Warga Gaza Tersiksa Cuaca Ekstrem: “Kami Mati Kedinginan, Tenda Kami Terbang" Ribuan keluarga pengungsi di Gaza menghadapi malam paling berat sejak perang, ketika angin kencang dan hujan deras merobohkan tenda dan merendam hunian darurat mereka. Kondisi ini menambah penderitaan warga yang sudah terdampak perang dan blokade.
Seorang pengungsi menggambarkan kepanikan: “Malam ini lebih sulit dari hari-hari perang. Angin kencang dan hujan deras merendam tenda, orang-orang berteriak ‘Ya Allah’ sambil memegangi tenda agar tidak terbang atau menimpa kepala anak-anak mereka.”
Bahkan rumah-rumah yang rusak pun tidak aman, sementara ribuan pengungsi hidup tanpa selimut, pemanas, atau perlindungan memadai, berjuang melawan dingin setiap hari. Aktivis memperingatkan bahwa kondisi ekstrem ini berpotensi menambah korban, terutama anak-anak dan lansia.
Tepat pada 14 Januari 2026 - 14 Januari 2021 syekh ali jaber wafat pada hari kamis pukul 08.30 WIB rumah sakit yarsi jakarta pusat dan pada hari rabu ini kita mengenang 5 tahun syekh ali jaber
Cuaca ekstrem kembali memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Sistem tekanan rendah disertai angin kencang dan hujan merusak ratusan tenda pengungsi di berbagai wilayah padat, terutama di Gaza selatan. Otoritas cuaca memperingatkan ancaman gelombang dingin kutub yang diperkirakan lebih ganas dalam beberapa hari ke depan, dengan potensi hujan lebat, banjir, dan suhu ekstrem.
Kondisi ini memperbesar risiko kesehatan bagi ratusan ribu pengungsi yang masih bertahan di tenda darurat, di tengah terbatasnya akses bantuan dan hunian layak.
Kondisi Memburuk dan Berbahaya, Gaza Butuh Ratusan Ribu Tenda Musim Dingin
Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk seiring cuaca ekstrem, banjir, dan runtuhnya tempat-tempat penampungan, sementara kebutuhan bantuan dasar belum terpenuhi. UNRWA memperingatkan, sekitar 1,5 juta warga kini bertahan di tenda-tenda rapuh yang tidak mampu melindungi dari hujan, angin, dan pasang laut. Puluhan ribu tenda yang telah masuk pascagencatan senjata dinilai jauh dari cukup, sementara ratusan ribu lainnya masih dibutuhkan untuk mencegah risiko kemanusiaan yang lebih luas.
Juru bicara UNRWA di Gaza, Adnan Abu Hasna, menegaskan situasi ini “memburuk dan sangat berbahaya,” terutama karena kekurangan bahan hunian dan obat-obatan. “Gaza membutuhkan ratusan ribu tenda, dan ini tidak bisa ditunda,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan ribuan truk bantuan (berisi pangan, tenda, selimut, dan pakaian) masih tertahan di luar Gaza, padahal krisis kesehatan dan ketidakamanan pangan terus mengancam ratusan ribu warga.
Syekh Ali Jaber (1976–2021) adalah seorang pendakwah dan ulama berkebangsaan Indonesia asal Madinah, Arab Saudi. Beliau dikenal karena dakwahnya yang menyejukkan dan kecintaannya terhadap Al-Qur'an.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Syekh Ali Jaber: Profil: Lahir di Madinah dengan nama lengkap Ali Saleh Mohammed Ali Jaber. Beliau menjadi warga negara Indonesia (WNI) pada tahun 2012.
Dakwah: Beliau aktif berdakwah di berbagai media dan menjadi juri dalam acara Hafiz Indonesia di RCTI, yang berfokus pada pembinaan anak-anak penghafal Al-Qur'an.
Program Utama: Beliau sangat gencar mengampanyekan program "Satu Juta Penghafal Al-Qur'an" dan mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber.
Wafat: Syekh Ali Jaber wafat pada 14 Januari 2021 dalam usia 44 tahun di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta.
