Ustadz Arifin Jayadiningrat

ada kunci utama dalam salat yang sering terlewat
dan jarang dibahas secara mendalam…

Temukan kuncinya di buku
📖 “Khusyuk Itu Mudah”
karya Arifin Jayadiningrat

✨ Bahasa ringan
✨ Menenangkan & reflektif
✨ Mudah diamalkan

🤲 Bukan sekedar teori tapi perubahan yang terasa di hati

📲 Pesan sekarang:
🌐 www.arifinjayadiningrat.com
atau WA: 0817-667-1188 (Raisya)

💝 Beli buku = ikut berdakwah ke pedalaman

Harga: Rp110.000 (belum ongkir)
BSI 735 187 5075 a.n. Aksi Peduli Bangsa

Jangan biarkan salat hanya jadi rutinitas
Saatnya merasakan nikmatnya salat🤍


Ustadz Arifin Jayadiningrat

Tadabbur Al Isra Online
Ustadz Arifin Jayadiningrat
19 Agustus 2026


Makna Nama Al-Isra

Al-Isra ini sebetulnya kalau kita lihat dari namanya saja sudah amazing.
Isra itu adalah perjalanan malam hari.

Kalimat Subhana itu amazing, dahsyat, tidak bisa ditalar dengan akal.
Karena keterbatasan akal dan pikiran kita, maka ada tasbih.

“Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada pada waktu petang dan ketika kamu berada pada waktu pagi.”
QS. Ar-Rum: 17

Dan ketika kita pagi hari, sore hari kita bertasbih supaya kita terbiasa melihat sesuatu, pikiran dan hati kita tidak boleh sesuatu itu tapi Allah.

Karena Maha Suci Allah.
Jangan dipahami ada kesalahan pada Allah. Allah Maha, Maha, Maha, Maha Suci. Tidak ada setitik pun kesalahan.

Walaupun realitanya pahit, kita sedih, tapi Maha Suci.
Artinya, di balik kesedihan ini ada yang dahsyat.

Rasulullah ﷺ Mengalami Ujian yang Berat

Inilah:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
Subḥānalladzī asrā bi‘abdihī.
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.”
(QS. Al-Isra’: 1)

Di situlah baru kita mengerti kenapa kalimat Subhanalladzi asra.
Kondisi saat itu rasul saw sedang drop, sedih.

Bukan hanya sedih kematian, ditinggal, tapi juga dihina, dicaci maki, dilempari batu, berdarah, dan kondisinya sangat berat.

Maka disebut dengan ‘Amul Huzn, saat itu disebut dengan tahun kesedihan.
Nabi juga manusia.

Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku ingat sebagaimana kalian ingat dan aku lupa sebagaimana kalian lupa.”
(HR. Muslim, no. 572)

Ujian Hidup dan Jalan Kembali kepada Allah

Kemudian Rasul ﷺ diperintahkan oleh Allah sabar dan bertasbih. Ini Surah Thaha ayat 130. Kata-kata لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ (la‘allaka tardhā). Al-katar itu agar kamu jadi happy, kamu mau jadi senang, kamu jadi tenteram, kamu jadi tenang.

Jadi tasbih itu dahsyat. Yang tadinya sedih, tidak sedih. Itu dahsyatnya tasbih.
Tasbih bukan berarti kita tidak boleh sedih.

Tasbih mengajarkan bahwa ketika kita sedang sakit, ketika kita sedang terpuruk, ketika manusia menyakiti kita, kita tetap tahu bahwa Allah Maha Suci, Allah tidak pernah salah, dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
(QS. Ad-Duha: 3)

Jadi kenapa mulai dari tasbih? Karena secara kontekstual saat itu konteksnya Nabi itu dalam drop, drop, nangis, sedih gitu. Maka diajak jalan-jalan.

kalimat asrā bi‘abdihī. Jadi Allah yang memperjalankan, yang menggerakkan itu Allah.

Isra Mikraj: Manusia Paling Mulia Pun Diperjalankan Allah

لَيْلًا — lailan.
Kalimat lailan itu menunjukkan nakirah. Nakirah itu adalah tanpa alif lam, gitu kan. Lailan, bukan al-lail.
Kenapa?
Ini menunjukkan waktu yang singkat, malam itu saja.

