Tahun 2026 menandai babak baru dunia kripto dan Web3. Bukan lagi soal spekulasi harga atau hype sesaat, tapi tentang integrasi nyata dengan sistem keuangan global. Blockchain perlahan bertransformasi menjadi infrastruktur inti—dipakai untuk mencatat, memindahkan, dan mengelola nilai secara efisien dan transparan.
Narasi terbesarnya ada pada tokenisasi aset nyata (Real-World Assets/RWA). Saham, obligasi, reksa dana, hingga properti kini bisa dihadirkan dalam bentuk token digital yang bisa diperdagangkan 24/7 dan dimiliki secara fraksional. Nilainya melonjak tajam, didorong masuknya institusi besar dan kejelasan regulasi. Ini bukan eksperimen kecil, tapi fondasi baru pasar keuangan.
Di saat yang sama, stablecoin institusional mulai diadopsi bank sebagai alat settlement dan likuiditas, sementara AI di blockchain membuka jalan bagi sistem keuangan yang lebih cerdas—dari manajemen aset otomatis hingga agentic commerce. Kombinasi AI dan blockchain digadang-gadang menjadi “financial plumbing” generasi berikutnya.
Asia pun ikut memanas. Hong Kong tampil agresif sebagai pusat Web3, membuktikan keseriusannya lewat event global, dukungan regulator, dan ekosistem yang ramah inovasi. Semua ini mengirim satu pesan jelas: Web3 sedang dewasa.
Pasar memang masih volatil, tapi arahnya semakin tegas. Fokus bergeser dari janji cepat kaya ke utilitas nyata dan dampak jangka panjang. Bagi investor, pelaku industri, dan publik umum, 2026 bukan soal ikut tren—melainkan memahami perubahan besar yang sedang dibangun.
Pasar kripto lagi nggak ramah. Merah di mana-mana, sentimen berat, dan satu istilah ini kembali bikin investor waspada: token unlock.
Di pertengahan Februari 2026, unlock besar bernilai ratusan juta dolar berpotensi menambah supply ke pasar yang sudah lemah. Efeknya jelas: volatilitas naik, tekanan jual meningkat, dan banyak harga goyah. Buat yang tidak siap, ini bisa jadi jebakan. Tapi buat yang paham siklus, justru di sinilah peluang mulai kelihatan.
Menariknya, di tengah badai unlock dan BTC yang masih loyo, beberapa altcoin justru menunjukkan ketahanan. Ada yang tetap naik, ada yang bertahan stabil, dan ada juga yang mulai dilirik whale karena supply lebih terkendali dan narasi masih kuat. Artinya, pasar memang sedang selektif—bukan mati total.
Token unlock sendiri sebenarnya netral. Ia hanya jadi masalah kalau investor masuk tanpa strategi. Reaksi pasar 1–3 hari setelah unlock sering kali jauh lebih penting daripada momennya sendiri. Di situlah banyak peluang “buy the dip” lahir, tapi juga banyak yang terjebak karena FOMO.
Intinya, fase ini adalah ujian mental dan disiplin. Bukan soal seberapa cepat beli atau jual, tapi seberapa paham kamu membaca konteks. Pasar boleh bearish, tapi peluang selalu ada—biasanya tersembunyi, dan hanya kelihatan oleh mereka yang sabar.
Bukan saran investasi. Selalu DYOR dan kelola risiko.
Indonesia’s crypto market is entering a new chapter.
Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa recently stated that the crypto market has been “a bit wild,” signaling the government’s intention to bring stronger structure through the P2SK Law. The goal is clear: create a more organized, transparent, and stable crypto ecosystem—without killing innovation.
For years, crypto in Indonesia has grown at lightning speed. Millions of retail investors joined, transaction volumes exploded, and new platforms emerged rapidly. But fast growth also came with risks: extreme volatility, weak investor protection, low literacy, and recurring fraud cases. From the regulator’s perspective, this is no longer sustainable.
The P2SK Law is positioned as a foundation, not a blockade. It aims to improve legal certainty, increase trust, and open the door for institutional investors to enter the market. In theory, stronger regulation could make Indonesia more attractive globally and protect retail investors from systemic risks.
However, the industry has concerns. Several provisions under discussion are seen as potentially increasing centralization, weakening local players, and triggering capital outflow if implemented too rigidly. Crypto associations warn that overregulation could push users and innovation offshore.
