Welcome to NOKTURNAL TALK — the best place to get highlights and short clips (Shorts) from our discussion podcast!
We know you’re busy, so we cut the most valuable moments from our interviews and deep conversations into concise, impactful short videos (PODCAST SHORTS). In just seconds, you’ll get the latest insights, including:
The Funniest Moments: Unfiltered laughter from our speakers.
The Boldest Statements: Controversial opinions and brutally honest takes.
The Most Valuable Lessons: Key takeaways that can change your perspective.
Follow this channel for your daily dose of our conversations. If a clip sparks your curiosity, find the full episode on our main channel.
Don’t miss out — subscribe now!
NOKTURNAL TALK
2 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
NOKTURNAL TALK
ANALISIS: Ilusi "Sulap" Semalam: Membedah Klaim Menkeu, Ancaman Independensi BI, dan Pertaruhan Ekonomi RI
JAKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang mengklaim mampu menekan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hanya dalam waktu "semalam" memantik diskursus serius di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Di atas kertas, intervensi pasar memang instrumen sah negara. Namun, dalam lanskap makroekonomi yang tengah dibayangi isu nepotisme dan ancaman terhadap independensi Bank Indonesia (BI), klaim tersebut dinilai bukan sebagai solusi, melainkan sinyal bahaya.
Benarkah negara bisa melakukan itu? Secara teori, jawabannya: Ya. Namun, pertanyaan yang lebih krusial adalah: Berapa harga yang harus dibayar rakyat untuk ambisi semalam tersebut?
Romantisme Era Habibie vs Realitas Hari Ini
Publik kerap menarik benang merah situasi ini dengan keberhasilan Presiden B.J. Habibie, yang secara fenomenal menekan dolar dari kisaran Rp16.000 menjadi di bawah Rp7.000. Fakta sejarah mencatat hal itu terjadi karena Habibie berhasil memulihkan trust (kepercayaan) internasional dan melakukan reformasi kelembagaan mendasar. Ia menahan dolar bukan sekadar dengan "membakar uang", tapi dengan memadamkan api ketidakpastian politik.
Menyamakan langkah Purbaya saat ini dengan era Habibie adalah simplifikasi yang berbahaya. Habibie berjuang menegakkan independensi institusi di tengah krisis, sementara sentimen pasar saat ini justru mencium aroma sebaliknya: upaya pelemahan institusi demi kepentingan segelintir elite.
Faktor "Keponakan Presiden" dan Pelarian Modal
Gejolak nilai tukar saat ini tidak dipicu oleh lemahnya fundamental ekonomi semata, melainkan oleh krisis kredibilitas. Sorotan tajam tertuju pada manuver politik yang melibatkan kerabat istana—yang santer disebut sebagai keponakan presiden—yang dinilai mengancam independensi Bank Indonesia.
Dalam kacamata investor global, independensi bank sentral adalah "sakral". Ketika investor melihat indikasi bahwa kebijakan moneter (suku bunga dan jumlah uang beredar) didikte oleh kepentingan politik keluarga penguasa, respons mereka seragam: panik.
Mereka menarik dana (capital outflow) bukan karena tidak percaya pada potensi ekonomi Indonesia, melainkan karena mereka tidak percaya pada "wasit" yang mengatur permainan. Ketakutan terbesar pasar adalah kebijakan moneter tidak lagi ditujukan untuk stabilitas harga, melainkan untuk membiayai proyek politik.
Bedah Mekanisme: Antara "Obat Kuat" dan Risiko Overdosis
Jika Menkeu Purbaya ingin membuktikan klaim "satu malam"-nya, negara memiliki empat tuas kendali utama. Namun, setiap tuas menyimpan risiko fatal jika ditarik di waktu yang salah:
* Intervensi Pasar Spot (The Burning Strategy)
BI bisa membanjiri pasar dengan menjual dolar dari Cadangan Devisa (Cadev) secara masif.
* Efek: Rupiah menguat instan karena pasokan dolar melimpah.
* Risiko: Ini hanya solusi kosmetik jangka pendek. Jika fundamental rapuh, Cadev akan habis terbakar sia-sia. Begitu "peluru" habis, rupiah akan jatuh lebih dalam tanpa penyangga.
