“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa putus asa adalah dosa besar karena menunjukkan kurangnya keyakinan terhadap rahmat dan kekuasaan Allah.
⸻
Para salaf selalu menekankan tawakkul, sabar, dan husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah. • Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Orang yang beriman tidak pernah kehilangan harapan kepada Rabb-nya, karena dia tahu setiap ujian adalah jalan menuju rahmat.” • Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Jangan engkau berputus asa dari doa, walau engkau telah lama berdoa, karena Allah tahu waktu terbaik untuk mengabulkannya.”
⸻
Manhaj salaf mengajarkan agar kita: • Tetap berpegang pada sunnah, walau dalam kesulitan. • Bersabar atas takdir Allah, karena ujian adalah bagian dari keimanan. • Tidak berputus asa dari ampunan dan pertolongan-Nya, sebab rahmat Allah lebih luas dari dosa dan kesulitan kita.
⸻
Dalam manhaj salaf, putus asa bukanlah pilihan — yang ada hanyalah sabar, tawakkul, dan terus berharap kepada Allah.
Para salaf menegaskan bahwa keberkahan sejati hanya datang dari Allah, bukan dari makhluk.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Tawhid membersihkan hati dari ketergantungan selain kepada Allah, dan inilah sumber terbesar keberkahan.
⸻
Mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah
Salafus Shalih selalu menekankan bahwa keberkahan ada dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, bukan dalam hal-hal baru dalam agama.
Imam Malik rahimahullah berkata: “Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik umat yang pertama.”
Artinya: keberkahan hidup didapat jika seseorang beramal sesuai contoh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
⸻
Mencari rezeki dengan cara yang halal
Salaf menaruh perhatian besar pada kehalalan rezeki. Mereka berkata:
“Barang siapa yang menjaga makanan dan minumannya tetap halal, maka doanya lebih mudah dikabulkan dan hidupnya penuh keberkahan.”
Keberkahan bukan banyaknya harta, tetapi harta yang halal dan bermanfaat.
⸻
Bersyukur dan qana’ah (merasa cukup)
Salaf memahami bahwa rasa cukup adalah kekayaan sejati.
Nabi ﷺ bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang qana’ah hidupnya penuh keberkahan meski sederhana.
⸻
Menuntut ilmu syar’i
Para salaf mencari keberkahan dengan ilmu dan amal. Ilmu yang bermanfaat membawa seseorang kepada amal saleh dan menjauhkan dari kesesatan.
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
⸻
Menjaga hati dari dosa dan maksiat
Dosa adalah penghalang terbesar keberkahan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidaklah seseorang kehilangan keberkahan dalam waktunya, rezekinya, dan hidupnya, melainkan karena dosa yang dilakukannya.”
⸻
Bersungguh-sungguh dalam ibadah dan doa
Keberkahan hidup datang bersama ketaatan. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin banyak barakah yang Allah limpahkan dalam umur, waktu, dan rezekinya.
⸻
Menjaga silaturahmi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan, tapi juga menjadi sebab keberkahan umur dan rezeki.
“Dosa demi dosa yang diikuti taubat lebih aku harapkan daripada amal yang membuat seseorang ujub (bangga diri).” (Hilyatul Auliya’ 2/134)
📖 Maknanya: Jangan berputus asa karena dosa yang berulang. Selama engkau kembali dan menyesal, Allah masih membuka pintu rahmat. Justru lebih berbahaya jika dosa membuatmu sombong atau putus asa.
⸻
2. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 114)
📖 Maknanya: Walau dosa itu tampak kecil, ia tetap besar di hadapan Allah yang Maha Agung. Kesadaran inilah yang menumbuhkan rasa takut dan penyesalan yang mendalam.
⸻
3. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Orang beriman melihat dosanya seperti gunung yang hampir menimpanya, sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu diusir begitu saja.” (HR. Bukhari no. 6308)
📖 Maknanya: Jika hatimu masih gelisah saat berbuat dosa, itu tanda iman masih hidup. Teruslah rawat rasa takut itu dengan taubat dan amal shalih.
