Jan S Aritonang Official (Documentary)

Selamat datang di kanal Jan S Aritonang Official (Documentary). Kanal dokumenter beragam karya baik buku dan tulisan, dedikasi, pengabdian dan pelayanan Alm. Pdt. Prof. Jan Sihar Aritonang, Ph.D., untuk dunia pendidikan, pelayanan gerejawi maupun lintas iman, dan masyarakat di sepanjang hidupnya.

Alm. Pdt. Prof. Jan Sihar Aritonang, Ph.D., telah meninggal dunia tanggal 21 November 2025, dan kanal ini merupakan salah satu upaya untuk terus melestarikan karya, pengabdian dan pelayanan beliau bagi generasi saat ini dan masa mendatang. Kiranya dapat bermanfaat dan berdampak untuk semua kalangan melalui beragam konten yang menyajikan inspirasi, edukasi dan nilai-nilai kolaborasi.

Alm. Pdt. Prof. Jan Sihar Aritonang, Ph.D, adalah Penulis, Pakar Sejarah Gereja dan Kekristenan, Teolog, Guru Besar STFT Jakarta, Pdt. [Em] GKPI, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Theologi - STFT Jakarta, 1995-1999, 2007-2011,
Founder of Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia (PDSGI) - STFT Jakarta.


Jan S Aritonang Official (Documentary)

“DUA JEJAK: DIALOG KEILMUAN DAN OIKUMENISME”
📚 Penulis: Rm. Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Dalam dunia akademik dan kehidupan bergereja, dialog sering kali dipahami sebagai percakapan antartradisi atau antaragama. Namun, melalui tulisan "Dua Jejak: Dialog Keilmuan dan Oikumenisme" ini, Rm. Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM, memperlihatkan bahwa dialog sejati jauh melampaui diskusi formal.

Dialog diwujudkan melalui persahabatan, kolaborasi ilmiah, saling menghargai, dan kesetiaan bersama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan demi pelayanan kepada gereja dan masyarakat.

Melalui pengalaman pribadi bersama Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Rm. Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto OFM, menghadirkan sebuah refleksi yang hangat sekaligus kaya secara akademik. Tulisan ini bukan hanya mengenang perjalanan seorang sejarawan gereja, melainkan juga menawarkan model konkret bagaimana oikumenisme dapat hidup melalui kerja ilmiah yang saling memperkaya tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, tulisan ini mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan, iman, dan persaudaraan dapat berjalan beriringan. Ketiganya menjadi fondasi bagi terbangunnya budaya dialog yang dewasa dan produktif. Keunikan tulisan ini terletak pada perpaduan antara pengalaman personal, refleksi historis, dan penilaian akademik sehingga menghasilkan narasi yang hidup sekaligus berbobot.

Tulisan ini memperlihatkan bahwa oikumenisme bukan sekadar agenda kelembagaan gereja, melainkan budaya hidup yang diwujudkan melalui kerja bersama, saling percaya, dan komitmen membangun masa depan yang lebih baik.

Bagi dunia pendidikan teologi di Indonesia, tulisan ini sekaligus mengingatkan bahwa kualitas seorang akademisi tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi ilmiah atau gelar akademik yang disandang. Kualitas itu juga tampak dari kemampuannya membangun generasi penerus, merawat jejaring keilmuan, mengembangkan budaya kolaborasi, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bentuk pelayanan kepada gereja dan masyarakat.

✍️ Tentang Penulis:
Rm. Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM adalah seorang imam Fransiskan dan Guru Besar Sejarah Gereja di STF Driyarkara. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua STF Driyarkara (2007-2011) dan Ketua Program Studi Ilmu Teologi dan dosen sejarah gereja di STF Driyarkara (2017-2023). Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Sanata Dharma pada tahun 1983. Pada tahun 1995 dan 1996, ia mendapatkan gelar Magister Teologi dan Doktor di Pontificia Universitas Gregoriana.

