Pidato Hari Guru 2025 – Penuh Motivasi & Menyentuh Hati
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati, Bapak/Ibu guru yang telah memberikan hidupnya untuk pendidikan. Yang saya banggakan, teman-teman siswa. Dan yang saya cintai, seluruh keluarga besar sekolah ini.
Hari ini, kita berkumpul dalam suasana penuh syukur untuk merayakan Hari Guru Nasional 2025. Sebuah momen yang tidak hanya mengingatkan kita tentang jasa guru, tetapi juga mengajak kita merenungkan kembali betapa berharganya peran guru dalam membentuk masa depan bangsa.
Tahun ini, Kementerian Pendidikan menetapkan tema: “Guru Hebat, Negara Kuat.” Tema ini bukan sekadar slogan, bukan sekadar ucapan yang indah, tetapi sebuah pernyataan yang tegas: keberhasilan sebuah bangsa terletak pada kualitas guru yang mendidiknya.
Bapak/Ibu guru yang saya hormati, izinkan saya mengawali pidato ini dengan kalimat yang mungkin tidak sering kita ucapkan, tetapi selalu kita rasakan dalam hati: Terima kasih.
Terima kasih untuk kesabaran yang tidak pernah habis. Terima kasih telah mempercayai kami, bahkan ketika kami sendiri belum percaya diri. Terima kasih telah mengajarkan kami bukan hanya cara menjawab soal, tetapi cara menghadapi kehidupan.
Kami tahu, tidak semua perjuangan guru terlihat. Ada banyak hal yang tidak tercatat di absensi, tidak masuk ke dalam nilai raport, dan tidak terdengar oleh orang tua kami. Ada malam-malam ketika guru masih terjaga menyiapkan materi. Ada pagi-pagi ketika guru berangkat paling awal meski rumahnya jauh. Ada waktu istirahat ketika guru memilih untuk membantu murid yang belum paham.
Untuk semua itu, izinkan kami kembali mengatakan: Terima kasih, Guru kami.
Guru sebagai Penerang Jalan
Guru adalah seperti lilin yang menerangi ruangan gelap. Lilin itu rela habis demi memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Guru juga begitu — mereka mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan, tetapi merekalah pembawa cahaya pertama dalam kehidupan ilmu pengetahuan kami.
Di dalam kelas yang sederhana, guru mampu mengubah kebingungan menjadi pemahaman, rasa takut menjadi keberanian, dan ketidakpastian menjadi harapan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan nilai: kejujuran, tanggung jawab, budi pekerti, dan cinta pada pengetahuan.
Kepada teman-teman siswa, Hari Guru adalah momen untuk kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menghargai guru sebagaimana seharusnya? Sudahkah kita menyapa mereka dengan sopan, mendengarkan nasihat mereka, dan berterima kasih atas ilmu yang mereka beri?
Ingatlah, guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menuntun kita yang dulu datang sebagai anak-anak biasa, lalu perlahan tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi dunia. Guru tidak mencari balasan, tetapi mereka layak menerima penghormatan.
Kalau hari ini kita berdiri tegak, berjalan percaya diri, dan mulai berani bermimpi besar — itu karena guru pernah memegang tangan kita, mengangkat kita dari takut dan ragu, lalu berkata, “Kamu bisa.”
Kita hidup di era kecerdasan buatan, robot, dan teknologi digital. Banyak pekerjaan berubah, banyak profesi berganti rupa. Tetapi ada satu hal yang tidak tergantikan: sentuhan manusia seorang guru.
Mesin dapat memberi jawaban, tetapi guru memberikan makna. AI dapat mengajarkan teori, tetapi guru mengajarkan karakter. Sistem dapat memberi nilai, tetapi guru menanamkan akhlak mulia.
Maka, ketika kita berbicara tentang “Guru Hebat, Negara Kuat,” kita berbicara tentang masa depan bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, empati, dan adab.
Bapak/Ibu guru yang kami cintai, mungkin kami tidak selalu menjadi murid terbaik. Kami kadang sulit diatur, kadang lambat memahami pelajaran, kadang membuat Bapak/Ibu kecewa. Tetapi kami ingin Bapak/Ibu tahu: setiap kata, setiap nasihat, setiap langkah kecil yang Bapak/Ibu berikan… semuanya menempel dalam hati kami.
Guru tidak selalu melihat hasilnya hari ini. Tetapi suatu hari nanti, ketika kami sudah besar, ketika kami menghadapi kesulitan hidup, kami akan ingat kata-kata guru yang pernah berkata: “Kegagalan bukan akhir, tetapi langkah untuk menjadi lebih kuat.”
Guru mungkin tidak selalu mendapat penghargaan formal, tetapi mereka akan selalu hidup dalam cerita hidup muridnya — guru adalah bab paling penting dalam perjalanan menjadi manusia.
Di Hari Guru Nasional 2025 ini, izinkan kami menyampaikan harapan:
Semoga guru-guru kami selalu sehat, kuat, dan dilimpahi kebahagiaan.
Semoga kesejahteraan guru meningkat seiring meningkatnya penghargaan masyarakat terhadap profesi guru.
Semoga sekolah dan pemerintah terus mendukung guru dengan fasilitas dan pelatihan terbaik.
Semoga kami, para murid, mampu menjadi kebanggaan guru di masa depan.
Kami berjanji: kami akan belajar sungguh-sungguh, kami akan menjaga sikap dan menghormati guru, kami akan menjadi generasi yang membanggakan. Sebab kami tahu, ketika muridnya sukses, seorang guru merasa kemenangannya juga lahir di sana.
Terima kasih, Guru. Engkau tidak hanya mengajar kami cara membaca dunia, tetapi membuat kami jatuh cinta kepada ilmu pengetahuan.
Persahabatan yang Retak karena Lisan yang Tak Terjaga "Lidah memang tak bertulang," demikian pepatah lama yang kerap kita dengar. Walau kecil dan tak bertulang, lidah bisa menjadi alat paling tajam yang dimiliki manusia. Jika tidak dijaga, ia bisa melukai lebih dalam dari sebilah pedang.
Berapa banyak hubungan persahabatan yang awalnya hangat, akrab, dan penuh kepercayaan—berubah menjadi renggang, dingin, bahkan berakhir karena lisan yang tak terkendali. Sebuah candaan yang terlalu jauh, sindiran yang menyakitkan, atau pembicaraan di belakang sahabat sendiri, bisa membuat luka yang sulit disembuhkan.
