Sisa-sisa Kehidupan di Tengah Reruntuhan, Pengungsi Gaza Mulai dari Nol Lagi
Setiap kali letusan serangan udara baru mengguncang Gaza, kehidupan ribuan warga mendadak sirna dalam hitungan detik. Dampak kehancuran tak hanya meratakan bangunan yang menjadi sasaran langsung, tetapi juga merusak tenda-tenda pengungsian dan fasilitas penampungan di sekitarnya.
Warga Gaza berkali-kali dipaksa kembali ke titik nol, mengais puing-puing demi mengumpulkan sisa-sisa kehidupan yang masih tersisa.
Siswi asal Gaza, Saba Rabah (18), mencatat sejarah setelah meraih nilai 99,9 persen dalam ujian Tawjihi dan menjadi peringkat pertama nasional Palestina untuk jurusan sains.
Prestasi tersebut diraih di tengah perang, keterbatasan listrik, serta pengungsian berulang kali bersama keluarganya.
Saba juga kehilangan ayahnya, Fayed Rabah, seorang guru UNRWA yang gugur akibat serangan udara pada Juni 2024. Meski rumah keluarganya hancur dan ia sempat belajar hanya dengan cahaya senter ponsel, Saba tetap mempertahankan semangat belajar hingga menjadi siswi terbaik di seluruh Palestina.
Tanpa Buku dan Pena: Anak-Anak Gaza Menyambut Tahun Ajaran Baru dengan Fasilitas Seadanya
sekolah-sekolah di Gaza mengalami kelangkaan parah pada buku tulis, pena, buku teks, dan paket materi pembelajaran. Kondisi ini berdampak langsung pada proses belajar-mengajar di kelas.
Para guru kerap kali hanya mengandalkan penjelasan lisan di papan tulis tanpa dibantu media peraga yang sebelumnya digunakan untuk menunjang aktivitas siswa.
Spanyol menyambut 100 warga Palestina dari Gaza dalam evakuasi kemanusiaan keenam.
Sebanyak 20 anak yang sakit dan terluka ikut bersama keluarga untuk menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Spanyol.
Melalui akun resminya di X, Perdana Menteri Pedro Sánchez menulis bahwa tidak ada manusia, terutama anak-anak, yang pantas mengalami kengerian di Gaza. la menyebut merawat mereka adalah kewajiban moral sekaligus membela hak mereka untuk pulang dengan damai serta menolak sikap acuh tak acuh terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
13 Warga Gaza Syahid dalam Serangkaian Serang*n Udara Isra*l 24 Jam Terakhir
Gelombang serang*n udara milit*r Isra*l kembali menghantam permukiman padat penduduk di Jalur Gaza tanpa peringatan. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sedikitnya 13 warga Palestina syahid (sebagian besar di antaranya adalah anak-anak, wanita, dan lansia) sementara puluhan lainnya luka-luka.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza mengonfirmasi lima warga syahid, termasuk tiga anak-anak, setelah jet temp*r Isra*l membom sebuah apartemen di Lingkungan Al-Sabra, sebelah selatan Kota Gaza.
Kemenangan Spanyol atas Argentina dalam final Piala Dunia 2026 disambut meriah oleh warga Palestina di Jalur Gaza.
Bagi masyarakat Gaza, menyaksikan kekalahan dramatis Messi cs menjadi oase di tengah kepungan konflik. Aktivitas nobar tersebut memberikan ruang rehat sejenak agar mereka bisa melupakan tekanan perang serta beratnya jeratan krisis kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut.
Mayoritas warga di lokasi nobar tersebut secara terbuka memilih mendukungan skuad La Furia Roja. Pilihan ini bukan tanpa alasan, sebab Spanyol dinilai vokal dalam menyuarakan dan membela hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina selama ini
1000 Hari / hampir 3 Tahun Palestina Mengalami penderitaan yg tiada hentinya 🥀 •1000 Hari / hampir 3 Tahun Palestina Mengalami penderitaan yg tiada hentinya 🥀 •
Sebelum Konflik: Gaza adalah salah satu wilayah paling padat penduduknya di dunia, dipenuhi dengan kompleks pemukiman, sekolah, universitas, rumah sakit, lahan pertanian yang subur di area timur, serta situs-situs bersejarah di pusat Kota Gaza.