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#ReviewBuku #BerteologiDalamSejarah #Oikumenisme #Katolik #KatolikIndonesia #Protestan #SejarahGereja #Teologi #TeologiIndonesia #Historiografi #PendidikanTeologi #AkademisiKristen #GerejaIndonesia #STFDriyarkara #STFTJakarta #Katolik #Protestan #BukuTeologi #KristenIndonesia #DialogLintasDenominasi #Interdenominasi #IntegritasIlmiah #Kolaborasi #LiterasiKristen #BookReview #ChristianEducation #ChurchHistory #Ecumenism #Theology #IndonesianTheology #AntoniusEddyKristiyanto #JanSiharAritonang

5 days ago (edited) | [YT] | 16

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“AKHIR ZAMAN MENURUT KITAB DANIEL”
📚 Penulis: Pdt. Drs. Yonky Karman, Ph.D

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Di tengah maraknya penafsiran Kitab Daniel yang sering dikaitkan dengan ramalan kiamat, chip digital, perang dunia, berbagai bencana global, atau prediksi mengenai kapan dunia akan berakhir, tulisan ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Melalui kajian bahasa asli, sejarah, dan teologi Perjanjian Lama, Pdt. Drs. Yonky Karman, Ph.D, mengajak pembaca melihat Kitab Daniel dari perspektif yang lebih utuh.

Dengan menelusuri makna istilah "akhir", penglihatan Daniel, dan simbol-simbol angka, penulis mengajak pembaca memahami Kitab Daniel sesuai konteks sejarahnya tanpa kehilangan relevansi teologisnya bagi kehidupan orang percaya masa kini.

Tulisan ini menjadi kontribusi penting bagi pembaca yang ingin membaca Kitab Daniel secara lebih bertanggung jawab, kritis, dan tetap membangun iman. Dengan memadukan kajian bahasa Ibrani dan Aram, sejarah Timur Dekat Kuno, serta teologi apokaliptik, penulis menunjukkan bahwa tema "akhir" dalam Kitab Daniel pertama-tama berbicara tentang berakhirnya masa penindasan terhadap umat Allah pada zaman Antiokhus IV Epifanes, bukan terutama tentang akhir dunia.

Dari konteks sejarah itulah lahir pesan iman yang melampaui zamannya: Allah tetap berdaulat atas perjalanan sejarah dan memberikan pengharapan bagi umat yang setia. Tulisan ini menjadi pengantar yang sangat baik bagi pembaca yang ingin memahami Kitab Daniel secara akademis sekaligus relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini.

Tulisan ini memiliki relevansi yang sangat kuat bagi pembaca masa kini, terutama ketika isu mengenai akhir zaman masih sering dipahami melalui berbagai spekulasi dan ramalan. Kajian penulis mengingatkan bahwa pembacaan Kitab Daniel perlu dimulai dari konteks sejarah dan maksud penulisnya sebelum dikaitkan dengan kehidupan sekarang.

Tulisan ini merupakan kajian biblika yang kokoh, argumentatif, dan kaya wawasan sejarah. Alih-alih mengajak pembaca menebak kapan dunia akan berakhir, tulisan ini menolong kita melihat bahwa inti Kitab Daniel adalah kesetiaan Allah yang menopang umat-Nya di tengah penindasan.

✍️ Tentang Penulis:
Pdt. Drs. Yonky Karman, Ph.D. adalah Pendeta dari Gereja Kristen Setia Indonesia. Ia adalah pengamat masalah sosial dan pengajar Perjanjian Lama di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta; alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang (B.Th.), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (Drs.), Calvin Theological Seminary, Grand Rapids-USA (Th.M.), dan Evangelische Theologische Faculteit, Leuven-Belgia (Ph.D.).

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#KitabDaniel #AkhirZaman #YonkyKarman #ReviewBuku #Teologi #TeologiKristen #KajianBiblika #BerteologiDalamSejarah #Eskatologi #Apokaliptik #Hermeneutika #StudiAlkitab #PerjanjianLama #BelajarAlkitab #FirmanTuhan #ImanKristen #KedaulatanAllah #Pengharapan #Gereja #KristenIndonesia #BibleStudy #ChristianEducation #ChristianTheology #BiblicalStudies #jansaritonangofficial

1 week ago | [YT] | 27

Jan S Aritonang Official (Documentary)

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 23 Juli 2026.
"SAYANG ANAK, LINDUNGI DAN BANGUN MASA DEPAN."

• Lindungi Teman: Berbeda Itu Biasa, Berteman Itu Luar Biasa, Setara Tanpa Kekerasan
• Kalau Aku Jadi Pemimpin Indonesia Tahun 2045
• Saring Sebelum Sharing: Jaga Pikiran dari Berita Bohong #AmandiRuangDaring
• Sekolahku Seru, Mimpiku Melaju #AmandiSekolah
• Stop Perkawinan Anak: Biarkan Aku Tumbuh dan Meraih Impian #AmandiKeluarga
• Bangun Ketahanan Mental Anak, Wujudkan Generasi Tangguh dan Berdaya
• Sahabat Baik Anti NAPZA #AnandaBersinar

Setiap Anak adalah generasi penerus bangsa, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka dapat tumbuh sehat, bahagia, terlindungi, dan mengembangkan potensi terbaiknya sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.