Padahal, dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar adab, tapi bagian dari kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ucapan kita mencerminkan isi hati dan kadar keimanan kita. Bila ucapan kita sering menyakiti, menggunjing, dan mempermalukan orang lain, maka itu adalah isyarat bahwa hati sedang bermasalah. Islam mengajarkan untuk menyebarkan kedamaian, bukan luka; menjaga harga diri, bukan merobek kehormatan.
Persahabatan adalah amanah. Di dalamnya ada kepercayaan, cinta, dan doa. Jika seseorang membukakan pintu hatinya untuk kita—menceritakan kekurangan dan aibnya—maka itu bukan celah untuk kita manfaatkan saat marah, melainkan kepercayaan yang harus kita jaga hingga akhir. Maka benar perkataan para ulama, "Sahabat sejati adalah yang tetap menjaga aibmu meski ia tak lagi berjalan bersamamu."
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an agar berhati-hati dengan ucapan dan menjaga kehormatan orang lain:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka..." (QS. Al-Hujurat: 11)
"Dan janganlah kamu menggunjing satu sama lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..." (QS. Al-Hujurat: 12)
Bayangkan, Allah menggambarkan ghibah (menggunjing) seperti memakan bangkai saudara sendiri—betapa menjijikkan dan kejinya tindakan itu. Maka bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai sahabatnya, tetapi mudah membicarakan aibnya di belakang, bahkan menjadikannya bahan hiburan?
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari Kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan betapa tinggi kedudukan orang yang menjaga saudaranya. Menjaga dari kesulitan, menjaga dari rasa malu, dan menjaga dari kehancuran harga diri. Di sinilah sejatinya letak kemuliaan dalam persahabatan: saling menjaga, saling menutup aib, dan saling menguatkan.
Jika hari ini ada sahabat yang menjauh, tanyakanlah dengan jujur pada diri kita: Apakah lisan kita yang membuatnya terluka? Apakah candaan kita yang berlebihan? Ataukah cerita tentang dirinya yang kita sebarkan tanpa izin?
Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Karena kata-kata yang menyakitkan memang mudah diucapkan, tapi sulit ditarik kembali. Ucapan kita bisa menjadi sebab seseorang menangis dalam diam, atau kehilangan kepercayaan selamanya.
Maka, jika pernah salah, jangan malu untuk minta maaf. Tidak ada yang hina dari mengakui kesalahan, justru di sanalah keindahan hati seorang mukmin tampak—karena ia lebih mencintai perbaikan daripada gengsi.
Penutup: Jadilah Sahabat yang Menyelamatkan Dalam kehidupan ini, sahabat sejati adalah bukan yang datang saat senang saja, tetapi yang tetap bertahan saat kita dalam keadaan lemah dan penuh kekurangan. Ia bukan hanya teman tertawa, tapi juga penenang kala luka. Dan kita pun, bila ingin menjadi sahabat yang dirindukan, maka jadilah orang yang menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga rahasia.
Persahabatan yang dijaga karena Allah akan langgeng, bukan hanya di dunia, tapi hingga ke akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan nabi dan bukan pula syuhada', namun para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah." Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, tanpa adanya hubungan nasab atau harta. Demi Allah, wajah mereka bercahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia merasa takut dan tidak bersedih ketika manusia bersedih." (HR. Abu Dawud, Hasan Shahih)
Maka semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang persahabatannya membawa keberkahan dan keselamatan, bukan luka dan perpisahan.
LDII Dorong Blora Jadi Pusat Pengembangan Sorgum Nasional Blora (12/5/2025) – Kabupaten Blora berpeluang besar menjadi pusat pengembangan sorgum nasional. Hal ini mengemuka saat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menghadiri panen benih sorgum tersertifikasi di lahan Kelompok Tani Barokah, Dukuh Gelam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Blora, Minggu pagi (11/5). Program ini merupakan inisiasi dari warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Kegiatan panen ini turut dihadiri oleh Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, serta Bupati Blora, Arief Rohman. Menteri Yandri memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi antara LDII dan Pemkab Blora dalam mendukung sorgum sebagai alternatif diversifikasi pangan nasional.
“Bagus ini, sorgum bisa menjadi alternatif bahan pangan masa depan. Apalagi harganya menguntungkan bagi petani. Saya setuju jika Blora dijadikan pusat pengembangan sorgum, tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga untuk pembenihan unggul,” kata Yandri.
Yandri juga menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan sorgum melalui koordinasi lintas kementerian di bawah Kemenko Perekonomian. Ia menyarankan agar benih sorgum dari Blora yang telah tersertifikasi segera dipatenkan dan diperkenalkan ke pasar internasional.
LDII Komitmen Kembangkan Sorgum untuk Ketahanan Pangan Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menyampaikan bahwa pengembangan sorgum merupakan bagian dari kontribusi LDII dalam mendorong ketahanan dan swasembada pangan nasional.
“Kami pilih Blora karena tanahnya cocok untuk sorgum. Apalagi kepala daerahnya sangat mendukung,” ungkapnya.
Lahan sorgum yang dipanen kali ini seluas 0,5 hektare dengan varietas Super-1. Benih ditanam sejak 17 Januari 2025 dan hasil panennya digunakan untuk pembenihan, bukan konsumsi. Tanaman ini unggul karena dapat dipanen hingga tiga kali dari satu kali tanam.
“Sudah ada pesanan dari petani di Ngawi dan Wonogiri. Di Blora, tanamannya bisa tumbuh tinggi dan hasilnya bagus,” tambah KH Chriswanto.
LDII juga turut mendampingi seluruh proses, mulai dari penanaman hingga penjualan. Sebagai off taker, LDII menjamin hasil panen terserap pasar, sehingga petani tak perlu khawatir soal distribusi. Bahkan, LDII berencana menyampaikan langsung kepada Presiden agar sorgum menjadi bagian dari agenda pangan nasional.
“Kalau tidak ada yang membeli, buat apa kita minta petani tanam. Jadi kami siap salurkan hasil panen sorgum. Bahkan kami akan minta dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan produk turunannya,” jelasnya.
Blora Siap Jadi Sentra Pangan Baru Lewat Sorgum Bupati Blora, Arief Rohman, mengaku bangga dengan peran LDII dalam inisiatif pengembangan sorgum. Menurutnya, tanaman sorgum memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk bahan pangan, tetapi juga sebagai pakan ternak.
