benar. Adanya manusia adalah adanya sholat. Adanya sholat adalah adanya penghadapan.
Rukukmu adalah tunduknya akal.
Sujudmu adalah leburnya ego.
Dudukmu adalah penyaksian.
Dan ketika Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Maka Kami singkapkan darimu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu tajam.” itu adalah saat batinmu terbuka.
Dakir terisak pelan.
Dakir:
Ki… bagaimana agar aku tidak putus dari sholat?
Aki Baqo memegang bahu Dakir dengan lembut.
Aki Baqo:
Jangan tinggalkan sholat raga. Itu fondasi.
Lanjutkan dengan sholat wustho, jaga ingatmu.
Naikkan pada sholat daim, hadirkan Allah dalam setiap keadaan.
Dan jika Allah berkenan, engkau akan merasakan sholat Dzati, hidupmu sendiri menjadi sembahyang.
Jangan menunggu sujud untuk merasa dekat. Dalam berdiri, duduk, berjalan, bahkan diam, hadirkan Dia.
Angin malam terasa lebih hangat.
Dakir:
Ki… aku takut belum benar-benar mengenal diriku.
Aki Baqo tersenyum dalam cahaya bulan.
Aki Baqo:
Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal penghadapannya. Dan siapa yang mengenal penghadapannya, ia akan menjaga sholatnya.
Dakir… jangan mencari Allah jauh ke langit. Dia lebih dekat dari napasmu sendiri.
Dakir menutup mata. Dalam keheningan itu ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah setiap detak jantungnya mengucap tasbih.
Aki Baqo (berbisik):
Sholat sejati bukan hanya lima waktu. Ia adalah kesadaran sepanjang waktu.
Dhohir menyembah.
Batin mensholati.
Rahsa tenggelam dalam Nur.
Jika itu hidup dalam dirimu, maka ke mana pun engkau menghadap—Allah-lah yang lebih dahulu hadir.
Malam semakin sunyi.
Namun dalam dada Dakir, untuk pertama kalinya, terasa terang.
~~~~~
Majelis Tarekat Syattariyah Nuswantara
#tarekat #sholat #sholatdaim #sholatwustho #sholatkhusyu #syariat #maqomatsholat #tarekatsyattariyah #khbagusfanani #mursyid
2 months ago | [YT] | 32
View 1 reply
Tarekat Kita
Bismillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
Dialog ruhani bertema: “Ingin Belajar Tarekat, Tapi Saya Ibu Rumah Tangga dengan Seribu Kesibukan” antara Nyai Sirr dan Ibu Dewi:
Di suatu sore yang teduh, Ibu Dewi datang dengan wajah penuh beban. Setelah mencium tangan Nyai Sirr, ia duduk bersila di depan beliau, masih dengan celemek yang belum sempat dilepas.
Ibu Dewi:
Nyai… hati ini sering tergerak ingin ikut jalan tarekat. Saya dengar dari banyak orang, katanya di sana ada ketenangan dan dekat dengan Allah. Tapi… saya ini ibu rumah tangga. Sehari-hari sibuk sekali. Dapur, anak, suami, cucian, belum lagi tetangga. Apa boleh orang seperti saya menempuh jalan itu?
Nyai Sirr:
Nak Dewi… justru karena kau ibu rumah tangga, tarekat sangat mungkin bagimu. Jalan tarekat bukan hanya untuk orang yang berdiam di pesantren atau mengasingkan diri di gua. Tapi untuk siapa pun yang rindu kepada Allah, bahkan di tengah hiruk-pikuk dunia.
Ibu Dewi:
Tapi Nyai… saya takut nggak bisa istiqamah. Dzikirnya susah, waktunya sempit.
Nyai Sirr:
Kau tahu, Nak Dewi? Tarekat Syattariyah itu halus dan ringan seperti angin yang menyapa pagi. Bahkan saat tanganmu mengaduk sayur, atau mencuci piring, hatimu bisa berdzikir. Cukup kau tanam satu wirid saja di hatimu: Allahu hadir… Allahu hadir… Dan ulangi itu setiap sempat. Maka itulah awal sulukmu.
Ibu Dewi:
Kalau begitu… bolehkah saya memulai dari rumah saja?
