#bismillahirrohmanirrohiim

MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah), adalah organisasi mahasiswa milik JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah/ Organisasi penganut Thoriqoh di bawah Nahdlatul Ulama’) JATMAN sebagai banom NU, yang didirikan oleh KH. Muslih Bin Abdurrohman, Mranggen Demak tahun 1979, telah begitu banyak mencatatkan kinerja yang sangat luar biasa khususnya pada dekade awal millennium ini dalam pembinaan umat Islam dan masyarakat secara umum menuju kedamaian dan tegaknya NKRI yang kita cintai ini.

Pada MUKTAMAR JATMAN ke-11 di Malang pada 11 Januari 2012 yang lalu telah dideklarasikan, berdirinya MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdlliyyah) sebagai salah satu ujung tombak dalam pembangunan manusia seutuhnya melalui pembinaan mahasiswa sebagai generasi muda penerus perjuangan bangsa.

Mission

Mempertahankan Pancasila sebagai dasar ideologi NKRI dan melestarikan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah.


Suluk Matan

Mengapa Operasi Rumail Abbas Sangat Berbahaya Bagi Kedaulatan Bangsa?

Mengapa aktivitas Rumail Abbas (Ahmad Romli) bukan sekadar perdebatan sejarah biasa, melainkan ancaman serius bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jika kita melihat permukaan, Rumail Abbas hanyalah seorang peneliti yang bicara soal naskah dan nasab. Namun, jika kita bedah secara ilmiah menggunakan kacamata Ketahanan Nasional dan Intelijen Strategis, pola tindakannya adalah bagian dari metode "Perang Saraf" yang bertujuan merusak imunitas bangsa dari dalam.

1. Penghancuran "Sovereignty of Mind" (Penjajahan Mental)

Bahaya pertama dan paling mendasar adalah upaya Yamanisasi atau Ba'alawisasi sejarah Nusantara.

* Logika: Sebuah bangsa akan mudah dikendalikan jika mereka merasa "rendah diri" di hadapan entitas asing.

* Tindakan Rumail: Ia secara sistematis mengagungkan silsilah palsu klan Ba'alawi (Yaman) di atas sejarah pahlawan dan leluhur asli Indonesia.

* Bahaya: Jika rakyat percaya bahwa derajat mereka lebih rendah daripada klan pendatang, maka secara mental bangsa ini telah dijajah kembali. Kedaulatan tidak lagi di tangan rakyat Indonesia, tapi di bawah kendali narasi asing.

2. Alat "Color Revolution" (Revolusi Adu Domba)

Rumail Abbas tidak bekerja sendirian. Sponsor utamanya, islami.co, tercatat dalam dokumen internasional (Sunday Guardian Live 2026) menerima dana dari George Soros (OSF).

* Strategi Soros: Soros dikenal sering menjatuhkan pemerintahan sah (seperti di Ukraina) dengan cara membiayai aktor lokal untuk menciptakan konflik internal.

* Peran Rumail: Ia bertugas sebagai 'provokator intelektual'. Isu nasab yang ia goreng menciptakan polarisasi (pembelahan) hebat antara pendukung buta klan tersebut dengan masyarakat pribumi.

* Bahaya: Ketika rakyat sibuk berkelahi secara horizontal (sesama warga), stabilitas negara melemah. Inilah celah yang ditunggu aktor asing untuk menggulingkan kepemimpinan nasional, termasuk Presiden Prabowo Subianto.

3. Taktik "Trojan Horse" di Jantung Organisasi Islam

Bahaya semakin nyata karena Rumail sengaja berlindung di balik tokoh-tokoh besar (Kyai). Dan sponsornya, Savic Ali, adalah salah satu Ketua PBNU.

* Logika: Dengan menempel pada organisasi sebesar NU, narasi Rumail seolah-olah menjadi "kebenaran resmi".

* Bahaya: Ini adalah infiltrasi. Agenda asing (Soros) masuk ke dalam jantung pertahanan umat Islam Indonesia menggunakan wajah tokoh lokal. Akibatnya, umat terbelah dari dalam, dan organisasi yang seharusnya menjaga NKRI justru "terinfeksi" oleh kepentingan yang merusak kohesi sosial.

4. Operasi "Sophisticated Warfare" (Perang Canggih)

Aktivitas Rumail dalam temuan diduga didukung oleh dana respon cepat (Rapid Response Fund). Ini menjelaskan mengapa ia bisa begitu masif bergerak di media sosial, melakukan roadshow, dan riset ke luar negeri.

* Logika: Perang masa depan tidak lagi menggunakan peluru, tapi menggunakan informasi palsu dan pembelokan identitas.

* Bahaya: Rumail adalah ujung tombak dari serangan ini. Ia merusak "chip" memori kolektif bangsa Indonesia agar melupakan sejarah asli Nusantara dan menggantinya dengan narasi yang menguntungkan kelompok tertentu dan penyokong dana globalnya.

Kesimpulan:

Tindakan Rumail Abbas sangat berbahaya karena ia sedang merobek kain persatuan pribumi. Ia menggunakan "ilmu sejarah" sebagai senjata untuk membuat anak bangsa saling benci, meragukan leluhur sendiri, dan pada akhirnya membuat Indonesia lemah sehingga mudah dikendalikan oleh kekuatan asing (seperti jaringan George Soros).

Tindakan Tegas yang Diperlukan Pemegang otoritas kebijakan:

* Audit PPATK: Periksa aliran dana asing yang mendanai aktivitas adu domba ini.

* Audit Ideologi: Bersihkan institusi seperti PBNU dari oknum yang menjadi perpanjangan tangan agenda globalis.

* Gerakan Literasi Pribumi:

Kembalikan kehormatan sejarah leluhur Nusantara agar rakyat tidak mudah tertipu oleh "dongeng nasab" yang merusak kedaulatan.