The government’s response? Dialogue. Purbaya emphasized the importance of finding a middle ground—protecting consumers while preserving the core spirit of decentralization and innovation.
As 2026 approaches, one question remains: will Indonesia succeed in regulating crypto without suffocating it? The answer will define the country’s position in the global digital economy.
As always in crypto: stay critical, understand the rules, and DYOR. 🚀
Percakapan soal kripto di Indonesia ternyata tidak pernah benar-benar sepi—bahkan justru naik hampir 30% sepanjang 2025. Menariknya, lonjakan ini terjadi di saat nilai transaksi sempat melambat. Artinya, yang tumbuh bukan sekadar aktivitas jual-beli, tapi kesadaran dan diskusi publik.
Media sosial jadi cermin paling jujur. Dari X, Instagram, sampai komunitas online, kripto, Web3, dan blockchain makin sering dibahas dengan sudut pandang yang lebih dewasa. Bukan cuma soal “koin apa yang bakal naik”, tapi juga soal regulasi, utilitas teknologi, dan masa depan industri.
Generasi Z memegang peran penting di sini. Bagi mereka, kripto bukan topik eksklusif—ia hidup di konten digital, diskusi komunitas, dan percakapan harian. Proses belajarnya cepat, terbuka, dan kolaboratif. Ini yang perlahan mendorong literasi, bukan sekadar hype.
Pernyataan dari para pelaku industri dan investor strategis juga menegaskan arah yang sama: ekosistem kripto Indonesia butuh kolaborasi, dialog, dan pemahaman bersama agar bisa tumbuh sehat dan berkelanjutan.
Kesimpulannya sederhana tapi penting: 📉 transaksi bisa turun, 📊 harga bisa fluktuatif, 🗣️ tapi ketika percakapan publik naik signifikan, itu tanda industri sedang naik kelas.
Kripto di Indonesia tidak mati—ia sedang belajar tumbuh dengan lebih tenang, rasional, dan matang.
Lebih dari 20 juta orang Indonesia kini sudah punya aset kripto. Bukan gosip. Bukan klaim influencer. Tapi data resmi negara.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, jumlah investor kripto mencapai 20,19 juta orang hingga akhir 2025. Dalam setahun, nilai transaksi kripto tembus Rp482 triliun, dan Januari 2026 saja sudah menyentuh Rp29 triliun.
Angka ini penting karena menunjukkan satu hal: 👉 kripto bukan lagi sekadar tren musiman.
Di tengah pasar yang naik-turun, minat investor ritel tetap kuat. Artinya, semakin banyak orang mulai melihat kripto sebagai bagian dari strategi keuangan, bukan cuma alat spekulasi cepat kaya.
Ekosistemnya juga makin “resmi”. Ada ribuan aset terdaftar, puluhan entitas berizin, dan pengawasan langsung dari regulator. Negara tidak menutup mata, tapi memilih mengatur dan mengedukasi. Bahkan, OJK menargetkan pertumbuhan konsumen kripto hingga 26% ke depan lewat literasi keuangan digital.
Tapi satu hal tetap penting diingat: 📉 jumlah investor naik ≠ semua pasti untung.
Kripto tetap berisiko, volatil, dan penuh emosi pasar. Justru karena itu, literasi dan pemahaman jadi kunci.
Kripto di Indonesia hari ini bukan lagi dunia kecil. Ia sudah jadi fenomena sosial dan finansial.
Pertanyaannya sekarang sederhana: kita mau ikut-ikutan… atau ikut dengan paham?
February 2026 marked a turning point for Web3 in Asia—and Hong Kong stood at the center of it all. In the span of one week, the city hosted two major global events, Consensus Hong Kong and Global Web3 Dev Con (GWDC), bringing together developers, regulators, investors, and industry leaders from around the world.
Consensus Hong Kong showcased how far the industry has evolved. Discussions moved beyond speculation toward real implementation: stablecoins as everyday payment tools, tokenization of real-world assets, the convergence of AI and Web3, and—most importantly—regulatory clarity. With over 11,000 attendees, the message was clear: Asia is no longer catching up; it is leading.