“Blora punya populasi ternak sapi terbesar di Jawa Tengah. Jadi sorgum sangat cocok dikembangkan di sini,” ujar Arief.
Ia menargetkan perluasan lahan tanam sorgum agar bersinergi dengan sektor peternakan dan memperkuat posisi Blora sebagai salah satu lumbung pangan utama Jawa Tengah.
“Padi kita surplus sampai 70 persen, produsen tertinggi kelima di Jateng. Jagung kita terbesar kedua setelah Grobogan. Ditambah tebu dan kini sorgum, posisi Blora makin kokoh sebagai sentra pangan nasional,” pungkasnya.
Penutup: LDII Bawa Harapan Baru untuk Petani dan Ketahanan Pangan Melalui dukungan konkret dari LDII, Blora kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif lokal bisa bertransformasi menjadi program nasional. Komitmen LDII terhadap pengembangan sorgum tak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan petani, tetapi juga berperan besar dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Dengan peran aktif dari LDII, harapan menjadikan Blora sebagai pusat pengembangan sorgum nasional bukan lagi angan-angan. Dukungan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi modal utama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri dalam bidang pangan.
Pengajian Umum LDII Mei 2025, Perdalam Ilmu Ibadah Qurban Sampit (11/5/2025) – Menjelang pelaksanaan ibadah qurban yang diperkirakan jatuh pada 6 Juni 2025, DPD LDII Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar pengajian umum bertema “Perdalam Ilmu Qurban”, bertempat di Masjid Al-Barokah, Sampit, Minggu (11/5). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan warga LDII dari berbagai wilayah di Sampit.
Acara pengajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat, khususnya warga LDII, terkait tuntunan syariat ibadah qurban, sekaligus memperkuat bekal keilmuan menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pembinaan Generasi Muda dan Syukur Nikmat Ketua DPD LDII Kotim, Dasuki, S.Pd., membuka pengajian dengan ajakan kepada seluruh warga agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ia juga menekankan pentingnya membina generasi penerus dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter mulia sejak dini.
“Pembinaan kepada generasi penerus (generasi muda) sejak usia dini hingga remaja melalui lembaga pendidikan formal berupa sekolah. Saat ini, melalui Yayasan Baitul Ilmi sudah berjalan sekolah TK dan akan dilanjutkan dengan SD,” ucap Dasuki.
Materi Pengajian: Tafsir dan Fiqih Qurban Pengajian siang itu menghadirkan dua pemateri, yaitu Harianto, S.H. dan Waris Karim, yang merupakan pengajar aktif di lingkungan LDII. Harianto membawakan materi tafsir Alquran, menjelaskan bacaan, makna, dan keterangannya secara mendalam, guna memperluas pemahaman warga terhadap ayat-ayat suci.
Sementara itu, Waris Karim secara khusus membahas hukum dan praktik ibadah qurban berdasarkan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Pembahasan mencakup syarat hewan qurban, waktu pelaksanaan, hingga makna spiritual yang terkandung dalam ibadah tersebut.
Semangat Bersedekah dan Amal Jariyah Menutup acara, Arif Rahman Taufik, selaku Dewan Penasehat LDII Kotim, menyampaikan nasehat penuh semangat mengenai pentingnya beramal sholeh, khususnya dalam bentuk sedekah jariyah. Ia menyinggung perjalanan panjang pembangunan Masjid Al-Barokah yang menjadi bukti nyata dari semangat warga dalam berinfak.
“Masjid ini, seluas 1000 meter persegi, jika dihitung harga per meter 3,5 juta, maka totalnya adalah sekitar 3,5 milyar rupiah. Para pendahulu warga jamaah saat itu jumlahnya masih sedikit, dengan kemampuan ekonomi yang tidak seperti sekarang. Namun sebab kepahaman dan kegigihan mereka, terwujudlah bangunan masjid yang megah ini,” ungkap Arif memberi semangat kepada warga LDII untuk tidak takut mengeluarkan harta dalam berinfaq dan bersedekah.
Peneguhan Peran LDII dalam Pendidikan dan Pembinaan Ibadah Pengajian umum ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen LDII dalam pembinaan umat, khususnya dalam menyongsong momentum ibadah besar seperti qurban. Selain menanamkan semangat beribadah, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah antarwarga dan mempersiapkan generasi yang paham agama dan beradab mulia.
Dengan semangat beramal jariyah dan memperdalam ilmu agama, LDII terus mendorong warga agar aktif berkontribusi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Pengajian Umum LDII Mei 2025, Perdalam Ilmu Ibadah Qurban Sampit (11/5/2025) – Menjelang pelaksanaan ibadah qurban yang diperkirakan jatuh pada 6 Juni 2025, DPD LDII Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar pengajian umum bertema “Perdalam Ilmu Qurban”, bertempat di Masjid Al-Barokah, Sampit, Minggu (11/5). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan warga LDII dari berbagai wilayah di Sampit.
Acara pengajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat, khususnya warga LDII, terkait tuntunan syariat ibadah qurban, sekaligus memperkuat bekal keilmuan menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pembinaan Generasi Muda dan Syukur Nikmat Ketua DPD LDII Kotim, Dasuki, S.Pd., membuka pengajian dengan ajakan kepada seluruh warga agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ia juga menekankan pentingnya membina generasi penerus dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter mulia sejak dini.
“Pembinaan kepada generasi penerus (generasi muda) sejak usia dini hingga remaja melalui lembaga pendidikan formal berupa sekolah. Saat ini, melalui Yayasan Baitul Ilmi sudah berjalan sekolah TK dan akan dilanjutkan dengan SD,” ucap Dasuki.
Materi Pengajian: Tafsir dan Fiqih Qurban Pengajian siang itu menghadirkan dua pemateri, yaitu Harianto, S.H. dan Waris Karim, yang merupakan pengajar aktif di lingkungan LDII. Harianto membawakan materi tafsir Alquran, menjelaskan bacaan, makna, dan keterangannya secara mendalam, guna memperluas pemahaman warga terhadap ayat-ayat suci.
Sementara itu, Waris Karim secara khusus membahas hukum dan praktik ibadah qurban berdasarkan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Pembahasan mencakup syarat hewan qurban, waktu pelaksanaan, hingga makna spiritual yang terkandung dalam ibadah tersebut.