Sumber Naskah: Kemen PPPA RI

#HariAnakNasional2026 #SayangAnakSayangIndonesia #RamahAmanNyamanAnak #RuangAmanNyamanAnak #HariAnakNasional #HAN2026 #SayangAnak #LindungiAnak #AnakIndonesia #IndonesiaEmas2045 #PerlindunganAnak #HakAnak #AnakHebat #GenerasiEmas #PendidikanAnak #RANA #KemenPPPA #ParentingIndonesia #AntiBullying #SekolahRamahAnak #KeluargaIndonesia #jansaritonangofficial

2 weeks ago | [YT] | 29

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“MEREFORMASI VOTUM: MERENARASIKAN SATU UNSUR LITURGI”
📚 Penulis: Pdt. (Em). Rasid Rachman, D.Th.

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Pernahkah kita bertanya, Mengapa hampir setiap ibadah Protestan selalu diawali dengan votum? Mengapa pendeta mengucapkan, "Pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan..." atau "Ibadah ini berlangsung di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus"?

Apakah memang sejak awal sejarah gereja, Votum selalu dimaksudkan sebagai pembuka ibadah? Ataukah, selama puluhan tahun kita sebenarnya hanya mewarisi sebuah kebiasaan tanpa pernah benar-benar memahami asal-usulnya?

Tulisan ini merupakan kajian Teologi Liturgi yang menggunakan pendekatan Sejarah Liturgi, Etimologi Teologis, Hermeneutika Liturgi, dan Teologi Praktika untuk merekonstruksi pemahaman gereja mengenai Votum sebagai salah satu unsur liturgi.

Penulis berangkat dari keprihatinan bahwa selama puluhan tahun banyak gereja Protestan di Indonesia menerima pengertian votum secara turun-temurun nyaris tanpa pernah mengkaji kembali dasar sejarah maupun makna katanya.

Melalui tulisan ini, Pdt. (Em). Rasid Rachman mengajak pembaca meninjau ulang pemahaman yang telah lama diterima mengenai votum dalam liturgi gereja-gereja Protestan di Indonesia. Penulis mengajak kita melakukan sesuatu yang jarang dilakukan—bukan mengubah liturgi, melainkan mengubah cara kita memahami liturgi. Karena itu, tujuan utama tulisan ini bukan sekadar menjelaskan arti votum, melainkan mengajak gereja melakukan reformasi pemahaman terhadap istilah tersebut agar praktik liturgi semakin kaya secara teologis dan historis.

Tulisan ini menawarkan sebuah reformulasi pemahaman liturgi yang tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah gereja, tetapi juga mendorong pembaruan cara gereja Protestan memaknai salah satu unsur ibadahnya.

Tulisan ini merupakan kajian liturgika yang kaya akan sejarah, bahasa, dan refleksi teologis. Melalui kajian ini, Pdt. (Em). Rasid Rachman mengajak gereja Protestan Indonesia untuk tidak memahami votum hanya sebagai pembuka ibadah atau pernyataan formal, melainkan sebagai narasi teologis mengenai hidup dan pelayanan yang dilakukan "dalam nama Tuhan."

Reformasi yang dimaksud penulis bukanlah menghapus tradisi gereja, melainkan memperdalam makna di balik tradisi tersebut. Dengan demikian, gereja tidak sekadar mempertahankan bentuk liturgi, tetapi juga memahami dasar historis, teologis, dan spiritual yang melahirkannya. Oleh karena itu, mereformasi votum guna mencapai kedalaman narasi tata liturgi adalah kebutuhan gereja-gereja Protestan di Indonesia dewasa kini.

Tulisan ini juga membuka ruang diskusi yang menarik. Apabila gereja menerima bahwa votum bukan hanya pembuka ibadah, bagaimana implikasinya terhadap penyusunan tata ibadah modern? Apakah istilah "votum" masih perlu dipertahankan, atau justru lebih tepat menggunakan istilah "dalam nama Tuhan"? Bagaimana setiap denominasi Protestan akan merespons usulan reformasi tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa tulisan ini bukan sekadar menjelaskan sejarah, tetapi juga mengundang dialog teologis yang sehat.