Warisan dakwahnya terus dilanjutkan melalui berbagai lembaga pendidikan dan konten dakwah yang dapat diakses di kanal YouTube Syekh Ali Jaber.
14 Warga Gaza Syahid Akibat Pelanggaran Gencatan Senjat* Isra*l
Sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk lima anak-anak, syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangkaian serang*n Isra*l di berbagai wilayah Gaza sejak Kamis pagi. Serangan itu menyasar tenda pengungsian, sekolah yang menampung warga terlantar, serta kawasan permukiman, di tengah gencatan senjat* yang seharusnya masih berlaku.
Sumber medis di rumah sakit Gaza menyebutkan, korban syahid tersebar di sejumlah titik di Jalur Gaza akibat temb*kan dan serang*n udar* militer Isra*l. “Jumlah syahid sejak pagi meningkat menjadi 14 orang, termasuk lima anak-anak, dengan puluhan korban luka yang kondisinya beragam,” kata sumber medis kepada Al Jazeera.
“Kami Ingin Apa Saja”, Tangis Anak Gaza Gambarkan Dingin, Kelaparan, dan Hidup di Tenda Rapuh
Krisis kemanusiaan di kamp-kamp pengungsian Gaza kian memburuk seiring cuaca dingin ekstrem dan minimnya bantuan dasar. Anak-anak menjadi kelompok paling terdampak, hidup di tenda-tenda rapuh tanpa perlindungan memadai dari angin dan hujan.
Dalam liputan Al Jazeera Mubasher, seorang anak pengungsi bernama Issa menangis mengungkapkan kebutuhan paling mendasar yang tak terpenuhi. “Demi Allah, kami ingin apa saja, apa pun,” ujarnya, menggambarkan kelaparan, kekurangan pakaian hangat, dan ketiadaan tempat tinggal layak.
Ia juga menyampaikan harapan sederhana untuk kembali bersekolah dan hidup normal seperti anak-anak lain. Sementara itu, sang kakek mengaku tak berdaya memenuhi kebutuhan cucu-cucunya setelah kehilangan rumah dan harta akibat perang.
“Tidak ada rumah, tidak ada tanah, tidak ada apa-apa yang tersisa,” katanya, seraya menyerukan bantuan kemanusiaan segera bagi para pengungsi Gaza.
Dengan Satu Kaki, Muhammad Nasir Tetap Berjuang Nafkahi Anak-anaknya
Muhammad Ahmad Nasir (44) kehilangan satu kaki akibat serangan Israel di Gaza, tapi tak menyerah pada putus asa. Dari tempat pengungsian di selatan Gaza, ia menanam sayuran secukupnya untuk menghidupi anak-anaknya, sambil berharap bisa mendapat perawatan dan kaki prostetik agar kembali menafkahi keluarga.
“Saya menanam agar kami punya makan saja, secukupnya,” katanya, suaranya penuh kesabaran dan kesedihan. “Kami jalani hidup seadanya… tak bisa berbuat banyak.”
Tenda-tenda Pengungsi Gaza Tak Layak Hadapi Musim Dingin
Tenda-tenda yang ditempati pengungsi di Gaza dinilai tidak layak menghadapi musim dingin. Penilaian para pakar pengungsian mengungkap ribuan tenda tidak memiliki perlindungan memadai dari hujan dan angin, dengan kualitas bahan dan desain yang buruk. Badai dalam beberapa pekan terakhir merusak banyak tenda dan berdampak pada ratusan ribu warga. Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah keterbatasan bantuan, pembatasan kerja lembaga kemanusiaan, serta minimnya harapan rekonstruksi pascaperang.
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Warga Gaza Tersiksa Cuaca Ekstrem: “Kami Mati Kedinginan, Tenda Kami Terbang"
Ribuan keluarga pengungsi di Gaza menghadapi malam paling berat sejak perang, ketika angin kencang dan hujan deras merobohkan tenda dan merendam hunian darurat mereka. Kondisi ini menambah penderitaan warga yang sudah terdampak perang dan blokade.