⸻
4. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang.” (Az-Zuhd li Imam Ahmad, hlm. 120)
📖 Maknanya: Sering bermuhasabah adalah cara agar hati tidak keras oleh dosa yang berulang.
⸻
5. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Tinggalkan dosa kecil dan besar, karena dosa kecil jika terus dilakukan akan menjadi besar.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad, hlm. 359)
📖 Maknanya: Jangan meremehkan dosa. Karena yang terus-menerus dilakukan bisa menutup hati dari cahaya hidayah.
⸻
Kalimat penutup yang sering dikatakan para ulama:
“Tidak ada dosa yang besar jika disertai istighfar, dan tidak ada dosa yang kecil jika dilakukan terus-menerus.”
Dalil dari Al-Qur’an 1. Allah tidak menyia-nyiakan amal kebaikan: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Kalian semua adalah bagian dari satu sama lain.” (QS. Āli ‘Imrān: 195)
➝ Ayat ini menunjukkan setiap kebaikan, sekecil apapun, pasti ada balasannya di sisi Allah. 2. Balasan kebaikan sekecil apapun: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
➝ Tidak ada kebaikan yang hilang sia-sia, meski sangat kecil.
⸻
📜 Dalil dari Hadits 1. Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sekecil apapun, walau hanya engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim no. 2626)
➝ Bahkan senyum tulus pun bernilai amal kebaikan. 2. Dalam hadits qudsi, Allah ﷻ berfirman: “Wahai hamba-Ku, itu semua hanyalah amalanmu yang Aku hitung untukmu, kemudian Aku sempurnakan balasannya untukmu. Maka barangsiapa mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa mendapati selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 2577)
➝ Allah catat semua amal, dan balasannya pasti diberikan di akhirat.
⸻
🕌 Penjelasan Manhaj Salaf • Manhaj salaf menekankan agar seorang muslim beramal ikhlas karena Allah dan ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ, tanpa berharap balasan dari manusia. • Kebaikan yang dilakukan tidak akan sia-sia, meski tidak dihargai manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah. • Para ulama salaf berkata: “Amalan kecil dengan keikhlasan lebih baik daripada amalan besar dengan riya.”
⸻
🔑 Kesimpulan: Dalam manhaj salaf, seorang mukmin tidak boleh merasa kebaikan yang ia lakukan sia-sia, karena Allah sudah menjamin dalam Al-Qur’an dan sunnah bahwa sekecil apapun kebaikan akan dicatat dan dibalas.
Rincian Ceramah: Berbakti kepada Orang Tua 1. Kedudukan berbakti kepada orang tua dalam Islam • Setelah perintah beribadah kepada Allah, langsung disebutkan kewajiban berbakti kepada orang tua. • Dalil: QS. Al-Isra’ ayat 23-24, QS. Luqman ayat 14. 2. Definisi berbakti (birrul walidain) • Segala bentuk kebaikan, penghormatan, dan pelayanan kepada orang tua selama tidak dalam maksiat. • Termasuk berkata lembut, mendoakan, membantu kebutuhan, dan menjaga kehormatan mereka. 3. Bahaya durhaka (uququl walidain) • Salah satu dosa besar. • Hadis: “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Bukhari & Muslim). 4. Bentuk-bentuk berbakti • Berkata baik dan lembut. • Menafkahi dan melayani mereka. • Mendoakan mereka (misalnya: “Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira”). • Melanjutkan silaturahim kepada kerabat dan sahabat orang tua setelah mereka wafat. 5. Ketaatan ada batasnya • Tidak boleh taat kepada orang tua jika mereka memerintahkan kemaksiatan. • Dalil: “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah.” 6. Contoh teladan salaf dalam berbakti • Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memuliakan sahabat ayahnya sebagai bentuk birrul walidain. • Alqamah rahimahullah sangat taat kepada ibunya hingga doa ibunya lebih diutamakan. 7. Keutamaan berbakti kepada orang tua • Sebab dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur (HR. Ahmad). • Termasuk amalan yang paling dicintai Allah setelah shalat tepat waktu (HR. Bukhari).
