Abrar Rifai Journey

Catatan perjalanan, mencumbui alam, jejak perenungan, rekam pengajian, perbincangan hati dan beragam laku hidup Abrar Rifai bersama keluarga dan kawan-kawannya.

Abrar Rifai seorang penikmat kopi yang tak begitu manis, tapi juga tak terlampau pahit.

Abrar Rifai seorang pejalan yang tak jua sampai. Seorang pembelajar yang tak jua pandai.

Selain belajar jadi YouTuber, Abrar juga suka menulis. Tulisannya terserak di berbagai portal online, dan sebagian sudah dibukukan. Googling aja: Abrar Rifai. :)

Untuk mengumpulkan tulisan-tulisannya, Abrar juga mengelola satu website pribadi di alamat:
www.orangramai.id/





Abrar Rifai Journey

Malam Tahun Baru 2023 di Abu Dhabi

Saya tidak tahu apa jamaah lain juga mendapat kamar seperti ini. Yang pasti kamar ini menurut hemat miskin saya, begitu besar dan mewah.

Sudah tak terhitung tidur di hotel, mulai yang bayar sendiri sampai yang dibayari orang. Bersama keluarga dan sering juga sendiri. Hotel melati hingga bintang lima.

Tapi hotel yang diberikan Travel Fandiego saat transit di Abu Dhabi ini, sungguh terasa mewah bagi saya. Apalagi saya sendiri saja di sini. Koyok arek ilang!

Tadi malam pesawat kami landing di Bandara Abu Dhabi pada pukul 22.00 waktu setempat. Alhamdulillah.

Sebenarnya saya berniat tidak mau nge-vlog. Tapi rupanya setan vlog terus menggoda, memberi was-was hingga memaksa gairah ngevlog saya terus meronta.

Maka saya keluarkan HP. Sejak keluar dari pesawat, masuk ke belalai yang menjadi jalan keluar penumpang, saya terus ngevlog.

Asyik aja. Kawan-kawan jamaah yang lain pun sepertinya menikmati cerocos saya. Sampai tibalah kami di konter cek imigrasi. Saya lihat depan belakang, kanan dan kiri tidak ada tulisan larangan mengambil foto atau video seperti di sejumlah airport.

Saya pun rileks aja terus memvideo, sampai suara keras seorang petugas imigrasi membentak, “No. No video!”

Saya sigap, matikan kamera dan memasukkan HP ke saku.

Tidak ada masalah. Tidak ada perpanjang masalah dengan permintaan menghapus foto atau video yang sudah diambil. Kami pun melakukan proses cop paspor hingga tuntas.

Imarat adalah negara Arab yang paling modern. Segenap bentuk kemajuan dan kebebasan Barat diadposi di sini. Maka saya membayangkan perayaan tahun baru akan semarak sepanjang jalan.

Tapi rupanya, perjalanan dari Bandara hingga Hotel, semua berjalan biasa saja. Memang ada kemacetan dan kerumunan orang di beberapa titik.

Tapi tidak ada petasan dan kembang api. Klakson mobil pun hanya sesekali terdengar. Entah itu klakson sambutan tahun baru atau hanya isyarat bagi pengendara di depannya.

Mungkin pemerintah setempat memusatkan perayaan tahun baru di tempat-tempat tertentu yang telah disiapkan. Bukan di jalanan seperti di Jakarta, Surabaya, Malang dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Lalu lalang perempuan dengan berbagai baju, mulai abaya hingga yang sangat terbuka. Beberapa ibu-ibu jamaah berujar, “Wah di negara Islam ternyata pakaian perempuannya juga macem-macem, ya.”

Saya jawab, “Ini negara Arab Bu, tapi bukan negara Islam.”

Menjelang pukul satu dini hari, tibalah kami di hotel Sheraton. Ustadz Bagus yang menjadi tour leader pun meminta paspor kami untuk di-cek-in-kan. Setelah menunggu lebih setengah jam, akhirnya kami mendapat kunci kamar.

Saya mendapat kamar 1442. Tapi benak saya tidak membetik, bahwa kamarnya akan seluas ini. Luar biasa!

Tadinya saya juga menduga bahwa Ustadz Bagus atau jamaah lain akan menemani saya di sini. Tapi rupanya saya sendirian. Ckckckckck!