Dan karena itu semua, yang mungkin bagi para akademisi pribumi, sering menyampaikan dibeberapa podcastnya ketika membahas Rumail bahwa Rumail Abbas adalah 'Jahil Murakkab', orang yang bodoh tapi tidak tahu jika dirinya bodoh.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

-

36 minutes ago | [YT] | 0

Suluk Matan

Geopolitik Informasi: Mengapa Soros Membutuhkan Rumail Abbas?

Analisis berikut menyajikan narasi tajam mengenai korelasi strategis antara pendanaan global George Soros melalui Open Society Foundations (OSF) dengan peran aktor intelektual lokal seperti Rumail Abbas (Ahmad Romli) dalam diskursus nasab Ba'alawi di Indonesia.

Dalam arsitektur Color Revolution (Revolusi Warna) dan metode Sophisticated Warfare, penguasaan narasi sejarah dan identitas sosial merupakan instrumen yang jauh lebih mematikan daripada kekuatan militer konvensional.

Fenomena dukungan islami.co—yang terafiliasi dengan dana OSF George Soros—kepada Rumail Abbas bukan sekadar filantropi akademik, melainkan sebuah kebutuhan strategis yang bersifat sistemik.

1. Rekonstruksi Identitas melalui "Ba'alawisasi" Sejarah

Secara sosiologis, sebuah bangsa dapat dikendalikan jika fondasi sejarah pribuminya berhasil didegradasi. Soros membutuhkan figur seperti Rumail Abbas untuk melakukan apa yang disebut sebagai "Yamanisasi" atau "Ba'alawisasi" sejarah Nusantara.

* Tujuan Strategis: Dengan mengukuhkan dominasi genealogi klan Ba'alawi sebagai entitas sakral yang tak terbantahkan, terjadi pergeseran otoritas sosial-keagamaan dari basis kultural pribumi ke entitas transnasional.

* Dampak: Bangsa yang kehilangan kebanggaan akan leluhur pribuminya akan lebih mudah mengalami krisis identitas, menjadikannya objek yang rentan terhadap intervensi kebijakan global.

2. Instrumen Pembusukan Rezim (Regime Change)

Data menunjukkan bahwa OSF sering kali masuk ke negara strategis dengan mendanai jaringan media dan aktivis untuk menciptakan eskalasi konflik horizontal.

* Mekanisme Konflik: Isu nasab Ba'alawi yang dibela oleh Rumail Abbas secara inheren menciptakan polarisasi tajam di akar rumput (pro-kontra muhibbin vs pribumi).

* Target: Ketidakstabilan sosial yang dihasilkan dari perdebatan ini adalah "pintu masuk" bagi narasi kegagalan pemerintah dalam menjaga harmoni. Rumail Abbas berfungsi sebagai katalisator intelektual yang menjaga agar bara konflik tetap menyala di ruang digital dan akademik, memberikan alasan bagi aktor luar untuk menekan legitimasi Presiden Prabowo Subianto.

3. Infiltrasi ke Struktur Otoritas Tradisional (PBNU)

Keterlibatan Savic Ali (Ketua PBNU) sebagai pemilik islami.co (sponsor Rumail) menunjukkan upaya infiltrasi ke dalam struktur organisasi keagamaan terbesar di dunia.

* Analisis Infiltrasi: Soros tidak bisa bekerja secara telanjang. Ia membutuhkan "wajah" yang memiliki otoritas tradisional. Dengan mensponsori Rumail melalui platform yang dipimpin tokoh PBNU, narasi yang dibawa Rumail mendapatkan legitimasi institusional.

* Taktik: Ini adalah taktik Trojan Horse, di mana agenda pendestabilan negara dibungkus dalam kemasan "riset sejarah" dan "pembelaan terhadap Ahlul Bait" agar tidak dicurigai oleh massa Muslim yang awam.

4. Backstop Keuangan untuk Mobilisasi Massa

Dokumen Sunday Guardian Live mengungkap adanya Rapid Response Fund (Dana Respon Cepat). Dalam konteks ini, Rumail Abbas adalah bagian dari ekosistem protes yang lebih luas.

* Fungsi: Sementara massa bergerak di jalanan dengan simbol-simbol pop-culture (seperti bendera One Piece), aktor seperti Rumail bekerja di level kognitif.

* Sinergi: Ia memastikan bahwa secara material dan naratif, jaringan yang menantang otoritas pemerintah memiliki "landasan ilmiah" untuk tetap eksis, sehingga mempermudah mobilisasi anti-pemerintah jika krisis ekonomi atau politik memuncak.

Kesimpulan Ilmiah:

George Soros membutuhkan Rumail Abbas bukan karena kualitas riset sejarahnya, melainkan karena posisinya sebagai bidak intelektual dalam operasi Color Revolution. Rumail adalah instrumen untuk merusak kohesi sosial melalui isu nasab, yang pada akhirnya bertujuan untuk melemahkan kedaulatan nasional Indonesia demi kepentingan kapitalisme global dan pergantian rezim (regime change).

Referensi Hukum & Fakta:

* UU No. 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara (Prinsip perlindungan kedaulatan).

* Dokumen Sunday Guardian Live 2026: Soros Network Funds Youth Leadership Grassroots Mobilization in Indonesia.

* Laporan Sputnik 2025: Analisis Geopolitik terhadap simbol demonstrasi di Indonesia.

* Investigasi RMI PWNU Banten (Maret 2026)

rminubanten.or.id/antara-taipan-yahudi-george-soro…

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

-

16 hours ago | [YT] | 13

Suluk Matan

SKANDAL DONOR SOROS: OPERASI RUMAIL ABBAS (AHMAD ROMLI) & SYAHWAT BA’ALAWISASI NUSANTARA

Sebuah tabir gelap dalam polemik nasab Ba’alawi akhirnya tersingkap. Investigasi terbaru dari Rifky Zulkarnaen J. Baswara di website RMI PWNU Banten mengungkap benang merah antara taipan Yahudi, George Soros, platform Islami.co, dan aktor intelektual Rumail Abbas (Ahmad Romli). Ini bukan sekadar perdebatan nasab; ini adalah persoalan kedaulatan informasi dan keamanan nasional.