Nah, ini kalimat asrā bi‘abdihī, diperjalankan pada malam hari.
Ini bukan kekuatan akal kita.

Isra Mikraj: Jasad dan Ruh
Manusia kalau kecepatan tinggi ke Sidratul Muntaha pasti kebakar.
Maka perdebatan para ulama di dalam kitab-kitab itu ada yang mengatakan ini rohnya saja.

Ulama mayoritas mengatakan bukan roh saja, tapi jasad dan ruhnya berangkat dari Makkah ke Masjidil Aqsa, dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha, jasadan wa rūḥan.
Ini mukjizat tidak bisa diakalkan, maka jasad dan rohnya berangkat.

Kalau Allah yang memperjalankan, maka jangan ukur mukjizat dengan kemampuan makhluk.
Itu bukan kekuatan manusia.
Itu kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Nah, kalimat “asrā” ini sarananya dari Allah, yaitu Buraq. Maha, maha, maha, maha tidak terbatas.
Maka di sini kenapa tasbih? Karena bukan akal yang berbicara di sini. Karena bukan barometer makhluk, tapi barometernya Khaliq.

Dalam kondisi susah, dia sebagai manusia ditinggalkan Khadijah, pahit, dihinakan, dilemparin batu. Dalam kondisi yang sangat terpuruk, Allah memperjalankan dalam kondisi seperti itu pada malam hari.

Kedekatan dengan Allah pada Malam Hari
Itu terseleksi alam.

Karena ketika malam hari orang semuanya, mohon maaf, tidur.
Maka Allah dekat dengan hamba-Nya ketika sepertiga malam akhir.

Kenapa “lailan” di situ? Karena kenapa malam hari? Saat itu kondisi Rasulullah ﷺ dalam keadaan susah.
Dan inilah perintah salat.

Kondisi yang terpuruk, disuruh langsung menghadap Allah. Perjalanan inilah menjadi hiburan. Pada malam hari ketika manusia itu lelah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu perkara yang menyusahkan, beliau melaksanakan salat.”
HR Abu Dawud, HR Ahmad, Hasan.

Perintah salat beda dengan perintah puasa, perintah zakat, perintah haji. Lain.
Salat itu langsung menghadap Allah. Hubungan langsung kepada Allah.

Ketika Sedih, Minta Tolong kepada Allah

Lihat Surah Al-Baqarah ayat 45–46:
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)

Ini lihat kisah Isra Mikraj. Ini harus paham betul kenapa Isra Mikraj dimulai dengan tasbih?

Kenapa Isra Mikraj Dimulai dengan Tasbih?
Kenapa Rasulullah bukan dalam keadaan senang-senang, dalam keadaan enak-enak, dakwahnya sukses, kemudian Rasul ﷺ disuruh berangkat ke Isra Mikraj?
Tidak demikian.

Kondisinya sangat-sangat-sangat kebalikannya. Dalam keadaan susah, dalam keadaan sedih, Rasul ﷺ diberangkatkan.

Maka tempatnya curhat langsung kepada Allah adalah salat.
Sebagian ulama mengatakan:
“Salat adalah mikrajnya orang beriman.”

Maka jangan sekali-sekali Anda curhat kepada makhluk, tapi curhatnya kepada Allah.

“Innama”: Sungguh Hanya kepada Allah

Ini dalam Surah Yusuf, ungkapan ayah kandungnya, yaitu Yaakub. Dia buta karena menangis. Karena Nabi Yusuf diculik, katanya dibunuh, dimakan serigala.

Kemudian dia mengatakan:
“Aku hanya mengadukan kesusahanku, kegundahanku, kesedihanku kepada Allah.”

Salat: Sarana Curhat Langsung kepada Allah

Karena salat itu adalah sarana satu-satunya yang sakral, suci, direct ke Allah.
Toh perintahnya juga langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Langsung perintahnya. Tidak melalui Jibril, bukan di bumi, langsung diangkat.

