🎶 "Temukan Harmoni Musik Indonesia di Sini!" 🎶
Selamat datang di MBUH MUSIC INDONESIA – tempat terbaik untuk menikmati video musik Indonesia dari berbagai genre! Dari pop, rock, dangdut, hingga musik indie yang memikat, kami menghadirkan karya-karya yang menyentuh hati dan menginspirasi.
✨ Subscribe sekarang dan jadilah bagian dari perjalanan musik kami! Jangan lewatkan update mingguan kami untuk menikmati musik terbaru dan mendukung karya musisi Indonesia. ✨
📢 Disclaimer: Semua konten di channel ini memiliki izin resmi dari pemilik hak cipta atau merupakan karya orisinal kami. Dilarang keras menggunakan ulang konten tanpa izin.
#MusikIndonesia #LaguBaru #VideoMusik #DukungMusisiLokal #MusikPop #DangdutHits #IndieIndonesia
Klik tombol SUBSCRIBE dan nyalakan lonceng notifikasi sekarang! 🎵
MBUH MUSIC INDONESIA
Al-Qur'an: Antara Keindahan Suara dan Kelalaian Makna
Lagu berjudul "Ketika Qur’an Hanya Dilantunkan — AL-QUR’AN YANG TERLUPAKAN" merupakan sebuah refleksi spiritual yang sangat mendalam dan berani. Lewat narasi yang jujur, lagu ini mencoba membedah sebuah fenomena sosial-keagamaan di mana kitab suci seringkali hanya berhenti di tenggorokan, tanpa pernah benar-benar meresap ke dalam hati atau mewujud dalam perilaku.
Berikut adalah beberapa poin penting dalam membedah isi lagu tersebut:
1. Kontradiksi Antara Kefasihan dan Pemahaman
Lirik lagu ini dibuka dengan pengakuan yang sangat rendah hati mengenai "suara gemetar" saat membawa kitab suci [00:20]. Si penulis lagu menyoroti kontradiksi yang terjadi di masyarakat: ayat-ayat suci bergema di setiap sudut kota, dilantunkan dengan sangat fasih oleh anak kecil hingga orang tua, namun ada keresahan mendalam bahwa pesan sebenarnya dari Al-Qur'an justru telah diacuhkan [00:35].
2. Kritik Terhadap "Kesalehan Formal"
Pesan yang paling menohok dari lagu ini adalah tentang bahaya "merasa takwa" padahal sebenarnya sedang lalai [01:01]. Lagu ini menggunakan metafora "cermin yang mengarah ke dada sendiri" untuk menunjukkan bahwa kritik ini bukan untuk orang lain, melainkan sebuah otokritik bagi diri sendiri.
Membaca tanpa memahami: Menekankan pada rutinitas membaca yang kehilangan substansi.
Hafal tanpa patuh: Menekankan pada pengumpulan hafalan yang tidak dibarengi dengan transformasi moral.
3. Fenomena Al-Qur'an sebagai "Hiburan Telinga"
Penulis lagu dengan berani menyebutkan kondisi di mana manusia "mabuk oleh suara sendiri" [01:21]. Ada peringatan keras bahwa Al-Qur'an seringkali diperlakukan hanya seperti lagu atau musik yang dinikmati keindahan nadanya, namun dilupakan bahwa ia adalah peringatan yang seharusnya mengguncang jiwa [01:51].
Lagu ini mengingatkan pendengar bahwa kitab suci bukanlah syair atau hiburan untuk telinga, melainkan "cahaya untuk langkah hidup dan pengadilan bagi hati yang dusta" [01:59].
4. Harapan untuk Kembali pada Kejujuran
Bagian akhir lagu ini merupakan sebuah doa dan permohonan ampun (istighfar). Penulis mengekspresikan keinginan untuk tidak hanya menjadi orang yang "fasih" secara lisan, melainkan orang yang "jujur" di hadapan Tuhan [03:04].
Ada sebuah tekad kuat untuk "pulang" kembali kepada esensi Al-Qur'an, bukan lagi sebagai barang yang terlupakan dalam tumpukan rutinitas, melainkan sebagai penuntun jalan yang hakiki [03:28].