Just days earlier, GWDC gathered hundreds of builders and engineers in a developer-first environment. Hackathons, technical panels, and hands-on sessions highlighted a new focus on scalable infrastructure, sustainable Web3 models, and long-term innovation. This wasn’t about hype—it was about building systems that last.
Together, these events revealed a powerful narrative shift. Hong Kong is positioning itself as a bridge between policy and product, capital and code, tradition and decentralization. With progressive regulation, strong government involvement, and deep financial roots, the city is emerging as a serious global hub for Web3 development and adoption.
As the industry matures, one thing becomes increasingly clear: the future of Web3 may well be shaped in Asia—and Hong Kong is leading the charge.
ETF kripto dan tokenisasi aset nyata (RWA) bukan lagi wacana masa depan—ini realitas 2026. Dalam hitungan minggu, kita melihat bagaimana tembok antara keuangan tradisional (TradFi) dan blockchain (DeFi) mulai runtuh pelan tapi pasti.
Dari pengajuan ETF Bitcoin–Ethereum dan produk yield berbasis staking, sampai langkah berani membawa token DeFi seperti AAVE ke lantai bursa, semuanya mengirim pesan yang sama: institusi sudah masuk, dan mereka datang untuk tinggal.
Di sisi lain, tokenisasi saham dan aset nyata tumbuh nyaris tanpa banyak sorotan. Nilainya mendekati US$1 miliar, naik ribuan persen dalam setahun. Saham kini bisa diperdagangkan 24/7, dijadikan jaminan DeFi, bahkan dimiliki secara fraksional lintas negara. Sesuatu yang dulu mustahil di sistem keuangan lama.
Inilah “great convergence” yang sering dibicarakan analis: triliunan dolar aset tradisional perlahan bermigrasi ke blockchain karena lebih efisien, transparan, dan fleksibel.
Bull cycle kali ini tidak hanya digerakkan oleh hype, tapi oleh produk teregulasi, adopsi institusional, dan use case nyata. RWA dan ETF bukan sekadar narasi—mereka adalah fondasi baru.
Pertanyaannya sekarang bukan “apakah blockchain akan dipakai?”, melainkan siapa yang sudah siap lebih dulu memahaminya.
Bukan rumor, bukan spekulasi komunitas. Ini datang langsung dari negara dan regulator. Hong Kong mulai membuka pintu besar untuk trading crypto yang teregulasi. Brasil berani mengajukan cadangan hingga 1 juta BTC sebagai aset strategis negara. Republik Ceko memberi insentif pajak untuk investor jangka panjang. Amerika Serikat mendorong CLARITY Act agar industri crypto punya kepastian hukum.
Semua ini mengarah ke satu hal: Bitcoin bukan lagi eksperimen pinggiran.
Regulasi sekarang bukan soal melarang, tapi mengatur agar modal besar masuk dengan aman. Negara-negara mulai sadar, lebih berisiko tertinggal daripada ikut beradaptasi. Di tengah inflasi global, utang negara, dan ketidakpastian geopolitik, Bitcoin mulai dilihat sebagai aset lindung nilai dan cadangan strategis.
Inilah kenapa di 2026, meski volatilitas masih ada, fondasi Bitcoin justru makin kuat. Harga bisa naik-turun, sentimen bisa berubah harian. Tapi arah besarnya semakin jelas: crypto sedang naik level, dari pasar spekulasi ke instrumen kebijakan dan geopolitik.
Pertanyaannya sekarang bukan cuma “BTC mau ke berapa?” Tapi: apakah kita sudah paham permainan besarnya, atau masih sibuk lihat chart harian?
The US government didn’t collapse—but the market still flinched.
On February 14, a partial US government shutdown officially kicked in after the Department of Homeland Security ran out of funding. No full shutdown, no dramatic press conference—but enough uncertainty to rattle risk assets, especially crypto.
Bitcoin slipped. Ethereum followed. Volatility spiked. Not because fundamentals suddenly broke—but because markets hate one thing above all else: uncertainty.
What makes this moment interesting is that it wasn’t a surprise. Days earlier, a Web3 expert predicted this exact scenario, and prediction markets were already pricing shutdown odds as high as 90%. When it became reality, traders reacted exactly as history suggests they would—panic first, think later.
We’ve seen this movie before. Previous shutdowns triggered sharp but short-lived sell-offs. Once political clarity returned, prices rebounded faster than most expected.