3 years ago | [YT] | 3

Abrar Rifai Journey

The Power of Kefefet.

Kebiasaan buruk saya yang seringkali menggunakan the power of kepepet, kemaren kumat. Pesawat Jam 19.55, saya baru berangkat dari Lawang pukul 18.15.

Saya mau ke Jakarta, untuk kemudian keesokan harinya lanjut menuju Abu Dhabi dan Madinah.

“Technical meeting Sabtu pagi Jam 09.00 di Hotel Orchardz dekat Bandara,” tulis petugas travel.

Maka saya memutuskan berangkat Jum'at malam. Tidur di Jakarta, biar paginya tidak buru-buru.

Tapi ya itu tadi, Jum'at pagi itu saya belum persiapan apa-apa. Mau belanja pun semua masih pada tutup.

Apalagi kebetulan hari Jum'at kemarin anak-anak saya semuanya kumpul di rumah. Ain lagi libur kuliah, Rifqi tidak libur tapi saya suruh pulang dan Najma saya jemput dari Pondok. Empat orang adik mereka memang ada di rumah.

Maka siang harinya selepas shalat Jum'at, kami memutuskan makan siang bersama. Kemudian kami pusing-pusing di Malang, mau beli perlengkapan safar. Tapi sudah gak keburu.

Jum'at sore Malang macet. Saya cemas, sebab jam setengah lima masih di jalan. Tas belum disiapkan, baju-baju belum dimasukkan.

Kami sampai di rumah, sudah mau Maghrib. Istri saya dan anak-anak langsung bantu menyiapkan tas, baju-baju dan lain sebagainya. Klutak-kulutek, sampai adzan Maghrib belum selesai.

Selepas shalat kami lanjut hingga Jam 18.15 baru siap. Segera kami masukkan mobil dan saya langsung tancap gas.

Saya terpaksa berangkat nyetir sendiri, sebab mau cari orang minta antar, sudah gak keburu.

Ford Everest andalan mengaspal dengan gas yang terus berusaha pol. Tapi terhalang kemacetan. Baru setelah masuk tol bisa gasspoll. Betul-betul saya pacu, tapi tetap saja mentok di 130 KPJ. Mobil tua dengan mesin diesel yang masih konvensional.

Sepanjang jalan saya terus berpikir, ini mobil sebaiknya gimana. Mau parkir di Bandara, mahal banget. Satu hari harus bayar seratus ribu rupiah. Dua belas hari sama dengan satu juta dua ratus.

Akhirnya saya telpon seorang kawan member Fevci di Surabaya, Cak Gendoen Rasman . Alhamdulillah, dia mau ambil mobil saya ke Bandara.

“Iya wes ya, Sampean langsung namg Bandara wes. Entenono aku nang kono.”

“Siaaaap!“ sambutnya.

Tepat pukul 19.25 saya sampai Terminal 1 Bandara Juanda Surabaya. Cak Gendoen sudah menunggu. Tak sempat berbincang, segera mobil saya serahkan padanya. Saya segera berlari.

Alhamdulillah, sudah cek in online. Jadi saya bisa langsung boarding. Itupun sambil lari-lari, rupanya nama saya sudah dipanggil-panggil.

Ala kulli hal, alhamdulilah. Pesawat masih terkejar. Pramugari Garuda pun masih tersenyum manis pada saya. Alhamdulillah lagi, tas ransel saya masih bisa masuk kabin. Entah memang asli bisa, atau karena saya terlambat, maka dibolehin.

Saya pun mendapati kursi tempat duduk saya. Di samping seorang pemudi berjilbab, yang tangannya tak henti memutar tasbih.

Saya sapa dia, ber-say hello. Ia menyambut sapaan saya. Saling tukar nama pun terjadi. Si Mbak orang Rungkut Surabaya, kerja di Sentul Tangerang.

Dari Mbak ini juga saya tahu bahwa andai saya terlambat tadi, Garuda sudi mengembalikan semua uang tiket. “Tentu syarat dan ketentuan berlaku,” katanya. “Tapi kasus Bapak, saya rasa masuk yang memenuhi syarat,“ tambahnya.