Kesimpulan
Lagu ini adalah sebuah pengingat (tazkirah) bahwa Al-Qur'an memiliki dua dimensi: dimensi keindahan (estetika) saat dilantunkan, dan dimensi petunjuk (etika) saat diamalkan. Lagu "Al-Qur'an yang Terlupakan" mengajak kita untuk menyeimbangkan keduanya, agar kita tidak menjadi orang yang sibuk memperindah suara, namun membiarkan hati tetap tuli terhadap pesan Sang Pencipta.
Detail Video:
Judul: Ketika Qur’an Hanya Dilantunkan — AL-QUR’AN YANG TERLUPAKAN | MBuH MuSiC
Kanal: MBUH MUSIC INDONESIA
4 days ago | [YT] | 2
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Mengupas Esensi "Agama Tanpa Budaya": Ketika Cahaya Tuhan Terhalang Ego Manusia
Dalam belantika musik religi kontemporer, lagu "Agama Tanpa Budaya" dari MBuH MUSIC INDONESIA hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai tamparan reflektif bagi setiap pemeluk agama. Lagu ini menggali kegelisahan tentang bagaimana institusi spiritual seringkali terjebak dalam formalitas fisik dan sekat-sekat sosial yang diciptakan manusia sendiri.
Berikut adalah bedah mendalam mengenai poin-poin utama dalam lagu tersebut:
1. Agama sebagai Cahaya vs. Kain Ego
Lagu ini dibuka dengan sebuah pertanyaan retoris: jika agama adalah cahaya, mengapa sinarnya sering tertutup? Liriknya menyebutkan bahwa kita sering menjahit "kain dari ego" dalam setiap doa.
Ini adalah kritik terhadap fenomena di mana agama tidak lagi digunakan untuk menerangi jalan hidup, melainkan untuk memperbesar ego pribadi atau kelompok. Kita cenderung merasa paling benar karena merasa telah menjalankan "prosedur" agama secara teknis, namun lupa pada esensi kerendahhatian.
2. Jebakan Tradisi yang Dianggap Wahyu
Salah satu poin paling tajam dalam lagu ini adalah lirik: "Kami terjebak di tradisi yang kami kira wahyu".
Seringkali, manusia mencampuradukkan adat istiadat, budaya lokal, atau kebiasaan turun-temurun dengan ajaran murni Tuhan. Masalah muncul ketika tradisi ini dianggap sakral dan tidak bisa diganggu gugat, sehingga siapa pun yang tidak mengikutinya dianggap kurang beriman atau sesat. Lagu ini mengingatkan bahwa Tuhan jauh lebih besar dari sekadar aturan-aturan manusia yang kita buat-buat sendiri.
3. Kritik terhadap Formalitas dan Simbol Fisik
Lagu ini menyoroti bagaimana masyarakat seringkali lebih sibuk menilai "seragam" daripada "hati". Lirik "mengukur iman dengan ukuran kain, nada bicara, atau warna" menggambarkan betapa dangkalnya penilaian manusia terhadap spiritualitas orang lain.
Lagu ini mengajak pendengar untuk kembali ke tujuan awal: kembali ke pangkuan Tuhan dengan hati yang Dia kenali, bukan dengan "seragam" yang disukai dunia. Simbol fisik (budaya berpakaian, cara bicara tertentu) seharusnya hanya sarana, bukan tujuan utama keimanan.
4. Agama sebagai Jembatan, Bukan Tembok
Ada kerinduan yang mendalam dalam lagu ini agar agama kembali menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan sesama, bukannya menjadi tembok atau pagar yang menutup pintu surga bagi orang lain.
Kita seringkali terlalu sibuk "meluruskan sajadah orang lain" (mengkritik ibadah orang lain) namun lupa "merapikan hati sendiri". Pesan ini menekankan bahwa spiritualitas sejati bersifat introspektif, bukan menghakimi.
Penutup: Apa Maksud "Agama Tanpa Budaya"?
Judul lagu ini mungkin terdengar kontroversial, namun melalui liriknya kita memahami bahwa yang dimaksud adalah agama yang bebas dari belenggu budaya negatif manusia—seperti rasa benci, ketakutan, dan penghakiman. Lagu ini adalah seruan untuk kembali ke "bahasa cinta" sebagai satu-satunya bahasa yang dipahami untuk mendekat kepada Sang Pencipta.
Lagu ini ditutup dengan sebuah pengingat bahwa jika agama adalah cahaya, biarkanlah ia menerangi tanpa perlu kita tambahi warna-warna ego kita sendiri.