Seorang pengungsi menggambarkan kepanikan: “Malam ini lebih sulit dari hari-hari perang. Angin kencang dan hujan deras merendam tenda, orang-orang berteriak ‘Ya Allah’ sambil memegangi tenda agar tidak terbang atau menimpa kepala anak-anak mereka.”
Bahkan rumah-rumah yang rusak pun tidak aman, sementara ribuan pengungsi hidup tanpa selimut, pemanas, atau perlindungan memadai, berjuang melawan dingin setiap hari. Aktivis memperingatkan bahwa kondisi ekstrem ini berpotensi menambah korban, terutama anak-anak dan lansia.
14 hours ago | [YT] | 1,829
View 89 replies
Gibran.Hijrah
Tepat pada 14 Januari 2026 - 14 Januari 2021 syekh ali jaber wafat pada hari kamis pukul 08.30 WIB rumah sakit yarsi jakarta pusat dan pada hari rabu ini kita mengenang 5 tahun syekh ali jaber
1 day ago | [YT] | 1,400
View 17 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Cuaca Ekstrem Terjang Tenda Pengungsi Gaza, Otoritas Peringatkan Gelombang Dingin Kutub
Cuaca ekstrem kembali memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Sistem tekanan rendah disertai angin kencang dan hujan merusak ratusan tenda pengungsi di berbagai wilayah padat, terutama di Gaza selatan. Otoritas cuaca memperingatkan ancaman gelombang dingin kutub yang diperkirakan lebih ganas dalam beberapa hari ke depan, dengan potensi hujan lebat, banjir, dan suhu ekstrem.
Kondisi ini memperbesar risiko kesehatan bagi ratusan ribu pengungsi yang masih bertahan di tenda darurat, di tengah terbatasnya akses bantuan dan hunian layak.
1 day ago (edited) | [YT] | 1,998
View 104 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE 🇵🇸
Kondisi Memburuk dan Berbahaya, Gaza Butuh Ratusan Ribu Tenda Musim Dingin
Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk seiring cuaca ekstrem, banjir, dan runtuhnya tempat-tempat penampungan, sementara kebutuhan bantuan dasar belum terpenuhi. UNRWA memperingatkan, sekitar 1,5 juta warga kini bertahan di tenda-tenda rapuh yang tidak mampu melindungi dari hujan, angin, dan pasang laut. Puluhan ribu tenda yang telah masuk pascagencatan senjata dinilai jauh dari cukup, sementara ratusan ribu lainnya masih dibutuhkan untuk mencegah risiko kemanusiaan yang lebih luas.
Juru bicara UNRWA di Gaza, Adnan Abu Hasna, menegaskan situasi ini “memburuk dan sangat berbahaya,” terutama karena kekurangan bahan hunian dan obat-obatan. “Gaza membutuhkan ratusan ribu tenda, dan ini tidak bisa ditunda,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan ribuan truk bantuan (berisi pangan, tenda, selimut, dan pakaian) masih tertahan di luar Gaza, padahal krisis kesehatan dan ketidakamanan pangan terus mengancam ratusan ribu warga.
2 days ago | [YT] | 2,240
View 114 replies
Gibran.Hijrah
Syekh Ali Jaber (1976–2021) adalah seorang pendakwah dan ulama berkebangsaan Indonesia asal Madinah, Arab Saudi. Beliau dikenal karena dakwahnya yang menyejukkan dan kecintaannya terhadap Al-Qur'an.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Syekh Ali Jaber:
Profil: Lahir di Madinah dengan nama lengkap Ali Saleh Mohammed Ali Jaber. Beliau menjadi warga negara Indonesia (WNI) pada tahun 2012.
Dakwah: Beliau aktif berdakwah di berbagai media dan menjadi juri dalam acara Hafiz Indonesia di RCTI, yang berfokus pada pembinaan anak-anak penghafal Al-Qur'an.
Program Utama: Beliau sangat gencar mengampanyekan program "Satu Juta Penghafal Al-Qur'an" dan mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber.