Begitulah, akhirnya saya mendarat dengan selamat di Cengkareng. Setelah sebelumnya menonton film yang tidak tuntas di punggung kursi penumpang di depan saya.

Alhamdulillah 'alassalamah.

3 years ago | [YT] | 5

Abrar Rifai Journey

Anies Gibran, Kenapa Tidak?

Pagi ini hingga siang atau petang nanti, Anies Baswedan akan berada di Solo. Beliau hadir pada acara puncak Haul Solo: Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Haul Solo adalah Haul terbesar di Indonesia, setiap tahun dihadir oleh jutaan ummat Islam dari seluruh penjuru Indonesia dan berbagai negara.

Walikota Solo saat ini, Gibran Rakabuming Raka, adalah anak Presiden Jokowi. Pada keterangan foto ini, yang diunggah Pak Anies di Instagram-nya, ia berangkat bersama Gibran menuju acara Haul.

Sebelumnya kedua tokoh ini menyempatkan diri sarapan bareng. Walau di tempat acara nantinya juga pasti akan ada acara makan bersama.

Anies Baswedan terus cool menghadapi serangan dari berbagai penjuru. Serangan dari ex pendukung Ahok, yang terus sakit hati atas kekalahan tuannya pada Pilgub DKI yang lalu.

Serangan dari para Islamophobia, yang sekarang mengelompokkan Anies sebagai bagian dari kaum Islamis. Padahal kaum Islamis sendiri, sampai saat ini masih ragu akan keberpihakan Anies terhadap Islam.

Jadi sebenarnya mereka yang mengasosiasi diri sebagai kelompok Islam, hanya terus berpikir akan kemenangan diri mereka saja. Berharap agar calon Presiden yang didukungnya nanti nurut dan mau diatur oleh mereka saja.

Begitu juga para kelompok anti Islam, karena terlanjur menganggap Anies dekat dengan Islam, sehingga apapun itu mereka tetap akan menolak Anies dan mencari segala hal kesalahan dan keburukan Anies.

Jadi kehadiran para anti Islam dan kelompok Islam kanan jauh inilah yang sebenarnya selama ini menggerus kebhinekaan kita.

Islamis garis keras dan kelompok anti Islam inilah yang terus membuat polarisasi di tengah Bangsa, sehingga pertikaian sesama kita tak kunjung usai.

Anies Baswedan sejatinya hadir untuk mengurai benang kusut antara keduanya. Ia bukan Islamis, bukan pula Islamophobia.

Anies adalah seorang muslim yang taat dengan agamanya, tapi sangat toleran dan juga sayang kepada pemeluk agama lain.

Anies keturunan Jawa - Arab, yang melekat padanya kesantunan dan keberanian sekaligus.

Santunnya Anies penuh isi, menggenggam prinsip yang digali dari kecerdasan dan pengetahuan. Beraninya Anies tidak membabi-buta. Tidak menyerang, apalagi dengan umpatan-umpatan comberan khas orang yang tidak beradab.

Tapi beraninya Anies adalah ketegasan dan keteguhan menggenggam kebenaran. Kebenaran yang kita sepakati bersama sebagai Bangsa. Bukan kebenaran sesuai dengan keinginan kelompok-kelompok tertentu!

Lantas, adakah arti keakraban Anies dan Gibran pagi ini di Solo? Ada banyak sudut untuk menjawab tanya ini. Untuk sementara saya memilih tidak menjawab, walau saya punya banyak jawaban. (Abrar Rifai)

3 years ago (edited) | [YT] | 4

Abrar Rifai Journey

Kezaliman Akan Sirna

Burung memakan semut. Setelah burung itu mati, giliran semut yang memakannya.

Keadaan pasti akan berubah. Ia bergerak bersama waktu, dari hari ke hari hingga kelak berganti tahun.

Hanya ujung waktu yang akan memberikan ketetapan, sebab di sanalah keabadian itu tercipta.

Maka, jangan pernah menzhalimi orang sedikit pun. Sebab kau yang hari ini sangat kuat, ingatlah bahwa masa selalu lebih kuat darimu.

Ada banyak orang yang tidak kebagian harta. Atau ia memang sengaja tidak ikut berebut, ketika harta tersebut dibagi-bagi. Seorang bertanya pada temannya, “Kenapa kita tidak mendapat bagian harta itu?”