Menjalin hubungan terbaik dengan Allah menurut manhaj salaf (jalan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) dilakukan dengan cara beragama sebagaimana mereka beragama: berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih. Berikut beberapa poin penting:
⸻
1. Tauhid dan Ikhlas • Landasan utama hubungan dengan Allah adalah mentauhidkan-Nya (hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya). • Ikhlas dalam beramal, tidak riya’ dan tidak mencari selain wajah Allah. 📖 Dalil:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
⸻
2. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ • Tidak cukup hanya ikhlas, amal harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. • Manhaj salaf menekankan ittiba’ (mengikuti) bukan ibtida’ (berbuat bid’ah). 📖 Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim).
⸻
3. Mencintai Allah dan Rasul-Nya • Cinta ditunjukkan dengan taat. 📖 Dalil:
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu…” (QS. Ali Imran: 31).
⸻
4. Menegakkan Ibadah Wajib • Shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji, serta kewajiban lainnya adalah sarana utama mendekat kepada Allah. • Shalat khususnya adalah tiang agama dan bentuk komunikasi langsung dengan Allah.
⸻
5. Menjauhi Dosa dan Syirik • Hubungan dengan Allah tidak akan baik bila seseorang terus menerus dalam dosa besar atau syirik. • Salaf menekankan al-wala’ wal bara’ (loyal kepada tauhid dan sunnah, membenci kesyirikan dan bid’ah).
⸻
6. Dzikir dan Doa • Senantiasa mengingat Allah dengan dzikir sesuai sunnah, doa dengan penuh tunduk dan harap. 📖 Dalil:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
⸻
7. Mengikuti Pemahaman Salaf • Tidak menafsirkan agama dengan hawa nafsu atau akal semata, tapi dengan pemahaman sahabat dan generasi awal umat. 📖 Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
⸻
8. Tawakkal, Sabar, dan Syukur • Menyerahkan urusan kepada Allah, bersabar atas cobaan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.
⸻
📌 Ringkasnya: Hubungan terbaik dengan Allah menurut manhaj salaf adalah dengan tauhid, ikhlas, mengikuti sunnah, menjauhi bid’ah dan syirik, menegakkan ibadah, banyak berdzikir dan berdoa, serta memahami agama sebagaimana difahami para sahabat dan generasi awal umat.
Terima Kasih Telah Menonton, Semoga Bermanfaat, jangan lupa Dukung Channel ini dengan Cara bantu subscribe, like, dan aktifkan tombol lonceng nya, Dan silahkan di share sebanyak banyaknya jazakumullah khairan. Barakallahu fiikum semoga bermanfaat.
Fitnah terhadap manhaj salaf memang sudah ada sejak dahulu, karena manhaj ini adalah jalan lurus yang diwariskan dari Nabi ﷺ, kemudian para sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ut tabi‘in. Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya…” (QS. At-Taubah: 100)
⸻
Bentuk-bentuk Fitnah terhadap Manhaj Salaf 1. Tuduhan keras dan ekstrem Sebagian menuduh pengikut manhaj salaf sebagai kelompok yang kaku, keras, atau tidak toleran, padahal prinsipnya adalah tawassuth (pertengahan), bukan ghuluw (berlebihan) atau tafrith (meremehkan). 2. Menganggap hanya eksklusif dan mudah memvonis Ada yang menuduh salafiyyin suka membid‘ahkan atau menyesatkan, padahal sebenarnya mereka menimbang berdasarkan dalil dan kaidah ulama. 3. Penyamaan dengan kelompok tertentu Ada yang menyamakan manhaj salaf dengan gerakan politik, terorisme, atau aliran menyimpang, padahal secara prinsip manhaj salaf bukan hizbi (kelompok), melainkan metode memahami agama. 4. Fitnah dalam akidah Menuduh bahwa akidah salaf dalam masalah sifat Allah menyerupakan Allah dengan makhluk, padahal akidah salaf adalah menetapkan sebagaimana Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa tahrif, tanpa ta‘thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil. 5. Fitnah dunia dan hawa nafsu Ada yang meninggalkan manhaj salaf karena lebih memilih jalan yang sesuai selera, lalu menuduh manhaj ini tidak relevan dengan zaman.
