Tahukah Kamu?, SEJARAH – Pernah ada sebuah negeri di Afrika yang rakyatnya hidup bak raja, tapi berakhir menjadi budak di tanahnya sendiri. Inilah kisah Libya, negara yang dulu dijuluki "Swiss-nya Afrika", namun kini hancur lebur seolah terkena kutukan karena mengingkari nikmat stabilitas yang mereka miliki.
- Fasilitas Hidup "Gak Ngotak". Di era Muammar Gaddafi, Libya adalah surga nyata. Listrik gratis seumur hidup, pendidikan dan kesehatan gratis kualitas dunia, bensin lebih murah dari air. Bahkan, pengantin baru diberi modal ratusan juta rupiah untuk beli rumah, dan petani diberi tanah serta ternak cuma-cuma. Tidak ada gelandangan, tidak ada utang negara ke IMF. Mereka makmur di atas lautan minyak dan emas.
- Dosa Besar: Melawan Hegemoni Dolar. Namun, surga itu "dikutuk" bukan hanya karena Tuhan marah, tapi karena manusia yang mudah dihasut dan tak tau rasa syukur. Gaddafi berencana membuat mata uang tunggal Afrika berbasis Emas (Gold Dinar) untuk menggantikan Dolar AS dan Euro dalam perdagangan minyak. Ini ancaman mematikan bagi ekonomi Barat. Maka, narasi "Diktator Kejam" ditiupkan, rakyat diprovokasi atas nama demokrasi palsu, hingga akhirnya Gaddafi dibunuh dengan biadab oleh rakyatnya sendiri.
- Karma Instan: Dari Surga Jadi Pasar Budak. Kini, penyesalan datang terlambat. Setelah rezim tumbang, apakah Libya jadi demokratis? Tidak. Negara itu pecah dikuasai milisi perang. Infrastruktur "Sungai Buatan" yang dulu mengairi gurun kini hancur. Yang paling mengerikan, PBB melaporkan munculnya kembali Pasar Perbudakan Manusia di Libya modern. Rakyat yang dulu dimanja subsidi, kini hidup dalam teror dan kemiskinan. Sebuah pelajaran mahal tentang bahaya "kufur nikmat" dan tipu daya asing.
Ditinggal 180 Negara Saat Pidato, Netanyahu Balas Dendam dengan Jurus 'Baliho'.
Tahukah Kamu? Panggung Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York seharusnya menjadi arena adu gagasan para pemimpin dunia. Namun bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, panggung itu berubah menjadi saksi bisu dari serangkaian episode memalukan yang mungkin akan tercatat dalam sejarah.
Babak 1: Kalah Telak di Papan Skor. Semuanya dimulai pada 12 September 2025, saat palu PBB menjadi wasit dalam voting kemerdekaan Palestina. Hasilnya? Sebuah skakmat diplomasi. Sebanyak 142 negara dengan tegas menyuarakan "Palestina Wajib Merdeka".
Di sisi lain, Israel hanya mampu mengumpulkan 9 suara 'teman setia', yang didominasi oleh negara-negara kecil Pasifik seperti Papua Nugini, Palau, dan Micronesia, ditambah beberapa negara lain seperti Argentina dan Hungaria, dengan Amerika Serikat sebagai pelindung utamanya. Sebuah kemenangan telak bagi Palestina yang membuat Israel terpojok.
Babak 2: Pidato di Ruang Hampa. Namun, kekalahan angka ternyata hanyalah pemanasan. Momen puncaknya terjadi saat Netanyahu melangkah ke podium untuk berpidato. Alih-alih disambut tatapan para delegasi, ia justru 'dihadiahi' pemandangan paling canggung: eksodus massal.
Para perwakilan dari 180 negara serempak berdiri dan meninggalkan ruangan. Aula megah PBB mendadak senyap, menyisakan kursi-kursi kosong sebagai audiens utama pidato sang perdana menteri. Sebuah pesan tanpa kata yang lebih menusuk dari voting manapun.