"Tradisi gereja akan semakin hidup ketika dipahami, bukan sekadar diwariskan. Dan melalui tulisan ini, kita diajak untuk melihat kembali bahwa votum—satu unsur liturgi yang tampak sederhana ternyata menyimpan sejarah dan kedalaman teologi yang luar biasa."

✍️ Tentang Penulis:
Pdt. (Em). Rasid Rachman, D.Th. adalah pendeta emeritus dari GKI. Ia meraih S-1 (1989), S-2 (2000) di STT Jakarta, Doktor Teologi (D.Th.) dari STFT Jakarta (2018), dan merupakan salah satu mahasiswa yang pernah diajar oleh Prof. Jan S. Aritonang. Sejak tahun 2021 ia menjadi dosen tetap di STFT Jakarta untuk mata kuliah Liturgika, Ibadah–Ibadah Khusus, dan Pembulatan Studi Teologi. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Program Studi Sarjana Sains Teologi STFT Jakarta (2023-2027).

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#MereformasiVotum #Votum #Liturgika #TeologiLiturgi #LiturgiProtestan #IbadahProtestan
#SejarahLiturgi #Sejarahgereja #Teologi #GerejaProtestan #Kolose317 #DalamNamaTuhan
#ReviewBuku #BerteologiDalamSejarah #RasidRachman #STFTJakarta #BPKGunungMulia #JanSAritonangOfficial

2 weeks ago | [YT] | 23

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“MEMBERITAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN” – Seri Khotbah
🎙 Pengkhotbah: • Pdt. (Em) Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Yesaya 61:1–9 adalah salah satu bagian Alkitab yang sangat penting karena bukan hanya merupakan nubuat tentang pemulihan Israel, tetapi juga merupakan nubuat Mesianik yang digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus ketika Ia membacakan bagian ini di sinagoge di Nazaret (Lukas 4:16–21). Ketika Yesus berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya," Ia menegaskan bahwa Dialah Mesias yang membawa Tahun Rahmat Tuhan. Dalam terang Kristus, bagian ini menjadi undangan bagi setiap generasi untuk mengalami dan menghadirkan karya Allah di dunia.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, konflik, tekanan ekonomi, dan krisis makna, firman ini mengingatkan bahwa Allah tetap bekerja membawa kabar baik sekalipun manusia masih menggalami atau menghadapi kesengsaraan, menyembuhkan yang remuk hati, membebaskan yang terbelenggu, memulihkan yang hancur, dan menegakkan keadilan.

Bagi Indonesia, pesan ini mengajak gereja dan setiap orang percaya untuk tidak hanya menikmati anugerah Tuhan, tetapi juga menjadi agen pemulihan: menghadirkan kasih di tengah kebencian, keadilan di tengah ketidakjujuran, pengharapan di tengah keputusasaan, serta damai sejahtera di tengah perpecahan. Sebagai umat Tuhan yang dipanggil menjadi imam yang menjadi pelayan-Nya bagi dunia, orang percaya wajib menawarkan pengharapan bahwa Allah adalah sumber damai dan pemulihan bagi mereka yang terluka.

Esensi "Tahun Rahmat Tuhan" adalah bahwa melalui Yesus Kristus, Allah membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menerima pengampunan, mengalami pemulihan, dan memulai hidup baru. Mereka yang telah menerima rahmat itu dipanggil untuk menjadi saluran rahmat bagi dunia, sehingga kemuliaan Allah dinyatakan melalui kehidupan yang penuh kasih, keadilan, dan pengharapan.

• Topik Khotbah “MEMBERITAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN” ini merupakan salah satu Seri Khotbah inspiratif yang dibawakan oleh Pdt. [Em] Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Ph.D, di Gereja Kristen Protestan Indonesia–GKPI Jemaat JK Satria Grogol Jakarta, dalam Ibadah Minggu Trinitatis, hari Minggu 15 Juni 2025. Renungan Firman Tuhan bersumber dari Yesaya 61:1-9. Epistel Roma 5:1-5.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

• Seri Khotbah | Jan S Aritonang | GKPI JK Satria Grogol | Inspiration| Education | Collaboration |

#khotbahkristen #firmantuhan #renunganfirmantuhan #yesuskristus #khotbahminggu #ibadahminggu #nubuatyesaya #KasihKarunia #Pemulihan #Pengharapan #Injil #ImanKristen #renunganfirman #kabarbaik #serikhotbah #ibadahonline #ibadahmingguonline #serikhotbahinspiratif #gkpi #gkpijksatriagrogol #jansihararitonang #jansaritonangofficial

3 weeks ago | [YT] | 27

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“PAULUS DAN PARA LAWANNYA: Memahami Fungsi Polemik dan Autobiografi dalam Filipi 3:2–6”
📚 Penulis: Pdt. Sally Naomi Stefani Neparassi, M.Th.