Nyai Sirr:
Boleh sekali. Rumahmu adalah pondok pertamamu. Dapurnya adalah tempat khalwatmu. Setiap gerakanmu bisa jadi ibadah, asal disertai hadirnya hati pada Allah. Itulah Syattariyah: dzikir dalam gerak, gerak dalam dzikir.
Ibu Dewi:
Nyai… saya jadi semangat. Tapi saya ingin bimbingan. Maukah Nyai membimbing dari jauh?
Nyai Sirr:
Tentu, Nak. Nanti kuantarkan ke Guru Mursyid Nyai..berbaiat dan talqin dengannya setelahnya Cukuplah kau kirim fatihah tiap kali mau mulai dzikir niatkan berwasilah untuk menyambung ruh dan sirrnya guru-guru agung tarekat syattariyah . Maka ruh dan sirr kita akan tersambung dengan beliau-beliau. Itulah namanya rabithah..jalan tercepat supaya dzikir kita masuk kedalam batin kita untuk lebih mendekat lagi ke Allah swt.
Ibu Dewi:
Terima kasih Nyai… saya akan mulai dari hari ini. Dari dapur, dari hati yang rindu.
Nyai Sirr:
Dan dari rindu itu, Allah akan menumbuhkan jalan. Kau tidak sendiri, Nak. Banyak ibu rumah tangga yang sedang suluk, tapi Allah sembunyikan mereka dari pandangan dunia, karena Allah sedang memeluk mereka dalam cahaya-Nya.
Bersambung ...
Dialog ruhani berikutnya bertema: “Dzikir Ringan untuk Ibu Rumah Tangga yang Aktif”
#wanitasholehah #kisahteladan #akhlakmulia #suluk #rumahtangga #pendidikanruhani #mendidikanak #tarekatsyattariyahnuswantara #khbagusfanani #nyaisirr #renungankehidupan #hijrah
2 months ago | [YT] | 30
View 2 replies
Tarekat Kita
● MANI MADI WADI MANIKAM - SARIPATI BUMI
🌿 Dialog Ruhani Syattariyah
Aki Baqo & Dakir tentang Rahasia Diri Manusia
Malam itu sunyi. Angin berdesir pelan di serambi langgar tua. Lampu sentir bergetar kecil. Dakir duduk bersila di hadapan Aki Baqo, wajahnya penuh tanya.
Dakir:
Ki… saya merenungi firman Allah dalam Al-Qur'an:
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan ke dalamnya Ruh-Ku…"
Benarkah dalam diri manusia ada rahasia sebesar itu?
Aki Baqo tersenyum lembut.
Aki Baqo:
Nduk Dakir… ayat itu bukan sekadar kabar, tapi panggilan. Manusia ini bukan hanya daging dan tulang. Ia adalah tanah yang ditiup rahasia langit.
Ketika ruh masuk ke jasad, ia disebut nyawa.
Ketika keluar masuk menghidupi tubuh, ia disebut nafas.
Ketika ia memilih, ia disebut ikhtiar.
Ketika ia menginginkan, ia disebut nafsu.
Ketika ia membenarkan kebenaran, ia disebut iman.
Ketika ia memahami, ia disebut ilmu.
Padahal hakikatnya satu… ruh itu sendiri.
Dakir:
Jadi semua gerak dalam diri ini hanya perubahan nama dari satu rahasia?
Aki Baqo:
Betul. Seperti air: sungai, laut, hujan, embun namanya berbeda, tapi asalnya satu.
Dalam Tarekat Syattariyah, manusia memiliki dua diri: jasmani dan rohani.
Jasmani tersusun dari tanah, air, api, angin itulah wujud Bani Adam.
Rohani tersusun dari akal, nafsu, ruh, dan rasa itulah batin umat Muhammad.
Jasad adalah pakaian. Rohani adalah pemakai. Namun yang menghidupkan keduanya adalah Dzat Yang Maha Hidup.
Dakir:
Bagaimana awal mula jasad dan ruh bertemu, Ki?
Aki Baqo memandang langit berbintang.
Aki Baqo:
Saat ayah & ibu bersatu, bukan hanya tubuh yang bertemu. Rasa dan takdir pun menyatu.
Empat sari berkumpul:
Mani - sari tanah.
Madi - sari api.
Wadi - sari angin.