Right now, sentiment is split. Some see danger—liquidations, wicks, downside risk. Others see opportunity—a temporary macro shock in a market built for long-term conviction.
This isn’t the end of crypto. It’s a reminder that crypto doesn’t live in isolation. It reacts to politics, fiscal stress, and global power struggles—sometimes irrationally, sometimes violently.
If the shutdown drags on, volatility stays. If Congress resolves it quickly, history suggests one thing: the rebound won’t wait for everyone to feel “safe” again.
Markets panic today. They usually regret it tomorrow.
Valentine biasanya identik dengan cokelat, bunga, dan kata “aku cinta kamu”. Tapi di dunia kripto, 14 Februari justru identik dengan USDT, airdrop, dan cashback. ❤️💸
Tahun ini kelihatan jelas: banyak exchange memanfaatkan momen Valentine bukan buat bikin market terbang, tapi buat menarik user baru dan mengaktifkan user lama. Dari giveaway ratusan USDT, stablecoin airdrop, sampai promo kartu dan pembayaran digital—semuanya dibungkus narasi “cinta” dan “hadiah”.
Menariknya, di balik promo yang manis, pasar kripto sendiri masih konsolidasi. Artinya, promo rame ≠ market bullish. Ini bukan euforia besar, tapi strategi marketing yang sangat terukur. Exchange paham betul: emosi + momen spesial = keputusan cepat.
Di Indonesia, Valentine juga bikin obrolan kripto makin hangat. Meme coin bertema cinta kembali muncul, token musiman jadi bahan diskusi, dan FOMO pelan-pelan mengintip. Masalahnya, sejarah selalu sama: yang naik karena tema, sering turun karena ditinggal.
Pelajarannya sederhana: 👉 Ambil promonya, bukan ilusinya 👉 Nikmati giveaway, tapi jangan FOMO 👉 Cinta boleh buta, portofolio jangan
Karena di kripto, yang bertahan bukan yang paling bucin— tapi yang paling rasional. 🚀
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Tahun 2026 menandai babak baru dunia kripto dan Web3. Bukan lagi soal spekulasi harga atau hype sesaat, tapi tentang integrasi nyata dengan sistem keuangan global. Blockchain perlahan bertransformasi menjadi infrastruktur inti—dipakai untuk mencatat, memindahkan, dan mengelola nilai secara efisien dan transparan.
Narasi terbesarnya ada pada tokenisasi aset nyata (Real-World Assets/RWA). Saham, obligasi, reksa dana, hingga properti kini bisa dihadirkan dalam bentuk token digital yang bisa diperdagangkan 24/7 dan dimiliki secara fraksional. Nilainya melonjak tajam, didorong masuknya institusi besar dan kejelasan regulasi. Ini bukan eksperimen kecil, tapi fondasi baru pasar keuangan.
Di saat yang sama, stablecoin institusional mulai diadopsi bank sebagai alat settlement dan likuiditas, sementara AI di blockchain membuka jalan bagi sistem keuangan yang lebih cerdas—dari manajemen aset otomatis hingga agentic commerce. Kombinasi AI dan blockchain digadang-gadang menjadi “financial plumbing” generasi berikutnya.
Asia pun ikut memanas. Hong Kong tampil agresif sebagai pusat Web3, membuktikan keseriusannya lewat event global, dukungan regulator, dan ekosistem yang ramah inovasi. Semua ini mengirim satu pesan jelas: Web3 sedang dewasa.
Pasar memang masih volatil, tapi arahnya semakin tegas. Fokus bergeser dari janji cepat kaya ke utilitas nyata dan dampak jangka panjang. Bagi investor, pelaku industri, dan publik umum, 2026 bukan soal ikut tren—melainkan memahami perubahan besar yang sedang dibangun.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Pasar kripto lagi nggak ramah. Merah di mana-mana, sentimen berat, dan satu istilah ini kembali bikin investor waspada: token unlock.
Di pertengahan Februari 2026, unlock besar bernilai ratusan juta dolar berpotensi menambah supply ke pasar yang sudah lemah. Efeknya jelas: volatilitas naik, tekanan jual meningkat, dan banyak harga goyah. Buat yang tidak siap, ini bisa jadi jebakan. Tapi buat yang paham siklus, justru di sinilah peluang mulai kelihatan.