Semangat Bersedekah dan Amal Jariyah Menutup acara, Arif Rahman Taufik, selaku Dewan Penasehat LDII Kotim, menyampaikan nasehat penuh semangat mengenai pentingnya beramal sholeh, khususnya dalam bentuk sedekah jariyah. Ia menyinggung perjalanan panjang pembangunan Masjid Al-Barokah yang menjadi bukti nyata dari semangat warga dalam berinfak.
“Masjid ini, seluas 1000 meter persegi, jika dihitung harga per meter 3,5 juta, maka totalnya adalah sekitar 3,5 milyar rupiah. Para pendahulu warga jamaah saat itu jumlahnya masih sedikit, dengan kemampuan ekonomi yang tidak seperti sekarang. Namun sebab kepahaman dan kegigihan mereka, terwujudlah bangunan masjid yang megah ini,” ungkap Arif memberi semangat kepada warga LDII untuk tidak takut mengeluarkan harta dalam berinfaq dan bersedekah.
Peneguhan Peran LDII dalam Pendidikan dan Pembinaan Ibadah Pengajian umum ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen LDII dalam pembinaan umat, khususnya dalam menyongsong momentum ibadah besar seperti qurban. Selain menanamkan semangat beribadah, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah antarwarga dan mempersiapkan generasi yang paham agama dan beradab mulia.
Dengan semangat beramal jariyah dan memperdalam ilmu agama, LDII terus mendorong warga agar aktif berkontribusi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Tangkal Hoaks, LDII Sulsel Bekali Generasi Muda dengan Pelatihan Jurnalistik Makassar (12/5/2025) – Dalam upaya membekali generasi muda menghadapi era digital, DPW LDII Sulawesi Selatan (LDII Sulsel) bekerja sama dengan DPP LDII menggelar Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar di Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, Makassar. Acara berlangsung selama tiga hari, 11–13 Mei 2025, dan diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai wilayah.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis LDII Sulsel untuk menangkal hoaks dan mencetak jurnalis muda yang berkarakter, santun, dan mampu menghasilkan konten yang bermanfaat di tengah arus informasi yang cepat dan sering tak terbendung.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap akan lahir para jurnalis yang menginspirasi. Generasi muda yang mampu bermedia sosial dengan sopan, santun dan berbahasa yang baik,” ujar Ketua DPW LDII Sulsel, Asdar Mattiro.
Bangun Etika Bermedia Sosial dan Literasi Digital Asdar menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena maraknya ujaran kasar di media sosial yang tidak mencerminkan adab. Oleh karena itu, pelatihan ini juga membekali peserta dengan etika bermedia dan dasar-dasar jurnalistik yang tepat.
“Maka generasi muda perlu kami bekali etika bermedia sosial, serta ilmu jurnalistik,” pungkas Asdar.
Pelatihan jurnalistik ini tidak berhenti di Makassar. Asdar menjelaskan bahwa kegiatan serupa akan dilanjutkan di Kabupaten Luwu pada 15–17 Mei 2025, dengan membagi peserta dari 22 DPD LDII se-Sulsel ke dalam dua zona pelatihan.
“Dari 22 DPD LDII se-Sulsel. Kami bagi menjadi dua zona pelatihan,” imbuhnya.
LDII Dorong Peran Aktif Generasi Muda dalam Komunikasi Publik Sementara itu, Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi, menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam membangun komunikasi publik yang sehat di era media baru. Rulli menekankan bahwa generasi muda harus mampu mengisi ruang digital dengan konten positif dan inspiratif.
“Kami berharap, melalui pelatihan ini, peserta mampu memproduksi berita dan konten yang bermanfaat untuk masyarakat,” imbuh Rulli.
“Sekarang adalah eranya anak muda. Generasi muda harus bisa ambil peran, membantu para senior di LDII dalam menyampaikan kebaikan dan kegiatan organisasi kepada masyarakat luas,” ujar Rulli.
Jurnalistik sebagai Bagian dari Dakwah Dalam pelatihan ini, hadir pula Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal alias Daeng Ical, yang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif pelatihan jurnalistik oleh LDII Sulsel. Ia menyebut bahwa jurnalisme adalah bagian dari dakwah, jika diarahkan untuk kebaikan umat.
“Belajar jurnalistik merupakan bagian dari dakwah. Dimanfaatkan untuk hal positif, untuk kepentingan umat,” ujarnya.
“Maka, para jurnalis bertanggung jawab dalam pembentukan karakter bangsa, melalui penyampaikan informasi yang baik,” tambah Daeng Ical.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi data dalam setiap informasi yang dipublikasikan, agar tidak sekadar mengejar konten viral.
“Cari tahu kebenaran sebuah informasi. Jangan sampai hanya sekadar mencari konten,” jelasnya.
Materi Lengkap dan Praktis: Dari Tulisan hingga Desain Digital Pelatihan jurnalistik LDII Sulsel ini menghadirkan materi yang komprehensif, meliputi:
Teknik menulis straight news
Menulis skrip untuk berita video
Fotografi dan video jurnalistik
Editing video untuk media sosial
Desain flyer dan grafis digital
Pengelolaan website organisasi
Etika dan kebijakan bermedia sosial
Para narasumber berasal dari Departemen Komunikasi Informasi dan Media (KIM) serta Lembaga Informasi dan Komunikasi (LINES) DPP LDII, yang telah berpengalaman di bidang jurnalistik dan media dakwah.
LDII Sulsel Siap Cetak Jurnalis Muda Berakhlak Mulia Dengan pelatihan ini, LDII Sulsel menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kesadaran dakwah digital. Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari lahirnya jurnalis-jurnalis muda LDII yang mampu membawa perubahan positif di ruang publik.
LDII Sampit
www.ldiisampit.or.id/2025/11/pidato-hari-guru-2025…
Pidato Hari Guru 2025 – Penuh Motivasi & Menyentuh Hati
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati, Bapak/Ibu guru yang telah memberikan hidupnya untuk pendidikan. Yang saya banggakan, teman-teman siswa. Dan yang saya cintai, seluruh keluarga besar sekolah ini.
Hari ini, kita berkumpul dalam suasana penuh syukur untuk merayakan Hari Guru Nasional 2025. Sebuah momen yang tidak hanya mengingatkan kita tentang jasa guru, tetapi juga mengajak kita merenungkan kembali betapa berharganya peran guru dalam membentuk masa depan bangsa.