Di kemudian hari, harta-harta itu ternyata mengantarkan pemiliknya ke rumah sakit, dengan ragam penyakit yang mengerikan. Teman yang ditanya pun menjawab, “Apakah sekarang kita juga akan bertanya, kenapa kita tidak mendapat bagian penyakit?”

Kekuasaan sering membuat buta. Buta mata, buta hati. Seakan pemiliknya menganggap bahwa kekuasaan itu seperti serigala yang menghuni rimba. Menerkam siapa pun yang coba melawan. Bahkan yang tak melawan pun akan dihabisi!

Tapi ke mana perginya Saddam Husein?

Dengan cara apakah akhirnya Firaun mati?

Rahwana yang berkepala sepuluh pun harus tamat riwayatnya!

Maka sebelum comberan menjijikkan kau renangi, segeralah sadar. Terlebih tiang gantungan yang sekarang kau pakai menggantung banyak orang, sesungguhnya tiang itu selalu menunggu, “Kapan giliranmu?”

Laut merah mungkin sudah tahu jauh sebelumnya, bahwa ia akan menenggelamkan Fir’aun. Tapi Fir’aun tak pernah membayangkan kejadian buruk itu. Hingga sampailah ia pada puncak kezaliman. Ia menampik ajakan Musa dan Harun untuk bertaubat.

Rahwana dengan berbagai kesewenangan dan kelalimannya, bisa melakukan apa saja. Tapi toh akhirnya ia dikalahkan Rama. Segenap kesaktiannya tak bisa melindungi dirinya. Sebab kezaliman pasti akan berakhir.

Abu Jahal dan kawan-kawan suka menyiksa para sahaya. Sumayyah dan Yasir adalah dua korban kebiadaban mereka. Ammar dan Bilal pun tak luput dari kebiadaban mereka.

Tapi akhirnya Badar menjadi kebinasaan Abu Jahal. Kepalanya putus dipenggal Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Tapi sebelum Abdullah bin Mas’ud menghabisi Abu Jahal, ternyata yang lebih dahulu membuat gembong musyrikin itu tak berdaya, adalah dua anak kecil: Mu’adz bin Amru dan Mu’adz bin Afra radhiyallahu ‘anhuma.

Maka, kalian yang saat ini menggenggam kekuasaan, jangan pernah berpikir bahwa kezaliman yang kalian lakukan tak akan berakhir.

Hanya ada dua pilihan, kezaliman kalian dihentikan Tuhan dengan kebinasaan, ataukah kalian mau bertaubat sebelum kebinasaan itu datang.

Abrar Rifai
Oktober 2020

3 years ago | [YT] | 8

Abrar Rifai Journey

Mereka yang terlanjur disebut ustadz, tentu mempunyai bebas sosial yang lebih berat daripada warga masyarakat yang lain.

Satu kesalahan kecil yang sangat biasa jika dilakukan orang lain, tapi Ketika yang melakukannya adalah ustadz, makan itu akan menjadi persoalan besar!

Pergi ke disko jelas haram. Sekedar nongkrong di kafe pun dicibir. Ikut balapan, naik gunung, berenang dan kegiatan ringan-ringan lainnya, seringkali dianggap tabu.

Main perempuan itu jelas haram. Tapi menikah lagi, poligami itu halal. Itupun para ustadz tetap banyak yang tidak berani melakukannya. Tersebab anggapa sebagian masyarakat kita yang menganggap poligami adalah kejahatan.

Maka, banyak ustadz yang sebenarnya berhasrat menikah lagi, terpaksa harus dipendam dan bahkan sebagiannya sudah dikubur.

Akhirnya sekedar menjadi becandaan semacam ini. Di sela-sela perjumpaan pada rapat atau saat pengajian, bahkan saat berceramah, pun sering kali terselip obrolan poligami. Yah, karena baru itu yang bisa dilakukan.

Nah, pada video kali ini sengaja saya posting satu diantara penggal guyonan dan sebagiannya lagi serius dari para ustadz teman-teman saya. Silakan disimak: https://youtu.be/GJXW3hy7i2M

Matur nuwun 🙏

#poligami
#ustadz
#menikah

3 years ago | [YT] | 4

Abrar Rifai Journey

Nyetir Sambil Tidur: Fatal!
Ini satu penggal perjalanan kami, berkeliling Sumatera selama 36 hari. Hari pertama lebaran kami lalui di IDI, Aceh Timur, kampung halaman guru saya, Habib Muhsin bin Umar Alattas.