Menariknya, di tengah badai unlock dan BTC yang masih loyo, beberapa altcoin justru menunjukkan ketahanan. Ada yang tetap naik, ada yang bertahan stabil, dan ada juga yang mulai dilirik whale karena supply lebih terkendali dan narasi masih kuat. Artinya, pasar memang sedang selektif—bukan mati total.
Token unlock sendiri sebenarnya netral. Ia hanya jadi masalah kalau investor masuk tanpa strategi. Reaksi pasar 1–3 hari setelah unlock sering kali jauh lebih penting daripada momennya sendiri. Di situlah banyak peluang “buy the dip” lahir, tapi juga banyak yang terjebak karena FOMO.
Intinya, fase ini adalah ujian mental dan disiplin. Bukan soal seberapa cepat beli atau jual, tapi seberapa paham kamu membaca konteks. Pasar boleh bearish, tapi peluang selalu ada—biasanya tersembunyi, dan hanya kelihatan oleh mereka yang sabar.
Bukan saran investasi. Selalu DYOR dan kelola risiko.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Indonesia’s crypto market is entering a new chapter.
Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa recently stated that the crypto market has been “a bit wild,” signaling the government’s intention to bring stronger structure through the P2SK Law. The goal is clear: create a more organized, transparent, and stable crypto ecosystem—without killing innovation.
For years, crypto in Indonesia has grown at lightning speed. Millions of retail investors joined, transaction volumes exploded, and new platforms emerged rapidly. But fast growth also came with risks: extreme volatility, weak investor protection, low literacy, and recurring fraud cases. From the regulator’s perspective, this is no longer sustainable.
The P2SK Law is positioned as a foundation, not a blockade. It aims to improve legal certainty, increase trust, and open the door for institutional investors to enter the market. In theory, stronger regulation could make Indonesia more attractive globally and protect retail investors from systemic risks.
However, the industry has concerns. Several provisions under discussion are seen as potentially increasing centralization, weakening local players, and triggering capital outflow if implemented too rigidly. Crypto associations warn that overregulation could push users and innovation offshore.
The government’s response? Dialogue. Purbaya emphasized the importance of finding a middle ground—protecting consumers while preserving the core spirit of decentralization and innovation.
As 2026 approaches, one question remains: will Indonesia succeed in regulating crypto without suffocating it? The answer will define the country’s position in the global digital economy.
As always in crypto: stay critical, understand the rules, and DYOR. 🚀
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Percakapan soal kripto di Indonesia ternyata tidak pernah benar-benar sepi—bahkan justru naik hampir 30% sepanjang 2025. Menariknya, lonjakan ini terjadi di saat nilai transaksi sempat melambat. Artinya, yang tumbuh bukan sekadar aktivitas jual-beli, tapi kesadaran dan diskusi publik.
Media sosial jadi cermin paling jujur. Dari X, Instagram, sampai komunitas online, kripto, Web3, dan blockchain makin sering dibahas dengan sudut pandang yang lebih dewasa. Bukan cuma soal “koin apa yang bakal naik”, tapi juga soal regulasi, utilitas teknologi, dan masa depan industri.
Generasi Z memegang peran penting di sini. Bagi mereka, kripto bukan topik eksklusif—ia hidup di konten digital, diskusi komunitas, dan percakapan harian. Proses belajarnya cepat, terbuka, dan kolaboratif. Ini yang perlahan mendorong literasi, bukan sekadar hype.
Pernyataan dari para pelaku industri dan investor strategis juga menegaskan arah yang sama: ekosistem kripto Indonesia butuh kolaborasi, dialog, dan pemahaman bersama agar bisa tumbuh sehat dan berkelanjutan.
Kesimpulannya sederhana tapi penting: 📉 transaksi bisa turun, 📊 harga bisa fluktuatif, 🗣️ tapi ketika percakapan publik naik signifikan, itu tanda industri sedang naik kelas.
Kripto di Indonesia tidak mati—ia sedang belajar tumbuh dengan lebih tenang, rasional, dan matang.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Lebih dari 20 juta orang Indonesia kini sudah punya aset kripto. Bukan gosip. Bukan klaim influencer. Tapi data resmi negara.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, jumlah investor kripto mencapai 20,19 juta orang hingga akhir 2025. Dalam setahun, nilai transaksi kripto tembus Rp482 triliun, dan Januari 2026 saja sudah menyentuh Rp29 triliun.