________________________________________
Sumber Video: Agama Tanpa Budaya – MBuH MUSIC INDONESIA
5 days ago (edited) | [YT] | 1
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Kisah di Balik Lagu: "Jalan yang Lurus"
Sebuah Jawaban di Tengah Kebisingan Subuh
Pernahkah Anda merasa tetap "lapar" meskipun sudah makan? Merasa "haus" meskipun sudah minum? Atau merasa "tersesat" justru di saat semua GPS di tangan Anda menyala? Itulah titik awal lahirnya lagu ini.
Lagu "Jalan yang Lurus" tidak lahir di atas panggung yang megah, melainkan dari sebuah perenungan sunyi di pagi buta. Saat dunia masih tertidur dan hiruk-pikuk ambisi sejenak berhenti, muncul sebuah pertanyaan jujur: "Untuk apa semua ini jika jiwa tetap merasa retak?"
Al-Fatihah: Peta yang Terlupa di Dalam Saku
Inspirasi utama lagu ini adalah Surah Al-Fatihah, khususnya ayat Ihdinas-siratal-mustaqim. Kita melafalkannya minimal 17 kali sehari dalam salat, namun sering kali ia hanya menjadi rutinitas lisan yang kehilangan maknanya.
Lagu ini adalah upaya untuk "menemukan kembali" makna doa tersebut. Penulis lirik merasa bahwa manusia modern sering kali terjebak dalam "cahaya palsu"—harta, tahta, dan validasi manusia—yang dikira sebagai jalan kebahagiaan, padahal justru menjauhkan kita dari "rumah" yang sebenarnya.
Tentang Kejujuran Menjadi Rapuh
Ada satu momen krusial dalam lagu ini yang menceritakan tentang "sujud yang tertunda." Ini adalah refleksi tentang kesombongan manusia yang sering merasa bisa berdiri sendiri tanpa bimbingan Tuhan.
"Banyak jalan kutapaki, tapi hatiku tetap hampa. Berpura-pura kuat tiap hari, padahal jiwaku retak..."
Bagian ini adalah pengakuan dosa yang paling intim. Pencipta lagu ingin menyampaikan bahwa tidak apa-apa untuk mengaku rapuh. Justru di saat kita mengaku "tersesat sendiri", di situlah rahmat Tuhan biasanya datang menyapa lebih dulu.
Mencari Ridha, Bukan Dunia
Kisah lagu ini ditutup dengan sebuah resolusi yang kuat: Bismillah. Memulai lagi bukan dengan ambisi untuk menaklukkan dunia, melainkan dengan satu niat sederhana, yaitu mencari Ridha-Nya. Karena pada akhirnya, setenang apa pun badai di luar, jika kita tidak memiliki bimbingan ke "jalan yang lurus", jiwa kita tidak akan pernah benar-benar sampai ke tujuan.
Melalui lagu ini, MBuH MuSiC ingin mengajak kita semua untuk kembali membaca "peta" yang ada di dalam saku kita selama ini, dan benar-benar meminta arah kepada pemilik jalan yang sesungguhnya.
1 week ago | [YT] | 1
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
MBuH MuSiC Rilis "Jalan yang Lurus": Manifesto Surah Al-Fatihah dalam Untaian Nada
Jakarta, 2026 – Memahami bahwa setiap Muslim melafalkan Surah Al-Fatihah belasan kali dalam sehari, kolektif kreatif MBuH MuSiC mencoba menerjemahkan esensi doa tersebut ke dalam sebuah karya musikal yang intim. Single terbaru mereka, "Jalan yang Lurus", kini hadir sebagai refleksi mendalam atas permohonan hidayah manusia di tengah kompleksitas zaman.
Menghidupkan Doa dalam Keseharian
"Jalan yang Lurus" bukan sekadar lagu religi musiman. Ini adalah sebuah usaha untuk membumikan teks suci Al-Fatihah ke dalam konteks pergulatan batin manusia modern. Di saat kita sering kali membaca doa tersebut secara mekanis, lagu ini mengajak kita berhenti sejenak dan benar-benar meresapi apa artinya meminta bimbingan di tengah dunia yang penuh dengan distraksi digital serta ambisi materi yang menyesatkan.
Karya ini menekankan bahwa hidayah bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah proses "pulang" yang harus diperjuangkan setiap hari—terutama saat jiwa merasa retak dan langkah terasa hampa. Melalui aransemen yang menyentuh, MBuH MuSiC mengingatkan bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial dan kejujuran nurani.