* Buyback Surat Utang Negara (SBN)
Pemerintah membeli kembali obligasi untuk menahan jatuhnya harga dan mencegah investor asing kabur.
* Risiko: Jika uang untuk buyback ini berasal dari skema burden sharing yang dipaksakan atau pencetakan uang baru, ini adalah bunuh diri moneter.
* Kenaikan Suku Bunga Agresif (The Painful Cure)
Menaikkan suku bunga drastis untuk menarik dolar masuk.
* Risiko: Sektor riil akan mati suri. Cicilan KPR dan modal kerja usaha akan meroket, membawa ekonomi masuk ke jurang resesi demi "rupiah kuat" yang semu.
* Capital Control (Opsi Nuklir)
Negara melarang dolar keluar lewat regulasi ketat.
* Risiko: Ini adalah lonceng kematian investasi. Indonesia akan di-blacklist oleh investor global karena dianggap menjebak dana mereka.
Bahaya Cetak Uang: Hantu Inflasi yang Mengintai
Poin paling kritis dari semua mekanisme di atas bermuara pada satu hal: Dari mana uangnya?
Jika intervensi dilakukan dengan memaksa BI mencetak uang (printing money) untuk membeli SBN atau membiayai intervensi tanpa diimbangi produktivitas, hukum besi ekonomi akan berlaku: Inflasi.
Kita tidak perlu melihat jauh ke Venezuela, cukup lihat Turki yang mata uangnya hancur karena presidennya memaksakan suku bunga rendah melawan logika pasar.
Semua ekonom paham rumus dasar ini: Jika peredaran uang (money supply) melimpah ruah sementara jumlah barang tetap, nilai uang akan hancur. Dolar mungkin bisa ditahan sebentar secara artifisial, namun harga beras, BBM, dan kebutuhan pokok akan meroket tak terkendali. Rakyat kecil adalah pihak pertama yang akan tergilas oleh kebijakan ini.
Kesimpulan: Kepercayaan Tidak Bisa Dicetak
Klaim "menurunkan dolar semalam" mungkin terdengar heroik, namun dalam konteks ketidakpercayaan terhadap "keponakan presiden" dan independensi BI, hal itu terdengar seperti ancaman manipulasi pasar.
Stabilitas ekonomi tidak dibangun di atas retorika atau intervensi satu malam, melainkan di atas fondasi supremasi hukum dan institusi yang bersih dari intervensi keluarga. Investor tidak butuh "sulap"; mereka butuh kepastian bahwa Bank Indonesia bekerja untuk negara, bukan untuk keluarga penguasa.
Trust/kepercayaan adalah mata uang paling mahal yang sesungguhnya. Jika itu runtuh maka investor mana yg tahan ?
Ini barulah permulaan, dan semoga pemerintah tak tutup mata. Karena yg dipertaruhkan adalah nasib seluruh rakyat.
2 weeks ago | [YT] | 2
View 0 replies
NOKTURNAL TALK
ANALISIS: Ilusi "Sulap" Semalam: Membedah Klaim Menkeu, Ancaman Independensi BI, dan Pertaruhan Ekonomi RI
JAKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang mengklaim mampu menekan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hanya dalam waktu "semalam" memantik diskursus serius di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Di atas kertas, intervensi pasar memang instrumen sah negara. Namun, dalam lanskap makroekonomi yang tengah dibayangi isu nepotisme dan ancaman terhadap independensi Bank Indonesia (BI), klaim tersebut dinilai bukan sebagai solusi, melainkan sinyal bahaya.
Benarkah negara bisa melakukan itu? Secara teori, jawabannya: Ya. Namun, pertanyaan yang lebih krusial adalah: Berapa harga yang harus dibayar rakyat untuk ambisi semalam tersebut?
Romantisme Era Habibie vs Realitas Hari Ini
Publik kerap menarik benang merah situasi ini dengan keberhasilan Presiden B.J. Habibie, yang secara fenomenal menekan dolar dari kisaran Rp16.000 menjadi di bawah Rp7.000. Fakta sejarah mencatat hal itu terjadi karena Habibie berhasil memulihkan trust (kepercayaan) internasional dan melakukan reformasi kelembagaan mendasar. Ia menahan dolar bukan sekadar dengan "membakar uang", tapi dengan memadamkan api ketidakpastian politik.