Tahun ini, Kementerian Pendidikan menetapkan tema: “Guru Hebat, Negara Kuat.” Tema ini bukan sekadar slogan, bukan sekadar ucapan yang indah, tetapi sebuah pernyataan yang tegas: keberhasilan sebuah bangsa terletak pada kualitas guru yang mendidiknya.
Bapak/Ibu guru yang saya hormati, izinkan saya mengawali pidato ini dengan kalimat yang mungkin tidak sering kita ucapkan, tetapi selalu kita rasakan dalam hati: Terima kasih.
Terima kasih untuk kesabaran yang tidak pernah habis. Terima kasih telah mempercayai kami, bahkan ketika kami sendiri belum percaya diri. Terima kasih telah mengajarkan kami bukan hanya cara menjawab soal, tetapi cara menghadapi kehidupan.
Kami tahu, tidak semua perjuangan guru terlihat. Ada banyak hal yang tidak tercatat di absensi, tidak masuk ke dalam nilai raport, dan tidak terdengar oleh orang tua kami. Ada malam-malam ketika guru masih terjaga menyiapkan materi. Ada pagi-pagi ketika guru berangkat paling awal meski rumahnya jauh. Ada waktu istirahat ketika guru memilih untuk membantu murid yang belum paham.
Untuk semua itu, izinkan kami kembali mengatakan: Terima kasih, Guru kami.
Guru sebagai Penerang Jalan
Guru adalah seperti lilin yang menerangi ruangan gelap. Lilin itu rela habis demi memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Guru juga begitu — mereka mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan, tetapi merekalah pembawa cahaya pertama dalam kehidupan ilmu pengetahuan kami.
Di dalam kelas yang sederhana, guru mampu mengubah kebingungan menjadi pemahaman, rasa takut menjadi keberanian, dan ketidakpastian menjadi harapan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan nilai: kejujuran, tanggung jawab, budi pekerti, dan cinta pada pengetahuan.
Kepada teman-teman siswa, Hari Guru adalah momen untuk kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menghargai guru sebagaimana seharusnya? Sudahkah kita menyapa mereka dengan sopan, mendengarkan nasihat mereka, dan berterima kasih atas ilmu yang mereka beri?
Ingatlah, guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menuntun kita yang dulu datang sebagai anak-anak biasa, lalu perlahan tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi dunia. Guru tidak mencari balasan, tetapi mereka layak menerima penghormatan.
Kalau hari ini kita berdiri tegak, berjalan percaya diri, dan mulai berani bermimpi besar — itu karena guru pernah memegang tangan kita, mengangkat kita dari takut dan ragu, lalu berkata, “Kamu bisa.”
Kita hidup di era kecerdasan buatan, robot, dan teknologi digital. Banyak pekerjaan berubah, banyak profesi berganti rupa. Tetapi ada satu hal yang tidak tergantikan: sentuhan manusia seorang guru.
Mesin dapat memberi jawaban, tetapi guru memberikan makna. AI dapat mengajarkan teori, tetapi guru mengajarkan karakter. Sistem dapat memberi nilai, tetapi guru menanamkan akhlak mulia.
Maka, ketika kita berbicara tentang “Guru Hebat, Negara Kuat,” kita berbicara tentang masa depan bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, empati, dan adab.
Bapak/Ibu guru yang kami cintai, mungkin kami tidak selalu menjadi murid terbaik. Kami kadang sulit diatur, kadang lambat memahami pelajaran, kadang membuat Bapak/Ibu kecewa. Tetapi kami ingin Bapak/Ibu tahu: setiap kata, setiap nasihat, setiap langkah kecil yang Bapak/Ibu berikan… semuanya menempel dalam hati kami.
Guru tidak selalu melihat hasilnya hari ini. Tetapi suatu hari nanti, ketika kami sudah besar, ketika kami menghadapi kesulitan hidup, kami akan ingat kata-kata guru yang pernah berkata: “Kegagalan bukan akhir, tetapi langkah untuk menjadi lebih kuat.”
Guru mungkin tidak selalu mendapat penghargaan formal, tetapi mereka akan selalu hidup dalam cerita hidup muridnya — guru adalah bab paling penting dalam perjalanan menjadi manusia.
Di Hari Guru Nasional 2025 ini, izinkan kami menyampaikan harapan:
Semoga guru-guru kami selalu sehat, kuat, dan dilimpahi kebahagiaan.
Semoga kesejahteraan guru meningkat seiring meningkatnya penghargaan masyarakat terhadap profesi guru.
Semoga sekolah dan pemerintah terus mendukung guru dengan fasilitas dan pelatihan terbaik.
Semoga kami, para murid, mampu menjadi kebanggaan guru di masa depan.
Kami berjanji: kami akan belajar sungguh-sungguh, kami akan menjaga sikap dan menghormati guru, kami akan menjadi generasi yang membanggakan. Sebab kami tahu, ketika muridnya sukses, seorang guru merasa kemenangannya juga lahir di sana.
Terima kasih, Guru. Engkau tidak hanya mengajar kami cara membaca dunia, tetapi membuat kami jatuh cinta kepada ilmu pengetahuan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
LDII Sampit
2 months ago | [YT] | 7
View 0 replies
LDII Sampit
www.ldiisampit.or.id/2025/11/judul-hari-pahlawan-m…
2 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
LDII Sampit
www.ldiisampit.or.id/2025/11/ldii-kotim-gelar-peng…
2 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
LDII Sampit
www.ldiisampit.or.id/2025/11/ldii-baamang-audiensi…
2 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
LDII Sampit
Persahabatan yang Retak karena Lisan yang Tak Terjaga
"Lidah memang tak bertulang," demikian pepatah lama yang kerap kita dengar. Walau kecil dan tak bertulang, lidah bisa menjadi alat paling tajam yang dimiliki manusia. Jika tidak dijaga, ia bisa melukai lebih dalam dari sebilah pedang.
Berapa banyak hubungan persahabatan yang awalnya hangat, akrab, dan penuh kepercayaan—berubah menjadi renggang, dingin, bahkan berakhir karena lisan yang tak terkendali. Sebuah candaan yang terlalu jauh, sindiran yang menyakitkan, atau pembicaraan di belakang sahabat sendiri, bisa membuat luka yang sulit disembuhkan.
Padahal, dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar adab, tapi bagian dari kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ucapan kita mencerminkan isi hati dan kadar keimanan kita. Bila ucapan kita sering menyakiti, menggunjing, dan mempermalukan orang lain, maka itu adalah isyarat bahwa hati sedang bermasalah. Islam mengajarkan untuk menyebarkan kedamaian, bukan luka; menjaga harga diri, bukan merobek kehormatan.