Manikam - sari air.
Itu wadah lahiriah. Tapi yang menghidupkan bukan sari itu. Yang menghidupkan adalah Rahasia Allah.
Dalam diri orang tua bersemayam Dzat Yang Maha Menghidupkan. Turun dalam Nur, turun dalam Rasa, turun dalam Ruh, lalu membungkus diri dalam nafsu dan budi. Maka terbentuklah insan dalam rahim.
Dakir:
Kenapa manusia disebut alam kecil?
Aki Baqo:
Karena seluruh rahasia alam raya diringkas dalam dirinya.
Alam Lahut - kesadaran ketuhanan - diterapkan dalam kepala.
Alam Jabarut - puja dan kalam - bersemayam dalam dada.
Alam Malakut - dinamika bisikan dan cahaya - terasa di pusar.
Alam Nasut - unsur dunia - berpijak di kaki.
Namun itu bukan soal fisik semata. Itu isyarat batin.
Allah berfirman bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar dari manusia. Tetapi manusia sering tidak sadar bahwa dirinya adalah cermin dari rahasia itu.
Masalahnya bukan pada penciptaan… tetapi pada kesadaran.
Air mata Dakir menetes.
Dakir:
Kalau begitu… untuk apa kita lahir?
Aki Baqo:
Setiap bayi lahir membawa risalah.
Dzatullah menjadi hidupnya.
Adam menjadi jasadnya.
Muhammad menjadi cahaya batinnya.
Kita lahir bukan sekadar hidup dan mati. Kita lahir untuk mengenal diri. Karena barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.
Dakir:
Bagaimana jalan mengenal diri itu, Ki?
Aki Baqo:
Bersihkan nafsumu.
Hidupkan dzikirmu.
Haluskan rasamu.
Satukan lahir dan batinmu.
Perjalanan salik adalah dari nasut menuju lahut. Dari tubuh menuju rahasia. Dari wujud menuju Dzat.
Jangan sibuk mencari Tuhan jauh di langit, sementara Dia meniupkan rahasia-Nya di dalam dirimu.
Malam semakin sunyi. Dakir memejamkan mata. Nafasnya terasa berbeda. Seakan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dirinya bukan sekadar tubuh yang duduk bersila.
Aki Baqo berbisik pelan,
“Kenalilah dirimu dengan kesadaran, bukan hanya pikiran. Karena diri ini titipan… dan titipan itu suatu saat akan kembali.”
🌿
Majelis Tarekat Syattariyah Nuswantara
Dibina & Dibimbing oleh Guru Mursyid KH. Bagus Fanani
0852 2402 5191
#rahasiatuhan #misteriilahi #tarekat #syattariyah #dialogruhani #akibaqo #dakir #makrifatullah #kisahsufi #mengenaldiri #ngajidiri #ngajiroso
2 months ago | [YT] | 26
View 0 replies
Tarekat Kita
☕ KITAB YANG TAK BISA DISENTUH TANGAN
DAN TIDAK BISA DIBACA MATA LAHIR
Dialog Ruhani Syattariyah
Aki Baqo dan Dakir: “Membaca Kitab Qadim di Dalam Diri”
Malam itu sunyi. Angin berhembus perlahan, seakan membawa bisikan dari alam yang tak tampak. Dakir duduk bersila di hadapan Aki Baqo, dengan wajah penuh tanya bukan tanya yang keluar dari akal, tapi dari kedalaman hati yang mulai terbangun.
Dakir:
Aki… hamba ingin bertanya.
Apakah yang dimaksud dengan Kitab Qadim itu?
Benarkah ia berada dalam hati… dalam qolbu yang hidup?
Dan apakah benar ia terbuka melalui ilham, isyarah… bahkan melalui wasilah malaikat muqarrabin?
Aki Baqo tersenyum lembut. Pandangannya teduh, seakan melihat sesuatu yang tak kasat mata, namun nyata bagi hati yang terjaga.
Aki Baqo:
Dakir…
Apa yang engkau tanyakan, bukan sekadar pertanyaan.
Itu adalah panggilan dari dalam dirimu sendiri.
Kitab Qadim…
bukanlah kitab yang bisa disentuh tangan,
bukan pula yang bisa dibaca dengan mata lahir.