1. Retorika "5 Triliun" & Teknik Proyeksi Psikologis

Tahun 2023 M (1444 H), Rumail Abbas menyebar narasi bahwa pengkritik nasab menerima dana 4-5 Triliun rupiah. Dalam terminologi hukum dan psikologi, ini disebut proyeksi: menuduh orang lain melakukan apa yang sebenarnya ia lakukan sendiri. Faktanya, justru Rumail-lah yang terikat kontrak sponsor untuk "mencari jejak historis" demi membela klan tertentu.

2. Alur Dana: Dari Open Society Foundations ke Islami.co

Data investigasi menunjukkan platform Islami.co (di bawah Yayasan Islami Media Ramah) yang didirikan oleh Savic Ali (Ketua PBNU), disebut dalam dokumen kebocoran hibah Open Society Foundations (OSF) milik George Soros. Angka yang tertera mencapai Rp 1.600.000.000,- melalui jaringan Kurawal. Secara normatif, hibah ini wajib diaudit berdasarkan UU Ormas No. 16 Tahun 2017 Pasal 52, untuk memastikan dana asing tidak digunakan untuk intervensi domestik.

3. Perspektif Normatif: Pelanggaran UU ITE & KUHP Nasional

Mengingat saat ini tahun 2026 M (1447 H), implementasi KUHP Nasional (UU 1/2023) dan Perubahan Kedua UU ITE (UU 1/2024) sudah sangat ketat:

* Fitnah & Pencemaran: Tuduhan tanpa bukti mengenai "Dana 5 Triliun" melanggar Pasal 433-434 KUHP (Fitnah) karena merugikan kehormatan para pejuang nasab.

* Hoaks & Konflik SARA: Mobilisasi narasi "Ba’alawisasi" yang didanai asing dapat dijerat Pasal 28 ayat (3) UU ITE jika terbukti memicu polarisasi atau kerusuhan di masyarakat.

4. IMPLIKASI Ba’alawisasi Makam: Ancaman Terhadap Hak Asal-Usul

Operasi "Yamanisasi" makam-makam leluhur Pribumi Nusantara bukan hanya masalah sejarah, tapi pelanggaran hukum serius:

* Hukum Perdata: Klaim sepihak atas makam adalah Perbuatan Melawan Hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) yang merugikan hak identitas ahli waris asli.

* UU Cagar Budaya (No. 11/2010): Mengubah narasi sejarah situs makam kuno adalah bentuk perusakan memori kolektif bangsa yang memiliki sanksi pidana.

5. Ancaman Non-Militer & Kedaulatan Negara

George Soros dikenal di dunia internasional melalui metode Regime Change (Perubahan Rezim). Masuknya dana OSF ke lini media yang membela klan imigran untuk mendominasi narasi sejarah Pribumi adalah bentuk Ancaman Non-Militer sebagaimana diatur dalam UU Pertahanan Negara No. 3 Tahun 2002 Pasal 7. Ini adalah upaya pelemahan mentalitas bangsa melalui penguasaan struktur keagamaan.

KESIMPULAN

Negara, melalui PPATK dan BIN, harus segera mengaudit transparansi dana pada yayasan-yayasan media yang terafiliasi dengan agenda asing ini. Kita tidak boleh membiarkan sejarah Nusantara dikomersialisasi dan dimanipulasi oleh kepentingan geopolitik luar negeri.

Saatnya Pribumi Nusantara bangkit menjaga marwah leluhur dari cengkeraman narasi pesanan bazer bayaran!

Sumber Referensi:

* Investigasi RMI PWNU Banten (Maret 2026)

rminubanten.or.id/antara-taipan-yahudi-george-soro…

* Sunday Guardian Live: Soros Network Funds in Indonesia

* UU No. 1/2023 (KUHP Nasional) & UU No. 1/2024 (UU ITE)

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

-

1 day ago | [YT] | 10

Suluk Matan

Membedah Kemandulan Logika: Kritik Atas Hegemoni Narasi Ba'alawi

Menyoroti fenomena "pematikan nalar" dalam polemik nasab dan sejarah di Indonesia. Secara akademis, persoalan ini bukan sekadar urusan garis keturunan, melainkan masalah integritas keilmuan dan kesehatan logika publik.

Krisis Ilmu Mantiq di Lingkungan Pesantren

Ilmu Mantiq (logika) adalah kurikulum wajib di pesantren sebagai ilmu alat. Fungsi utamanya adalah Ismatul Lisan (menjaga lisan dari kesalahan berpikir) dan Tasawurul Masail (penggambaran masalah secara utuh). Namun, dalam menyikapi polemik Ba'alawi, mantiq seolah tumpul. Banyak oknum yang lebih mendahulukan doktrin daripada akal sehat.

Mengacu pada mukadimah Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, ditegaskan bahwa seseorang yang tidak mengaplikasikan ilmu mantiq dalam berpikir, maka kapasitas keilmuannya tidak dapat dianggap (la yu'tabar).

Standar Ganda dalam Verifikasi Sejarah

Fenomena menarik yang dibongkar adalah adanya standar ganda (double standard) dalam pembuktian. Dahulu, pihak Ba'alawi dengan mudah membatalkan atau meragukan nasab pihak lain (seperti Wali Songo) dengan dalih ketiadaan "bukti zaman" atau data sezaman.

Namun, ketika tuntutan ilmiah yang sama—berupa verifikasi kitab sezaman dan tes DNA—diarahkan kepada nasab Ba'alawi sendiri, mereka justru menghindar dan bersilat lidah. Ini adalah bentuk ketidakkonsistenan logika yang mencederai dunia akademik.

Industri Kebohongan dan Eksploitasi Khurafat

Muncul istilah tajam mengenai "Industri Kebohongan". Hal ini merujuk pada upaya sistematis dalam menciptakan fabrikasi atau pembuatan data palsu yang meliputi:

* Fabrikasi Nasab: Menyambungkan silsilah tanpa hujah kitab sezaman yang valid.

* Fabrikasi Makam: Munculnya makam-makam "keramat" baru yang secara historis tidak terverifikasi.

