#bismillahirrohmanirrohiim
MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah), adalah organisasi mahasiswa milik JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah/ Organisasi penganut Thoriqoh di bawah Nahdlatul Ulama’) JATMAN sebagai banom NU, yang didirikan oleh KH. Muslih Bin Abdurrohman, Mranggen Demak tahun 1979, telah begitu banyak mencatatkan kinerja yang sangat luar biasa khususnya pada dekade awal millennium ini dalam pembinaan umat Islam dan masyarakat secara umum menuju kedamaian dan tegaknya NKRI yang kita cintai ini.
Pada MUKTAMAR JATMAN ke-11 di Malang pada 11 Januari 2012 yang lalu telah dideklarasikan, berdirinya MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdlliyyah) sebagai salah satu ujung tombak dalam pembangunan manusia seutuhnya melalui pembinaan mahasiswa sebagai generasi muda penerus perjuangan bangsa.
Mission
Mempertahankan Pancasila sebagai dasar ideologi NKRI dan melestarikan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah.
Suluk Matan
“NU 2026: Menjaga Akar, Menggerakkan Mesin, Merawat Kepercayaan”
Tahun 2025 menandai babak ketika NU berhenti menjadi ornamen moral di pinggir kebijakan, lalu masuk ke inti mekanisme sosial bangsa. Bukan meninggalkan legitimasi kulturalnya, melainkan menambah lapisan baru: kemampuan eksekusi yang terukur, kolaborasi yang lebih sistematis, dan dampak yang bisa dibaca dengan angka, bukan hanya dikutip di ceramah Jumat.
Infografik itu menggambarkan perjalanan pergeseran peran NU dalam 3 lanskap waktu:
1. Masa lalu: legitimasi moral
NU tampil sebagai jangkar etika, penjaga nilai kebangsaan, dan sumber kepercayaan sosial. Peran ini tidak pernah usang, tapi di era baru, ia tidak lagi cukup sendirian. Moral tanpa mekanisme hanya bertahan di poster, tidak sampai ke perut rakyat.
2. Transisi 2025: pergeseran dari mimbar ke operasional
NU mulai menurunkan gagasan dari podium ke ruang implementasi. Retorika menjadi rencana kerja. Dukungan menjadi distribusi program. Mimbar berubah fungsi jadi dapur eksekusi sosial. NU tidak menunggu “diundang” negara, tapi menawarkan diri sebagai mitra penggerak ekosistem sosial: pendidikan, filantropi, pemberdayaan, dan respons kebencanaan.
3. Masa kini: mesin pembangunan
NU menunjukkan bahwa organisasi keagamaan pun bisa bekerja seperti infrastruktur sosial:
150.000 paket MBG tersalurkan,
mobilisasi dana bencana mencapai 8,1 miliar,
beasiswa dan penguatan SDM menyasar langsung ke akar desa, perempuan, dan pesantren.
Angka ini bukan simbol kekayaan, melainkan bukti kapasitas.
Menuju 2026, NU membawa 3 mandat besar yang harus dirawat:
Akar kulturalnya: pesantren, tradisi, adab, dan disiplin sosial yang tumbuh dari bawah, bukan dari nota dinas.
Mesin operasionalnya: jaringan organik yang bergerak lintas 28 provinsi sampai tingkat desa, sebagai tulang punggung implementasi kebijakan sosial bangsa.
Kepercayaan publiknya: legitimasi yang tidak diminta, tetapi diberikan oleh umat karena merasakan manfaat nyata, bukan sekadar mendengar klaim.
Elegansi NU 2026 terletak pada keseimbangan:
Bekerja cepat, tetapi tetap sah secara konstitusi organisasi.
Berjejaring luas, tetapi tetap beradab.
Berkolaborasi strategis, tetapi tidak kehilangan marwah kulturalnya.
NU 2026 bukan tentang menjadi “besar”, karena ia memang sudah besar. Ini tentang menjadi presisi:
memperpendek jarak antara keputusan dan manfaat,
antara gagasan dan dampak,
antara ulama dan umara dalam adab struktural yang bersih.