Menyamakan langkah Purbaya saat ini dengan era Habibie adalah simplifikasi yang berbahaya. Habibie berjuang menegakkan independensi institusi di tengah krisis, sementara sentimen pasar saat ini justru mencium aroma sebaliknya: upaya pelemahan institusi demi kepentingan segelintir elite.
Faktor "Keponakan Presiden" dan Pelarian Modal
Gejolak nilai tukar saat ini tidak dipicu oleh lemahnya fundamental ekonomi semata, melainkan oleh krisis kredibilitas. Sorotan tajam tertuju pada manuver politik yang melibatkan kerabat istana—yang santer disebut sebagai keponakan presiden—yang dinilai mengancam independensi Bank Indonesia.
Dalam kacamata investor global, independensi bank sentral adalah "sakral". Ketika investor melihat indikasi bahwa kebijakan moneter (suku bunga dan jumlah uang beredar) didikte oleh kepentingan politik keluarga penguasa, respons mereka seragam: panik.
Mereka menarik dana (capital outflow) bukan karena tidak percaya pada potensi ekonomi Indonesia, melainkan karena mereka tidak percaya pada "wasit" yang mengatur permainan. Ketakutan terbesar pasar adalah kebijakan moneter tidak lagi ditujukan untuk stabilitas harga, melainkan untuk membiayai proyek politik.
Bedah Mekanisme: Antara "Obat Kuat" dan Risiko Overdosis
Jika Menkeu Purbaya ingin membuktikan klaim "satu malam"-nya, negara memiliki empat tuas kendali utama. Namun, setiap tuas menyimpan risiko fatal jika ditarik di waktu yang salah:
* Intervensi Pasar Spot (The Burning Strategy)
BI bisa membanjiri pasar dengan menjual dolar dari Cadangan Devisa (Cadev) secara masif.
* Efek: Rupiah menguat instan karena pasokan dolar melimpah.
* Risiko: Ini hanya solusi kosmetik jangka pendek. Jika fundamental rapuh, Cadev akan habis terbakar sia-sia. Begitu "peluru" habis, rupiah akan jatuh lebih dalam tanpa penyangga.
* Buyback Surat Utang Negara (SBN)
Pemerintah membeli kembali obligasi untuk menahan jatuhnya harga dan mencegah investor asing kabur.
* Risiko: Jika uang untuk buyback ini berasal dari skema burden sharing yang dipaksakan atau pencetakan uang baru, ini adalah bunuh diri moneter.
* Kenaikan Suku Bunga Agresif (The Painful Cure)
Menaikkan suku bunga drastis untuk menarik dolar masuk.
* Risiko: Sektor riil akan mati suri. Cicilan KPR dan modal kerja usaha akan meroket, membawa ekonomi masuk ke jurang resesi demi "rupiah kuat" yang semu.
* Capital Control (Opsi Nuklir)
Negara melarang dolar keluar lewat regulasi ketat.
* Risiko: Ini adalah lonceng kematian investasi. Indonesia akan di-blacklist oleh investor global karena dianggap menjebak dana mereka.
Bahaya Cetak Uang: Hantu Inflasi yang Mengintai
Poin paling kritis dari semua mekanisme di atas bermuara pada satu hal: Dari mana uangnya?
Jika intervensi dilakukan dengan memaksa BI mencetak uang (printing money) untuk membeli SBN atau membiayai intervensi tanpa diimbangi produktivitas, hukum besi ekonomi akan berlaku: Inflasi.
Kita tidak perlu melihat jauh ke Venezuela, cukup lihat Turki yang mata uangnya hancur karena presidennya memaksakan suku bunga rendah melawan logika pasar.
Semua ekonom paham rumus dasar ini: Jika peredaran uang (money supply) melimpah ruah sementara jumlah barang tetap, nilai uang akan hancur. Dolar mungkin bisa ditahan sebentar secara artifisial, namun harga beras, BBM, dan kebutuhan pokok akan meroket tak terkendali. Rakyat kecil adalah pihak pertama yang akan tergilas oleh kebijakan ini.
Kesimpulan: Kepercayaan Tidak Bisa Dicetak
Klaim "menurunkan dolar semalam" mungkin terdengar heroik, namun dalam konteks ketidakpercayaan terhadap "keponakan presiden" dan independensi BI, hal itu terdengar seperti ancaman manipulasi pasar.