________________________________________
Kisah di Balik Lagu: Menemukan Terang di Balik Ayat
Sebuah Jawaban di Tengah Kebisingan Subuh Pernahkah Anda merasa tetap "lapar" meskipun sudah makan? Merasa "tersesat" justru di saat semua GPS di tangan Anda menyala? Itulah titik awal lahirnya lagu ini. "Jalan yang Lurus" tidak lahir di atas panggung yang megah, melainkan dari sebuah perenungan sunyi di pagi buta. Saat dunia masih tertidur dan hiruk-pikuk ambisi sejenak berhenti, muncul sebuah pertanyaan jujur: "Untuk apa semua ini jika jiwa tetap merasa retak?"
Al-Fatihah: Peta yang Terlupa di Dalam Saku Inspirasi utama lagu ini adalah Surah Al-Fatihah, khususnya ayat Ihdinas-siratal-mustaqim. Kita melafalkannya minimal 17 kali sehari dalam salat, namun sering kali ia hanya menjadi rutinitas lisan yang kehilangan maknanya. Lagu ini adalah upaya untuk "menemukan kembali" peta yang terlupa itu. Penulis lirik merasa bahwa manusia modern sering kali terjebak dalam "cahaya palsu"—harta, tahta, dan validasi manusia—yang dikira sebagai jalan kebahagiaan, padahal justru menjauhkan kita dari "rumah" yang sebenarnya.
Tentang Kejujuran Menjadi Rapuh Lagu ini menyoroti momen krusial tentang "sujud yang tertunda." Sebuah refleksi tentang kesombongan manusia yang sering merasa bisa berdiri sendiri tanpa bimbingan Tuhan.
"Banyak jalan kutapaki, tapi hatiku tetap hampa. Berpura-pura kuat tiap hari, padahal jiwaku retak..."
Bagian ini adalah pengakuan dosa yang paling intim. MBuH MuSiC ingin menyampaikan bahwa tidak apa-apa untuk mengaku rapuh. Justru di saat kita berani mengakui bahwa kita "tersesat sendiri", di situlah rahmat Tuhan biasanya datang menyapa lebih dulu.
Mencari Ridha, Bukan Dunia Kisah lagu ini ditutup dengan sebuah resolusi yang kuat: Bismillah. Memulai lagi bukan dengan ambisi untuk menaklukkan dunia, melainkan dengan satu niat sederhana: mencari Ridha-Nya. Karena pada akhirnya, setenang apa pun badai di luar, jika kita tidak memiliki bimbingan ke "jalan yang lurus", jiwa tidak akan pernah benar-benar sampai ke tujuan.
________________________________________
Informasi Produksi
• Judul Lagu: Jalan yang Lurus
• Artis: MBuH MuSiC
• Tema Utama: Refleksi Surah Al-Fatihah & Pencarian Hidayah
• Pesan Utama: Mengajak audiens untuk kembali membaca "peta" kehidupan yang selama ini ada di dalam saku, dan benar-benar meminta arah kepada Pemilik Jalan yang sesungguhnya.
Tentang MBuH MuSiC: MBuH MuSiC adalah kolektif musik yang bergerak di persimpangan spiritualitas dan kritik sosial. Dengan filosofi "Mbuh" (kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan), mereka memproduksi karya yang jujur, reflektif, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Now Streaming On:
open.spotify.com/track/20URTL5SH25zFXZsCTcAPq
music.apple.com/us/song/jalan-yang-lurus/186581106…
https://www.youtube.com/watch?v=-9dv-...
https://youtu.be/xkC7uTQg2wE
1 week ago | [YT] | 7
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Apa pendapatmu...???
1 week ago | [YT] | 1
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Bantu Vote ya...
distrokid.com/spotlight/mbuhmusic/vote/
2 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Banyak yang bilang, zaman sekarang kalau mau bantu orang harus ada kamera dulu biar sah. Menurut kalian, mana yang lebih parah?
Dengerin keresahan kami selengkapnya di lagu terbaru: "Relawan Salah Jalan".
https://youtu.be/g8G2iu75iwE?si=nQUB8...
3 weeks ago | [YT] | 6
View 4 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Ini bukan lagu kemarahan buta.
Ini adalah ratapan cinta kepada negeri —
tentang kehilangan yang berulang,
dan keyakinan bahwa api perjuangan masih hidup di dada.