2026 adalah ujian bukan pada gagasan, tapi pada konsistensi menjalankan sistem.
Dan di situlah NU tetap relevan: bukan sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai penulis peradaban sosial yang berdiri di atas fondasi adab dan dokumen yang teruji.
Red/SL.
#pbnu #nu #fyp #shorts #indonesia
1 week ago | [YT] | 25
View 10 replies
Suluk Matan
Dari Khotbah Ied hingga 'Khotbah'nya Yahya
Oleh K.H.A. Mustofa Bisri
Tradisi salat 'Ied di Pondok Pesantren kami di Leteh Rembang, khotbahnya hanya menggunakan bahasa Arab, tanpa diterjemahkan.
Setelah ayahku KH. Bisri Mustofa dan kakakku KH. Cholil Bisri --rahimahumäLlãhu-- wafat, yang selalu bertindak sebagai imam dan khatib: putera KH. Cholil Bisri, anak (keponakan)ku Yahya Cholil Staquf. Tahun ini karena Yahya sedang di Israel, maka yang menggantikan sebagai imam dan khatib: anak(menantu)ku Ulil Abshar Abdalla. (untuk menyimak khotbahnya silakan membuka Youtube).
Setelah selama ini --sejak mahasiswa-- dalam membela Palestina, Yahya hanya ikut menembakkan sumpah-serapah dan caci-maki kepada Israel melalui tulisan-tulisan, diskusi-diskusi, dan acara-acara Solidaritas Palestina lainnya, dia ingin langsung nglurug dan mengkhotbahi orang Israel yang selama ini seperti tak mengenal apa yang namanya rahmah, kasih-sayang.
Waktu pamitan, aku mengingatkan kepadanya untuk meletakkan sikap keberpihakan NU sejak berdirinya --kepada perjuangan Bangsa Palestina-- sebagai landasan upaya/'khotbah'-nya di Israel.
Lalu kupesankan: Tata hatimu, tata niatmu, dan tawakkallah kepada Allah. Wakafã biLlãhi wakiilä.
Alhamdulillah, dia benar-benar melaksanakan apa yang dia tekadkan, mengkhotbahi orang Israel di tempatnya dengan landasan sikap keberpihakan kepada Perjuangan Bangsa Palestina.
'Berkhotbah' bahasa Inggris tentang rahmahnya Islam seperti Yahya, pasti banyak yang bisa dan bahkan jauh lebih bagus. Tapi Yahya sudah membuktikan apa yang bisa dia lakukan.
"وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون ، وستردون الى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون " (٩ التوبة: ١٠٥)
17 Juni 2018
1 week ago | [YT] | 107
View 19 replies
Suluk Matan
PBNU Kembali Guyub, Sepakat Bersama Sampai Akhir Kepengurusan
Surabaya, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menggambarkan suasana kepengurusan yang kini sudah mulai kembali guyub, setelah selama sebulan terakhir terjadi persoalan.
Kini, jajaran PBNU sepakat akan terus bersama sampai akhir masa kepengurusan di bawah kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU Gus Yahya.
Hal itu terjadi setelah agenda silaturahmi yang digelar di kediaman KH Miftachul Akhyar, di Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad (28/12/2025).
Dalam pertemuan itu, semua pengurus diundang, baik tanfidziyah maupun syuriyah. Para pengurus yang sebelumnya terbelah menjadi dua, kini menyatu lagi. Bahkan, satu sama lain sudah mulai saling melucu.
"Semuanya diundang, dan ndak ada pembicaraan substansial. Kita pokoknya menyambung kembali, menguatkan kembali ikatan batin kita. Tadi acaranya shalawatan, lalu makan bersama, guyon-guyon, dan pokoknya sepakat dulu kita berangkat bersama, kita akan bersama terus sampai akhir," kata Gus Yahya, kepada wartawan di Restoran Ria Galeria, usai silaturahmi di kediaman KH Miftachul Akhyar.