Babak 3: Jurus Nekat 'Mencatut' Wajah Pemimpin Dunia. Tak terima dipermalukan di panggung resmi, Netanyahu tampaknya meluncurkan strateginya sendiri di panggung jalanan. Baliho-baliho raksasa tiba-tiba muncul, memajang fotonya bersama para pemimpin dunia, termasuk Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
Pesannya jelas: sebuah upaya nekat untuk menciptakan ilusi bahwa ia didukung dunia, seolah berkata, "Lihat, kami punya banyak teman!" Sebuah aksi "diplomasi baliho" yang justru semakin menunjukkan keputusasaannya.
Dari kekalahan voting, pidato di hadapan kursi kosong, hingga perang gambar di pinggir jalan, nasib sial Netanyahu di PBB menjadi cerminan pahit dari posisinya yang semakin terisolasi di mata dunia.
Kemenkeu lagi-lagi keluarkan ide out of the box, minta presiden tak perlu beri "wakil menteri baru?"
Tahukah Kamu? Kursi "Wakil Menteri Keuangan" kosong setelah Anggito Abimanyu resmi jadi Ketua LPS. Tapi bukannya cari pengganti, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa malah ambil keputusan mengejutkan: kursi itu dibiarkan kosong, dan ia sendiri yang akan pegang kendali penuh atas pajak dan bea cukai.
“Pak Anggito pergi, wamen baru mungkin nggak ada. Saya saja yang pegang dua-duanya,” kata Purbaya, Senin (29/9/2025).
Alasannya jelas, menurut dia tanpa tambahan struktur semua bisa beres lebih cepat dan tanpa drama birokrasi yang ruwet!
Meski begitu, Purbaya belum bicara banyak soal rencana pembentukan Badan Penerimaan Negara. Ia hanya menegaskan target APBN 2026 mencapai Rp3.153,5 triliun, dengan pajak sebagai sumber terbesar yang kini ia genggam langsung.
Publik pun kini hanya bisa menahan napas sambil menonton. Apakah ini langkah jenius untuk mempercepat reformasi, atau sang menteri hanya ingin merasakan sensasi bermain di level 'Nightmare'? Kita tunggu saja episode selanjutnya dari Kementerian Keuangan.
Gebrakan Sang Menteri, Drama di Parlemen, dan aksi anak menteri!
Tahukah Kamu? Belum genap 48 jam menjabat, Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan DPR berakhir dramatis.
Dalam rapat perdananya pada Rabu lalu, ia langsung menggebrak dengan rencana membentuk tim investigasi internal Kemenkeu dan menyorot dana ratusan triliun yang "mengendap".
Namun, gebrakan itu seolah menabrak tembok. Saat Purbaya tengah berapi-api memaparkan visinya, Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, secara sepihak menghentikan rapat. Sebuah sinyal jelas dikirim dari Senayan: ambisi sang menteri baru saja berhadapan langsung dengan kekuasaan legislatif.
Saat pintu ruang rapat ditutup, sebuah front pertempuran baru justru dibuka di dunia maya. Yudo Sadewa, putra sang menteri, melancarkan "serangan balasan" melalui TikTok dan Telegram. Ia menuding rapat dihentikan karena ayahnya hendak membongkar borok korupsi di Kemenkeu dan DPR.
Tak hanya itu, Yudo juga membocorkan rencana sensitif negara: penurunan pajak dan pengurangan utang.
Kini, situasinya menjadi jauh lebih rumit. Pertarungan tidak lagi hanya terjadi di ruang sidang yang formal, tetapi juga di pengadilan opini publik yang liar.
Keterlibatan Yudo mengaburkan batas antara manuver politik, dukungan keluarga, dan potensi pelanggaran keamanan informasi negara. Drama ini baru saja dimulai, menyajikan babak baru pertarungan kekuasaan yang kini disiarkan langsung ke gawai publik.
Mari kita saksikan bersama dan kita doakan semoga menteri keuangan yang baru mampu memberikan perubahan positif yang sangat besar untuk indonesia, terlepas dari karakter Koboinya!