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Tulisan ini mengkaji salah satu bagian paling kontroversial dalam Surat Filipi, yakni Filipi 3:2–6. Berbeda dari banyak penelitian yang berusaha mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan-lawan Paulus, penulis mengarahkan perhatian pada fungsi retoris dan literer dari polemik tersebut.

Melalui pendekatan eksegesis, analisis retorika, dan kajian sastra Perjanjian Baru, penulis menunjukkan bahwa polemik dan Bahasa keras Paulus bukanlah luapan emosi semata, melainkan strategi komunikasi yang disengaja dan strategi pastoral yang dirancang dengan sangat matang untuk membentuk identitas jemaat/gereja, menjaga kemurnian Injil, dan menghadirkan dirinya sebagai teladan iman kepada Kristus.

Polemik dan autobiografi Paulus dipahami sebagai dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun argumentasi rasuli. Tulisan ini memberi kontribusi penting bagi studi Paulus sekaligus menawarkan perspektif baru bahwa polemik Kristen, apabila digunakan secara benar, dapat menjadi sarana mempertahankan kebenaran Injil tanpa kehilangan orientasi kepada Kristus.

Penulis berusaha menjawab satu pertanyaan penting: Apa fungsi polemik Paulus dalam Filipi 3:2–6? Alih-alih memusatkan perhatian pada identitas historis para lawan Paulus, tulisan ini menunjukkan bahwa yang jauh lebih penting adalah memahami mengapa Paulus menggunakan bahasa yang sangat keras dan bagaimana polemik itu bekerja di dalam keseluruhan argumentasi Surat Filipi.

Dalam konteks hidup beragama di Indonesia, polemik merupakan bagian dari dinamika sosial yang tidak terhindarkan. Polemik yang umumnya berakar pada arogansi beragama, prasangka buruk, kebencian, dan persaingan tidak hanya menyebabkan rusaknya keharmonisan hidup, tetapi juga maraknya berbagai tindak kekerasan di masyarakat.

Menyikapi kondisi miris tersebut, gereja tidak hanya ditantang untuk bertahan dalam penderitaan, tetapi juga menyaksikan iman dan pengharapannya di dalam Kristus. Belajar dari teks-teks polemik Paulus, terutama Filipi 3:2–4a, kita diingatkan pentingnya mengasah kecakapan berpolemik baik secara lisan maupun tulisan.

Tulisan ini memberikan kontribusi yang penting bagi studi Perjanjian Baru. Melalui tulisan ini, Pdt. Sally Naomi Stefani Neparassi, M.Th. menegaskan bahwa Paulus tidak berpolemik untuk memenangkan perdebatan. Ia berpolemik untuk memenangkan jemaat kepada Kristus. Dan mungkin, di tengah budaya digital yang penuh perdebatan hari ini, itulah pelajaran yang paling kita butuhkan.

✍️ Tentang Penulis:
Pdt. Dr. (Cand.) Sally Naomi Stefani Neparassi, M.Th. adalah pendeta pelayanan umum GPIB yang diutus sebagai staf pengajar di STFT Jakarta. Beliau mengajar mata kuliah Perjanjian Baru. Keahlian dan fokus mengajarnya meliputi berbagai topik teologi seperti Surat-surat Rasul Paulus, Pengantar Alkitab, dan Homiletika (seni menafsir dan berkhotbah). Ia meraih gelar S.Si. Teologi (2006), dan M.Th di bidang Perjanjian Baru (2014) dari STT Jakarta. Sejak tahun 2020, ia menempuh studi doktoral bidang Perjanjian Baru di Universitas Münster, Jerman.