⸻
Penjelasan Ulama tentang Fitnah ini • Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: “Dasar-dasar sunnah menurut kami adalah berpegang teguh kepada apa yang para sahabat Rasulullah ﷺ berada di atasnya dan meneladani mereka.” (Ushul as-Sunnah, hlm. 33) • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Tidak tercela orang yang menampakkan manhaj salaf, bahkan hal itu wajib disepakati. Karena manhaj salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmu‘ al-Fatawa, 4/149)
⸻
Sikap Seorang Muslim Menghadapi Fitnah terhadap Manhaj Salaf 1. Tetap sabar menghadapi tuduhan dan fitnah. 2. Kembali kepada dalil Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat. 3. Menjaga adab dalam membantah dengan ilmu, bukan emosi. 4. Berdoa agar diberi keteguhan di atas kebenaran.
ASSUNNAH INDONESIA
AGAR HIDUPMU BERMAKNA | Ustadz Firanda Andirja
https://youtu.be/3N7_JPQud_U
2 weeks ago | [YT] | 10
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
INDAHNYA CINTA KETIKA PONDASINYA KARENA ALLAH | Ustadz Abdurrahman Zahier
https://youtu.be/LEr-rsX9rHA
1 month ago | [YT] | 22
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
MENERIMA INDAHNYA TAKDIR YANG ALLAH TETAPKAN UNTUK KITA | Ustadz Firanda Andirja
https://youtu.be/u1-6mJ2qR1o
1 month ago | [YT] | 24
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/sejKIoMJ6yU
Allah ﷻ berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa putus asa adalah dosa besar karena menunjukkan kurangnya keyakinan terhadap rahmat dan kekuasaan Allah.
⸻
Para salaf selalu menekankan tawakkul, sabar, dan husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah.
• Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Orang yang beriman tidak pernah kehilangan harapan kepada Rabb-nya, karena dia tahu setiap ujian adalah jalan menuju rahmat.”
• Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Jangan engkau berputus asa dari doa, walau engkau telah lama berdoa, karena Allah tahu waktu terbaik untuk mengabulkannya.”
⸻
Manhaj salaf mengajarkan agar kita:
• Tetap berpegang pada sunnah, walau dalam kesulitan.
• Bersabar atas takdir Allah, karena ujian adalah bagian dari keimanan.
• Tidak berputus asa dari ampunan dan pertolongan-Nya, sebab rahmat Allah lebih luas dari dosa dan kesulitan kita.
⸻
Dalam manhaj salaf, putus asa bukanlah pilihan — yang ada hanyalah sabar, tawakkul, dan terus berharap kepada Allah.
2 months ago | [YT] | 21
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/UFAz3259W9k
Tawhid sebagai pondasi utama
Para salaf menegaskan bahwa keberkahan sejati hanya datang dari Allah, bukan dari makhluk.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Tawhid membersihkan hati dari ketergantungan selain kepada Allah, dan inilah sumber terbesar keberkahan.
⸻
Mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah
Salafus Shalih selalu menekankan bahwa keberkahan ada dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, bukan dalam hal-hal baru dalam agama.
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik umat yang pertama.”
Artinya: keberkahan hidup didapat jika seseorang beramal sesuai contoh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
⸻
Mencari rezeki dengan cara yang halal
Salaf menaruh perhatian besar pada kehalalan rezeki. Mereka berkata:
“Barang siapa yang menjaga makanan dan minumannya tetap halal, maka doanya lebih mudah dikabulkan dan hidupnya penuh keberkahan.”
Keberkahan bukan banyaknya harta, tetapi harta yang halal dan bermanfaat.
⸻
Bersyukur dan qana’ah (merasa cukup)
Salaf memahami bahwa rasa cukup adalah kekayaan sejati.