Stabilitas ekonomi tidak dibangun di atas retorika atau intervensi satu malam, melainkan di atas fondasi supremasi hukum dan institusi yang bersih dari intervensi keluarga. Investor tidak butuh "sulap"; mereka butuh kepastian bahwa Bank Indonesia bekerja untuk negara, bukan untuk keluarga penguasa.
Trust/kepercayaan adalah mata uang paling mahal yang sesungguhnya. Jika itu runtuh maka investor mana yg tahan ?
Ini barulah permulaan, dan semoga pemerintah tak tutup mata. Karena yg dipertaruhkan adalah nasib seluruh rakyat.
2 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
NOKTURNAL TALK
Warisan intelektual Anies Baswedan dari kakeknya, Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan
Jakarta – Dalam lanskap politik Indonesia modern, nama Anies Rasyid Baswedan kerap diasosiasikan dengan dunia akademis dan kebijakan publik. Namun, untuk memahami fondasi pemikiran dan retorika mantan Gubernur DKI Jakarta ini, kita perlu menarik garis waktu ke belakang—jauh ke masa revolusi fisik kemerdekaan Indonesia.
Di sana, berdiri sosok Abdurrahman (AR) Baswedan, kakek kandung Anies, yang pada tahun 2018 resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. Hubungan ini bukan sekadar garis biologis, melainkan sebuah estafet ideologi dan diplomasi yang melintasi zaman.
Sang Pembawa Dokumen Kedaulatan
AR Baswedan bukanlah nama sembarangan dalam sejarah pergerakan nasional. Ia adalah seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang yang gigih.
Salah satu momen paling heroik dalam hidup AR Baswedan terjadi pada tahun 1947. Saat itu, ia menjadi bagian dari delegasi diplomatik RI pertama ke Mesir untuk mendapatkan pengakuan de jure dan de facto atas kemerdekaan Indonesia. Misi ini sangat berbahaya. Dengan mempertaruhkan nyawa, AR Baswedan membawa dokumen pengakuan kedaulatan dari Mesir menyusup lewat blokade Belanda, menyembunyikan dokumen vital tersebut di dalam kaus kakinya agar tidak disita musuh.
Keberanian dan kecerdikan diplomasi inilah yang tampaknya menurun deras pada cucunya. Anies, dalam berbagai kesempatan global, sering menunjukkan kemampuan diplomasi lunak (soft diplomacy) yang mengingatkan publik pada keluwesan sang kakek dalam melobi dukungan internasional di masa krusial republik ini.
Sumpah Pemuda Keturunan Arab
Jauh sebelum misi ke Mesir, AR Baswedan telah meletakkan batu penjuru bagi integrasi nasional. Pada 4 Oktober 1934, ia menginisiasi "Sumpah Pemuda Keturunan Arab". Melalui Partai Arab Indonesia (PAI) yang didirikannya, ia menyerukan agar warga keturunan Arab menanggalkan identitas eksklusifnya dan melebur sepenuhnya menjadi "Bangsa Indonesia".
Ia mempopulerkan narasi bahwa "Tanah airmu bukanlah tanah leluhurmu yang gersang di sana, melainkan tanah air Indonesia di mana kamu dilahirkan dan dibesarkan."
Semangat inklusivitas dan persatuan ini terlihat tercermin dalam narasi "Tenun Kebangsaan" yang sering didengungkan Anies Baswedan. Fokus Anies pada keadilan sosial dan persatuan warga mencerminkan visi kakeknya yang ingin menghapus sekat-sekat primordial demi kepentingan nasional yang lebih besar.
Warisan Intelektual dan Jurnalisme
Selain darah pejuang, tinta jurnalisme juga mengalir deras. AR Baswedan dikenal sebagai wartawan yang tajam, pernah bekerja di surat kabar Sin Tit Po dan Soeara Oemoem. Ia menggunakan pena sebagai senjata melawan kolonialisme.
Anies mewarisi tradisi literasi ini. Tumbuh di lingkungan yang penuh dengan buku dan diskusi di Yogyakarta, kemampuan Anies dalam merangkai kata dan narasi publik menjadi salah satu kekuatan politik utamanya. Jika sang kakek menggunakan tulisan untuk membakar semangat anti-kolonial, sang cucu menggunakan retorika untuk membangun kebijakan dan opini publik di era demokrasi.