Wafat: Syekh Ali Jaber wafat pada 14 Januari 2021 dalam usia 44 tahun di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta.
Warisan dakwahnya terus dilanjutkan melalui berbagai lembaga pendidikan dan konten dakwah yang dapat diakses di kanal YouTube Syekh Ali Jaber.
2 days ago (edited) | [YT] | 2,154
View 24 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
14 Warga Gaza Syahid Akibat Pelanggaran Gencatan Senjat* Isra*l
Sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk lima anak-anak, syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangkaian serang*n Isra*l di berbagai wilayah Gaza sejak Kamis pagi. Serangan itu menyasar tenda pengungsian, sekolah yang menampung warga terlantar, serta kawasan permukiman, di tengah gencatan senjat* yang seharusnya masih berlaku.
Sumber medis di rumah sakit Gaza menyebutkan, korban syahid tersebar di sejumlah titik di Jalur Gaza akibat temb*kan dan serang*n udar* militer Isra*l. “Jumlah syahid sejak pagi meningkat menjadi 14 orang, termasuk lima anak-anak, dengan puluhan korban luka yang kondisinya beragam,” kata sumber medis kepada Al Jazeera.
5 days ago | [YT] | 3,490
View 165 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
“Kami Ingin Apa Saja”, Tangis Anak Gaza Gambarkan Dingin, Kelaparan, dan Hidup di Tenda Rapuh
Krisis kemanusiaan di kamp-kamp pengungsian Gaza kian memburuk seiring cuaca dingin ekstrem dan minimnya bantuan dasar. Anak-anak menjadi kelompok paling terdampak, hidup di tenda-tenda rapuh tanpa perlindungan memadai dari angin dan hujan.
Dalam liputan Al Jazeera Mubasher, seorang anak pengungsi bernama Issa menangis mengungkapkan kebutuhan paling mendasar yang tak terpenuhi. “Demi Allah, kami ingin apa saja, apa pun,” ujarnya, menggambarkan kelaparan, kekurangan pakaian hangat, dan ketiadaan tempat tinggal layak.
Ia juga menyampaikan harapan sederhana untuk kembali bersekolah dan hidup normal seperti anak-anak lain. Sementara itu, sang kakek mengaku tak berdaya memenuhi kebutuhan cucu-cucunya setelah kehilangan rumah dan harta akibat perang.
“Tidak ada rumah, tidak ada tanah, tidak ada apa-apa yang tersisa,” katanya, seraya menyerukan bantuan kemanusiaan segera bagi para pengungsi Gaza.
6 days ago | [YT] | 3,656
View 189 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Dengan Satu Kaki, Muhammad Nasir Tetap Berjuang Nafkahi Anak-anaknya
Muhammad Ahmad Nasir (44) kehilangan satu kaki akibat serangan Israel di Gaza, tapi tak menyerah pada putus asa. Dari tempat pengungsian di selatan Gaza, ia menanam sayuran secukupnya untuk menghidupi anak-anaknya, sambil berharap bisa mendapat perawatan dan kaki prostetik agar kembali menafkahi keluarga.
“Saya menanam agar kami punya makan saja, secukupnya,” katanya, suaranya penuh kesabaran dan kesedihan. “Kami jalani hidup seadanya… tak bisa berbuat banyak.”
1 week ago | [YT] | 2,565
View 93 replies
Gibran.Hijrah
FREE PALESTINE🇵🇸
Tenda-tenda Pengungsi Gaza Tak Layak Hadapi Musim Dingin
Tenda-tenda yang ditempati pengungsi di Gaza dinilai tidak layak menghadapi musim dingin. Penilaian para pakar pengungsian mengungkap ribuan tenda tidak memiliki perlindungan memadai dari hujan dan angin, dengan kualitas bahan dan desain yang buruk. Badai dalam beberapa pekan terakhir merusak banyak tenda dan berdampak pada ratusan ribu warga. Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah keterbatasan bantuan, pembatasan kerja lembaga kemanusiaan, serta minimnya harapan rekonstruksi pascaperang.
1 week ago | [YT] | 2,039
View 101 replies
Load more