Nabi ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang qana’ah hidupnya penuh keberkahan meski sederhana.
⸻
Menuntut ilmu syar’i
Para salaf mencari keberkahan dengan ilmu dan amal.
Ilmu yang bermanfaat membawa seseorang kepada amal saleh dan menjauhkan dari kesesatan.
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
⸻
Menjaga hati dari dosa dan maksiat
Dosa adalah penghalang terbesar keberkahan.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidaklah seseorang kehilangan keberkahan dalam waktunya, rezekinya, dan hidupnya, melainkan karena dosa yang dilakukannya.”
⸻
Bersungguh-sungguh dalam ibadah dan doa
Keberkahan hidup datang bersama ketaatan. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin banyak barakah yang Allah limpahkan dalam umur, waktu, dan rezekinya.
⸻
Menjaga silaturahmi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan, tapi juga menjadi sebab keberkahan umur dan rezeki.
2 months ago | [YT] | 11
View 1 reply
ASSUNNAH INDONESIA
UNTUKMU YANG MASIH TAK MAMPU LEPAS DARI MAKSIAT | Ustadz Khalid Basalamah
https://youtu.be/Dpp-CWbo3VY
1. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Dosa demi dosa yang diikuti taubat lebih aku harapkan daripada amal yang membuat seseorang ujub (bangga diri).”
(Hilyatul Auliya’ 2/134)
📖 Maknanya: Jangan berputus asa karena dosa yang berulang. Selama engkau kembali dan menyesal, Allah masih membuka pintu rahmat. Justru lebih berbahaya jika dosa membuatmu sombong atau putus asa.
⸻
2. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”
(Al-Jawabul Kafi, hlm. 114)
📖 Maknanya: Walau dosa itu tampak kecil, ia tetap besar di hadapan Allah yang Maha Agung. Kesadaran inilah yang menumbuhkan rasa takut dan penyesalan yang mendalam.
⸻
3. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Orang beriman melihat dosanya seperti gunung yang hampir menimpanya, sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu diusir begitu saja.”
(HR. Bukhari no. 6308)
📖 Maknanya: Jika hatimu masih gelisah saat berbuat dosa, itu tanda iman masih hidup. Teruslah rawat rasa takut itu dengan taubat dan amal shalih.
⸻
4. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang.”
(Az-Zuhd li Imam Ahmad, hlm. 120)
📖 Maknanya: Sering bermuhasabah adalah cara agar hati tidak keras oleh dosa yang berulang.
⸻
5. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Tinggalkan dosa kecil dan besar, karena dosa kecil jika terus dilakukan akan menjadi besar.”
(Az-Zuhd karya Imam Ahmad, hlm. 359)
📖 Maknanya: Jangan meremehkan dosa. Karena yang terus-menerus dilakukan bisa menutup hati dari cahaya hidayah.
⸻
Kalimat penutup yang sering dikatakan para ulama:
“Tidak ada dosa yang besar jika disertai istighfar, dan tidak ada dosa yang kecil jika dilakukan terus-menerus.”
2 months ago | [YT] | 17
View 1 reply
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/TFM2zumwi-s
Dalil dari Al-Qur’an
1. Allah tidak menyia-nyiakan amal kebaikan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Kalian semua adalah bagian dari satu sama lain.”
(QS. Āli ‘Imrān: 195)
➝ Ayat ini menunjukkan setiap kebaikan, sekecil apapun, pasti ada balasannya di sisi Allah.
2. Balasan kebaikan sekecil apapun:
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
➝ Tidak ada kebaikan yang hilang sia-sia, meski sangat kecil.
⸻
📜 Dalil dari Hadits
1. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sekecil apapun, walau hanya engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim no. 2626)
➝ Bahkan senyum tulus pun bernilai amal kebaikan.
2. Dalam hadits qudsi, Allah ﷻ berfirman:
“Wahai hamba-Ku, itu semua hanyalah amalanmu yang Aku hitung untukmu, kemudian Aku sempurnakan balasannya untukmu. Maka barangsiapa mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa mendapati selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.”