Sebenarnya orang-orang pada menahan saya untuk bermalam di IDI barang satu malam saja. Tapi saya ngeyel, saya memaksa untuk lanjut jalan.

Ketika itu bayangan saya, ingin segera sampai di Banda Aceh dan shalat Subuh di Masjid Baiturrahman. Makanya, walau mata lelah, kaki pegel dan badan sudah gemetaran setelah berhari-hari memandu mobil, saya tetap lanjut jalan.

Tibalah kami di Bireuen, saat malam sudah gulita. Anak-anak dan ibunya sudah tidur. Jalanan sepi, hanya ada satu dua kendaraan yang melintas.

Saya terus jalan, sebab rindu kepada Baiturrahman sudah buncah. Rindu kepada legenda masjid, yang tak terusik tsunami tersebut. Tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat mengamankan jiwa, saat Banda Aceh porak-poranda dihajar gelombang raksasa yang tiba-tiba pasang.

Itulah rindu yang disebut rindu kepadanya, walau sebelumnya tidak pernah berjumpa. Saya terus membayangkan, bahwa sebelum fajar nanti kami sudah tiba di Banda Aceh.

Tapi apa hendak dikata, saya bukan pemandu ALS atau bis malam yang memang biasa melek sepanjang malam. Di Bireuen itulah kemalangan menimpa, saat tangan saya tetap memegang setir, kaki tetap menginjak pedal gas, tapi mata sudah terpejam.

Saya baru sadar, ketika ban sebelah kanan menghantam pembatas jembatan. Buuuuuum!

Seketika saya terjaga, saya kuasai kemudi. Kemudian membuang mobil ke kiri. Mobil terbang seperti di film-film.

Alhamdulillah, belai selamet kata orang Jawa.

Badan mobil tidak apa-apa, benar-benar hanya ban saja yang menghantam trotoar pembatas jembatan itu. Itu karena mobil kami tinggi, dengan bobot dua ton setengah.

Maka, saat ban menghantam beton, bodi tidak terjangkau. Mobil terbang pun tidak sampai terguling, tapi justru melompat tinggi dengan gagahnya. Mungkin kalau mobil-mobil MPV ringan yang banyak kita temui di jalan itu, sudah terguling dan terseret di atas aspal.

Alhamdulillah 'ala kulli haaal...

Nah, pada video ini sengaja saya ingin menunjukkan bengkel tambal ban Haji Abdurrahman, yang disebut sebagai dokter bedah spesialis ban.

Kawan-kawan saya yang mendapat cerita tentang robeknya ban saya setelah menghantam beton, pada gak percaya bahwa ban tersebut masih bisa dipakai.

Sebab ban ini robeknya nyaris satu jengkal. Jadi bukan sekedar bocor biasa.

Tapi nyatanya di tangan dingin Haji Abdurrahman, ban bisa pulih seperti sedia kala dan masih saya pakai sampai sekarang.

Teknik yang dipakai Haji Rahman, ban dijahit dulu. Kemudian luar dalam diolesi dengan jelly entah apa namanya. Setelah itu ia jepit pada penjepit besi yang dipanasi dengan elemen listrik. Jadi tidak pakai obor seperti kebanyakan tambal ban lainnya.

Haji Abdurrahman kata, “Ban ini saya garansi, kalau memang masih ada bocor-bocor atau macam mana, bawa saja ke sini. Nanti saya bagi ban baru!”

Memang bertuah betul Haji ini. Tambalan beliau betul-betul kokoh, bahkan lebih kokoh daripada aslinya.

Tapi kalaupun ternyata ban yang beliau operasi ini gagal, tak akan saya jauh-jauh datang lagi ke Bireuen, hanya untuk komplain tambalan ban. :D
(Abrar Rifai)

https://youtu.be/dAKtu4qSKNU

3 years ago (edited) | [YT] | 1

Abrar Rifai Journey

Anies, Kah? Bismillaaaah!