* Fabrikasi Khurafat: Cerita-cerita mistis yang tidak masuk akal, seperti klaim mampu Mi'raj puluhan kali dalam sehari semalam.

Secara teologis, klaim-klaim khurafat ini sangat berbahaya. Mengutip pandangan pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari, pengakuan-pengakuan bertemu Tuhan secara fisik di Sidratul Muntaha dalam keadaan terjaga dapat menjerumuskan seseorang pada kekafiran. Ini menunjukkan bahwa ajaran tersebut sebenarnya bertentangan dengan pakem Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dampak Sosial: Penjajahan Mental dan Spiritual

Tujuan dari narasi-narasi tersebut diduga kuat untuk menciptakan hegemoni sosial agar kelompok tertentu mendapatkan hak istimewa (privilege), baik secara politik maupun ekonomi. Hal ini sangat merugikan masyarakat awam yang secara ekonomi dan intelektual terbatas. Mereka dieksploitasi melalui rasa takut dan pemujaan yang berlebihan, yang pada akhirnya mematikan daya kritis bangsa.

Kesimpulan dan Transformasi Sosial

Diskusi ini merupakan upaya transformasi sosial untuk memerdekakan pemikiran bangsa Indonesia. Kebenaran harus diterima dari mana pun asalnya, baik dari data genetika (DNA), naskah sejarah, maupun hujah logika yang kuat.

Bangsa ini tidak boleh lagi terjajah secara mental oleh narasi-narasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

--

Link Sumber YT :

https://youtu.be/N_e5p4r2-vM?si=bpeaC...

2 days ago | [YT] | 25

Suluk Matan

Antara Taipan Yahudi George Soros dan Rumail Abbas – RMI PWNU Banten

Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Kita telah mengetahui bersama fakta bahwa si Historian Palsu, Rumail Abbas Al Ahdal Al Yamani, dibayar untuk membela Klan Habib Baalwi.

Sedikit flashback tentang itu, pada tahun 2023 dia menyebar tuduhan bahwa orang-orang yang mengkritisi nasab Klan Habib Baalwi memperoleh dana 4-5 Trilyun. Dia mengatakan[1]:

memang benar kan sekitar 4 sampai 5 triliun itu uang berputar di beberapa bulan terakhir untuk hanya untuk isu nasab ini. jadi yang untung itu siapa? yang untung ternyata konten kreator kan youtuber-youtuber seperti Zaini, Hanif Farhan, Mohsen Official, Gus Hasan Syarief, yang mengkapitalisasi hal ini sebagai konten.

Pada kesempatan yang sama si Historian Palsu menegaskan:

jadi banyak orang yang berusaha mencari uang ya dari YouTube untuk kasus ini itu haqqon itu, itu bener Itu. Kebetulan saya bukan konten kreator bikin konten paling seminggu sekali.

Tak berselang lama pasca dia menebar fitnah itu, malah justru yang terbukti dibayar atau disponsori adalah dia sendiri. Sahabat seperjuangan Rumail Abbas, Zaini, menceritakan[2]:

Sebab itu, itu rencananya, rencananya begini Kak Ya Anggaplah kak ini kan fair ya jadi pembicaranya begini di Jakarta itu kemarin kalau bukunya Rumail sudah selesai dan mereka sudah juga bicara itu ada sponsornya Kak sponsor yang siap membiayai berangkat atau apa, nah salah satu dari pembicaranya itu kalau bukunya sudah selesai itu kan nanti akan ada roadshow, roadshow buku itu, Rumail bicara tentang penelitian sejarahnya saya bicara tentang ilmu nasab, itu yang digodok itu, tapi saya kepikiran Rara terus …

Selain cerita dari Zaini fakta bahwa Rumail Abbas dibayar atau disponsori juga ada pengakuannya sendiri di video yang lain. Rumail sendiri mengatakan[3] :

Keliru kalau banyak orang yang mengira aku bakal mengisbat melalui sumber sezaman, agak-agak keliru juga sihm dan kontrakku sama sponsor bukan untuk mengisbat, mencari jejak-jejak historis saja itu.

Lalu siapa sponsor si Historian Palsu dan Pendusta itu?

Gus Fuad Plered menginformasikan bahwa yang membayar Rumail Abbas adalah Nusron Wahid. Dalam penjelasannya Gus Fuad mengatakan[4]:

Nusron Wahid kan tahu siapa Ahlul Bait yang dimaksud oleh Rasulullah? Kenapa dia plesetkan? keturunan nabi Ini Habib ini, loh dia kan tahu, ini Nusron Wahid itu yang kemarin membiayai Rumail Abbas yang kemarin ditipu sama Rumail Abbas, itu Nusron Wahid itu, kayak gitu jadi menteri, makanya galak sama Aguan ya karena ini jangan-jangan ada request dari sesembahannya para Habib itu …

Selain Nusron Wahid, ada lagi pihak lain yang mensponsori Rumail Abbas. Siapa itu? Berdasar pengakuannya sendiri, yang mensponsori dia adalah Islamidotco. Pada postingan facebooknya bertanggal 06 April 2024 Rumail Abbas menuliskan[5]:

Mau melihat naskah milik saya? Jangan nantang saya, tapi minta izinlah sama islami.co (Penerbit buku saya) dan sponsor saya untuk mengakses naskah yang saya temukan. Naskah itu dicari-carri, dan dibeli juga. Pencariannya pun jauh, dan tidak seharga Sampoerna Mild satu slop saja.

Islamidotco, sebuah nama yang menarik. Apa menariknya? Mari kita pindah ke podcast Off The Record FNN berjudul “HEBOH! TAIPAN YAHUDI GEORGE SOROS TEBAR DANA UTK GULINGKAN PRABOWO. BUZZER PELINTIR BERITA” bertanggal 17 Maret 2026[6].