(HR. Muslim no. 2577)
➝ Allah catat semua amal, dan balasannya pasti diberikan di akhirat.
⸻
🕌 Penjelasan Manhaj Salaf
• Manhaj salaf menekankan agar seorang muslim beramal ikhlas karena Allah dan ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ, tanpa berharap balasan dari manusia.
• Kebaikan yang dilakukan tidak akan sia-sia, meski tidak dihargai manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah.
• Para ulama salaf berkata: “Amalan kecil dengan keikhlasan lebih baik daripada amalan besar dengan riya.”
⸻
🔑 Kesimpulan:
Dalam manhaj salaf, seorang mukmin tidak boleh merasa kebaikan yang ia lakukan sia-sia, karena Allah sudah menjamin dalam Al-Qur’an dan sunnah bahwa sekecil apapun kebaikan akan dicatat dan dibalas.
4 months ago | [YT] | 37
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/RDXdMTVn6ak
Rincian Ceramah: Berbakti kepada Orang Tua
1. Kedudukan berbakti kepada orang tua dalam Islam
• Setelah perintah beribadah kepada Allah, langsung disebutkan kewajiban berbakti kepada orang tua.
• Dalil: QS. Al-Isra’ ayat 23-24, QS. Luqman ayat 14.
2. Definisi berbakti (birrul walidain)
• Segala bentuk kebaikan, penghormatan, dan pelayanan kepada orang tua selama tidak dalam maksiat.
• Termasuk berkata lembut, mendoakan, membantu kebutuhan, dan menjaga kehormatan mereka.
3. Bahaya durhaka (uququl walidain)
• Salah satu dosa besar.
• Hadis: “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Bukhari & Muslim).
4. Bentuk-bentuk berbakti
• Berkata baik dan lembut.
• Menafkahi dan melayani mereka.
• Mendoakan mereka (misalnya: “Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira”).
• Melanjutkan silaturahim kepada kerabat dan sahabat orang tua setelah mereka wafat.
5. Ketaatan ada batasnya
• Tidak boleh taat kepada orang tua jika mereka memerintahkan kemaksiatan.
• Dalil: “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah.”
6. Contoh teladan salaf dalam berbakti
• Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memuliakan sahabat ayahnya sebagai bentuk birrul walidain.
• Alqamah rahimahullah sangat taat kepada ibunya hingga doa ibunya lebih diutamakan.
7. Keutamaan berbakti kepada orang tua
• Sebab dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur (HR. Ahmad).
• Termasuk amalan yang paling dicintai Allah setelah shalat tepat waktu (HR. Bukhari).
4 months ago | [YT] | 24
View 0 replies
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/qUCzGANsfvE
Menjalin hubungan terbaik dengan Allah menurut manhaj salaf (jalan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) dilakukan dengan cara beragama sebagaimana mereka beragama: berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih. Berikut beberapa poin penting:
⸻
1. Tauhid dan Ikhlas
• Landasan utama hubungan dengan Allah adalah mentauhidkan-Nya (hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya).
• Ikhlas dalam beramal, tidak riya’ dan tidak mencari selain wajah Allah.
📖 Dalil:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
⸻
2. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ
• Tidak cukup hanya ikhlas, amal harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
• Manhaj salaf menekankan ittiba’ (mengikuti) bukan ibtida’ (berbuat bid’ah).
📖 Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim).
⸻
3. Mencintai Allah dan Rasul-Nya
• Cinta ditunjukkan dengan taat.
📖 Dalil:
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu…” (QS. Ali Imran: 31).
⸻
4. Menegakkan Ibadah Wajib
• Shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji, serta kewajiban lainnya adalah sarana utama mendekat kepada Allah.
• Shalat khususnya adalah tiang agama dan bentuk komunikasi langsung dengan Allah.
⸻
5. Menjauhi Dosa dan Syirik
• Hubungan dengan Allah tidak akan baik bila seseorang terus menerus dalam dosa besar atau syirik.