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#Paulus #Filipi3 #Teologi #PerjanjianBaru #StudiAlkitab #Eksegesis #Apologetika #Injil #TeologiBiblika #ReviewBuku #Hermeneutika #RetorikaPaulus #Filipi #TeologiKristen #ApologetikaKristen #BukuTeologi #BerteologiDalamSejarah #STFTJakarta #BPKGunungMulia #JanSiharAritonang

1 month ago | [YT] | 20

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“MEMILIKI HATI YANG DITULISI TAURAT TUHAN (YEREMIA 31:33)”
📚 Penulis: Pdt. (Em). Dr. Margaretha M. Hendriks Ririmasse

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Tulisan "Memiliki Hati yang Ditulisi Taurat Tuhan (Yer. 31:33)" ini menghadirkan refleksi teologis yang menghubungkan pesan kenabian Yeremia dengan tantangan kehidupan kontemporer, khususnya dalam konteks kepemimpinan, moralitas publik, dan era digitalisasi. Penulis berangkat dari pergumulan bangsa terhadap berbagai bentuk korupsi dan penyalahgunaan teknologi yang terus berkembang, lalu mengaitkannya dengan krisis spiritual yang pernah dialami Yehuda pada masa Nabi Yeremia. Menurut penulis, akar persoalan bukan terutama terletak pada kesalahan strategi politik atau kelemahan sistem sosial, melainkan pada hati manusia yang tidak lagi dipimpin oleh kehendak Allah.

Melalui penafsiran terhadap Yeremia 31:33, tulisan ini menegaskan pentingnya hati yang ditulisi Taurat Tuhan, yaitu hati yang terbuka terhadap kehendak Allah dan memungkinkan manusia bertindak dalam hikmat, kasih, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

Dengan pendekatan yang menggabungkan refleksi biblika, historis, dan kontekstual, tulisan ini menawarkan spiritualitas yang relevan bagi gereja dan masyarakat modern dalam menghadapi tantangan zaman digital. Penulis mengajak pembaca untuk melihat bahwa akar dari berbagai persoalan tersebut sesungguhnya bersifat spiritual. Oleh sebab itu, pembaruan hati menjadi kebutuhan mendasar bagi individu maupun masyarakat.

Pesan Yeremia 31:33 yang disampaikan melalui tulisan ini tetap relevan hingga hari ini. Ketika Taurat Tuhan ditulis dalam hati manusia, lahirlah pribadi-pribadi yang mampu menghadirkan kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera di tengah dunia yang terus berubah. Dengan demikian, tulisan ini memberikan kontribusi penting bagi gereja, dunia akademik, dan masyarakat luas dalam upaya untuk terus berteologi di dalam sejarah.

✍️ Tentang Penulis:
Pdt. (Em). Dr. Margaretha M. Hendriks Ririmasse adalah pendeta emeritus Gereja Protestan Maluku (GPM). Ia adalah dosen tidak tetap di Fakultas Teologi UKIM untuk mata kuliah Hermeneutika Perjanjian Lama I, Teologi Kontekstual Alkitabiah, dan English Enrichment Course (English Theology). Di samping mengajar, beliau juga terlibat sebagai anggota pembina pada Organ Yayasan LAI dan terdaftar sebagai Member of Advisory Board of KAICIID (King Abdul Azis International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue), dan Komite Pusat dari Asosiasi Pastoral Indonesia.

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#ReviewBuku #BerteologiDalamSejarah #Yeremia3133 #TeologiKristen #SpiritualitasKristen #MahasiswaTeologi #PendidikanTeologi #TeologiPublik #FirmanTuhan #ImanKristen #ReviewBukuKristen #BelajarAlkitab #PerjanjianLama #PerjanjianBaru #RenunganKristen #TeologiKontekstual #MargarethaRirimasse #STFTJakarta #BPKGunungMulia #JanSiharAritonang

1 month ago | [YT] | 24

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“THE SOUND OF SILENCE: Peran Musik di Masa Pandemi Covid-19”
📚 Penulis: Pdt. Dr. Rahel Sermon Harapani Daulay, Th.M

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Tulisan The Sound of Silence: Peran Musik di Masa Pandemi Covid-19 ini mengangkat refleksi mendalam mengenai fungsi musik sebagai medium pendamping, penghibur, pemersatu, dan penggerak harapan di tengah krisis pandemi Covid-19 yang lalu. Berangkat dari pengalaman pribadi penulis sebagai penyintas Covid-19 dan pendidik musik, tulisan ini menghubungkan konsep “diam” (silence) dalam musik dengan pengalaman keterasingan, ketidakpastian, dan perubahan yang dialami masyarakat selama pandemi.