Kepengurusan PBNU kembali semula
Gus Yahya menjawab pertanyaan wartawan mengenai komposisi kepengurusan yang sebelumnya mengalami rotasi dan reposisi akibat persoalan yang terjadi di PBNU.
Ia memastikan bahwa kepengurusan PBNU kembali seperti semula. Hal ini sebagaimana keputusan dalam Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar, pada 25 Desember 2025.
Di kediaman KH Miftachul Akhyar itu, kata Gus Yahya, para pengurus memanfaatkan kesempatan untuk kembali memulihkan keadaan psikologis yang sebelumnya sempat terjadi gejolak.
"Ya kalau itu kan sudah di Lirboyo kemarin, keputusan Lirboyo itu. Nah tinggal bagaimana, ya namanya kemarin ada gejolak seperti itu kan tentu ada psikologi-psikologi yang harus dipulihkan. Nah ini yang tadi alhamdulillah bisa tercapai, suasana sangat cair, kita bisa bertukar guyonan dengan riuh rendah, gayeng sekali," kata Gus Yahya.
Ia juga menjawab pertanyaan wartawan terkait kedekatannya dengan Gus Ipul yang kerap saling lempar guyon, bahkan saling meledek satu sama lain.
"Wah udah nggak karu-karuan, bisa ledek-ledekan lagi. Alhamdulillah," tutur Gus Yahya sembari tertawa.
Red.
2 weeks ago | [YT] | 35
View 17 replies
Suluk Matan
@PengajianGusBaha @GusMusChannel @NUCHANNEL @TafsirNU @gusiqdamofficial1024 @NUOnlineID @gusqoyyum @radionurfmrembang @GenerasiMudaNusantara @blontankpoer @BejoNdunyoAkhirot @gusazizjazulilcmh @KBNNusantara @NewKarma212 @papazaraentertainment
2 weeks ago | [YT] | 1
View 0 replies
Suluk Matan
Rasa syukur tak terperi, kala bertaut kembali, mushāfahah kembali, tertawa hangat kembali.
Alhamdulillāh.
Siang ini (28/12) di Surabaya, di kediaman Rais Aam KH Miftachul Akhyar, kami bersimpuh bersama.
Sejujurnya, dalam persoalan ini, hampir saya tidak punya rasa marah sama sekali, rasa benci sama sekali, yang ada hanya kesedihan terus-menerus.
Kesedihan itu hari ini luruh, berganti mendiami tekad berkhidmat tanpa sisa.
Terima kasih kepada para Kiai Sepuh, Mustasyarīn, Ruasa’ dan Kuttab, terima kasih sebesar-besarnya kepada para pencinta dan warga Nahdlatul Ulama.
Mari kita rawat jagat, membangun peradaban dengan kebeningan hati, jernih, ikhlas,
ibtighā’an lī mardhātillāh.
Amīn yā rabbal’ālamīn.
(Yahya Khalil Tsaquf)
2 weeks ago | [YT] | 61
View 10 replies
Suluk Matan
Silaturahmi PBNU di Kediaman Rais Aam, Pengurus Mulai Berdatangan
Surabaya, NU Online
Sejumlah tokoh mulai berdatangan menghadiri silaturahmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang digelar di Pondok Pesantren Miftachussunnah, kediaman Rais Aam PBNU, di Kota Surabaya, Jawa Timur Ahad (28/12/2025).
Sejak menjelang siang, para tamu mulai berdatangan silih berganti untuk mengikuti agenda silaturahmi yang dimulai pukul 12.00 WIB.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan PBNU, para kiai, serta tokoh Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah seperti Tampak yang sudah hadir di lokasi, dari jajaran syuriyah KH Muhibbul Aman Aly, KH Akhmad Said Asrori, Prof Abdul A'la Basyir dan Prof Mohammad Nuh. Sementara jajaran tanfidziyah, tampak di antaranya H Saifullah Yusuf, KH Akhmad Fahrur Rozi, H Umarsyah, Imron Hamid, dan Hj Safirah Machrusah.