Persahabatan adalah amanah. Di dalamnya ada kepercayaan, cinta, dan doa. Jika seseorang membukakan pintu hatinya untuk kita—menceritakan kekurangan dan aibnya—maka itu bukan celah untuk kita manfaatkan saat marah, melainkan kepercayaan yang harus kita jaga hingga akhir. Maka benar perkataan para ulama, "Sahabat sejati adalah yang tetap menjaga aibmu meski ia tak lagi berjalan bersamamu."
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an agar berhati-hati dengan ucapan dan menjaga kehormatan orang lain:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka..."
(QS. Al-Hujurat: 11)
"Dan janganlah kamu menggunjing satu sama lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..."
(QS. Al-Hujurat: 12)
Bayangkan, Allah menggambarkan ghibah (menggunjing) seperti memakan bangkai saudara sendiri—betapa menjijikkan dan kejinya tindakan itu. Maka bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai sahabatnya, tetapi mudah membicarakan aibnya di belakang, bahkan menjadikannya bahan hiburan?
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari Kiamat."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan betapa tinggi kedudukan orang yang menjaga saudaranya. Menjaga dari kesulitan, menjaga dari rasa malu, dan menjaga dari kehancuran harga diri. Di sinilah sejatinya letak kemuliaan dalam persahabatan: saling menjaga, saling menutup aib, dan saling menguatkan.
Jika hari ini ada sahabat yang menjauh, tanyakanlah dengan jujur pada diri kita:
Apakah lisan kita yang membuatnya terluka? Apakah candaan kita yang berlebihan? Ataukah cerita tentang dirinya yang kita sebarkan tanpa izin?
Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Karena kata-kata yang menyakitkan memang mudah diucapkan, tapi sulit ditarik kembali. Ucapan kita bisa menjadi sebab seseorang menangis dalam diam, atau kehilangan kepercayaan selamanya.
Maka, jika pernah salah, jangan malu untuk minta maaf. Tidak ada yang hina dari mengakui kesalahan, justru di sanalah keindahan hati seorang mukmin tampak—karena ia lebih mencintai perbaikan daripada gengsi.
Penutup: Jadilah Sahabat yang Menyelamatkan
Dalam kehidupan ini, sahabat sejati adalah bukan yang datang saat senang saja, tetapi yang tetap bertahan saat kita dalam keadaan lemah dan penuh kekurangan. Ia bukan hanya teman tertawa, tapi juga penenang kala luka. Dan kita pun, bila ingin menjadi sahabat yang dirindukan, maka jadilah orang yang menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga rahasia.
Persahabatan yang dijaga karena Allah akan langgeng, bukan hanya di dunia, tapi hingga ke akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan nabi dan bukan pula syuhada', namun para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah."
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, tanpa adanya hubungan nasab atau harta. Demi Allah, wajah mereka bercahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia merasa takut dan tidak bersedih ketika manusia bersedih."
(HR. Abu Dawud, Hasan Shahih)
Maka semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang persahabatannya membawa keberkahan dan keselamatan, bukan luka dan perpisahan.
www.ldiisampit.or.id/2025/05/persahabatan-yang-ret…
8 months ago | [YT] | 3
View 0 replies
LDII Sampit
LDII Dorong Blora Jadi Pusat Pengembangan Sorgum Nasional
Blora (12/5/2025) – Kabupaten Blora berpeluang besar menjadi pusat pengembangan sorgum nasional. Hal ini mengemuka saat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menghadiri panen benih sorgum tersertifikasi di lahan Kelompok Tani Barokah, Dukuh Gelam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Blora, Minggu pagi (11/5). Program ini merupakan inisiasi dari warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).
Kegiatan panen ini turut dihadiri oleh Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, serta Bupati Blora, Arief Rohman. Menteri Yandri memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi antara LDII dan Pemkab Blora dalam mendukung sorgum sebagai alternatif diversifikasi pangan nasional.
“Bagus ini, sorgum bisa menjadi alternatif bahan pangan masa depan. Apalagi harganya menguntungkan bagi petani. Saya setuju jika Blora dijadikan pusat pengembangan sorgum, tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga untuk pembenihan unggul,” kata Yandri.
Yandri juga menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan sorgum melalui koordinasi lintas kementerian di bawah Kemenko Perekonomian. Ia menyarankan agar benih sorgum dari Blora yang telah tersertifikasi segera dipatenkan dan diperkenalkan ke pasar internasional.
LDII Komitmen Kembangkan Sorgum untuk Ketahanan Pangan
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menyampaikan bahwa pengembangan sorgum merupakan bagian dari kontribusi LDII dalam mendorong ketahanan dan swasembada pangan nasional.
“Kami pilih Blora karena tanahnya cocok untuk sorgum. Apalagi kepala daerahnya sangat mendukung,” ungkapnya.
Lahan sorgum yang dipanen kali ini seluas 0,5 hektare dengan varietas Super-1. Benih ditanam sejak 17 Januari 2025 dan hasil panennya digunakan untuk pembenihan, bukan konsumsi. Tanaman ini unggul karena dapat dipanen hingga tiga kali dari satu kali tanam.
“Sudah ada pesanan dari petani di Ngawi dan Wonogiri. Di Blora, tanamannya bisa tumbuh tinggi dan hasilnya bagus,” tambah KH Chriswanto.
LDII juga turut mendampingi seluruh proses, mulai dari penanaman hingga penjualan. Sebagai off taker, LDII menjamin hasil panen terserap pasar, sehingga petani tak perlu khawatir soal distribusi. Bahkan, LDII berencana menyampaikan langsung kepada Presiden agar sorgum menjadi bagian dari agenda pangan nasional.
“Kalau tidak ada yang membeli, buat apa kita minta petani tanam. Jadi kami siap salurkan hasil panen sorgum. Bahkan kami akan minta dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan produk turunannya,” jelasnya.
Blora Siap Jadi Sentra Pangan Baru Lewat Sorgum
Bupati Blora, Arief Rohman, mengaku bangga dengan peran LDII dalam inisiatif pengembangan sorgum. Menurutnya, tanaman sorgum memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk bahan pangan, tetapi juga sebagai pakan ternak.