Sebuah Tanggung Jawab Sejarah
Menjadi cucu seorang Pahlawan Nasional bukanlah sekadar privilese, melainkan beban sejarah. Dalam sebuah wawancara, Anies pernah menyebutkan bahwa kakeknya mewariskan integritas dan nama baik, sebuah aset yang tidak bisa dinilai dengan materi.
Ketika Anies Baswedan melangkah di panggung nasional, bayang-bayang AR Baswedan tidak pernah jauh darinya. Dari gaya bicara yang terstruktur hingga penekanan pada pendidikan (mengingat AR Baswedan juga pernah menjabat Menteri Muda Penerangan), jejak sang kakek terlihat nyata.
Kisah Anies dan AR Baswedan adalah pengingat bahwa republik ini dibangun oleh tumpukan ide dan keberanian. Bagi Anies, label "cucu pahlawan" adalah pengingat konstan bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan sama beratnya dengan perjuangan merebutnya.
2 weeks ago | [YT] | 2
View 0 replies
NOKTURNAL TALK
BAYANGAN DI DANAU TOBA: Menguliti Gurita TPL, Jejak Sukanto Tanoto, dan "Tantangan" Sang Jenderal
Investigasi Khusus | Shadow Analyst
Tanggal: 14 Januari 2026
Lokasi Fokus: Porsea, Danau Toba & Singapura
JEBAKAN SEMANTIK SELEMBAR SAHAM
Ketika Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dengan nada tinggi menantang publik untuk membuktikan kepemilikan sahamnya di PT Toba Pulp Lestari (TPL), ia sedang memainkan kartu klasik oligarki: Penyangkalan Legalistik.
Secara teknis, nama "Luhut" memang tidak tertulis dalam akta sebagai pemilik saham mayoritas TPL. Tapi dalam dunia shadow, tantangan itu adalah distradiksi. Fokus kita bukan pada kertas saham yang bisa disembunyikan di balik nominee, melainkan pada ekosistem impunitas yang membiarkan TPL—jelmaan dari monster lama bernama Indorayon—terus mencengkeram Tanah Batak, dengan atau tanpa nama Luhut di dalamnya.
I. HANTU MASA LALU: DARI INDORAYON KE TPL
Untuk memahami TPL, kita harus menggali kuburan bernama PT Inti Indorayon Utama (Indorayon).
* Era Orde Baru (1983-1998): Indorayon lahir di Porsea sebagai anak emas rezim Soeharto. Pabrik ini menjadi mimpi buruk ekologis: bau busuk yang menyengat hingga bermil-mil, pencemaran Sungai Asahan, dan kerusakan Danau Toba.
* Kemenangan Rakyat (1999): Di bawah tekanan mahasiswa dan masyarakat Porsea yang berdarah-darah, Presiden B.J. Habibie menutup Indorayon. Ini adalah momen langka di mana rakyat menang melawan korporasi.
* Kebangkitan Zombie (2003): Di era Presiden Megawati, Indorayon diizinkan beroperasi kembali namun dengan taktik "Ganti Kulit". Nama Indorayon yang sudah cacat di mata publik dibuang, diganti menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL). Mesinnya sama, pemiliknya sama, hanya logonya yang berubah.
Catatan: Pergantian nama ini adalah taktik psikologis untuk memutus ingatan publik tentang dosa-dosa lingkungan Indorayon.
II. JARING LABA-LABA: SIAPA PEMILIK SEBENARNYA?
Jika bukan Luhut, lalu siapa? Jawabannya mengarah pada salah satu taipan terkaya dan paling kontroversial di Indonesia: Sukanto Tanoto.
Luhut benar bahwa namanya tidak ada di daftar pemegang saham mayoritas, karena struktur kepemilikan TPL dirancang berlapis-lapis melalui shell company di luar negeri (offshore) untuk menyamarkan Beneficial Owner (Pemilik Manfaat).
Struktur "Gurita" TPL:
* Entitas Operasional: PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL).
* Pemegang Saham Mayoritas (92,54%): Dikuasai oleh Pinnacle Company Pte. Ltd. (Singapura).