Anies Baswedan, nama yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Baik oleh mereka yang suka, atau yang tidak suka.

Tak dapat dibendung, di tengah upaya para pembenci untuk menjatuhkan Anies, tapi lelaki asli alumni UGM tersebut terus melambung.

Di tengah upaya banyak orang untuk membusukkan Anies, tapi harum bebungaan yang ditebar Anies terus semerbak.

Cahaya itu terus menyala, walau para buzzer dan tak terkecuali para pejabat Negeri melakukan segala usaha untuk memadamkannya.

Anies tak pernah membalas hujatan. Sebab orang-orang kerdil tak akan bisa menjangkaunya, walau harus merakit bermacam tangga kebohongan.

Masih teringat, saat kewafatan KH. Salahuddin Wahid (Gus Solah), di tengah riuh para pelayat, Anies adalah salah satunya. Itulah pertama kali saya bertatap muka, bersalaman dan berbincang singkat dengan mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut.

Orang-orang riuh berebut salaman dengannya. Seorang berteriak, “Wes, aku gak salaman gak popo, tapi Pak Anies tak dungakno ae!”

Pak Anies mencari asal suara tersebut. ”Ndungakno yo penting, tapi nek arep salaman ayo,” katanya, sambil meraih tangan orang tersebut. Saya pun ndusel ikut berfoto.

Itu pertemuan pertama, dan hingga kini saya belum lagi bersua fisik dengan Anies Baswedan. Tapi segenap kabar lelaki tersebut, saya lahap. Baik ketika menjadi menterinya Jokowi, dan terus selama ia menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Saya berangan, kalau orang ini jadi Presiden Indonesia, kerenlah! Ganteng, cerdas, cakap dan antun. Bahasa lisan dan bahasa tulis, bisa ia komunikasikan dengan baik. Komunikatif dan terbuka.

Visioner, berkemajuan dan berwawasan Nusantara. Tapi ia tidak gagap bergaul dalam kancah Internasional. Walau secara formal jabatannya adalah gubernur, tapi Anies tak sedikitpun canggung dan gaguk bergaul dengan para pemimpin Dunia!

Hingga tibalah Surya Paloh dengan Nasdem mendeklarasikannya sebagai Bacapres, di tengah kabar yang tersiar bahwa KPK sedang beroperasi membidik Anies.

Surya Paloh tak main-main. Sejak Presiden dipilih langsung, Si Brewok ini selalu tepat memilih calonnya. SBY dua periode berturut-turut, Jokowi dua periode berterusan.

Saya istikharah. Bertanya sana sini, dari puncak gunung hingga samudera lepas saya tanya, ”Apakah Anies Baswedan harus saya dukung?”

Semua serempak menjawab, “Gaaaaaas!” (Abrar Rifai)

3 years ago | [YT] | 16

Abrar Rifai Journey

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada orang ini:

1. Tidak tahu apa-apa tapi sotoy!
2. Sudah tahu, tapi sengaja mengolok-olok, dengan penghinaan yang dikarang-karang.
3. Mengigau, walau tidak sedang tidur.

Sila, tanya pada semua orang Malaysia, atau silakan datang ke Malaysia, atau cek saja di Google. Sungguh tak ada satupun apa yang dia omongkan di video ini mengandung kebenaran.

Belok kanan dan belok kiri, orang Malaysia tidak ada yang menyebut pusing. Belok itu bahasa Malaysia-nya, ya belok juga. Sama dengan bahasa Indonesia. Atau ada juga orang Malaysia yang menyebut belok itu kona.

Adapun pusing, biasanya dipakai untuk balik arah atau putar balik. Tapi apanya yang lucu, sehingga perempuan di video ini terbahak-bahak seperti itu? Itu bahasa mereka. Masing-masing punya kekhasan!

Orang Indonesia menyebut sakit kepala itu pusing. Sedang orang Malaysia tetap menyebutnya sakit kepala.

Pocong, orang Malaysia pun menyebutnya pocong. Tapi sebagian besar mereka tetap menyebut hantu. Ingat ya, hantu saja, bukan hantu bungkus seperti olok-olok orang ini.