Dua wartawan senior yaitu Ibu Agi Betha dan Bapak Hersubeno Arief mendiskusikan mengenai kehebohan isu Taipan Yahudi George Soros Tebar Dana untuk Gulingkan Prabowo. Di tengah diskusi itu, Ibu Agi Betha, membacakan artikel dari sundayguardianlive.com berjudul “Soros Network Funds Youth Leadership, Grassrroots Mobilization in Indonesia—Leaked documents detail Open Society funding flows into Indonesia democracy programmes and networks”.[7]

Di tengah pembacaan artikel yang diterjemahkannya itu, ada beberapa nama yang disebutkan secara jelas dan spesifik, dan satu nama yang patut diperhatikan adalah Islamidotco yang mirip dengan nama yang disebut Rumail Abbas sebagai sponsornya:

Coba siapa saja nih organisasi mitra yang juga mendapatkan hibah tersebut? Di antara inisiatif spesifik yang didanai melalui Kurawal adalah program Nahdhah atau jaringan untuk memajukan martabat manusia dan harmoni demokrasi di antara pemimpin muslim. Proyek ini memberikan hibah sebesar Rp 1.600.000.000,- kepada Yayasan Islami Media Ramah, sebuah yayasan media Islam yang berbasis di Jakarta yang mengoperasikan platform online islami.co. Ini ada di Instagram, suka berseliweran di akun saya.

Disebutkan dalam artikel itu:

The project provides a grant of Rp 1,600,000,000 to Yayasan Islami Media Ramah, a Jakarta-based Islamic media foundation that operates the online platform Islamidotco.

Sangat jelas di situ disebutkan Islamidotco, Yayasan Islami Media Ramah. Saya verifikasi apakah benar website islamidotco yang selama ini saya ketahui adalah yang dimaksud oleh artikel itu? Saya periksa ke website Islamidotco bagian Profil dan benar—persis sama dengan yang ditulis artikel Sunday Guardian Live. Tertulis di situ di bagian kelembagaan:

Secara kelembagaan, Islami.co berada di bawah Yayasan Islami Media Ramah Selain menerbitkan artikel keislaman daring, kami memiliki beberapa kegiatan, seperti pelatihan, kampanye sosial yang berbentuk konten-konten audio visual, Islamifest, dan penerbitan buku yang dikelola oleh PT Islami Digital Indonesia Part of Yayasan Islami Media Ramah.[8]

Lalu siapa pemilik Islamidotco yang merupakan sponsor Rumail Abbas dan disebut namanya di artikel Sunday Guardian Live terkait pendanaan dari George Soros di Indonesia? Saya penasaran jadi saya periksa di bagian Redaksi. Di sana tertulis: Founder: Savic Ali & Saeful Uyun.[9] Siapakah Savic Ali? Nampaknya nama ini familiar. Apa betul Savic Ali yang dimaksud adalah yang kerap tampil di YouTube NU Online? Saya cari tahu.

Saya temukan di wikipedia dituliskan bahwa Savic Ali memegang posisi sebagai Ketua PBNU Bidang Media, IT & Advokasi dari 2022 hingga 2027, dan juga menjabat sebagai CEO NUCash App dari 2021 hingga 2023. Dalam perjalanan kariernya, ia telah berkontribusi di berbagai bidang, termasuk sebagai Direktur NU Online dan pendiri www.islami.co.[10]

Ah ternyata benar, inforrmasinya tepat persis sama bahwa founder Islamidotco adalah Savic Ali yang merupakan salah satu Ketua PBNU yang berseliweran di Youtube NU Online.

Dari situ kita tahu alurnya. Rumail Abbas disponsori Islamidotco yang dinahkodai oleh Savic Ali, salah satu Ketua PBNU, untuk membela Klan Habib Baalwi; di mana Islamidotco dikaitkan dengan penerimaan dana dari Open Society Funds (OSF) sebuah Yayasan Filantropi milik George Soros.


Baca lengkap di link Sumber :

rminubanten.or.id/antara-taipan-yahudi-george-soro…

3 days ago | [YT] | 30

Suluk Matan

DEKONSTRUKSI HEGEMONI NASAB: MENGAPA ANALISIS SUTRADARA FILM FAJAR UMBARA ADALAH TITIK BALIK PENCERAHAN DUNIA HIBURAN NUSANTARA?

Melalui kacamata sejarah kritis dan sains terapan, paparan Fajar Umbara muncul sebagai instrumen pencerahan (enlightenment) fundamental bagi ekosistem seni, budaya, dan industri perfilman di Indonesia.

Narasi ini bertindak sebagai counter-intelektual terhadap konten-konten populer—seperti pada kanal YT Deddy Corbuzier—yang cenderung abai terhadap validitas data primer dan terjebak pada glorifikasi figuratif tanpa verifikasi nasab.

Mengapa seorang sutradara seperti Fajar Umbara justru lebih presisi memahami diskursus nasab dibandingkan klan yang mengklaim dirinya zuriat? Berikut adalah bedah data ilmiahnya:

1. Supremasi Filologi: Membedah "Missing Link" 550 Tahun

Dalam disiplin ilmu sejarah, sebuah silsilah harus bersifat muttasil (bersambung) dan tercatat dalam kitab-kitab sezaman (al-kutub al-muashirah). Fajar Umbara mengungkap fakta akademik bahwa nama Ubaidillah sama sekali tidak ditemukan dalam kitab nasab tertua yang mu'tabar, seperti Asy-Syajarah al-Mubarakah karya Imam Fakhruddin Ar-Razi (544-606 H / 1149-1209 M).

Absennya data primer selama 5 abad lebih ini membuktikan bahwa klaim tersebut secara ilmiah adalah "asumsi" yang lahir dari ruang hampa, bukan fakta sejarah.

2. Validasi Genetika: Hukum DNA yang Qath'i (Pasti)

Sains tidak mengenal kasta atau jubah, ia hanya mengenal data. Garis keturunan patrilineal Quraisy dan keturunan Nabi Ibrahim AS terkunci pada Haplogroup J1-P58. Fajar Umbara membawa perspektif modern bahwa jika hasil tes DNA sebuah klan menunjukkan grup yang berbeda secara total, maka secara biologis hubungan patrilineal tersebut terputus. Ini adalah bukti qath’i (pasti) yang tidak bisa dibantah dengan narasi mistis atau klaim mimpi.