Angka ini penting karena menunjukkan satu hal: 👉 kripto bukan lagi sekadar tren musiman.
Di tengah pasar yang naik-turun, minat investor ritel tetap kuat. Artinya, semakin banyak orang mulai melihat kripto sebagai bagian dari strategi keuangan, bukan cuma alat spekulasi cepat kaya.
Ekosistemnya juga makin “resmi”. Ada ribuan aset terdaftar, puluhan entitas berizin, dan pengawasan langsung dari regulator. Negara tidak menutup mata, tapi memilih mengatur dan mengedukasi. Bahkan, OJK menargetkan pertumbuhan konsumen kripto hingga 26% ke depan lewat literasi keuangan digital.
Tapi satu hal tetap penting diingat: 📉 jumlah investor naik ≠ semua pasti untung.
Kripto tetap berisiko, volatil, dan penuh emosi pasar. Justru karena itu, literasi dan pemahaman jadi kunci.
Kripto di Indonesia hari ini bukan lagi dunia kecil. Ia sudah jadi fenomena sosial dan finansial.
Pertanyaannya sekarang sederhana: kita mau ikut-ikutan… atau ikut dengan paham?
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
February 2026 marked a turning point for Web3 in Asia—and Hong Kong stood at the center of it all. In the span of one week, the city hosted two major global events, Consensus Hong Kong and Global Web3 Dev Con (GWDC), bringing together developers, regulators, investors, and industry leaders from around the world.
Consensus Hong Kong showcased how far the industry has evolved. Discussions moved beyond speculation toward real implementation: stablecoins as everyday payment tools, tokenization of real-world assets, the convergence of AI and Web3, and—most importantly—regulatory clarity. With over 11,000 attendees, the message was clear: Asia is no longer catching up; it is leading.
Just days earlier, GWDC gathered hundreds of builders and engineers in a developer-first environment. Hackathons, technical panels, and hands-on sessions highlighted a new focus on scalable infrastructure, sustainable Web3 models, and long-term innovation. This wasn’t about hype—it was about building systems that last.
Together, these events revealed a powerful narrative shift. Hong Kong is positioning itself as a bridge between policy and product, capital and code, tradition and decentralization. With progressive regulation, strong government involvement, and deep financial roots, the city is emerging as a serious global hub for Web3 development and adoption.
As the industry matures, one thing becomes increasingly clear: the future of Web3 may well be shaped in Asia—and Hong Kong is leading the charge.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
ETF kripto dan tokenisasi aset nyata (RWA) bukan lagi wacana masa depan—ini realitas 2026. Dalam hitungan minggu, kita melihat bagaimana tembok antara keuangan tradisional (TradFi) dan blockchain (DeFi) mulai runtuh pelan tapi pasti.
Dari pengajuan ETF Bitcoin–Ethereum dan produk yield berbasis staking, sampai langkah berani membawa token DeFi seperti AAVE ke lantai bursa, semuanya mengirim pesan yang sama: institusi sudah masuk, dan mereka datang untuk tinggal.
Di sisi lain, tokenisasi saham dan aset nyata tumbuh nyaris tanpa banyak sorotan. Nilainya mendekati US$1 miliar, naik ribuan persen dalam setahun. Saham kini bisa diperdagangkan 24/7, dijadikan jaminan DeFi, bahkan dimiliki secara fraksional lintas negara. Sesuatu yang dulu mustahil di sistem keuangan lama.
Inilah “great convergence” yang sering dibicarakan analis: triliunan dolar aset tradisional perlahan bermigrasi ke blockchain karena lebih efisien, transparan, dan fleksibel.
Bull cycle kali ini tidak hanya digerakkan oleh hype, tapi oleh produk teregulasi, adopsi institusional, dan use case nyata. RWA dan ETF bukan sekadar narasi—mereka adalah fondasi baru.