Kenapa “Asrā bi ‘Abdihi Lailan”?
Karena malam hari itu waktu yang sangat sakral.
Ini ketika malam hari orang pada tidur.

Ini hadis tentang keutamaan salat malam, di antaranya sabda Nabi ﷺ:
“Sebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan salatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
(HR. Tirmidzi, no. 2485)

Maka kenapa lailan di sini?
Jadi hikmahnya luar biasa.

Di Balik Kesedihan Ada Keindahan

Ketika dalam keadaan kesedihan, Allah itu Maha Baik. Di balik itu ada keindahan, kebahagiaan.
Itulah Isra Mikraj.

Dalam keadaan sedih, Allah langsung mengisrakan, memperjalankan pada malam hari.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Makna “Lail”: Allah Menyelimuti Kita dengan Kasih Sayang-Nya

Karena bahasanya:
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).”
(QS. Al-Lail: 1)

Kita diselimutin. Saat kita tidur, tiba-tiba pasangan hidup kita menyelimutin kita.
Masyaallah, bahagianya.
Betapa dia perhatian sama kita. Subhanallah.

Jadi lail itu betapa dahsyatnya kita diselimuti oleh Allah dengan adanya malam, menjadikan kita istirahat.

Malam Adalah Waktu Istirahat bagi Fisik, Batin, Jiwa, dan Pikiran

Maka ketika kita berbicara lail, lihat teks-teks Al-Qur'an dan hadis-hadis.
Di situ kita bisa istirahat.
Fisik kita pun istirahat, batin kita istirahat, jiwa kita istirahat, pikiran kita istirahat pada malam hari.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diistirahatkan dengan jiwanya, yaitu perintah salat langsung menghadap Allah.

Mengapa Allah Menyebut Nabi Muhammad sebagai “Hamba-Nya”?

Ketika kita melihat kalimat abdun, itu membedakan Nabi sebelumnya.
Maksudnya gimana?
Nabi sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah Nabi Isa yang dikultuskan seperti Tuhan, yang dituhankan.

Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh.
Karena ini perintah salat, kita menyembah Allah, mengagungkan Allah, membesarkan Allah.

Anda, wahai Muhammad, hanya abdun sebagai hamba-Nya.
Supaya kita sadar, ini tidak boleh kita kultuskan sebagaimana kaum sebelumnya, Nasrani dan Yahudi.

Maka ketika diperintahkan salat, yang disembah adalah Allah.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai hamba Allah yang diperjalankan, disuruh perintah untuk nyembah-nyembah siapa?
Allah Subhanahu wa taala.

Dialog dalam Peristiwa Isra Mikraj dan Tahiyat

Ketika Isra Mikraj, itulah terjadi dialog itu dan diabadikan ketika kita salat, ditutup dengan attahiyatul mubarakatu. Subhanallah.

Kita ini kadang kala salat, pikiran kita masih di bumi, fisik kita di bumi, jiwa kita di bumi. Terus bagaimana akan meneteskan air mata?

Betul. Anda salat, wajah kita menatap bumi, mata kita menatap titik sujud, betul. Kaki kita berpijak ke bumi, betul. Tapi jiwa kita itu harus di Sidratul Muntaha supaya kita mengerti kalimat tasbih, sehingga kita merasakan ketenangan ketika salat.

Maka orang-orang yang salatnya benar, dia tidak berkeluh kesah.
Berkeluh kesah adalah standar terendah. Di atas itu ngomel, di atas itu marah-marah, di atas itu ngamuk, melaknat. Yang paling rendah itu berkeluh kesah.

Ini Al-Qur’an dalam surah tentang Mi‘raj, Al-Ma‘arij dari kalimat al-ma‘arij. Subhanallah. Ini nyambung, artinya harus ke atas.

Anda buka Surah Al-Ma‘arij ayat 19, 20, 21, 22 dan seterusnya.
Manusia ada dua sifat.
Apabila dia mendapatkan kesengsaraan, kalau dia dapat kesengsaraan, dia berkeluh kesah.
Kalau dia dapat nikmat, dia pelitnya luar biasa.
Itu sifat manusia.

Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.
Berarti orang salat tidak lagi berkeluh kesah dan tidak lagi kikir.

Kenapa?
Jiwanya di langit, maka sifat-sifat duniawi hilang.
Orang yang salatnya benar, dia sudah mi‘raj. Dia sedang diperjalankan oleh Allah, bertemu dengan Allah.

Salat Mengingatkan Pertemuan dengan Allah

“(Yaitu) mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 46)

3 days ago | [YT] | 2

Ustadz Arifin Jayadiningrat

Tadabbur Al Isra Online
Ustadz Arifin Jayadiningrat
19 Agustus 2026


Makna Nama Al-Isra

Al-Isra ini sebetulnya kalau kita lihat dari namanya saja sudah amazing.
Isra itu adalah perjalanan malam hari.

Kalimat Subhana itu amazing, dahsyat, tidak bisa ditalar dengan akal.
Karena keterbatasan akal dan pikiran kita, maka ada tasbih.

“Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada pada waktu petang dan ketika kamu berada pada waktu pagi.”
QS. Ar-Rum: 17

Dan ketika kita pagi hari, sore hari kita bertasbih supaya kita terbiasa melihat sesuatu, pikiran dan hati kita tidak boleh sesuatu itu tapi Allah.

Karena Maha Suci Allah.
Jangan dipahami ada kesalahan pada Allah. Allah Maha, Maha, Maha, Maha Suci. Tidak ada setitik pun kesalahan.

Walaupun realitanya pahit, kita sedih, tapi Maha Suci.
Artinya, di balik kesedihan ini ada yang dahsyat.

Rasulullah ﷺ Mengalami Ujian yang Berat

Inilah:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
Subḥānalladzī asrā bi‘abdihī.
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.”
(QS. Al-Isra’: 1)

Di situlah baru kita mengerti kenapa kalimat Subhanalladzi asra.
Kondisi saat itu rasul saw sedang drop, sedih.

Bukan hanya sedih kematian, ditinggal, tapi juga dihina, dicaci maki, dilempari batu, berdarah, dan kondisinya sangat berat.

Maka disebut dengan ‘Amul Huzn, saat itu disebut dengan tahun kesedihan.
Nabi juga manusia.

Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku ingat sebagaimana kalian ingat dan aku lupa sebagaimana kalian lupa.”
(HR. Muslim, no. 572)

Ujian Hidup dan Jalan Kembali kepada Allah

Kemudian Rasul ﷺ diperintahkan oleh Allah sabar dan bertasbih. Ini Surah Thaha ayat 130. Kata-kata لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ (la‘allaka tardhā). Al-katar itu agar kamu jadi happy, kamu mau jadi senang, kamu jadi tenteram, kamu jadi tenang.

Jadi tasbih itu dahsyat. Yang tadinya sedih, tidak sedih. Itu dahsyatnya tasbih.
Tasbih bukan berarti kita tidak boleh sedih.

Tasbih mengajarkan bahwa ketika kita sedang sakit, ketika kita sedang terpuruk, ketika manusia menyakiti kita, kita tetap tahu bahwa Allah Maha Suci, Allah tidak pernah salah, dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
(QS. Ad-Duha: 3)

Jadi kenapa mulai dari tasbih? Karena secara kontekstual saat itu konteksnya Nabi itu dalam drop, drop, nangis, sedih gitu. Maka diajak jalan-jalan.

kalimat asrā bi‘abdihī. Jadi Allah yang memperjalankan, yang menggerakkan itu Allah.

Isra Mikraj: Manusia Paling Mulia Pun Diperjalankan Allah

لَيْلًا — lailan.
Kalimat lailan itu menunjukkan nakirah. Nakirah itu adalah tanpa alif lam, gitu kan. Lailan, bukan al-lail.
Kenapa?
Ini menunjukkan waktu yang singkat, malam itu saja.

Nah, ini kalimat asrā bi‘abdihī, diperjalankan pada malam hari.
Ini bukan kekuatan akal kita.

Isra Mikraj: Jasad dan Ruh
Manusia kalau kecepatan tinggi ke Sidratul Muntaha pasti kebakar.
Maka perdebatan para ulama di dalam kitab-kitab itu ada yang mengatakan ini rohnya saja.