Kegiatan silaturahmi ini merupakan tindak lanjut arahan Rais Aam PBNU dan dihadiri oleh jajaran Pengurus Besar Harian Syuriyah serta Pengurus Besar Harian Tanfidziyah.
Pertemuan tersebut merupakan inisiasi dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Hal demikian sebagaimana termaktub dalam keterangan surat undangan silaturahmi nomor 4962/PB.01/A.I.01.08/99/12/2025 yang ditandatangani Rais Syuriyah KH Muhibbul Aman Aly, Katib Ahmad Nadhif, Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Sekretaris Jenderal H Faisal Saimima.
"Menindaklanjuti arahan Rais Aam PBNU, dengan ini mengudang Pengurus Besar Harian Syuriyah dan Tanfidziyah untuk hadir dalam kegiatan silaturahmi," demikian bunyi surat yang ditandatangani pada Sabtu (27/12/2025).
Kehadiran para pengurus ini menjadi momentum penguatan ukhuwah dan konsolidasi organisasi di lingkungan PBNU setelah tercapai kesepakatan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada Kamis (25/12/2025).
Kontributor: Hisam
2 weeks ago | [YT] | 53
View 14 replies
Suluk Matan
Semoga...
2 weeks ago | [YT] | 35
View 8 replies
Suluk Matan
Jangan Mencoba Mengkhianati Nahdliyin !
Ada dokumen, lalu ada amanat. Yang ini jelas kategori kedua. Kesepakatan islah Lirboyo bukan pajangan museum, ia lebih mirip janji sakral yang kalau dilanggar, suaranya menggema sampai dapur pesantren dan warung kopi NU paling pelosok.
Konflik PBNU yang bermula dari klaim pemakzulan Ketua Umum lewat forum Syuriyah tanpa pemeriksaan yang sah, lalu dibalas penolakan, berkembang jadi drama serial tanpa musim final. Di permukaan pakai topeng isu ideologis, di belakang panggung justru ada aroma tambang, kontrak, dan jejaring oligarki yang terlalu sibuk untuk tidak kelihatan. Ini bukan konflik biasa, ini soal arah kompas jam’iyyah.
Yang menyelamatkan NU dari konflik ini bukan layar Zoom atau kop surat, tapi ulama yang rela turun langsung: dari Ploso, Tebuireng, sampai Musyawarah Kubro Lirboyo, yang mempertemukan Syuriyah, Tanfidziyah, Mustasyar, dan perwakilan wilayah serta cabang. Mereka menjalankan tugas yang mestinya otomatis dikerjakan struktur: musyawarah dan islah.
Keputusan 25 Desember 2025, 4 Rajab 1447 H itu tajam dan terang:
Muktamar 35 harus dipercepat, bersama, oleh Rais ‘Aam dan Ketua Umum, dengan melibatkan Mustasyar, sesepuh, dan pengasuh pesantren untuk menentukan waktu, tempat, dan panitia. Ini bukan ajakan manis, ini kesepakatan normatif, logis, dan paling efisien secara moral maupun energi organisasi. Legitimasinya kolektif, bukan sektoral.
Ujiannya sederhana tapi brutal:
Kalau ada pihak yang masih mencoba membelokkan, menunda, atau membingkai ulang hasil mufakat ini demi kepentingan kelompok, maka itu bukan lagi perselisihan internal. Itu pengkhianatan terhadap Nahdliyin. Kepada santri yang mengaji di lantai, kepada jamaah yang mendoakan ulama, kepada sejarah NU yang dibangun oleh keteladanan dan musyawarah, bukan konferensi pers yang memilih media tertentu.
Nahdliyin tidak menunggu manuver elite.
Mereka menunggu kejujuran.
Menolak islah ini sama saja berkata kepada jutaan warga NU: “tunda dulu, kami lagi sibuk hitung-hitungan.” Padahal, warga NU tidak berhenti menilai. Sejarah NU tidak punya tembok tebal untuk menyembunyikan manipulasi. Semua akan terbuka, cepat atau lambat.
Karena yang jadi penentu akhir konflik ini bukan ego lembaga, tapi kemaslahatan jam’iyyah dan umat.
اِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِۗ
"Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku. Tidak ada kemampuan bagiku (untuk mendatangkan perbaikan) melainkan dengan (pertolongan) Allah." (Qs.Hud : 88)
Kalimat itu adalah doa sekaligus standar moral.
Kalau ia dibaca tapi tidak dijalankan, ia berubah dari doa menjadi dakwaan historis.
Islah sudah diputuskan.
Muktamar 35 harus dipercepat.
Bersama.
Tanpa belokan.
Tanpa manipulasi.
Red/SL.
#GusYahya #Nahdlatululama #NU #PBNU #lirboyo
2 weeks ago (edited) | [YT] | 146
View 49 replies
Suluk Matan
KEPUTUSAN
RAPAT KONSULTASI SYURIYAH PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
DENGAN MUSTASYAR PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
PONDOK PESANTREN LIRBOYO, KEDIRI
KAMIS, 25 DESEMBER 2025
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT serta memohon pertolongan dan taufik-Nya, dan menghaturkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, telah diselenggarakan Rapat Konsultasi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada hari Kamis, 4 Rajab 1447 H, bertepatan dengan tanggal 25 Desember 2025.
Rapat konsultasi yang diinisiasi oleh Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut dihadiri oleh Rais ‘Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, beserta jajaran Pengurus Syuriyah PBNU, yaitu KH. Abdullah Kafabihi, KH. Mu’adz Thohir, KH. Imam Buchori, KH. Idris Hamid, H. Muhammad Nuh, Gus Muhib, Gus Yazid, Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Gus Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, dan Gus Nadzif. Hadir pula Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, beserta Pengurus Tanfidziyah PBNU, H. Amin Said Husni.
Sementara itu, jajaran Mustasyar PBNU yang hadir antara lain KH. Ma’ruf Amin, KH. Anwar Manshur, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Abdullah Ubab Maimoen, dan KH. Machasin.
Bahwa sejak terjadinya konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang dipicu oleh pemberhentian Ketua Umum PBNU oleh Rais ‘Aam PBNU melalui forum yang disebut sebagai Rapat Syuriyah PBNU, serta adanya penolakan Ketua Umum PBNU terhadap keputusan tersebut, perkembangan yang terjadi justru menunjukkan eskalasi konflik yang semakin tajam dan berkepanjangan.
Sebagai wujud tanggung jawab moral serta keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dan dengan niat tulus untuk para keutuhan serta kemaslahatan organisasi, para Mustasyar PBNU, sesepuh, dan alim ulama Nahdlatul Ulama telah mengambil berbagai inisiatif musyawarah.
Musyawarah tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dan puncaknya Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada tanggal 1 Rajab 1447 H bertepatan dengan 21 Desember 2025.5 Musyawarah Kubro tersebut dihadiri oleh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Indonesia.
Selain itu, telah banyak pula inisiatif, masukan, dan saran konstruktif yang disampaikan oleh para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama secara personal, yang pada pokoknya memperkuat rekomendasi dan tawshiyah para sesepuh NU guna penyelesaian konflik di tubuh PBNU.
Namun demikian, hingga saat ini konflik tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Setelah mendengarkan secara seksama penjelasan Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, serta mempertimbangkan pendapat Pengurus Syuriyah dan saran para Mustasyar PBNU dalam Rapat Konsultasi Syuriyah PBNU dengan Mustasyar PBNU, forum secara mufakat menyepakati dan memutuskan:
Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH. Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH. Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar.
Demikian keputusan ini disampaikan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, pertolongan, dan petunjuk-Nya kepada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
In urīdu illā al-iṣlāḥ wa mā tawfīqī illā billāh
Wallāhul muwaffiq ilā aqwamit ṭarīq
Lirboyo, 4 Rajab 1447 H
25 Desember 2025
Kontak Media
Abdul Muid Shohib
2 weeks ago | [YT] | 143
View 85 replies
Suluk Matan
Mengapa Percepatan Muktamar Lebih Baik daripada Muktamar Luar Biasa (MLB) dalam Situasi PBNU Saat Ini ?