Ia adalah kitab yang tersirat
yang Allah tanamkan dalam qalbu manusia sejak di alam ruh.
Sejenak Aki Baqo terdiam, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam.
Aki Baqo:
Ia disebut juga Kitab Sirr, wahai Dakir…
yakni cahaya ilmu yang telah ada sebelum engkau dilahirkan.
Bukan ilmu baru…
melainkan ilmu yang pernah engkau kenal,
lalu terlupakan oleh hijab dunia.
Dan sekarang…
engkau sedang dipanggil untuk mengingatnya kembali.
Dakir menunduk. Nafasnya terasa berbeda lebih dalam, lebih hidup.
Dakir:
Lalu bagaimana cara membacanya, Aki…?
Jika ia tidak berupa huruf dan kata… bagaimana seorang salik memahaminya?
Aki Baqo menatap dada Dakir, seolah bukan melihat tubuh, tapi melihat ruang batin di dalamnya.
Aki Baqo:
Kitab itu hanya terbuka…
pada hati yang telah hidup.
Bukan hidup karena jasad,
tapi hidup karena dzikir.
Ia terbaca bukan dengan akal,
tapi dengan rasa yang disucikan.
Melalui ilham yang halus…
melalui isyarah yang lembut…
dan terkadang melalui wasilah
baik malaikat muqarrabin…
maupun para mursyid yang telah ma’rifat.
Namun ingat, Dakir…
Bukan karena engkau mencarinya,
lalu ia terbuka.
Tapi karena engkau membersihkan dirimu,
maka ia menyingkap dirinya.
Dakir mulai merasakan sesuatu bergetar dalam dadanya.
Dakir:
Apakah ini yang disebut dalam Syattariyah sebagai latifah ilmu, Aki?
Aki Baqo mengangguk perlahan.
Aki Baqo:
Benar…
Ia bersemayam dalam sirr al-qolb
di tempat paling sunyi dalam dirimu.
Jika ia terbuka…
maka yang lahir bukan sekadar pengetahuan.
Tapi hikmah.
Bukan sekadar pemahaman…
tapi akhlak ruhani.
Dan yang paling dalam…
akan tumbuh cinta kepada Allah,
yang tak bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini.
Malam semakin larut. Tapi bagi Dakir, justru terasa seakan fajar mulai terbit di dalam dirinya.
Dakir (lirih):
Lalu siapa yang bisa membaca kitab itu sepenuhnya, Aki…?
Aki Baqo tersenyum, kali ini dengan mata yang sedikit berkaca.
Aki Baqo:
Mereka yang hatinya telah tenang…
yang telah membersihkan diri dari hawa nafsu…
yang tidak lagi terhijab oleh dirinya sendiri.
Di situlah futuhat rabbaniyyah mulai turun
pencerahan yang bukan dicari,
tapi dianugerahkan.
Aki Baqo mendekat, lalu menepuk dada Dakir dengan lembut.
Aki Baqo:
Jangan sibuk mencari Kitab Qadim di luar, Dakir…
karena ia tidak pernah pergi.
Ia ada di dalam dirimu…
menunggu engkau pulang.
Dakir menutup mata.
Dalam sunyi itu, ia merasa seolah ada sesuatu yang mulai “terbaca”
bukan dengan kata,
tapi dengan rasa yang tak bisa dijelaskan.
Dan malam itu…
tanpa suara, tanpa tulisan
Kitab Qadim mulai membuka lembarannya. 🌹
~~~~
✅️Dibimbing & Dibina oleh Guru Mursyid KH.Bagus Fanani / Kang Agus Santoso
▶️Jl. Surah Bakti No.01 Desa Karang Anyar Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon - Jawa Barat 45163
▶️Pengurus Majelis 089661091565 ■ 082333348774
#kitab #kisahislami #kisahsufi #dialogruhani #tarekatsyattariyahnuswantara #salik #mursyid #kitabdiri #ngajidiri #ngajirasa
2 months ago | [YT] | 23
View 1 reply
Tarekat Kita
BIsmillahirohmanirohim
Shollallahu 'ala Muhammad
SAMUDRA, PERAHU, DAN NAHKODA
Samudra terbentang tanpa tepi, biru rahasia yang tak pernah habis digali. Di sanalah ilmu bersemayam, menyimpan mutiara hakikat di dasar yang paling dalam.