3. Restorasi Marwah Nusantara (Wali Songo)

Fajar menegaskan bahwa Nusantara bukan "lahan kosong" nasab. Zuriat Wali Songo (Cirebon, Banten, Mataram) memiliki Babon Nasab yang jauh lebih autentik, terjaga, dan didukung oleh artefak sejarah yang nyata. Kesadaran ini mematahkan hegemoni sepihak yang selama ini mencoba meminggirkan posisi zuriat asli Nusantara demi kepentingan kolonialisme mental.

4. Konsekuensi Hukum & Teologis (Kesesuaian Syariat)

Mengacu pada hadis sahih dan prinsip syariat, menisbatkan diri kepada yang bukan ayahnya/moyangnya adalah pelanggaran berat yang berdampak pada keabsahan wali nikah dan waris. Fajar Umbara mengingatkan bahwa kejujuran nasab adalah bagian dari Maqashid Syariah (Hifdzun Nasl).

KESIMPULAN:

Paparan Fajar Umbara menjadi titik balik bagi kalangan artis dan budayawan untuk berhenti mengalami inferioritas mental. Di tengah banjir informasi yang bias data, pencerahan ini memastikan bahwa penghormatan kepada simbol agama haruslah tegak di atas pondasi kebenaran sejarah, bukan sekadar komoditas konten yang buta literasi.

Pesan Penutup:

"Siapa pun yang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya, sedangkan ia mengetahuinya, maka surga haram baginya." (HR. Bukhari & Muslim). Mari kembali pada kejujuran sejarah demi kemurnian agama dan bangsa.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

--

#FajarUmbara #SulukMatan #NasabBaalwi #WaliSongo #SainsDNA #SejarahNusantara #LiterasiNasab #CounterNarasi

4 days ago | [YT] | 4

Suluk Matan

Membedah Mitos: Mengapa Walisongo Secara Historis Bukan Klan Ba'alawi

Dalam beberapa dekade terakhir, muncul narasi masif yang menyatakan bahwa Walisongo adalah bagian dari klan Ba'alawi melalui jalur "Azmatkhan". Namun, jika kita meletakkan kaca mata fanatisme, dan mengambil obyektivitas dengan menggunakan mikroskop sejarah (historiografi) serta bukti material (arkeologi), klaim tersebut menghadapi tembok besar kenyataan ilmiah.

Berikut adalah poin-poin ilmiah mengapa penyematan identitas Ba'alawi pada Walisongo cenderung merupakan konstruksi sejarah yang dipaksakan di masa kemudian (retroproyeksi).

1. Absennya Bukti Arkeologis dan Inskripsi Sezaman

Dalam ilmu sejarah, bukti fisik adalah "hakim" tertinggi. Jika Walisongo adalah kaum Syarif (keturunan Nabi) dari klan Ba'alawi, seharusnya ditemukan bukti tertulis pada nisan atau prasasti dari abad ke-15 hingga ke-17 yang mencantumkan gelar-gelar khas klan tersebut.

* Kenyataan di Lapangan: Nisan-nisan awal di Troloyo, Gresik, dan Demak tidak pernah mencantumkan gelar "Sayyid", "Habib", atau "Al-Ba'alawi". Gelar yang digunakan adalah gelar lokal kehormatan seperti "Susuhunan" (Sunan), "Pangeran", atau "Raden".

* Analogi Sederhana: Ibarat seseorang yang mengaku bangsawan Eropa namun tidak memiliki satu pun dokumen, stempel, atau lambang keluarga di rumahnya selama berabad-abad. Identitas "Ba'alawi" baru muncul dalam literatur Jawa beratus-ratus tahun setelah Walisongo wafat.

2. Anomali Gelar "Azmatkhan"
Klaim Ba'alawi pada Walisongo sering dikaitkan dengan gelar "Azmatkhan". Secara linguistik dan geopolitik, ini sangat janggal.

* Asal Kata: "Khan" adalah gelar dari Asia Tengah (Mongol-Persia-India).

* Konteks Champa: Narasi populer menyebut mereka transit di Champa (Vietnam). Namun, sejarah mencatat Champa abad ke-15 adalah wilayah yang kental dengan budaya Sanskerta-Hindu dan pengaruh China. Tidak ada catatan primer di Vietnam yang menyebutkan adanya penguasa bergelar "Khan" di sana.

* Kesimpulan Ilmiah: Gelar Azmatkhan adalah anakronisme—istilah yang muncul di masa depan, lalu ditempelkan ke masa lalu agar terlihat memiliki silsilah internasional yang tampak prestisius, demi mendukung klaim nasab ba'alwi.

3. Perbedaan Metodologi Dakwah (Kultural vs Tekstual)

Sejarah mencatat Walisongo melakukan pribumisasi Islam secara radikal: menggunakan wayang, gamelan, tembang macapat, dan struktur sosial lokal.

* Tradisi Ba'alawi: Secara historis (terutama pada abad ke-15 hingga ke-19), klan Ba'alawi di Hadramaut dan imigran awalnya di Nusantara cenderung sangat menjaga kemurnian nasab (palsunya) dan tradisi Arab yang kaku (tekstual).

* Kontradiksi: Sangat sulit diterima secara sosiologis bahwa sebuah klan yang sangat menjaga eksklusivitas garis keturunan tiba-tiba melakukan asimilasi budaya total hingga meleburkan identitas etnisnya ke dalam budaya Jawa dalam waktu singkat.

4. Teori "Jeumpa" (Aceh) vs "Champa" (Vietnam)

Data menunjukkan nisan-nisan di Pantura (Jawa) memiliki kemiripan identik dengan nisan di Samudera Pasai (Aceh) dari tahun 1400-an.

* Logika Geopolitik: Jeumpa di Aceh adalah pusat Islam yang mapan saat itu. Sedangkan Champa di Vietnam (berdasarkan catatan Ma Huan 1451 dan Tome Pires 1512) masih didominasi Hindu-Budha dan tidak memiliki komunitas Muslim yang kuat.