• Salaf menekankan al-wala’ wal bara’ (loyal kepada tauhid dan sunnah, membenci kesyirikan dan bid’ah).
⸻
6. Dzikir dan Doa
• Senantiasa mengingat Allah dengan dzikir sesuai sunnah, doa dengan penuh tunduk dan harap.
📖 Dalil:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
⸻
7. Mengikuti Pemahaman Salaf
• Tidak menafsirkan agama dengan hawa nafsu atau akal semata, tapi dengan pemahaman sahabat dan generasi awal umat.
📖 Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
⸻
8. Tawakkal, Sabar, dan Syukur
• Menyerahkan urusan kepada Allah, bersabar atas cobaan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.
⸻
📌 Ringkasnya:
Hubungan terbaik dengan Allah menurut manhaj salaf adalah dengan tauhid, ikhlas, mengikuti sunnah, menjauhi bid’ah dan syirik, menegakkan ibadah, banyak berdzikir dan berdoa, serta memahami agama sebagaimana difahami para sahabat dan generasi awal umat.
Terima Kasih Telah Menonton, Semoga Bermanfaat, jangan lupa Dukung Channel ini dengan Cara bantu subscribe, like, dan aktifkan tombol lonceng nya, Dan silahkan di share sebanyak banyaknya jazakumullah khairan. Barakallahu fiikum semoga bermanfaat.
4 months ago | [YT] | 29
View 2 replies
ASSUNNAH INDONESIA
https://youtu.be/ttcjT2GW_3w
Fitnah terhadap manhaj salaf memang sudah ada sejak dahulu, karena manhaj ini adalah jalan lurus yang diwariskan dari Nabi ﷺ, kemudian para sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ut tabi‘in. Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya…”
(QS. At-Taubah: 100)
⸻
Bentuk-bentuk Fitnah terhadap Manhaj Salaf
1. Tuduhan keras dan ekstrem
Sebagian menuduh pengikut manhaj salaf sebagai kelompok yang kaku, keras, atau tidak toleran, padahal prinsipnya adalah tawassuth (pertengahan), bukan ghuluw (berlebihan) atau tafrith (meremehkan).
2. Menganggap hanya eksklusif dan mudah memvonis
Ada yang menuduh salafiyyin suka membid‘ahkan atau menyesatkan, padahal sebenarnya mereka menimbang berdasarkan dalil dan kaidah ulama.
3. Penyamaan dengan kelompok tertentu
Ada yang menyamakan manhaj salaf dengan gerakan politik, terorisme, atau aliran menyimpang, padahal secara prinsip manhaj salaf bukan hizbi (kelompok), melainkan metode memahami agama.
4. Fitnah dalam akidah
Menuduh bahwa akidah salaf dalam masalah sifat Allah menyerupakan Allah dengan makhluk, padahal akidah salaf adalah menetapkan sebagaimana Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa tahrif, tanpa ta‘thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil.
5. Fitnah dunia dan hawa nafsu
Ada yang meninggalkan manhaj salaf karena lebih memilih jalan yang sesuai selera, lalu menuduh manhaj ini tidak relevan dengan zaman.
⸻
Penjelasan Ulama tentang Fitnah ini
• Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
“Dasar-dasar sunnah menurut kami adalah berpegang teguh kepada apa yang para sahabat Rasulullah ﷺ berada di atasnya dan meneladani mereka.”
(Ushul as-Sunnah, hlm. 33)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Tidak tercela orang yang menampakkan manhaj salaf, bahkan hal itu wajib disepakati. Karena manhaj salaf tidak lain kecuali kebenaran.”
(Majmu‘ al-Fatawa, 4/149)
⸻
Sikap Seorang Muslim Menghadapi Fitnah terhadap Manhaj Salaf
1. Tetap sabar menghadapi tuduhan dan fitnah.
2. Kembali kepada dalil Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
3. Menjaga adab dalam membantah dengan ilmu, bukan emosi.
4. Berdoa agar diberi keteguhan di atas kebenaran.
4 months ago | [YT] | 17
View 0 replies
Load more