Keteguhan Anak-anak Gaza, Main Sepak Bola di Tengah Reruntuhan
Anak-anak di Al-Karama, utara Gaza, bermain sepak bola di tengah reruntuhan rumah akibat serangan Israel, menjadikan tumpukan batu dan puing sebagai gawang darurat. Adegan ini menampilkan keteguhan dan semangat hidup generasi muda Gaza meski menghadapi krisis dan kehancuran yang meluas.
Dukung 700 Ribu Anak Gaza untuk Kembali ke Sekolah
UNICEF meluncurkan kampanye darurat untuk mengembalikan sekitar 700 ribu anak usia sekolah di Gaza ke bangku pendidikan setelah hampir 90 persen sekolah rusak atau hancur akibat perang. Saat ini, lebih dari 135 ribu anak sudah mengikuti pembelajaran darurat di tenda-tenda dan pusat belajar sementara.
UNICEF menargetkan jumlah itu meningkat menjadi 336 ribu anak hingga akhir tahun, dengan tujuan seluruh anak Gaza kembali mengikuti pendidikan tatap muka pada 2027. Program ini dijalankan bersama Kementerian Pendidikan Palestina dan UNRWA.
UNICEF membutuhkan pendanaan sebesar 86 juta dolar AS untuk memastikan pendidikan tetap berjalan. Organisasi tersebut menegaskan, pendidikan di Gaza bukan sekadar soal belajar, tetapi ruang aman yang menyelamatkan masa depan satu generasi.
Gaza Alami Malam Terdingin Tahun Ini, Warga Bertahan di Tenda Rapuh
Warga Gaza menghadapi malam terdingin tahun ini di tengah blokade, bertahan di tenda-tenda rapuh yang hanya dilapisi plastik dan selimut tipis. Abu Khalil, 52 tahun, menceritakan, “Tenda ini tidak melindungi kami, kami hanya berusaha meyakinkan diri bahwa kami masih hidup.”
Anak-anak menggigil, lansia merasakan dingin menembus tulang, sementara warga terpaksa menyalakan api dari karton atau plastik meski berisiko. Suasana pagi menjadi saksi wajah pucat, mata merah, dan tubuh kelelahan akibat malam panjang yang tak berujung.
Cuaca Ekstrem Musim Dingin Perparah Krisis, Keluarga Gaza Terpaksa Bertahan di Bangunan Rapuh
Musim dingin dengan hujan lebat dan angin kencang kian memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak keluarga terpaksa bertahan di bangunan rusak sisa serang*n Isra*l karena tidak memiliki alternatif tempat berlindung yang aman.
Raida Ahmad, ibu lima anak di Khan Younis, memilih tinggal di satu kamar yang tersisa dari rumahnya meski dinding dan atapnya retak. “Hidup di sini berbahaya, tapi masih lebih baik daripada tinggal di tenda,” ujarnya.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat puluhan warga syahid akibat runtuhnya bangunan dan cuaca dingin ekstrem, mayoritas anak-anak dan perempuan. Otoritas setempat memperingatkan, cuaca ekstrem meningkatkan risiko kematian di tengah keterbatasan bahan bangunan, alat pemanas, dan pembatasan bantuan yang masih diberlakukan Isra*l.
Krisis Musim Dingin Makin Parah, Bayi 6 Bulan Mati Membeku
Jumlah anak yang meninggal akibat kedinginan di Gaza sejak awal musim dingin kini mencapai 10 anak, termasuk bayi Yusuf Abu Hamad yang lahir setelah menunggu 17 tahun. Yusuf meninggal pada usia 6 bulan, meninggalkan keluarga yang kehilangan kebahagiaan yang lama dinantikan.
Puluhan ribu pengungsi hidup dalam kondisi manusiawi yang mengerikan, dengan tenda rapuh, minim perlindungan, dan kekurangan air, makanan, serta obat-obatan. Penutupan perbatasan oleh Israel dan minimnya bantuan internasional membuat krisis ini semakin memburuk.
“Anak ini adalah anugerah dari Allah setelah 17 tahun menunggu. Tapi ia pergi karena dingin yang menusuk dan dehidrasi akibat air limbah,” kata Omar Abu Hamad, ayah bayi Yusuf, yang tinggal dekat saluran pembuangan air di Khan Younis.