* Implikasi: Jika Walisongo berasal dari Aceh/Sumatera (Jeumpa), maka silsilah mereka lebih erat kaitannya dengan jaringan ulama Nusantara-Gujarat-Mesir, bukan jalur Hadramaut (Ba'alawi) yang baru mendominasi peta keagamaan Nusantara secara masif pada abad ke-18 dan ke-19.

Kesimpulan,

Penyematan gelar Ba'alawi (Azmatkhan) pada Walisongo adalah upaya "Ba'alawisasi Sejarah". Ini adalah fenomena di mana tokoh-tokoh besar masa lalu "ditarik" masuk ke dalam silsilah tertentu untuk memberikan legitimasi spiritual dan politik bagi kelompok tertentu di masa kini.

Secara ilmiah, Walisongo adalah putra-putra terbaik Nusantara (dan sebagian Asia Tenggara/Aceh) yang berhasil mengislamkan tanah ini dengan kecerdasan budaya, bukan karena identitas klan (dengan klaim nasab palsunya) dari Timur Tengah yang baru diklaim berabad-abad kemudian.

Data tidak berbohong, nisan tidak menipu, dan sejarah tidak bisa direkayasa selamanya.

*Narasi ini disusun berdasarkan tinjauan kritis terhadap data primer catatan Ma Huan, Tome Pires, dan tipologi nisan Aceh-Pantura dan sumber terkait.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

--

5 days ago | [YT] | 14

Suluk Matan

Dekonstruksi Sosiologi dan Hukum: Membedah Akar Segregasi Nasab di Indonesia

Terbongkarnya kepalsuan nasab klan Ba'alawi saat ini merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia untuk melakukan dekolonisasi pemikiran. Jika kita bedah secara ilmiah dan historis, isu ini melibatkan persimpangan antara kebijakan kolonial masa lalu, keabsahan data sejarah, dan regulasi hukum nasional terbaru.

1. Dasar Hukum Segregasi: Indische Staatsregeling (IS) 1925

Kesenjangan sosial yang memisahkan antara klan pendatang (Arab) dan Pribumi bukanlah sesuatu yang tumbuh alami, melainkan produk hukum kolonial. Melalui Pasal 163 Indische Staatsregeling (IS) tahun 1925 (sebelumnya RR 1854), pemerintah Belanda membagi penduduk menjadi tiga kasta hukum:

* Golongan Eropa.

* Golongan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen): Di sinilah posisi klan Ba’Alawi ditempatkan bersama etnis Tionghoa dan India.

* Golongan Pribumi (Inlanders): Rakyat asli Nusantara.

Tujuannya jelas: Divide et Impera. Dengan memberikan hak-hak sipil dan ekonomi yang lebih istimewa kepada golongan Timur Asing, Belanda berhasil menciptakan jarak sosial agar persatuan dengan kaum Pribumi tidak pernah terjadi.

2. Peran Rabithah Alawiyah dan Tabulasi Nasab

Secara sosiologis, Rabithah Alawiyah berdiri 1928 sebagai lembaga yang berfungsi melakukan "taberisasi" atau pencatatan nasab klan Ba’alawi. Namun, di era digital ini, otoritas lembaga tersebut menghadapi tantangan besar, karena dianggap sudah tidak relevan untuk dipertahankan, berbasis data (klaim) palsu, dan potensi pelanggaran (kejahatan) SARA :

* Ketiadaan Sumber Sezaman: Secara metodologi sejarah (Historiografi), klaim nasab yang tidak didukung oleh dokumen primer yang sezaman (kontemporer) selama berabad-abad dianggap sebagai mata rantai yang putus.

* Gugatan DNA: Data genetika menunjukkan ketidaksahihan haplogrup yang diklaim. Dalam dunia akademik, bukti empiris (DNA) memiliki derajat kebenaran yang lebih tinggi daripada klaim lisan atau buku catatan internal yang dibuat jauh setelah masa hidup tokoh yang diklaim.

3. Kritik Istilah "Jemaah" dan "Ahwal"
Istilah "Jemaah" (untuk internal klan) dan "Ahwal" (paman dari pihak ibu, ditujukan bagi Pribumi) secara sosiologis merupakan instrumen untuk menjaga kasta "Timur Asing" agar tetap merasa superior. Penggunaan istilah ini di masa merdeka adalah bentuk pelecehan terhadap semangat egalitarianisme (kesamaan derajat) yang diatur dalam konstitusi kita.

4. Tinjauan KUHP Nasional 2023 dan UU SARA

Upaya memaksakan stratifikasi sosial berdasarkan darah atau suku bangsa kini berisiko tinggi di mata hukum. UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru) memberikan ancaman pidana bagi siapa pun yang:

* Pasal 300: Melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau menyatakan kebencian di muka umum.

* Pasal 242: Menyebarkan informasi yang mengandung kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

* UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Undang-undang ini secara khusus melarang tindakan diskriminasi dan ujaran kebencian yang berbasis pada ras dan etnis.

* Pasal 59 ayat 3 UU Ormas: Melarang organisasi melakukan tindakan permusuhan terhadap golongan rakyat tertentu.

5. Diskriminasi Kafa’ah dan Ketidakadilan Gender

Aturan Kafa'ah (kesetaraan nasab) yang sangat ketat—di mana wanita klan tersebut dilarang menikah dengan pria Pribumi namun pria mereka bebas menikahi wanita Pribumi—adalah bentuk nyata diskriminasi rasial dan gender. Praktik ini merupakan upaya menutup struktur sosial demi mempertahankan supremasi klan yang sudah tidak memiliki dasar ilmiah.

Simpulan:

Penghormatan di Indonesia seharusnya berdasar pada Integritas Moral (Akhlak) dan Kepatuhan pada Hukum Negara, bukan pada sel darah. Membongkar kepalsuan nasab yang tidak tervalidasi adalah langkah krusial untuk membersihkan sisa-sisa mentalitas kolonial IS 1925 dan mewujudkan persatuan nasional yang sejati.