“Blora punya populasi ternak sapi terbesar di Jawa Tengah. Jadi sorgum sangat cocok dikembangkan di sini,” ujar Arief.
Ia menargetkan perluasan lahan tanam sorgum agar bersinergi dengan sektor peternakan dan memperkuat posisi Blora sebagai salah satu lumbung pangan utama Jawa Tengah.
“Padi kita surplus sampai 70 persen, produsen tertinggi kelima di Jateng. Jagung kita terbesar kedua setelah Grobogan. Ditambah tebu dan kini sorgum, posisi Blora makin kokoh sebagai sentra pangan nasional,” pungkasnya.
Penutup: LDII Bawa Harapan Baru untuk Petani dan Ketahanan Pangan
Melalui dukungan konkret dari LDII, Blora kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif lokal bisa bertransformasi menjadi program nasional. Komitmen LDII terhadap pengembangan sorgum tak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan petani, tetapi juga berperan besar dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Dengan peran aktif dari LDII, harapan menjadikan Blora sebagai pusat pengembangan sorgum nasional bukan lagi angan-angan. Dukungan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi modal utama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri dalam bidang pangan.
8 months ago | [YT] | 8
View 1 reply
LDII Sampit
Pengajian Umum LDII Mei 2025, Perdalam Ilmu Ibadah Qurban
Sampit (11/5/2025) – Menjelang pelaksanaan ibadah qurban yang diperkirakan jatuh pada 6 Juni 2025, DPD LDII Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar pengajian umum bertema “Perdalam Ilmu Qurban”, bertempat di Masjid Al-Barokah, Sampit, Minggu (11/5). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan warga LDII dari berbagai wilayah di Sampit.
Acara pengajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat, khususnya warga LDII, terkait tuntunan syariat ibadah qurban, sekaligus memperkuat bekal keilmuan menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pembinaan Generasi Muda dan Syukur Nikmat
Ketua DPD LDII Kotim, Dasuki, S.Pd., membuka pengajian dengan ajakan kepada seluruh warga agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ia juga menekankan pentingnya membina generasi penerus dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter mulia sejak dini.
“Pembinaan kepada generasi penerus (generasi muda) sejak usia dini hingga remaja melalui lembaga pendidikan formal berupa sekolah. Saat ini, melalui Yayasan Baitul Ilmi sudah berjalan sekolah TK dan akan dilanjutkan dengan SD,” ucap Dasuki.
Materi Pengajian: Tafsir dan Fiqih Qurban
Pengajian siang itu menghadirkan dua pemateri, yaitu Harianto, S.H. dan Waris Karim, yang merupakan pengajar aktif di lingkungan LDII. Harianto membawakan materi tafsir Alquran, menjelaskan bacaan, makna, dan keterangannya secara mendalam, guna memperluas pemahaman warga terhadap ayat-ayat suci.
Sementara itu, Waris Karim secara khusus membahas hukum dan praktik ibadah qurban berdasarkan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Pembahasan mencakup syarat hewan qurban, waktu pelaksanaan, hingga makna spiritual yang terkandung dalam ibadah tersebut.
Semangat Bersedekah dan Amal Jariyah
Menutup acara, Arif Rahman Taufik, selaku Dewan Penasehat LDII Kotim, menyampaikan nasehat penuh semangat mengenai pentingnya beramal sholeh, khususnya dalam bentuk sedekah jariyah. Ia menyinggung perjalanan panjang pembangunan Masjid Al-Barokah yang menjadi bukti nyata dari semangat warga dalam berinfak.
“Masjid ini, seluas 1000 meter persegi, jika dihitung harga per meter 3,5 juta, maka totalnya adalah sekitar 3,5 milyar rupiah. Para pendahulu warga jamaah saat itu jumlahnya masih sedikit, dengan kemampuan ekonomi yang tidak seperti sekarang. Namun sebab kepahaman dan kegigihan mereka, terwujudlah bangunan masjid yang megah ini,” ungkap Arif memberi semangat kepada warga LDII untuk tidak takut mengeluarkan harta dalam berinfaq dan bersedekah.
Peneguhan Peran LDII dalam Pendidikan dan Pembinaan Ibadah
Pengajian umum ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen LDII dalam pembinaan umat, khususnya dalam menyongsong momentum ibadah besar seperti qurban. Selain menanamkan semangat beribadah, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah antarwarga dan mempersiapkan generasi yang paham agama dan beradab mulia.
Dengan semangat beramal jariyah dan memperdalam ilmu agama, LDII terus mendorong warga agar aktif berkontribusi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
www.ldiisampit.or.id/2025/05/pengajian-umum-ldii-k…
8 months ago | [YT] | 9
View 0 replies
LDII Sampit
Pengajian Umum LDII Mei 2025, Perdalam Ilmu Ibadah Qurban
Sampit (11/5/2025) – Menjelang pelaksanaan ibadah qurban yang diperkirakan jatuh pada 6 Juni 2025, DPD LDII Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar pengajian umum bertema “Perdalam Ilmu Qurban”, bertempat di Masjid Al-Barokah, Sampit, Minggu (11/5). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan warga LDII dari berbagai wilayah di Sampit.
Acara pengajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat, khususnya warga LDII, terkait tuntunan syariat ibadah qurban, sekaligus memperkuat bekal keilmuan menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pembinaan Generasi Muda dan Syukur Nikmat
Ketua DPD LDII Kotim, Dasuki, S.Pd., membuka pengajian dengan ajakan kepada seluruh warga agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ia juga menekankan pentingnya membina generasi penerus dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter mulia sejak dini.
“Pembinaan kepada generasi penerus (generasi muda) sejak usia dini hingga remaja melalui lembaga pendidikan formal berupa sekolah. Saat ini, melalui Yayasan Baitul Ilmi sudah berjalan sekolah TK dan akan dilanjutkan dengan SD,” ucap Dasuki.
Materi Pengajian: Tafsir dan Fiqih Qurban
Pengajian siang itu menghadirkan dua pemateri, yaitu Harianto, S.H. dan Waris Karim, yang merupakan pengajar aktif di lingkungan LDII. Harianto membawakan materi tafsir Alquran, menjelaskan bacaan, makna, dan keterangannya secara mendalam, guna memperluas pemahaman warga terhadap ayat-ayat suci.
Sementara itu, Waris Karim secara khusus membahas hukum dan praktik ibadah qurban berdasarkan Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Pembahasan mencakup syarat hewan qurban, waktu pelaksanaan, hingga makna spiritual yang terkandung dalam ibadah tersebut.