Dan untuk DPR Ingat bahwa rakyat selalu mengawasimu!
Video baru sudah tayang! Tahukah kamu, di saat banyak dari kita bersimpati pada Palestina, ada saudara kita di Papua yang justru hatinya terpaut pada Israel? Kami coba mengupas tuntas fenomena kompleks ini, sebuah isu sensitif yang ternyata akarnya lebih dalam dari yang kita duga. Yuk, cari tahu jawabannya di video terbaru kami!
Kenapa hukuman mati atau memiskinkan koruptor itu tidak bisa diterapkan di Indonesia?
Karena di negeri ini, hukum belum berdiri tegak di atas keadilan, melainkan bisa diarahkan, diputarbalikkan, bahkan dijadikan alat politik.
Tak sedikit kasus di mana yang bersalah justru tersenyum bebas, sementara yang tak bersalah dijebak, diseret, lalu dijadikan tersangka.
Bayangkan jika hukuman mati benar-benar diterapkan dalam sistem seperti ini... Berapa banyak orang tak bersalah yang akan dijadikan kambing hitam? Berapa nyawa yang akan hilang hanya karena satu tandatangan pesanan?
Yang menguras uang negara bisa tetap jalan-jalan ke luar negeri, sedangkan mereka yang melawan korupsi, justru dibungkam, dicap kriminal, bahkan terancam hukuman mati.
Itulah sebabnya... Sebelum bicara tentang seberapa keras hukuman yang harus dijatuhkan, kita perlu tanya lebih dulu: Seberapa bersih para penegaknya? Dan seberapa jujur sistem yang kita percayakan?
Tahukah Kamu?
Libyaku Malang, Kisah Surga Afrika Yang Dikutuk.
Tahukah Kamu?, SEJARAH – Pernah ada sebuah negeri di Afrika yang rakyatnya hidup bak raja, tapi berakhir menjadi budak di tanahnya sendiri. Inilah kisah Libya, negara yang dulu dijuluki "Swiss-nya Afrika", namun kini hancur lebur seolah terkena kutukan karena mengingkari nikmat stabilitas yang mereka miliki.
- Fasilitas Hidup "Gak Ngotak".
Di era Muammar Gaddafi, Libya adalah surga nyata. Listrik gratis seumur hidup, pendidikan dan kesehatan gratis kualitas dunia, bensin lebih murah dari air. Bahkan, pengantin baru diberi modal ratusan juta rupiah untuk beli rumah, dan petani diberi tanah serta ternak cuma-cuma. Tidak ada gelandangan, tidak ada utang negara ke IMF. Mereka makmur di atas lautan minyak dan emas.
- Dosa Besar: Melawan Hegemoni Dolar.
Namun, surga itu "dikutuk" bukan hanya karena Tuhan marah, tapi karena manusia yang mudah dihasut dan tak tau rasa syukur. Gaddafi berencana membuat mata uang tunggal Afrika berbasis Emas (Gold Dinar) untuk menggantikan Dolar AS dan Euro dalam perdagangan minyak. Ini ancaman mematikan bagi ekonomi Barat. Maka, narasi "Diktator Kejam" ditiupkan, rakyat diprovokasi atas nama demokrasi palsu, hingga akhirnya Gaddafi dibunuh dengan biadab oleh rakyatnya sendiri.
- Karma Instan: Dari Surga Jadi Pasar Budak.
Kini, penyesalan datang terlambat. Setelah rezim tumbang, apakah Libya jadi demokratis? Tidak. Negara itu pecah dikuasai milisi perang. Infrastruktur "Sungai Buatan" yang dulu mengairi gurun kini hancur. Yang paling mengerikan, PBB melaporkan munculnya kembali Pasar Perbudakan Manusia di Libya modern. Rakyat yang dulu dimanja subsidi, kini hidup dalam teror dan kemiskinan. Sebuah pelajaran mahal tentang bahaya "kufur nikmat" dan tipu daya asing.
