YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

Channel ini menampilkan Aktivitas Madrasah Nurul Akbar Pongka dan Aktivitas Masyarakat Pongka.


YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

IKRAR ALUMNI
#Manapq

7 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

10 The Best IPAq

7 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

Done hafalan Juz 30

7 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

The best 10 Peringkat Q

7 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

Di bangku tua kita pernah tertawa,
mengukir mimpi di halaman buku,
kini hanya sunyi yang menjawab sapa,
karena waktu telah mencuri temu.

Kita adalah puisi yang ditulis di papan kelas,
hilang perlahan saat lonceng terakhir berdentang,
tak ada jeda untuk mengulang,
hanya kenangan yang terus menggema di ruang kosong.

Langit sekolah tak lagi biru,
sejak kau pergi membawa rindu,
di lorong-lorong itu masih ada bayangmu,
tersimpan rapi dalam hatiku.

Sahabatku, hari-hari itu telah berlayar,
bersama detik-detik yang tak kembali,
namamu kutulis dalam doa yang sabar,
meski kini kita asing di jalan sendiri.

Ada senyum yang tertinggal di bangku belakang,
saat kita saling mengejek dan menertawakan waktu,
sekarang tinggal diam dan jarak yang panjang,
menyisakan sepi di antara rindu.
#wisuda #kenangan #penamatan

7 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

Maqolah 6.

"Janganlah keterlambatan /tertundanya waktu pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdo’a menyebabkan putus harapan, sebab الله telah menjamin dan menerima semua do’a dalam apa yang ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, dan pada waktu yang ditentukan الله, bukan pada waktu yang engkau tentukan.”
Penjelasan maqolah 6 ;

allah telah berjanji akan mengabulkan do’a. sesuai dengan firman-Nya, “Mintalah kamu semua kepada-Ku, Aku akan mengijabah do’amu semua”. dan الله berfirman, "Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tidak ada hak bagi mereka untuk memilih."
Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan yang Maha pengasih, Maha mengetahui dan Maha bijaksana. Walaupun pada lahirnya pahit dan menyakitkan rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga terkabulkan keinginannya, janganlah terburu-buru putus asa.
Firman الله: "Dan mungkin jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. الله mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. al-Baqarah 216].
Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily رضي الله عنه ketika mengartikan ayat ini: ''Sungguh telah diterima do’amu berdua [Musa dan Harun عليهما السلام] yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya, maka hendaklah kamu berdua tetap istiqamah [sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdo’a], dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti [kekuasaan dan kebijaksanaan الله]." [QS. Yunus 89].
Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima do’a Nabi Musa dan Harun alaihimasssalam selama / sesudah 40 tahun lamanya.
ﷺ رَسُول الله bersabda: "Pasti akan dikabulkan do’amu selama tidak terburu-buru serta mengatakan, aku telah berdo’a dan tidak diterima."
Anas رضي الله عنه berkata: ﷺ رَسُول الله bersabda: "Tidak ada orang berdoa, melainkan pasti diterima oleh الله doanya, atau dihindarkan dari padanya bahaya, atau diampuni sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutus silaturrahim.

Syeih Abu Abbas al-Mursi ketika ia sakit, datang seseorang membesuknya dan berkata: Semoga الله menyembuhkanmu [عفاك الله]. Abu Abbas terdiam dan tidak menjawab.
Kemudian orang itu berkata lagi: الله yu'aafika.
Maka Abu Abbas menjawab: Apakah kamu mengira aku tidak memohon kesehatan kepada الله? Sungguh aku telah memohon kesehatan dan penderitaanku ini termasuk kesehatan,
ketahuilah ﷺ رَسُول الله memohon kesehatan dan ia berkata: "Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.''
Abu Bakar as-Siddiq memohon kesehatan dan meninggal terkena racun.
Umar bin Khottob memohon kesehatan dan meninggal dalam keadaan terbunuh.
Usman bin Affan memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh.
Ali bin Abi Tholib memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh.
Maka bila engkau memohon kesehatan kepada الله, mohonlah menurut apa yang telah ditentukan oleh الله untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerahkan segala sesuatunya menurut kehendak Tuhannya, dan meyakini bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya, itulah yang terbaik walaupun tidak sejalan dengan nafsu syahwatnya.

Referensi ; Syarah Hikam ibn Athoillah Asakamdari

#nasehat #kitabalhikam

9 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

NGAJI HIKAM
Maqolah 2.

“Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal الله masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal الله telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi.”
Penjelasan maqolah 2.

Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat الله, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah (menghamba) kepada الله,sesuai tuntunan Al-qur’an.
Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti /mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja (kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah.
Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi / samar.
Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah الله yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dan tanda-tanda bahwa الله menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.
Dan tanda bahwa الله mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.
Syeikh Ibnu ‘Athoillah قدس الله سره berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- Mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada الله dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli di bidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan الله kepadamu pasti sampai kepadamu.

Referensi ; Syarah Hikam ibn Athoillah Asakamdari
#ngajihikam #Hikam #Ibnathoillah

9 months ago | [YT] | 0

YAYASAN NURUL AKBAR PONGKA

I M R A N:
Maqolah 1.

“Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia الله ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa.”

Penjelasan maqolah 1:

Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada الله, meminta kepada الله supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu الله,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada الله.  sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat الله, maka amalnyapun akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.
seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh الله. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat الله.
Kalimat: لااله الا الله  . Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali الله, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan الله.
Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat الله سبحانه وتعالى .
Apabila kita dilarang menyekutukan الله dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan الله dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan الله, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia الله سبحانه وتعالى.

Referensi ; Syarah Hikam ibn Athoillah Asakamdari

9 months ago | [YT] | 0