* Induk Utama: Pinnacle terhubung langsung ke kekaisaran Royal Golden Eagle (RGE) milik Sukanto Tanoto.
* Kendali Manfaat: Sosok seperti Joseph Oetomo sering muncul sebagai direktur atau pengendali di atas kertas (proxy), namun ia adalah orang kepercayaan lama di lingkaran RGE.
Analisis: Tantangan Luhut aman karena struktur ini memisahkan "Influence" (Pengaruh Politik) dari "Ownership" (Kepemilikan Saham). Luhut tidak perlu memiliki saham TPL untuk menjadi bagian dari masalah; cukup dengan membiarkan sistem hukum tumpul terhadap operasi RGE.
III. KORBAN DI TANAH LELUHUR: KASUS SORBATUA SIALLAGAN
Di balik debat elite soal saham, ada darah dan air mata nyata. TPL membutuhkan lahan luas untuk menanam Eukaliptus—tanaman rakus air yang mengeringkan tanah—sebagai bahan baku bubur kertas.
* Modus Operandi: Negara memberikan Izin Konsesi (HTI) di atas wilayah yang secara turun-temurun adalah Hutan Adat (Haminjon/Kemenyan) milik masyarakat Batak.
* Kriminalisasi: Siapa pun yang melawan dicap "penyerobot lahan negara". Contoh terbaru dan paling menyakitkan adalah kasus Sorbatua Siallagan, Ketua Komunitas Adat Ompu Umbak Siallagan.
* Kejadian: Sorbatua diculik paksa oleh aparat saat sedang membeli pupuk.
* Tuduhan: "Menduduki kawasan hutan" yang diklaim sebagai konsesi TPL. Padahal, leluhurnya sudah di sana jauh sebelum Indonesia (apalagi TPL) ada.
* Vonis: Divonis 2 tahun penjara pada 2024. Sebuah pesan mengerikan bagi masyarakat adat lain: "Lawan TPL, masuk penjara".
IV. MENGAPA NAMA LUHUT TERSERET? ("THE LORD" FACTOR)
Jika Luhut tidak punya saham TPL, mengapa aktivis Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti menyeret namanya dalam video "Ada Lord Luhut"?
* Koneksi Papua-Toba: Investigasi koalisi masyarakat sipil menemukan jejak perusahaan Luhut, PT Toba Sejahtera, dalam rencana tambang emas di Blok Wabu, Intan Jaya, Papua.
* Pola yang Sama: Aktivis melihat pola yang sama antara apa yang terjadi di Papua (militerisasi untuk tambang) dan di Toba (aparat menjaga TPL). Luhut, sebagai Menko Marves dan tokoh kunci keamanan, dianggap sebagai simbol payung politik yang memungkinkan operasi ekstraktif ini berjalan tanpa hambatan.
* Fakta Persidangan: Dalam sidang Haris-Fatia, terungkap dokumen (Minutes of Meeting) yang menunjukkan adanya kesepakatan bisnis antara anak usaha Toba Sejahtera dengan perusahaan tambang di Papua, membantah klaim Luhut bahwa ia "bersih total" dari urusan bisnis saat menjabat.
VERDICT: KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI
Luhut tantang kepemilikan saham Toba Pulp Lestari adalah puncak gunung es. Luhut menggunakan fakta legal ("saya tidak punya saham") untuk menutupi fakta politik ("saya bagian dari sistem yang membiarkan ini terjadi").
TPL bukan hanya pabrik bubur kertas. Ia adalah simbol bagaimana korporasi raksasa (RGE/Sukanto Tanoto) bisa "membeli" impunitas, mengganti nama untuk menghapus dosa, dan menggunakan tangan besi negara untuk memenjarakan tetua adat yang hanya ingin mempertahankan tanah leluhurnya.
Selama "Tantangan Buktikan Saham" menjadi fokus utama, TPL akan terus menebang hutan kemenyan, dan Sorbatua-Sorbatua lain akan terus ditangkap.
Bersambung: Profil dan sejarah hitam Sukanto Tanoto (pemilik asli TPL) yang pernah tersandung kasus penggelapan pajak terbesar dalam sejarah Indonesia namun tetap licin hingga kini.
2 weeks ago | [YT] | 1
View 0 replies