Melalui pendekatan interdisipliner yang memadukan musikologi, pendidikan musik, liturgi, dan refleksi teologis, penulis menunjukkan bahwa diam bukanlah kekosongan atau ketiadaan, melainkan ruang aktif yang mengandung harapan, kreativitas, dan transformasi.

Dalam tulisan ini, Pdt. Dr. Rahel Sermon H. Daulay, Th.M, juga mengeksplorasi bagaimana pandemi mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam pendidikan musik dan praktik peribadahan digital selama masa pandemi, termasuk penciptaan lagu “Merengkuh Kerapuhan” sebagai Lagu Tema Dies Natalis ke-86 STFT Jakarta Tahun 2020, yang menjadi ekspresi iman, solidaritas, dan pengharapan di tengah kerapuhan manusia.

Melalui refleksi atas makna liturgis Sabtu Sunyi, tulisan ini menegaskan bahwa kesunyian bukanlah akhir, melainkan ruang peralihan yang mempersiapkan lahirnya kehidupan baru. Tulisan The Sound of Silence ini mengajak pembaca memahami bahwa “suara kesunyian” bukanlah kehampaan, melainkan nada pengharapan yang menuntun manusia memasuki masa depan dengan optimisme, kreativitas, dan iman.

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi teologis-musikal yang kaya, kontekstual, dan inspiratif serta memiliki kontribusi penting bagi gereja, dunia pendidikan teologi, pelayanan musik, dan masyarakat luas karena menawarkan cara pandang yang segar terhadap pandemi sebagai masa “Sabtu Sunyi” yang menyiapkan manusia menuju kebangkitan dan masa depan yang lebih baik.

✍️ Tentang Penulis:
Pdt. Dr. Rahel Sermon Harapani Daulay, Th.M., adalah pendeta jemaat di Gereja Methodist Indonesia. Ia menyelesaikan S1 di STT Jakarta (2007) pada program studi Konsentrasi Liturgi dan Musik Gereja, dan meraih gelar Master of Theology in Liturgy and Music dari Asian Institute for Liturgy and Music, Quezon City, Filipina (2012). Tahun 2024, ia meraih gelar Doctor of Worship Studies (D.W.S.) di The Robert Webber institute for Worship Studies, Florida. Di STFT Jakarta, sejak 2013 ia menjadi Dosen tetap Bidang Liturgi dan Musik Gereja dan sekaligus menjadi pelatih Kelompok Musik Kreatif STFT Jakarta, dan menjadi Lektor sejak 1 Januari 2025. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STFT Jakarta Periode 2023-2027.

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#TheSoundOfSilence #ReviewBuku #BerteologiDalamSejarah #RahelDaulay #MusikDanSpiritualitas #RefleksiTeologis #TeologiKristen #SpiritualitasKristen #PandemiCovid19 #SabtuSunyi #PengharapanKristen #MerengkuhKerapuhan #MusikGereja #PelayananMusik #BelajarTeologi #LiteraturKristen #KristenIndonesia #RenunganKristen #InspirasiKristen #STFTJakarta #BPKGunungMulia #MethodistIndonesia #JansiharAritonang #jansaritonangofficial #documentary

1 month ago | [YT] | 23

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“TUHAN ADALAH RAJA” – Seri Khotbah

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

🎙 Pengkhotbah: • Pdt. (Em) Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

• Topik Khotbah “TUHAN ADALAH RAJA” ini merupakan salah satu Seri Khotbah inspiratif yang dibawakan oleh Pdt. [Em] Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Ph.D, di Gereja Kristen Protestan Indonesia–GKPI Jemaat Menteng Jakarta, dalam Ibadah Minggu Exaudi, hari Minggu 01 Juni 2025. Renungan Firman Tuhan bersumber dari Mazmur 97:1-12. Epistel Wahyu 22:12-21.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

• Seri Khotbah | Jan S Aritonang | GKPI Jemaat Menteng | Inspiration| Education | Collaboration |

#khotbahkristen #firmantuhan #renunganfirmantuhan #yesuskristus #yesuskristusraja #khotbahminggu #ibadahminggu #renunganfirman #serikhotbah #ibadahonline #ibadahmingguonline #serikhotbahinspiratif #gkpi #gkpimenteng #jansihararitonang #jansaritonangofficial