*Naskah ini disusun berdasarkan verifikasi data sejarah Indische Staatsregeling 1925, dokumen akademik sosiologi digital, dan KUHP Nasional 2023 dan UU terkait. Silakan bagikan untuk edukasi publik.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

--

5 days ago | [YT] | 1

Suluk Matan

MEMBEDAH INFILTRASI MODAL:
Menyelamatkan Marwah Sejarah Bangsa dari Cengkeraman Intelektual Pesanan Asing

(Anatomi Penjajahan Epistemik: Mengurai Bahaya Infiltrasi Agenda Soros dalam Dekonstruksi Otoritas Walisongo)

Analisis mengenai bahaya "Yamanisasi" sejarah Nusantara dalam konteks operasi informasi dan kedaulatan negara dapat dibedah secara lebih mendalam melalui perspektif Noopolitik dan Perang Kognitif berikut:

1. Pertempuran di Ranah Noosphere (Ruang Mental)

Secara doktrinal, serangan terhadap narasi sejarah nasional bukan sekadar perdebatan akademis, melainkan bentuk Influence Operations and Information Warfare (IOIW). Strategi ini menyasar Noosphere Indonesia—wilayah pikiran dan hati masyarakat—dengan tujuan memanipulasi persepsi publik guna menghasilkan tindakan yang menguntungkan pihak asing dan merusak stabilitas nasional. Dalam konteks ini, sejarah lokal digunakan sebagai senjata (weaponized history) untuk melumpuhkan daya kritis bangsa terhadap dominasi identitas transnasional.

2. Disintegrasi Epistemik: Penghancuran Jangkar Sejarah

Klaim "Yamanisasi" atau "Ba'alawisasi" yang diusung aktor seperti Ahmad Romli alias Rumail Abbas berisiko memicu disintegrasi epistemik. Ini adalah kondisi di mana suatu bangsa kehilangan kemampuan untuk memaknai jati dirinya sendiri karena sejarah leluhurnya (seperti Walisongo) didekonstruksi secara sistematis.

* Risiko Mentalitas Terjajah: Upaya melegitimasi dominasi klan asing di atas sejarah pribumi dapat membangkitkan kembali "mental terjajah," di mana putra-putri bangsa merasa inferior dan mudah dikendalikan sebagai "budak bangsa lain".

* De-nasionalisasi: Jika otoritas spiritual dan sejarah dialihkan sepenuhnya ke klan transnasional, maka loyalitas sipil terhadap identitas nasional akan melemah, yang merupakan prasyarat bagi terjadinya perubahan tatanan sosial-politik (Regime Change).

3. Mekanisme "Ecosystem Approach" dalam Proxy Warfare

Berdasarkan dokumen strategi Open Society Foundations (OSF) 2025-2026, terdapat penggunaan pendekatan ekosistem dalam penyaluran dana. Dana sebesar jutaan dolar AS digunakan untuk mengoordinasikan berbagai organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan pemimpin agama guna mempromosikan "perbedaan pendapat dan perlawanan" (dissent and resistance).

* Infiltrasi Narasi: Melalui hibah seperti yang diberikan kepada islami.co sebesar Rp1.600.000.000, narasi Islam progresif atau pembelaan klan tertentu dapat diarahkan untuk mendikte opini publik.

* Dualitas Jabatan: Kehadiran tokoh seperti Savic Ali yang (pernah) menjabat sebagai Ketua PBNU sekaligus pendiri media penerima dana asing memperkuat struktur "koridor informasi" yang memungkinkan agenda donor masuk ke dalam jantung organisasi massa terbesar.

4. Risiko Keamanan Material: Konflik Horizontal dan Chaos

Secara material, manipulasi narasi ini telah memicu eskalasi konflik di lapangan:

* Retaknya Ukhuwah: Polemik nasab telah berubah menjadi gerakan saling menegasikan yang membahayakan disintegrasi bangsa.

* Benturan Kelaskaran: Munculnya kelompok militan untuk menolak 'narasi penjajahan Ba'alawisasi' di Indonesia seperti PWI-LS, Laskar Sabilillah yang berparade dalam jumlah besar (10.000 orang) untuk "meluruskan sejarah" menciptakan risiko bentrokan fisik langsung dengan kelompok lawan (seperti yang terjadi di Pemalang).

* Intervensi Negara: Situasi ini memaksa aparat keamanan (TNI-Polri) dan lembaga intelijen untuk meningkatkan pengawasan terhadap "Grey Zone" informasi agar tidak terjadi ledakan konflik komunal yang sulit dikontrol.

5. Konsekuensi Hukum dan Audit Finansial

Dari sudut pandang hukum negara, setiap kegiatan ormas atau media yang didanai asing dan memicu kegaduhan publik dapat dikategorikan sebagai tindakan yang mengancam kedaulatan informasi nasional.

Berdasarkan Pasal 59 UU No. 16 Tahun 2017, ormas dilarang melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban umum. Pelanggaran terhadap ketentuan ini memiliki risiko pidana bagi pengurus, serta membuka celah bagi PPATK untuk melakukan audit investigatif terhadap aliran dana yang dianggap berisiko tinggi membiayai destabilisasi nasional.

Secara teknis, bahaya bagi negara terletak pada hilangnya kedaulatan naratif, di mana masa depan dan stabilitas Indonesia tidak lagi ditentukan oleh konsensus nasional, melainkan oleh dinamika modal transnasional yang membiayai "riset pesanan" untuk kepentingan politik identitas global.

— Red./SL.

#pbnu #nasab #palsu #baalawi #fyp

INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)

Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat

(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)

🔗 www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/

--

Link Video Sumber :

ANTARA TAIPAN YAHUDI GEORGE SOROS DAN SI SUNEO RUMAIL ABBAS ADA KETUA PBNU

https://youtu.be/Vg2Z4k3bZp8?si=kcLTh...

Bocor, VN Budak2 Youtuber Pembela Habib Ba'alwi

https://youtu.be/9ci3EIyhxU4?si=TThJY...

1 week ago (edited) | [YT] | 8

Suluk Matan

1 week ago | [YT] | 38