Pertanyaannya sekarang bukan “apakah blockchain akan dipakai?”, melainkan siapa yang sudah siap lebih dulu memahaminya.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Dunia pelan-pelan lagi ganti sikap ke Bitcoin. 🌍₿
Bukan rumor, bukan spekulasi komunitas. Ini datang langsung dari negara dan regulator. Hong Kong mulai membuka pintu besar untuk trading crypto yang teregulasi. Brasil berani mengajukan cadangan hingga 1 juta BTC sebagai aset strategis negara. Republik Ceko memberi insentif pajak untuk investor jangka panjang. Amerika Serikat mendorong CLARITY Act agar industri crypto punya kepastian hukum.
Semua ini mengarah ke satu hal: Bitcoin bukan lagi eksperimen pinggiran.
Regulasi sekarang bukan soal melarang, tapi mengatur agar modal besar masuk dengan aman. Negara-negara mulai sadar, lebih berisiko tertinggal daripada ikut beradaptasi. Di tengah inflasi global, utang negara, dan ketidakpastian geopolitik, Bitcoin mulai dilihat sebagai aset lindung nilai dan cadangan strategis.
Inilah kenapa di 2026, meski volatilitas masih ada, fondasi Bitcoin justru makin kuat. Harga bisa naik-turun, sentimen bisa berubah harian. Tapi arah besarnya semakin jelas: crypto sedang naik level, dari pasar spekulasi ke instrumen kebijakan dan geopolitik.
Pertanyaannya sekarang bukan cuma “BTC mau ke berapa?” Tapi: apakah kita sudah paham permainan besarnya, atau masih sibuk lihat chart harian?
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
The US government didn’t collapse—but the market still flinched.
On February 14, a partial US government shutdown officially kicked in after the Department of Homeland Security ran out of funding. No full shutdown, no dramatic press conference—but enough uncertainty to rattle risk assets, especially crypto.
Bitcoin slipped. Ethereum followed. Volatility spiked. Not because fundamentals suddenly broke—but because markets hate one thing above all else: uncertainty.
What makes this moment interesting is that it wasn’t a surprise. Days earlier, a Web3 expert predicted this exact scenario, and prediction markets were already pricing shutdown odds as high as 90%. When it became reality, traders reacted exactly as history suggests they would—panic first, think later.
We’ve seen this movie before. Previous shutdowns triggered sharp but short-lived sell-offs. Once political clarity returned, prices rebounded faster than most expected.
Right now, sentiment is split. Some see danger—liquidations, wicks, downside risk. Others see opportunity—a temporary macro shock in a market built for long-term conviction.
This isn’t the end of crypto. It’s a reminder that crypto doesn’t live in isolation. It reacts to politics, fiscal stress, and global power struggles—sometimes irrationally, sometimes violently.
If the shutdown drags on, volatility stays. If Congress resolves it quickly, history suggests one thing: the rebound won’t wait for everyone to feel “safe” again.
Markets panic today. They usually regret it tomorrow.
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiyarman Gulo | Baca Kompasiana
Valentine biasanya identik dengan cokelat, bunga, dan kata “aku cinta kamu”. Tapi di dunia kripto, 14 Februari justru identik dengan USDT, airdrop, dan cashback. ❤️💸
Tahun ini kelihatan jelas: banyak exchange memanfaatkan momen Valentine bukan buat bikin market terbang, tapi buat menarik user baru dan mengaktifkan user lama. Dari giveaway ratusan USDT, stablecoin airdrop, sampai promo kartu dan pembayaran digital—semuanya dibungkus narasi “cinta” dan “hadiah”.
Menariknya, di balik promo yang manis, pasar kripto sendiri masih konsolidasi. Artinya, promo rame ≠ market bullish. Ini bukan euforia besar, tapi strategi marketing yang sangat terukur. Exchange paham betul: emosi + momen spesial = keputusan cepat.
Di Indonesia, Valentine juga bikin obrolan kripto makin hangat. Meme coin bertema cinta kembali muncul, token musiman jadi bahan diskusi, dan FOMO pelan-pelan mengintip. Masalahnya, sejarah selalu sama: yang naik karena tema, sering turun karena ditinggal.
Pelajarannya sederhana: 👉 Ambil promonya, bukan ilusinya 👉 Nikmati giveaway, tapi jangan FOMO 👉 Cinta boleh buta, portofolio jangan
Karena di kripto, yang bertahan bukan yang paling bucin— tapi yang paling rasional. 🚀
1 week ago | [YT] | 0
View 0 replies
Load more