1 month ago (edited) | [YT] | 24

Jan S Aritonang Official (Documentary)

“ISMAEL DAN ISHAK – BUKAN ISMAEL ATAU ISHAK!”
📚 Penulis: Agustinus Setiawidi, MA, Th.D

▶️ Saksikan di Youtube channel: Jan S Aritonang Official (Documentary)
👉 youtube.com/@jansaritonangofficial

Tulisan ini merupakan refleksi teologis-biblis yang berangkat dari keprihatinan terhadap relasi Kristen dan Islam di Indonesia. Dengan mengekplorasi narasi Alkitab tentang Ismael dan Ishak, penulis berupaya mengoreksi kecenderungan penafsiran kompetitif yang selama ini menempatkan kedua anak Abraham sebagai simbol pertentangan antara dua komunitas agama.

Melalui pembacaan ulang terhadap teks-teks Kitab Kejadian dan evaluasi kritis terhadap alegori Paulus dalam Galatia 4:21–31, penulis menunjukkan bahwa Alkitab justru menampilkan potret positif mengenai Ismael serta tidak memberikan bukti tekstual yang kuat tentang rivalitas pribadi antara Ismael dan Ishak. Sebaliknya, keduanya sama-sama dikasihi Abraham dan diberkati Allah sesuai panggilan masing-masing.

Tulisan ini ditulis dalam semangat yang sejalan dengan perhatian teolog Indonesia, Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D., yang selama bertahun-tahun menaruh perhatian pada dinamika perjumpaan antara umat Kristen dan Islam di Indonesia. Melalui refleksi atas kisah Ismael dan Ishak, penulis berusaha menawarkan cara pandang yang lebih konstruktif terhadap relasi kedua komunitas tersebut.

Melalui tulisan ini, penulis menawarkan paradigma relasional yang lebih konstruktif bagi perjumpaan Kristen dan Islam, dengan menekankan bahwa warisan Abraham tidak harus dipahami dalam kerangka “Ismael atau Ishak”, melainkan “Ismael dan Ishak”. Dengan demikian, tulisan ini berkontribusi pada upaya membangun dialog, perdamaian, dan kehidupan bersama yang lebih adil di tengah masyarakat majemuk Indonesia.

Kontribusi utama tulisan ini terletak pada usahanya membangun paradigma teologis yang lebih inklusif dan dialogis bagi hubungan Kristen dan Islam. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pesan “Ismael dan Ishak, bukan Ismael atau Ishak” menjadi ajakan penting untuk membaca kembali tradisi keagamaan demi terwujudnya perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

✍️ Tentang Penulis:
Agustinus Setiawidi, MA, Th.D. adalah pendeta pelayanan khusus di GKJ dan dosen tetap STFT Jakarta sejak tahun 2004 hingga saat ini. Setelah tamat sebagai Sarjana Teologi dari STT Jakarta (1998), ia melanjutkan studi di Universiteit Leiden, Belanda dan meraih gelar Master of Arts in Religious Study (2003), dan selanjutnya meraih gelar Doctor of Theology (Th.D.) dari Protestantse Theologische Universiteit, Kampen, Belanda (2011).

Jangan lewatkan special episodes Review Buku: BERTEOLOGI DALAM SEJARAH, Inspirasi dan Kolaborasi 43 Penulis lintas Agama, lintas Generasi dan lintas Negara.

🎧 Also available to listen on:
• Spotify: bit.ly/Spotify-JanSAritonang
• Amazon Music: bit.ly/AmazonMusic-JanSAritonang
• Audible: bit.ly/Audible-JanSAritonang
• TuneIn: bit.ly/TuneIn-JanSAritonangOfficial

• Kindly Subscribe, like, share & follow Social Media:
• Youtube: youtube.com/@jansaritonangofficial
• Instagram: www.instagram.com/jansaritonang/
• TikTok: www.tiktok.com/@jansaritonang
• Fan Page FB: web.facebook.com/jansaritonang/

#IsmaelDanIshak #TeologiPerdamaian #BerteologiDalamSejarah #AgustinusSetiawidi
#ReviewBuku #TeologiKristen #TeologiBiblika #StudiAlkitab #HubunganKristenIslam
#DialogAntarAgama #IslamDanKristen #AbrahamicFaiths #BiblicalTheology #PeaceTheology #ChristianMuslimRelations #PerjumpaanKristendanIslam

2 months ago | [YT] | 21