#libya #gaddafi #sejarahkelam #kufurnikmat #afrika #golddinar #faktadunia #geopolitik #surga #trending
1 week ago | [YT] | 3
View 1 reply
Tahukah Kamu?
Ditinggal 180 Negara Saat Pidato, Netanyahu Balas Dendam dengan Jurus 'Baliho'.
Tahukah Kamu?
Panggung Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York seharusnya menjadi arena adu gagasan para pemimpin dunia. Namun bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, panggung itu berubah menjadi saksi bisu dari serangkaian episode memalukan yang mungkin akan tercatat dalam sejarah.
Babak 1: Kalah Telak di Papan Skor.
Semuanya dimulai pada 12 September 2025, saat palu PBB menjadi wasit dalam voting kemerdekaan Palestina. Hasilnya? Sebuah skakmat diplomasi. Sebanyak 142 negara dengan tegas menyuarakan "Palestina Wajib Merdeka".
Di sisi lain, Israel hanya mampu mengumpulkan 9 suara 'teman setia', yang didominasi oleh negara-negara kecil Pasifik seperti Papua Nugini, Palau, dan Micronesia, ditambah beberapa negara lain seperti Argentina dan Hungaria, dengan Amerika Serikat sebagai pelindung utamanya. Sebuah kemenangan telak bagi Palestina yang membuat Israel terpojok.
Babak 2: Pidato di Ruang Hampa.
Namun, kekalahan angka ternyata hanyalah pemanasan. Momen puncaknya terjadi saat Netanyahu melangkah ke podium untuk berpidato. Alih-alih disambut tatapan para delegasi, ia justru 'dihadiahi' pemandangan paling canggung: eksodus massal.
Para perwakilan dari 180 negara serempak berdiri dan meninggalkan ruangan. Aula megah PBB mendadak senyap, menyisakan kursi-kursi kosong sebagai audiens utama pidato sang perdana menteri. Sebuah pesan tanpa kata yang lebih menusuk dari voting manapun.
Babak 3: Jurus Nekat 'Mencatut' Wajah Pemimpin Dunia.
Tak terima dipermalukan di panggung resmi, Netanyahu tampaknya meluncurkan strateginya sendiri di panggung jalanan. Baliho-baliho raksasa tiba-tiba muncul, memajang fotonya bersama para pemimpin dunia, termasuk Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
Pesannya jelas: sebuah upaya nekat untuk menciptakan ilusi bahwa ia didukung dunia, seolah berkata, "Lihat, kami punya banyak teman!" Sebuah aksi "diplomasi baliho" yang justru semakin menunjukkan keputusasaannya.
Dari kekalahan voting, pidato di hadapan kursi kosong, hingga perang gambar di pinggir jalan, nasib sial Netanyahu di PBB menjadi cerminan pahit dari posisinya yang semakin terisolasi di mata dunia.
#Pbb #sidangpbb #prabowo #presiden #unitednations #trending
3 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Tahukah Kamu?
Kemenkeu lagi-lagi keluarkan ide out of the box, minta presiden tak perlu beri "wakil menteri baru?"
Tahukah Kamu?
Kursi "Wakil Menteri Keuangan" kosong setelah Anggito Abimanyu resmi jadi Ketua LPS. Tapi bukannya cari pengganti, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa malah ambil keputusan mengejutkan: kursi itu dibiarkan kosong, dan ia sendiri yang akan pegang kendali penuh atas pajak dan bea cukai.
“Pak Anggito pergi, wamen baru mungkin nggak ada. Saya saja yang pegang dua-duanya,” kata Purbaya, Senin (29/9/2025).
Alasannya jelas, menurut dia tanpa tambahan struktur semua bisa beres lebih cepat dan tanpa drama birokrasi yang ruwet!
Meski begitu, Purbaya belum bicara banyak soal rencana pembentukan Badan Penerimaan Negara. Ia hanya menegaskan target APBN 2026 mencapai Rp3.153,5 triliun, dengan pajak sebagai sumber terbesar yang kini ia genggam langsung.