Sesudah Konflik: Data satelit PBB menunjukkan bahwa lebih dari 80% struktur bangunan di seluruh Jalur Gaza telah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan, hancur sebagian, hingga rata dengan tanah
Jadi Tulang Punggung Keluarga, Banyak Anak-Anak Gaza Terpaksa Putus Sekolah
Agresi militer Israel di Jalur Gaza tidak hanya meremukkan infrastruktur fisik seperti rumah, masjid, dan sekolah. Lebih dalam dari itu, perang telah merenggut paksa dunia anak-anak di Gaza. Di antara tenda-tenda pengungsian yang mulai koyak, raga-raga kecil mereka kini terdorong ke kerasnya pasar kerja, menggantikan ruang kelas yang hancur dan lapangan bermain yang kini rata dengan tanah.
Salah satu potret pilu itu melekat pada Yazan. Bocah laki-laki ini tidak lagi terbangun oleh dering alarm yang menandakan waktu bersiap ke sekolah. Kini, ia terjaga oleh beban hidup yang jauh melampaui usianya. Yazan harus bekerja setelah ayahnya gugur dalam pusaran perang, menjadikannya tulang punggung instan bagi keluarganya.
“Setelah suami saya tiang runtuh, kemiskinan mencekik kami,” tutur ibunda Yazan dengan nada lirih. “Anak laki-laki saya akhirnya harus keluar rumah sendirian, mencari pekerjaan apa saja demi memberi makan adik-adiknya. Padahal, cita-cita saya dulu ingin melihatnya menyelesaikan sekolah dan menjadi dokter. Saya ingin dia merasakan masa kecil yang utuh seperti anak-anak lain di dunia.”
Kisah Yazan bukanlah anomali, melainkan realitas kolektif di Gaza hari ini. Ratusan anak bernasib serupa, menjadi yatim dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. “Saya tidak bisa lagi memikirkan sekolah karena ada tanggung jawab rumah yang harus saya pikul. Sekarang saya bekerja di kedai kecil, menjual air dan minuman ringan untuk menghidupi keluarga,” ucap Yazan tegar.
Misteri Cairan Mirip Semen Banjiri Jalanan Gaza, Warga Mulai Alami Gatal-Gatal
Warga Palestina di bagian timur kamp pengungsian Al-Maghazi, Gaza Tengah, dikejutkan oleh kemunculan material misterius yang membanjiri jalanan permukiman mereka. Cairan kental menyerupai semen tersebut dilaporkan mulai merembes ke rumah-rumah warga setelah militer Israel memompanya dalam jumlah besar ke dalam jaringan terowongan bawah tanah yang berada di dekat kawasan tersebut.
Sejumlah penduduk Al-Maghazi menuturkan kepada jurnalis lapangan bahwa mereka sempat mendengar deru mesin pompa bawah tanah yang bising sebelum akhirnya cairan asing itu meluap ke jalan-jalan dan gang perumahan. Akibatnya, akses mobilitas warga lumpuh total, dan beberapa rumah yang berada di dekat garis perbatasan yang disebut Israel sebagai “Zona Kuning” mulai terendam.
Mahmoud Abu Shahadah, salah seorang warga setempat, menceritakan bagaimana situasi mencekam tersebut terjadi.
“Jalanan mendadak penuh dengan cairan itu dalam waktu singkat. Kami kesulitan untuk sekadar bergerak, bahkan untuk mengevakuasi orang sakit pun hampir mustahil, padahal situasi keamanan di sini sedang sangat kritis,” ujarnya.
Menurut Abu Shahadah, dua hari sebelumnya, tank-tank militer Israel sempat merangsek masuk ke wilayah mereka dan melepaskan tembakan membabi buta ke segala arah, memaksa warga mengurung diri di dalam rumah.
Bersamaan dengan pengepungan itu, suara mesin pompa raksasa mulai terdengar. Hanya dalam waktu setengah jam, cairan yang awalnya dikira semen biasa itu mulai meluap dan menenggelamkan jalanan dalam waktu dua jam.
Gibran.Hijrah
Sisa-sisa Kehidupan di Tengah Reruntuhan, Pengungsi Gaza Mulai dari Nol Lagi
Setiap kali letusan serangan udara baru mengguncang Gaza, kehidupan ribuan warga mendadak sirna dalam hitungan detik. Dampak kehancuran tak hanya meratakan bangunan yang menjadi sasaran langsung, tetapi juga merusak tenda-tenda pengungsian dan fasilitas penampungan di sekitarnya.