Ulama mayoritas mengatakan bukan roh saja, tapi jasad dan ruhnya berangkat dari Makkah ke Masjidil Aqsa, dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha, jasadan wa rūḥan.
Ini mukjizat tidak bisa diakalkan, maka jasad dan rohnya berangkat.

Kalau Allah yang memperjalankan, maka jangan ukur mukjizat dengan kemampuan makhluk.
Itu bukan kekuatan manusia.
Itu kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Nah, kalimat “asrā” ini sarananya dari Allah, yaitu Buraq. Maha, maha, maha, maha tidak terbatas.
Maka di sini kenapa tasbih? Karena bukan akal yang berbicara di sini. Karena bukan barometer makhluk, tapi barometernya Khaliq.

Dalam kondisi susah, dia sebagai manusia ditinggalkan Khadijah, pahit, dihinakan, dilemparin batu. Dalam kondisi yang sangat terpuruk, Allah memperjalankan dalam kondisi seperti itu pada malam hari.

Kedekatan dengan Allah pada Malam Hari
Itu terseleksi alam.

Karena ketika malam hari orang semuanya, mohon maaf, tidur.
Maka Allah dekat dengan hamba-Nya ketika sepertiga malam akhir.

Kenapa “lailan” di situ? Karena kenapa malam hari? Saat itu kondisi Rasulullah ﷺ dalam keadaan susah.
Dan inilah perintah salat.

Kondisi yang terpuruk, disuruh langsung menghadap Allah. Perjalanan inilah menjadi hiburan. Pada malam hari ketika manusia itu lelah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila Nabi ﷺ menghadapi suatu perkara yang menyusahkan, beliau melaksanakan salat.”
HR Abu Dawud, HR Ahmad, Hasan.

Perintah salat beda dengan perintah puasa, perintah zakat, perintah haji. Lain.
Salat itu langsung menghadap Allah. Hubungan langsung kepada Allah.

Ketika Sedih, Minta Tolong kepada Allah

Lihat Surah Al-Baqarah ayat 45–46:
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)

Ini lihat kisah Isra Mikraj. Ini harus paham betul kenapa Isra Mikraj dimulai dengan tasbih?

Kenapa Isra Mikraj Dimulai dengan Tasbih?
Kenapa Rasulullah bukan dalam keadaan senang-senang, dalam keadaan enak-enak, dakwahnya sukses, kemudian Rasul ﷺ disuruh berangkat ke Isra Mikraj?
Tidak demikian.

Kondisinya sangat-sangat-sangat kebalikannya. Dalam keadaan susah, dalam keadaan sedih, Rasul ﷺ diberangkatkan.

Maka tempatnya curhat langsung kepada Allah adalah salat.
Sebagian ulama mengatakan:
“Salat adalah mikrajnya orang beriman.”

Maka jangan sekali-sekali Anda curhat kepada makhluk, tapi curhatnya kepada Allah.

“Innama”: Sungguh Hanya kepada Allah

Ini dalam Surah Yusuf, ungkapan ayah kandungnya, yaitu Yaakub. Dia buta karena menangis. Karena Nabi Yusuf diculik, katanya dibunuh, dimakan serigala.

Kemudian dia mengatakan:
“Aku hanya mengadukan kesusahanku, kegundahanku, kesedihanku kepada Allah.”

Salat: Sarana Curhat Langsung kepada Allah

Karena salat itu adalah sarana satu-satunya yang sakral, suci, direct ke Allah.
Toh perintahnya juga langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Langsung perintahnya. Tidak melalui Jibril, bukan di bumi, langsung diangkat.

Kenapa “Asrā bi ‘Abdihi Lailan”?
Karena malam hari itu waktu yang sangat sakral.
Ini ketika malam hari orang pada tidur.

Ini hadis tentang keutamaan salat malam, di antaranya sabda Nabi ﷺ:
“Sebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan salatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
(HR. Tirmidzi, no. 2485)

Maka kenapa lailan di sini?
Jadi hikmahnya luar biasa.