Kebuntuan internal PBNU hari ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan krisis legitimasi yang menyedot energi struktural, moral, dan publik. Dalam konteks ini, mempercepat Muktamar ke-35 jauh lebih normatif dan logis daripada menggelar Muktamar Luar Biasa. Ada beberapa alasan mendasarnya:
1. Muktamar adalah forum tertinggi yang memang dirancang untuk transisi kepengurusan definitif, bukan forum tambal sulam sementara. Ketika organisasi butuh keputusan final yang mengikat seluruh struktur, pintu yang paling sah sudah tersedia: Muktamar itu sendiri. Tidak perlu membuat forum darurat baru ketika forum utama sudah terjadwal di depan mata.
2. Muktamar Luar Biasa (MLB) hanya efektif untuk kondisi kekosongan jabatan yang absolut dan mendesak, sedangkan situasi PBNU saat ini adalah perselisihan kepengurusan definitif yang dipersoalkan arah dan keabsahannya, bukan sekadar kursi yang kosong tanpa penghuni. Menggunakan MLB di kondisi seperti ini berpotensi mengaburkan fungsi Muktamar sebagai arena pemilihan pengurus definitif dan menambah polarisasi internal yang sudah terlanjur panas.
3. Percepatan Muktamar lebih hemat energi organisasi, karena:
tidak membuka ruang debat legitimasi forum, sebab Muktamar sudah jelas dasar konstitusinya di AD/ART NU 2022,
tidak perlu membentuk panitia darurat baru, karena perangkat Muktamar memang sudah ada dalam kalender organisasi,
dan tidak memaksa struktur organisasi menghabiskan stamina di pertengahan masa konflik, hanya untuk menghasilkan keputusan yang sifatnya sementara.
4. Secara psikologis dan organisatoris, Muktamar memberi ruang islah yang lebih luas dan setara bagi semua pihak, tanpa label “luar biasa,” “darurat,” atau “panik,” yang secara simbolik hanya menambah ketegangan. Titik beratnya bukan pada status forum, melainkan pada keputusan forum. Muktamar menyediakan ruang musyawarah paling netral di tingkat tertinggi, karena seluruh pemegang mandat wilayah dan cabang hadir sebagai peserta yang sah, bukan sebagai kubu internal harian.
5. Muktamar ke-35 memungkinkan koreksi legitimasi sekaligus pemilihan pengurus definitif baru dalam satu alur keputusan yang final, sehingga organisasi bisa langsung bergerak ke pengesahan kepengurusan baru oleh PBNU berdasarkan keputusan forum tertinggi. Ini memberikan kepastian hukum internal perkumpulan, mengembalikan kepercayaan publik, dan menutup pintu manuver klaim sepihak yang selama ini memicu polemik.
6. Momentum masa jabatan 2022-2027 yang akan berakhir pada Januari 2027 membuat percepatan Muktamar semakin rasional, karena transisi memang akan terjadi. Memajukannya sedikit bukan melanggar norma, justru menyelamatkan organisasi dari kerusakan energi berkepanjangan, dengan tetap memakai mekanisme paling sah, paling mengikat, dan paling minim multitafsir.
Mempercepat Muktamar ke-35 lebih baik daripada menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB), karena Muktamar adalah forum tertinggi yang sudah jelas dasar konstitusinya, memberikan kepastian transisi kepengurusan definitif, lebih hemat energi organisasi, dan paling rasional untuk menyelesaikan kebuntuan legitimasi PBNU saat ini tanpa menambah polarisasi internal.
Percepatan Muktamar bukan langkah emosional, melainkan langkah konstitusional yang paling masuk akal: memulihkan legitimasi, menutup kebuntuan, dan mengembalikan NU ke rel organisasi berbasis forum tertinggi dan AD/ART sebagai hakim terakhir.
Red/SL.
#GusYahya #Nahdlatululama #NU #PBNU #lirboyo
2 weeks ago (edited) | [YT] | 58
View 13 replies
Load more