Warga Gaza berkali-kali dipaksa kembali ke titik nol, mengais puing-puing demi mengumpulkan sisa-sisa kehidupan yang masih tersisa.
3 days ago | [YT] | 4,472
View 110 replies
Gibran.Hijrah
Siswi asal Gaza, Saba Rabah (18), mencatat sejarah setelah meraih nilai 99,9 persen dalam ujian Tawjihi dan menjadi peringkat pertama nasional Palestina untuk jurusan sains.
Prestasi tersebut diraih di tengah perang, keterbatasan listrik, serta pengungsian berulang kali bersama keluarganya.
Saba juga kehilangan ayahnya, Fayed Rabah, seorang guru UNRWA yang gugur akibat serangan udara pada Juni 2024. Meski rumah keluarganya hancur dan ia sempat belajar hanya dengan cahaya senter ponsel, Saba tetap mempertahankan semangat belajar hingga menjadi siswi terbaik di seluruh Palestina.
1 week ago | [YT] | 11,704
View 152 replies
Gibran.Hijrah
Tanpa Buku dan Pena: Anak-Anak Gaza Menyambut Tahun Ajaran Baru dengan Fasilitas Seadanya
sekolah-sekolah di Gaza mengalami kelangkaan parah pada buku tulis, pena, buku teks, dan paket materi pembelajaran. Kondisi ini berdampak langsung pada proses belajar-mengajar di kelas.
Para guru kerap kali hanya mengandalkan penjelasan lisan di papan tulis tanpa dibantu media peraga yang sebelumnya digunakan untuk menunjang aktivitas siswa.
1 week ago | [YT] | 6,039
View 109 replies
Gibran.Hijrah
Spanyol menyambut 100 warga Palestina dari Gaza dalam evakuasi kemanusiaan keenam.
Sebanyak 20 anak yang sakit dan terluka ikut bersama keluarga untuk menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Spanyol.
Melalui akun resminya di X, Perdana Menteri Pedro Sánchez menulis bahwa tidak ada manusia, terutama anak-anak, yang pantas mengalami kengerian di Gaza. la menyebut merawat mereka adalah kewajiban moral sekaligus membela hak mereka untuk pulang dengan damai serta menolak sikap acuh tak acuh terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
2 weeks ago | [YT] | 7,539
View 126 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
13 Warga Gaza Syahid dalam Serangkaian Serang*n Udara Isra*l 24 Jam Terakhir
Gelombang serang*n udara milit*r Isra*l kembali menghantam permukiman padat penduduk di Jalur Gaza tanpa peringatan. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sedikitnya 13 warga Palestina syahid (sebagian besar di antaranya adalah anak-anak, wanita, dan lansia) sementara puluhan lainnya luka-luka.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza mengonfirmasi lima warga syahid, termasuk tiga anak-anak, setelah jet temp*r Isra*l membom sebuah apartemen di Lingkungan Al-Sabra, sebelah selatan Kota Gaza.
2 weeks ago | [YT] | 6,025
View 171 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Kemenangan Spanyol atas Argentina dalam final Piala Dunia 2026 disambut meriah oleh warga Palestina di Jalur Gaza.
Bagi masyarakat Gaza, menyaksikan kekalahan dramatis Messi cs menjadi oase di tengah kepungan konflik. Aktivitas nobar tersebut memberikan ruang rehat sejenak agar mereka bisa melupakan tekanan perang serta beratnya jeratan krisis kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut.
Mayoritas warga di lokasi nobar tersebut secara terbuka memilih mendukungan skuad La Furia Roja. Pilihan ini bukan tanpa alasan, sebab Spanyol dinilai vokal dalam menyuarakan dan membela hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina selama ini
2 weeks ago | [YT] | 2,985
View 60 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
1000 Hari / hampir 3 Tahun Palestina Mengalami penderitaan yg tiada hentinya 🥀 •1000 Hari / hampir 3 Tahun Palestina Mengalami penderitaan yg tiada hentinya 🥀 •
1 month ago (edited) | [YT] | 3,188
View 142 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Sebelum Konflik: Gaza adalah salah satu wilayah paling padat penduduknya di dunia, dipenuhi dengan kompleks pemukiman, sekolah, universitas, rumah sakit, lahan pertanian yang subur di area timur, serta situs-situs bersejarah di pusat Kota Gaza.