Dokter ahli jiwa. Orang Malaysia biasa menyebut dokter ahli sebagai dokter pakar. Sebab ahli dalam bahasa Malaysia berarti anggota. Ini justru lebih sesuai dengan bahasa asal dari kata ahli tersebut, yaitu bahasa Arab.

Adapun dokter ahli jiwa, atau dokter jiwa sebagaimana sebutan kita di Indonesia, itu orang Malaysia langsung menyebutnya psikiatri. Asal bahasa Inggris yang sudah diserap ke bahasa Melayu.

Satpam, orang Malaysia menyebutnya scurity, sebagaimana bahasa Inggris. Karena istilah ini juga sudah diserap sepenuhnya ke dalam bahasa Malaysia. Jadi, tidak ada orang Malaysia menyebut Satpam itu penunggu maling, sebagaimana kata orang di video ini. Lha wong maling aja orang Malaysia tidak menyebut maling, tapi pencuri.

Toilet, ini kan aslinya bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia! Sebagian besar orang Malaysia pun menyebutnya toilet. Walau sebagian lainnya tetap menggunakan bahasa asli Malaysia, yaitu tandas. Sama seperti orang Indonesia, yang tetap ada menyebut toilet sebagai kakus.

Rumah sakit bersalin, ini yang paling sadis. Mana ada orang Malaysia menyebut rumah sakit bersalin sebagai rumah sakit korban laki-laki? Ini menghinanya kebangetan!

Rumah sakit, orang Malaysia menyebutnya hospital. Bersalin ya bersalin juga. Atau ada juga sebutan lain: beranak. Jadi rumah sakit bersalin, orang Malaysia menyebutnya hospital bersalin.

Walau sebenarnya nyaris tidak ada rumah bersalin di Malaysia, sebagaimana BKIA di Indonesia. Karena biasanya mereka langsung menyebutnya hospital, tanpa ada bubuhan bersalin.

Entahlah, apa sebenarnya yang terjadi pada orang di video ini, apa dia sotoy, mengolok-olok atau sedang mengigau.

Konten, oh konten. Jangan sampai demi konten, kita kehilangan akal sehat!

Sila simak videonya:
youtube.com/channel/UCdOCqpAP...

3 years ago | [YT] | 6

Abrar Rifai Journey

Keluarga Kura-kura

Berjumpa dengan keluarga kura-kura. Iya, mereka menyebut diri sebagai keluarga kura-kura. Seorang lelaki bersama seorang istri dan lima anak, sudah lima tahun hidup di mobil.

Benar-benar hidup di mobil, tak punya rumah dan tidak bekerja sebagaimana kehidupan orang kebanyakan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. “Kami adalah orang kaya!” sergah Om Nusa. “Semua hutan, tanah lapang, kebun tempat kami memarkir mobil adalah halaman rumah kami,” lanjutnya.

Nusa Wibawa Putra Arjuna, nama lengkap lelaki yang suka bertelanjang dada tersebut. Motor home yang beliau punya, mungkin adalah unit rumah berjalan yang paling viral se dunia. Unik, menarik dan yang paling penting, beliau bersama keluarga memang total tinggal menetap di mobil.

Motor home Om Nusa ini memang unik. Mobilnya dimodifikasi berbetuk kapal. Maka, kalau kita lihat di jalan raya, seperti kapal laut yang berjalan di atas tanah.

Di bagian belakang mobilnya dibuat seperti teras rumah, terbuka dan dilengkapi tempat duduk tempat bersantai.

Toilet, dapur dan kamar tidur, tersedia dengan layak dan nyaman seperti motorhome-motorhome premium dengan harga ratusan juta. Padahal motor home ini dibangun sendiri oleh Om Nusa, dengan budget terbatas. “Pelan-pelan saja kita bangunnya. Kalau ada duit, kita bangun. Duit habis,ya berhenti dulu. Ntar ada duit lagi, kita lanjut bangun,” jelasnya.

Satu hal yang menjadi catatan khusus saya, anak-anak Om Nusa tidak ada yang bersekolah. Tapi anak-anak beliau, semuanya belajar pada alam dan kehidupan secara langsung. “Anak-anak saya tidak sekolah, tapi tetap belajar!” sergahnya.

Berjumpa dengan ragam manusia, menyaksikan berbagai macam kejadian, menelisik semua fenomena alam dan mengalami bermacam peristiwa, kira-kira begitulah anak-anak Om Nusa belajar.