Semangat Bersedekah dan Amal Jariyah
Menutup acara, Arif Rahman Taufik, selaku Dewan Penasehat LDII Kotim, menyampaikan nasehat penuh semangat mengenai pentingnya beramal sholeh, khususnya dalam bentuk sedekah jariyah. Ia menyinggung perjalanan panjang pembangunan Masjid Al-Barokah yang menjadi bukti nyata dari semangat warga dalam berinfak.
“Masjid ini, seluas 1000 meter persegi, jika dihitung harga per meter 3,5 juta, maka totalnya adalah sekitar 3,5 milyar rupiah. Para pendahulu warga jamaah saat itu jumlahnya masih sedikit, dengan kemampuan ekonomi yang tidak seperti sekarang. Namun sebab kepahaman dan kegigihan mereka, terwujudlah bangunan masjid yang megah ini,” ungkap Arif memberi semangat kepada warga LDII untuk tidak takut mengeluarkan harta dalam berinfaq dan bersedekah.
Peneguhan Peran LDII dalam Pendidikan dan Pembinaan Ibadah
Pengajian umum ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen LDII dalam pembinaan umat, khususnya dalam menyongsong momentum ibadah besar seperti qurban. Selain menanamkan semangat beribadah, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah antarwarga dan mempersiapkan generasi yang paham agama dan beradab mulia.
Dengan semangat beramal jariyah dan memperdalam ilmu agama, LDII terus mendorong warga agar aktif berkontribusi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
www.ldiisampit.or.id/2025/05/pengajian-umum-ldii-k…
8 months ago | [YT] | 14
View 0 replies
LDII Sampit
Tangkal Hoaks, LDII Sulsel Bekali Generasi Muda dengan Pelatihan Jurnalistik
Makassar (12/5/2025) – Dalam upaya membekali generasi muda menghadapi era digital, DPW LDII Sulawesi Selatan (LDII Sulsel) bekerja sama dengan DPP LDII menggelar Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar di Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, Makassar. Acara berlangsung selama tiga hari, 11–13 Mei 2025, dan diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai wilayah.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis LDII Sulsel untuk menangkal hoaks dan mencetak jurnalis muda yang berkarakter, santun, dan mampu menghasilkan konten yang bermanfaat di tengah arus informasi yang cepat dan sering tak terbendung.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap akan lahir para jurnalis yang menginspirasi. Generasi muda yang mampu bermedia sosial dengan sopan, santun dan berbahasa yang baik,” ujar Ketua DPW LDII Sulsel, Asdar Mattiro.
Bangun Etika Bermedia Sosial dan Literasi Digital
Asdar menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena maraknya ujaran kasar di media sosial yang tidak mencerminkan adab. Oleh karena itu, pelatihan ini juga membekali peserta dengan etika bermedia dan dasar-dasar jurnalistik yang tepat.
“Maka generasi muda perlu kami bekali etika bermedia sosial, serta ilmu jurnalistik,” pungkas Asdar.
Pelatihan jurnalistik ini tidak berhenti di Makassar. Asdar menjelaskan bahwa kegiatan serupa akan dilanjutkan di Kabupaten Luwu pada 15–17 Mei 2025, dengan membagi peserta dari 22 DPD LDII se-Sulsel ke dalam dua zona pelatihan.
“Dari 22 DPD LDII se-Sulsel. Kami bagi menjadi dua zona pelatihan,” imbuhnya.
LDII Dorong Peran Aktif Generasi Muda dalam Komunikasi Publik
Sementara itu, Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi, menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam membangun komunikasi publik yang sehat di era media baru. Rulli menekankan bahwa generasi muda harus mampu mengisi ruang digital dengan konten positif dan inspiratif.
“Kami berharap, melalui pelatihan ini, peserta mampu memproduksi berita dan konten yang bermanfaat untuk masyarakat,” imbuh Rulli.
“Sekarang adalah eranya anak muda. Generasi muda harus bisa ambil peran, membantu para senior di LDII dalam menyampaikan kebaikan dan kegiatan organisasi kepada masyarakat luas,” ujar Rulli.
Jurnalistik sebagai Bagian dari Dakwah
Dalam pelatihan ini, hadir pula Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal alias Daeng Ical, yang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif pelatihan jurnalistik oleh LDII Sulsel. Ia menyebut bahwa jurnalisme adalah bagian dari dakwah, jika diarahkan untuk kebaikan umat.
“Belajar jurnalistik merupakan bagian dari dakwah. Dimanfaatkan untuk hal positif, untuk kepentingan umat,” ujarnya.
“Maka, para jurnalis bertanggung jawab dalam pembentukan karakter bangsa, melalui penyampaikan informasi yang baik,” tambah Daeng Ical.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi data dalam setiap informasi yang dipublikasikan, agar tidak sekadar mengejar konten viral.
“Cari tahu kebenaran sebuah informasi. Jangan sampai hanya sekadar mencari konten,” jelasnya.
Materi Lengkap dan Praktis: Dari Tulisan hingga Desain Digital
Pelatihan jurnalistik LDII Sulsel ini menghadirkan materi yang komprehensif, meliputi:
Teknik menulis straight news
Menulis skrip untuk berita video
Fotografi dan video jurnalistik
Editing video untuk media sosial
Desain flyer dan grafis digital
Pengelolaan website organisasi
Etika dan kebijakan bermedia sosial
Para narasumber berasal dari Departemen Komunikasi Informasi dan Media (KIM) serta Lembaga Informasi dan Komunikasi (LINES) DPP LDII, yang telah berpengalaman di bidang jurnalistik dan media dakwah.
LDII Sulsel Siap Cetak Jurnalis Muda Berakhlak Mulia
Dengan pelatihan ini, LDII Sulsel menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kesadaran dakwah digital. Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari lahirnya jurnalis-jurnalis muda LDII yang mampu membawa perubahan positif di ruang publik.
www.ldiisampit.or.id/2025/05/tangkal-hoaks-ldii-su…
#LDII Sulsel, Pelatihan Jurnalistik LDII, Jurnalistik Dasar, Tangkal Hoaks, Dakwah Digital, Media Sosial Positif, Generasi Muda LDII, Ponpes Roudhotul Jannah, Rulli Kuswahyudi, Daeng Ical, Etika Bermedia Sosial
8 months ago | [YT] | 5
View 3 replies
Load more