Engkau adalah perahu kecil yang terapung di atas gelombang zaman. Tubuhmu papan-papan yang rapuh, akalmu layar yang mengembang, dan hatimu kemudi yang sering kehilangan arah.
Namun wahai salik, pernahkah engkau bertanya kepada dirimu sendiri, siapakah yang memegang kemudi perjalananmu?
Sebab di tengah samudra yang luas, tidak cukup hanya memiliki perahu. Tidak cukup hanya menghafal peta. Tidak cukup hanya mengetahui nama pelabuhan.
Perahu tanpa nahkoda hanyalah kayu yang menunggu karam.
Nahkoda itu adalah gurumu, pewaris cahaya para kekasih Allah. Dialah yang membaca arah angin ketika pandanganmu tertutup kabut dunia.
Ketika ombak riya mulai meninggi, ia memperingatkanmu.
Ketika karang ujub mengintai di bawah air, ia menunjukkan bahaya yang tak terlihat.
Ketika arus cinta dunia menyeretmu menjauh, ia menarik kembali hatimu menuju Allah.
Namun mengapa engkau masih asing dengannya?
Mengapa engkau lebih mengenal hiruk-pikuk pasar dunia, daripada mengenal suara yang memanggilmu pulang?
Mengapa engkau lebih sibuk menghitung keuntungan dunia, daripada menghitung berapa jauh hatimu dari Tuhan?
Wahai salik...
Banyak yang pandai berbicara tentang ma'rifat, namun tenggelam oleh dirinya sendiri.
Banyak yang mengaku mengenal jalan, namun tersesat oleh kesombongan.
Banyak yang membawa kitab di tangannya, tetapi kehilangan cahaya di dalam dadanya.
Karena perjalanan menuju Allah bukan sekadar urusan kaki melangkah, melainkan urusan hati yang berserah.
Adab kepada guru adalah pintu yang membuka aliran cahaya. Bukan memuliakan jasad semata, tetapi merendahkan ego yang selama ini merasa tahu segalanya.
Betapa banyak perahu yang karam bukan karena badai terlalu besar, melainkan karena awaknya merasa mampu berlayar tanpa nahkoda.
Padahal ketika malam turun dan bintang-bintang menghilang dari langit, siapakah yang menunjukkan arah pulang?
Maka dekatilah gurumu dengan hati yang lapang. Duduklah di hadapannya dengan jiwa yang tawadhu. Dengarkan nasihatnya sebagaimana tanah menerima hujan tanpa membantah.
Sebab guru bukan tujuan perjalanan.
Ia hanyalah pelita yang menerangi jalan menuju Cahaya.
Ia hanyalah jembatan yang menghubungkanmu dengan Samudra Rahmat.
Ia hanyalah nahkoda yang mengantar perahumu menuju pantai ma'rifat.
Dan ketika engkau telah sampai, engkau akan menangis dalam syukur, karena menyadari bahwa sejak awal bukan perahumu yang kuat, bukan nahkodamu yang hebat, melainkan Allah semata yang menuntunmu melewati setiap gelombang.
Beruntunglah mereka yang mengenal nahkodanya sebelum badai datang.
Sebab ketika samudra kehidupan mengamuk, mereka tetap tenang dalam pelayaran, karena tahu kepada siapa harus bersandar.
Dan sungguh merugilah mereka yang merasa mampu berlayar sendiri.
Karena kesombongan adalah kebocoran paling halus yang perlahan menenggelamkan perahu, hingga akhirnya hilang di tengah samudra yang tak bertepi.
Ya Allah... jadikan kami perahu yang taat, jadikan guru kami nahkoda yang Engkau ridai, dan antarkanlah kami semua ke pantai keselamatan, ke pelabuhan ma'rifat, ke hadirat-Mu yang Maha Abadi. Aamiin.
🔴🔴🔴
Majelis Tarekat Syattariyah Nuswantara
Dibimbing dan dibina oleh Guru Agung KH.Bagus Fanani.
#mursyid #salik #muhasabah #renungan #tarekatsyattariyah #makrifatullah #sufi #nahkoda #kisahkehidupan
2 months ago | [YT] | 37
View 1 reply
Load more