Makan seadanya, mulai nasi bersanding garam, bersama kecap dan sesekali ada telur ataupun ayam, begitulah menu keluarga ini sehari-hari.

Apakah sama sekali tidak pernah makan di warung dan tidur di hotel? “Oh, pernahlah, sesekali kalau ada yang bayarin,” timpal istri Om Nusa yang tampak bahagia mendampingi suaminya dengan kehidupan seperti itu.

Iseng saya tanya, “Ini istri Om Nusa apa memang mau diajak hidup begini, atau karena terpaksa?”

“Iya, maulah. Kalau tidak mau, langsung saya ganti!” hahaha 😂

Saya tak sempat menanyakan nama istrinya, tapi yang pasti, berasal dari Kediri, Jawa Timur. Bertemu dengan Om Nusa di Jogja, kemudian bersama ke Bali. Nah, di Bali inilah mereka bersepakat untuk hidup nomaden seperti itu.

“Saya bahagia, Mas. Serius!” katanya.

Ada banyak orang yang punya motor home, dengan berbagai fasilitas mewah layaknya hotel bintang. Tapi sekedar buat hiburan. Sesekali jalan untuk trip tertentu, satu dua minggu atau mungkin sebulan dan mungkin beberapa bulan. Sudah, begitu saja.

Tapi Om Nusa benar-benar total tinggal di mobil, walau motor home yang dimiliki tak mewah, tak juga berfasilitas lengkap sebagaimana motor home milik orang-orang kaya.

Pada keluarga kura-kura saya belajar, untuk tetap hidup damai di bumi. Tanpa perlu berburu harta, tidak usah berebut posisi, tak ingin dipuji dan tak membutuhkan pengakuan apapun.

Dengan kehidupan seperti itu, Om Nusa dan keluarga sangat bahagia. “Kalau ada diksi di atas bahagia, itulah yang saya rasakan sekarang,” tutup Om Nusa. (Abrar Rifai)

Sila tonton videonya di sini:
https://youtu.be/GkI8fQhquq0

3 years ago | [YT] | 3

Abrar Rifai Journey

Memanusiakan Anak Punk

Sering kali kita berjumpa dengan anak-anak punk di berbagai jalan yang kita lalui. Sejauh yang saya tahu, mereka tidak membuat keributan.

Dengan penampilannya yang tidak sama dengan orang kebanyakan, anak-anak ini sekedar duduk aja di tepi jalan. Mereka bergerombol, ngobrol, makan dan merokok.

Mereka ini melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, dalam provinsi hingga lintas provinsi. Bahkan dari satu pulau ke pulau lainnya.

Anak-anak punk berkelana kemana-mana hanya mengendarai motor vespa butut, yang sudah dimodifikasi sedemikan rupa.

Tak jarang kita lihat modifikasi vespa mereka menyerupai rumah. Ditumpang bahkan hingga sepuluh orang, mereka melakukan perjalanan ribuan kilo.

Saya sering berpikir, dari mana mereka dapat uang untuk makan. Ternyata usut punya usut, mereka ini punya kawan di setiap kota. Mereka inilah yang memberikan support terhadap perjalanan mereka.

Tapi tak jarang juga mereka menengadah tangan di tepi jalan, meminta belas kasih dari pengguna jalan. “Buat makan, Om,” kata seorang di antara mereka yang pernah saya tanya.

Sebenarnya sering kali saya nimbrung dengan mereka, ketika saya lihat mereka bergerombol di tepi jalan atau pom bensin.

Tapi selama ini, saya selalu tak sampai hati menjadikan mereka konten. Hanya saja banyak juga saya lihat di channel-channel lain yang menampilkan kehidupan para anak punk.

Saya pun akhirnya meminta ijin kepada anak-anak ini untuk menjadikan mereka sebagai konten. “Gak apa-apa, Om, silakan,” jawab mereka.

Maka, ini adalah konten pertama saya dengan anak punk. Sila disimak. Jangan lupa, like, komen dan share. Matur nuwun. 🙏

https://youtu.be/QLxSDGPyoRg

#anakpunk
#anakjalanan
#manusia

3 years ago | [YT] | 5