Sesudah Konflik: Data satelit PBB menunjukkan bahwa lebih dari 80% struktur bangunan di seluruh Jalur Gaza telah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan, hancur sebagian, hingga rata dengan tanah
1 month ago | [YT] | 5,788
View 167 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Jadi Tulang Punggung Keluarga, Banyak Anak-Anak Gaza Terpaksa Putus Sekolah
Agresi militer Israel di Jalur Gaza tidak hanya meremukkan infrastruktur fisik seperti rumah, masjid, dan sekolah. Lebih dalam dari itu, perang telah merenggut paksa dunia anak-anak di Gaza. Di antara tenda-tenda pengungsian yang mulai koyak, raga-raga kecil mereka kini terdorong ke kerasnya pasar kerja, menggantikan ruang kelas yang hancur dan lapangan bermain yang kini rata dengan tanah.
Salah satu potret pilu itu melekat pada Yazan. Bocah laki-laki ini tidak lagi terbangun oleh dering alarm yang menandakan waktu bersiap ke sekolah. Kini, ia terjaga oleh beban hidup yang jauh melampaui usianya. Yazan harus bekerja setelah ayahnya gugur dalam pusaran perang, menjadikannya tulang punggung instan bagi keluarganya.
“Setelah suami saya tiang runtuh, kemiskinan mencekik kami,” tutur ibunda Yazan dengan nada lirih. “Anak laki-laki saya akhirnya harus keluar rumah sendirian, mencari pekerjaan apa saja demi memberi makan adik-adiknya. Padahal, cita-cita saya dulu ingin melihatnya menyelesaikan sekolah dan menjadi dokter. Saya ingin dia merasakan masa kecil yang utuh seperti anak-anak lain di dunia.”
Kisah Yazan bukanlah anomali, melainkan realitas kolektif di Gaza hari ini. Ratusan anak bernasib serupa, menjadi yatim dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. “Saya tidak bisa lagi memikirkan sekolah karena ada tanggung jawab rumah yang harus saya pikul. Sekarang saya bekerja di kedai kecil, menjual air dan minuman ringan untuk menghidupi keluarga,” ucap Yazan tegar.
1 month ago | [YT] | 4,279
View 148 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Misteri Cairan Mirip Semen Banjiri Jalanan Gaza, Warga Mulai Alami Gatal-Gatal
Warga Palestina di bagian timur kamp pengungsian Al-Maghazi, Gaza Tengah, dikejutkan oleh kemunculan material misterius yang membanjiri jalanan permukiman mereka. Cairan kental menyerupai semen tersebut dilaporkan mulai merembes ke rumah-rumah warga setelah militer Israel memompanya dalam jumlah besar ke dalam jaringan terowongan bawah tanah yang berada di dekat kawasan tersebut.
Sejumlah penduduk Al-Maghazi menuturkan kepada jurnalis lapangan bahwa mereka sempat mendengar deru mesin pompa bawah tanah yang bising sebelum akhirnya cairan asing itu meluap ke jalan-jalan dan gang perumahan. Akibatnya, akses mobilitas warga lumpuh total, dan beberapa rumah yang berada di dekat garis perbatasan yang disebut Israel sebagai “Zona Kuning” mulai terendam.
Mahmoud Abu Shahadah, salah seorang warga setempat, menceritakan bagaimana situasi mencekam tersebut terjadi.
“Jalanan mendadak penuh dengan cairan itu dalam waktu singkat. Kami kesulitan untuk sekadar bergerak, bahkan untuk mengevakuasi orang sakit pun hampir mustahil, padahal situasi keamanan di sini sedang sangat kritis,” ujarnya.
Menurut Abu Shahadah, dua hari sebelumnya, tank-tank militer Israel sempat merangsek masuk ke wilayah mereka dan melepaskan tembakan membabi buta ke segala arah, memaksa warga mengurung diri di dalam rumah.
Bersamaan dengan pengepungan itu, suara mesin pompa raksasa mulai terdengar. Hanya dalam waktu setengah jam, cairan yang awalnya dikira semen biasa itu mulai meluap dan menenggelamkan jalanan dalam waktu dua jam.
1 month ago | [YT] | 4,813
View 174 replies
Load more