Bahkan nenek Yusuf menceritakan: “Tubuhnya membiru karena dingin, lalu ia dibawa ke rumah sakit tapi tak tertolong.” Dokter memastikan penyebab utama kematian adalah cuaca dingin ekstrem dan kontaminasi air limbah.
Musim Dingin Perparah Krisis, Tenda Pengungsian Jadi “Tenda Kematian” Akibat Serang*n Isra*l
Pengungsi Gaza menghadapi penderitaan baru di musim dingin setelah angin kencang dan hujan deras menghancurkan ribuan tenda pengungsian. Anak-anak, lansia, dan bayi menjadi korban kedinginan, dengan beberapa harus dilarikan ke rumah sakit.
Data resmi menunjukkan sejak awal serang*n Isra*l, 21 warga syahid akibat dingin ekstrem, termasuk 18 anak, sementara 127 ribu dari 135 ribu tenda tidak layak huni. Kekurangan selimut, alat pemanas, dan akses air bersih memperparah krisis.
Meski gencatan senjata berlaku, serang*n Isra*l dan blokade yang berlangsung lebih dari 500 hari membuat kehidupan pengungsi tetap rapuh, menjadikan tenda-tenda pengungsian simbol penderitaan yang akut akibat kombinasi agresi militer dan kondisi alam.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh Disini Saya Ingin Mempromosikan Salah Satu Channel @MasjidMisbahshalihin Supaya masjid misbah shalihin Lebih Semangat Dalam Menyebarkan Kebaikan Sekian Terimakasih Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
bagi yang berminat bisa subscribe dan saya tidak akan memaksa jika tidak berminat
Gibran.Hijrah
2 days ago | [YT] | 1,403
View 15 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Keteguhan Anak-anak Gaza, Main Sepak Bola di Tengah Reruntuhan
Anak-anak di Al-Karama, utara Gaza, bermain sepak bola di tengah reruntuhan rumah akibat serangan Israel, menjadikan tumpukan batu dan puing sebagai gawang darurat. Adegan ini menampilkan keteguhan dan semangat hidup generasi muda Gaza meski menghadapi krisis dan kehancuran yang meluas.
6 days ago | [YT] | 4,867
View 152 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Dukung 700 Ribu Anak Gaza untuk Kembali ke Sekolah
UNICEF meluncurkan kampanye darurat untuk mengembalikan sekitar 700 ribu anak usia sekolah di Gaza ke bangku pendidikan setelah hampir 90 persen sekolah rusak atau hancur akibat perang. Saat ini, lebih dari 135 ribu anak sudah mengikuti pembelajaran darurat di tenda-tenda dan pusat belajar sementara.
UNICEF menargetkan jumlah itu meningkat menjadi 336 ribu anak hingga akhir tahun, dengan tujuan seluruh anak Gaza kembali mengikuti pendidikan tatap muka pada 2027. Program ini dijalankan bersama Kementerian Pendidikan Palestina dan UNRWA.
UNICEF membutuhkan pendanaan sebesar 86 juta dolar AS untuk memastikan pendidikan tetap berjalan. Organisasi tersebut menegaskan, pendidikan di Gaza bukan sekadar soal belajar, tetapi ruang aman yang menyelamatkan masa depan satu generasi.
1 week ago | [YT] | 4,344
View 145 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Gaza Alami Malam Terdingin Tahun Ini, Warga Bertahan di Tenda Rapuh
Warga Gaza menghadapi malam terdingin tahun ini di tengah blokade, bertahan di tenda-tenda rapuh yang hanya dilapisi plastik dan selimut tipis. Abu Khalil, 52 tahun, menceritakan, “Tenda ini tidak melindungi kami, kami hanya berusaha meyakinkan diri bahwa kami masih hidup.”
Anak-anak menggigil, lansia merasakan dingin menembus tulang, sementara warga terpaksa menyalakan api dari karton atau plastik meski berisiko. Suasana pagi menjadi saksi wajah pucat, mata merah, dan tubuh kelelahan akibat malam panjang yang tak berujung.