KEHILANGAN adalah doa yang dinyanyikan dengan luka,
namun tetap percaya…
bahwa harapan bisa tumbuh kembali.
3 weeks ago | [YT] | 1
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Indonesia Milik Siapa?
MBuH MuSiC tidak merilis lagu ini untuk menghibur.
“Indonesia Milik Siapa?” lahir bukan sebagai latar suara, melainkan sebagai pertanyaan yang sengaja dibiarkan menggantung—tidak nyaman, tidak manis, dan tidak mencari persetujuan.
Lagu ini berangkat dari satu kegelisahan sederhana: di tengah narasi tentang kemajuan, stabilitas, dan optimisme nasional, semakin banyak orang merasa menjadi penonton di negeri sendiri. Kita hidup di negara yang katanya kaya, namun terlalu sering sibuk mempertahankan citra daripada memperbaiki luka. Janji berganti musim, sementara realitas berjalan di tempat.
“Indonesia Milik Siapa?” tidak menunjuk nama. Tidak pula meneriakkan slogan. Justru di situlah kekuatannya. Lagu ini memilih jalur yang lebih sunyi namun tajam: menyusun potret tentang bagaimana suara jujur sering terasa asing, bagaimana kesabaran dijadikan kewajiban sepihak, dan bagaimana kata “rakyat” kerap dipakai tanpa benar-benar dihadirkan.
Secara musikal, MBuH MuSiC membungkus keresahan ini dalam energi yang gelap, groovy, dan menekan. Ritme berjalan seperti realitas—maju terus tanpa menunggu siapa pun siap. Vokal tidak berteriak untuk menggurui, tetapi hadir sebagai suara yang sadar: sinis, lelah, namun belum menyerah. Ini bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam dan akhirnya bicara dengan kepala dingin.
Lagu ini juga tidak menawarkan jawaban instan. Pertanyaan “Indonesia milik siapa?” dibiarkan berulang, karena memang itulah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Jawaban selalu berubah tergantung siapa yang memegang mikrofon, siapa yang menguasai panggung, dan siapa yang hanya kebagian lampu redup di pinggir arena.
Namun di balik kritiknya, lagu ini tidak sepenuhnya nihil. Ada satu sikap yang jelas: bertahan. Bukan karena ilusi, bukan karena janji, melainkan karena cinta yang keras kepala. Cinta yang sadar bahwa negeri ini tidak sempurna, bahkan sering melukai, tetapi tetap layak diperjuangkan—minimal dengan cara bertanya, bersuara, dan tidak pura-pura baik-baik saja.
“Indonesia Milik Siapa?” adalah lagu untuk mereka yang masih bangun pagi meski mimpi buruk belum selesai. Untuk mereka yang tetap bekerja, tetap berpikir, tetap merasa, meski sering hanya menjadi figuran dalam keputusan besar. Lagu ini bukan ajakan untuk membenci negeri sendiri, melainkan penolakan untuk mencintainya secara buta.
MBuH MuSiC mempersembahkan lagu ini sebagai pengingat:
bahwa bertanya adalah bentuk kepedulian,
bahwa kritik adalah bagian dari cinta,
dan bahwa diam terlalu lama hanya membuat panggung semakin retak.
Indonesia milik siapa?
Selama pertanyaan itu masih diulang, perjuangan belum selesai.
4 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
MBUH MUSIC INDONESIA
Sebuah Surat Cinta yang Pahit...🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Ada yang bilang, jika kita menutup mata cukup lama, kegelapan akan terasa seperti kenyataan. Mereka bilang kita baik-baik saja.
Tapi, bagaimana dengan ayah yang pulang dengan tangan hampa?
Bagaimana dengan suara-suara yang tenggelam di balik megahnya gedung pencakar langit?
"INDONESIA BAIK-BAIK SAJA" adalah sebuah gugatan kecil dalam bentuk nada.
Tentang janji yang menjadi sandiwara, dan doa rakyat yang seringkali hanya berakhir sebagai suara sayup di telinga mereka yang tertawa di meja kekuasaan.
Lagu ini adalah untuk kita yang masih berani bertanya.
Untuk kita yang masih bisa merasakan perih meski diberitahu semuanya aman-aman saja.
Sudah tersedia di Spotify dan platform lainnya. Mari mendengar dengan hati yang terbuka.
1 month ago | [YT] | 1
View 0 replies
Load more