Publik pun kini hanya bisa menahan napas sambil menonton. Apakah ini langkah jenius untuk mempercepat reformasi, atau sang menteri hanya ingin merasakan sensasi bermain di level 'Nightmare'? Kita tunggu saja episode selanjutnya dari Kementerian Keuangan.
3 months ago | [YT] | 2
View 1 reply
Tahukah Kamu?
Gebrakan Sang Menteri, Drama di Parlemen, dan aksi anak menteri!
Tahukah Kamu?
Belum genap 48 jam menjabat, Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan DPR berakhir dramatis.
Dalam rapat perdananya pada Rabu lalu, ia langsung menggebrak dengan rencana membentuk tim investigasi internal Kemenkeu dan menyorot dana ratusan triliun yang "mengendap".
Namun, gebrakan itu seolah menabrak tembok. Saat Purbaya tengah berapi-api memaparkan visinya, Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, secara sepihak menghentikan rapat. Sebuah sinyal jelas dikirim dari Senayan: ambisi sang menteri baru saja berhadapan langsung dengan kekuasaan legislatif.
Saat pintu ruang rapat ditutup, sebuah front pertempuran baru justru dibuka di dunia maya. Yudo Sadewa, putra sang menteri, melancarkan "serangan balasan" melalui TikTok dan Telegram. Ia menuding rapat dihentikan karena ayahnya hendak membongkar borok korupsi di Kemenkeu dan DPR.
Tak hanya itu, Yudo juga membocorkan rencana sensitif negara: penurunan pajak dan pengurangan utang.
Kini, situasinya menjadi jauh lebih rumit. Pertarungan tidak lagi hanya terjadi di ruang sidang yang formal, tetapi juga di pengadilan opini publik yang liar.
Keterlibatan Yudo mengaburkan batas antara manuver politik, dukungan keluarga, dan potensi pelanggaran keamanan informasi negara. Drama ini baru saja dimulai, menyajikan babak baru pertarungan kekuasaan yang kini disiarkan langsung ke gawai publik.
Mari kita saksikan bersama dan kita doakan semoga menteri keuangan yang baru mampu memberikan perubahan positif yang sangat besar untuk indonesia, terlepas dari karakter Koboinya!
Dan untuk DPR Ingat bahwa rakyat selalu mengawasimu!
4 months ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tahukah Kamu?
Video baru sudah tayang!
Tahukah kamu, di saat banyak dari kita bersimpati pada Palestina, ada saudara kita di Papua yang justru hatinya terpaut pada Israel? Kami coba mengupas tuntas fenomena kompleks ini, sebuah isu sensitif yang ternyata akarnya lebih dalam dari yang kita duga. Yuk, cari tahu jawabannya di video terbaru kami!
https://youtu.be/mJOko_hPRf8?si=u3OIU...
5 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tahukah Kamu?
Kenapa hukuman mati atau memiskinkan koruptor itu tidak bisa diterapkan di Indonesia?
Karena di negeri ini, hukum belum berdiri tegak di atas keadilan, melainkan bisa diarahkan, diputarbalikkan, bahkan dijadikan alat politik.
Tak sedikit kasus di mana yang bersalah justru tersenyum bebas,
sementara yang tak bersalah dijebak, diseret, lalu dijadikan tersangka.
Bayangkan jika hukuman mati benar-benar diterapkan dalam sistem seperti ini...
Berapa banyak orang tak bersalah yang akan dijadikan kambing hitam?
Berapa nyawa yang akan hilang hanya karena satu tandatangan pesanan?
Yang menguras uang negara bisa tetap jalan-jalan ke luar negeri,
sedangkan mereka yang melawan korupsi, justru dibungkam, dicap kriminal, bahkan terancam hukuman mati.
Itulah sebabnya...
Sebelum bicara tentang seberapa keras hukuman yang harus dijatuhkan,
kita perlu tanya lebih dulu:
Seberapa bersih para penegaknya?
Dan seberapa jujur sistem yang kita percayakan?
6 months ago | [YT] | 26
View 36 replies