Di Balik Kesedihan Ada Keindahan

Ketika dalam keadaan kesedihan, Allah itu Maha Baik. Di balik itu ada keindahan, kebahagiaan.
Itulah Isra Mikraj.

Dalam keadaan sedih, Allah langsung mengisrakan, memperjalankan pada malam hari.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Makna “Lail”: Allah Menyelimuti Kita dengan Kasih Sayang-Nya

Karena bahasanya:
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).”
(QS. Al-Lail: 1)

Kita diselimutin. Saat kita tidur, tiba-tiba pasangan hidup kita menyelimutin kita.
Masyaallah, bahagianya.
Betapa dia perhatian sama kita. Subhanallah.

Jadi lail itu betapa dahsyatnya kita diselimuti oleh Allah dengan adanya malam, menjadikan kita istirahat.

Malam Adalah Waktu Istirahat bagi Fisik, Batin, Jiwa, dan Pikiran

Maka ketika kita berbicara lail, lihat teks-teks Al-Qur'an dan hadis-hadis.
Di situ kita bisa istirahat.
Fisik kita pun istirahat, batin kita istirahat, jiwa kita istirahat, pikiran kita istirahat pada malam hari.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diistirahatkan dengan jiwanya, yaitu perintah salat langsung menghadap Allah.

Mengapa Allah Menyebut Nabi Muhammad sebagai “Hamba-Nya”?

Ketika kita melihat kalimat abdun, itu membedakan Nabi sebelumnya.
Maksudnya gimana?
Nabi sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah Nabi Isa yang dikultuskan seperti Tuhan, yang dituhankan.

Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh.
Karena ini perintah salat, kita menyembah Allah, mengagungkan Allah, membesarkan Allah.

Anda, wahai Muhammad, hanya abdun sebagai hamba-Nya.
Supaya kita sadar, ini tidak boleh kita kultuskan sebagaimana kaum sebelumnya, Nasrani dan Yahudi.

Maka ketika diperintahkan salat, yang disembah adalah Allah.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai hamba Allah yang diperjalankan, disuruh perintah untuk nyembah-nyembah siapa?
Allah Subhanahu wa taala.

Dialog dalam Peristiwa Isra Mikraj dan Tahiyat

Ketika Isra Mikraj, itulah terjadi dialog itu dan diabadikan ketika kita salat, ditutup dengan attahiyatul mubarakatu. Subhanallah.

Kita ini kadang kala salat, pikiran kita masih di bumi, fisik kita di bumi, jiwa kita di bumi. Terus bagaimana akan meneteskan air mata?

Betul. Anda salat, wajah kita menatap bumi, mata kita menatap titik sujud, betul. Kaki kita berpijak ke bumi, betul. Tapi jiwa kita itu harus di Sidratul Muntaha supaya kita mengerti kalimat tasbih, sehingga kita merasakan ketenangan ketika salat.

Maka orang-orang yang salatnya benar, dia tidak berkeluh kesah.
Berkeluh kesah adalah standar terendah. Di atas itu ngomel, di atas itu marah-marah, di atas itu ngamuk, melaknat. Yang paling rendah itu berkeluh kesah.

Ini Al-Qur’an dalam surah tentang Mi‘raj, Al-Ma‘arij dari kalimat al-ma‘arij. Subhanallah. Ini nyambung, artinya harus ke atas.

Anda buka Surah Al-Ma‘arij ayat 19, 20, 21, 22 dan seterusnya.
Manusia ada dua sifat.
Apabila dia mendapatkan kesengsaraan, kalau dia dapat kesengsaraan, dia berkeluh kesah.
Kalau dia dapat nikmat, dia pelitnya luar biasa.
Itu sifat manusia.

Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.
Berarti orang salat tidak lagi berkeluh kesah dan tidak lagi kikir.

Kenapa?
Jiwanya di langit, maka sifat-sifat duniawi hilang.
Orang yang salatnya benar, dia sudah mi‘raj. Dia sedang diperjalankan oleh Allah, bertemu dengan Allah.

Salat Mengingatkan Pertemuan dengan Allah

“(Yaitu) mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 46)


3 days ago (edited) | [YT] | 3