1 week ago | [YT] | 4,516
View 131 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Cuaca Ekstrem Musim Dingin Perparah Krisis, Keluarga Gaza Terpaksa Bertahan di Bangunan Rapuh
Musim dingin dengan hujan lebat dan angin kencang kian memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak keluarga terpaksa bertahan di bangunan rusak sisa serang*n Isra*l karena tidak memiliki alternatif tempat berlindung yang aman.
Raida Ahmad, ibu lima anak di Khan Younis, memilih tinggal di satu kamar yang tersisa dari rumahnya meski dinding dan atapnya retak. “Hidup di sini berbahaya, tapi masih lebih baik daripada tinggal di tenda,” ujarnya.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat puluhan warga syahid akibat runtuhnya bangunan dan cuaca dingin ekstrem, mayoritas anak-anak dan perempuan. Otoritas setempat memperingatkan, cuaca ekstrem meningkatkan risiko kematian di tengah keterbatasan bahan bangunan, alat pemanas, dan pembatasan bantuan yang masih diberlakukan Isra*l.
1 week ago | [YT] | 3,390
View 150 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Krisis Musim Dingin Makin Parah, Bayi 6 Bulan Mati Membeku
Jumlah anak yang meninggal akibat kedinginan di Gaza sejak awal musim dingin kini mencapai 10 anak, termasuk bayi Yusuf Abu Hamad yang lahir setelah menunggu 17 tahun. Yusuf meninggal pada usia 6 bulan, meninggalkan keluarga yang kehilangan kebahagiaan yang lama dinantikan.
Puluhan ribu pengungsi hidup dalam kondisi manusiawi yang mengerikan, dengan tenda rapuh, minim perlindungan, dan kekurangan air, makanan, serta obat-obatan. Penutupan perbatasan oleh Israel dan minimnya bantuan internasional membuat krisis ini semakin memburuk.
“Anak ini adalah anugerah dari Allah setelah 17 tahun menunggu. Tapi ia pergi karena dingin yang menusuk dan dehidrasi akibat air limbah,” kata Omar Abu Hamad, ayah bayi Yusuf, yang tinggal dekat saluran pembuangan air di Khan Younis.
Bahkan nenek Yusuf menceritakan: “Tubuhnya membiru karena dingin, lalu ia dibawa ke rumah sakit tapi tak tertolong.” Dokter memastikan penyebab utama kematian adalah cuaca dingin ekstrem dan kontaminasi air limbah.
1 week ago | [YT] | 6,483
View 231 replies
Gibran.Hijrah
2 weeks ago | [YT] | 985
View 10 replies
Gibran.Hijrah
Musim Dingin Perparah Krisis, Tenda Pengungsian Jadi “Tenda Kematian” Akibat Serang*n Isra*l
Pengungsi Gaza menghadapi penderitaan baru di musim dingin setelah angin kencang dan hujan deras menghancurkan ribuan tenda pengungsian. Anak-anak, lansia, dan bayi menjadi korban kedinginan, dengan beberapa harus dilarikan ke rumah sakit.
Data resmi menunjukkan sejak awal serang*n Isra*l, 21 warga syahid akibat dingin ekstrem, termasuk 18 anak, sementara 127 ribu dari 135 ribu tenda tidak layak huni. Kekurangan selimut, alat pemanas, dan akses air bersih memperparah krisis.
Meski gencatan senjata berlaku, serang*n Isra*l dan blokade yang berlangsung lebih dari 500 hari membuat kehidupan pengungsi tetap rapuh, menjadikan tenda-tenda pengungsian simbol penderitaan yang akut akibat kombinasi agresi militer dan kondisi alam.
2 weeks ago | [YT] | 3,217
View 141 replies
Gibran.Hijrah
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Disini Saya Ingin Mempromosikan Salah Satu Channel @MasjidMisbahshalihin Supaya masjid misbah shalihin Lebih Semangat Dalam Menyebarkan Kebaikan
Sekian Terimakasih
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
bagi yang berminat bisa subscribe dan saya tidak akan memaksa jika tidak berminat
2 weeks ago (edited) | [YT] | 268
View 5 replies
Load more