Laporan Tambang Ilegal ke Polresta Banyuwangi Sudah 4 Bulan Kenapa Tersangkanya Belum Ditemukan? -Eksklusif Wawancara dengan Bapak Hasyim Pelapor Dugaan Tambang Ilegal Kelurahan Bulusan, Kec. Kalipuro, Kab. Banyuwangi. www.naufallawyer.com/2025/10/laporan-ke-polresta-b…
Asal Mula Fenomena Joget-Joget yang Kemudian Memicu Kemarahan Rakyat www.naufallawyer.com/2025/09/asal-mula-fenomena-jo… Banyuwangi – Aktivis Islam asal Banyuwangi, Ustad Ihsan Subaji, menyoroti fenomena joget-joget dalam acara kenegaraan yang menurutnya menjadi pemicu kemarahan publik dan gelombang demonstrasi besar belakangan ini. #NaufalLawyer - www.NaufalLawyer.com
📢 Di episode perdana tahun ini, kita hadirkan suara langsung dari Bapak Hasyim – warga Kampung Baru, Kalipuro, sekaligus pelapor kasus tambang ilegal galian C di Kelurahan Bulusan, Banyuwangi.
Beliau menyampaikan keresahan masyarakat atas kerusakan lingkungan 🌱, rasa gelisah yang belum terjawab ⚖️, sekaligus apresiasi kepada Polresta Banyuwangi yang sudah memproses laporan ini.
🔊 Dengarkan pernyataan lengkapnya, agar suara rakyat kecil bisa benar-benar sampai ke telinga pihak berwenang 🙏.
Ebenezer dan Krisis Moral Politik: Politik Para Hipokrit !
Muhammad Naufal Taftazani | #NaufalLawyer www.naufallawyer.com/2025/08/ebenezer-dan-krisis-m… Kasus korupsi yang menyeret Ebenezer jelas bukan sekadar soal seorang politisi yang jatuh karena kesalahan pribadi. Ia lebih mirip sebuah drama politik yang mempertontonkan betapa jauhnya jarak antara narasi moral dan praktik kekuasaan di negeri ini.
Kita sering mendengar korupsi disebut sebagai extraordinary crime—kejahatan luar biasa yang merusak sendi keadilan sosial dan menghancurkan kepercayaan publik terhadap negara hukum. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Justru korupsi muncul berulang kali, nyaris seperti rutinitas, seakan sudah menjadi bagian dari mekanisme normal politik Indonesia.
Kalau kita menoleh ke belakang, jelas ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Korupsi telah menjelma semacam “tradisi gelap” dalam politik modern kita. Mereka yang seharusnya mengemban amanah rakyat justru tega mengkhianatinya. Ebenezer hanyalah salah satu nama terbaru dalam daftar panjang para pejabat yang terseret arus kepentingan dan godaan kekuasaan.
Maka, alih-alih kita menganggap ini sebagai anomali, kasus Ebenezer justru menegaskan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar yang salah. Demokrasi kita masih berjalan dengan logika transaksional, dan lembaga hukum yang mestinya jadi benteng malah rapuh di hadapan tekanan politik.
Kalau kita menengok ke belakang, ada dua momen penting ketika Immanuel “Noel” Ebenezer menyuarakan gagasan ekstrem soal hukuman mati bagi koruptor. Pertama, pada 2 Februari 2021, lewat unggahan di akun X (dulu Twitter), ia menulis dengan lantang: “Kembali ke Pokok Persoalan Bangsa ini. HUKUM MATI KORUPTOR !!!” seraya menandai beberapa tokoh publik seperti Susi Pudjiastuti, Presiden Jokowi, dan Erick Thohir. Saat itu, pernyataan Noel terasa heroik, seperti ajakan keras untuk menegakkan keadilan yang tak bisa ditawar.
Setahun kemudian, tepatnya 14 Januari 2022, ia kembali menegaskan sikapnya ketika melaporkan dosen Ubedilah Badrun ke Polda Metro Jaya. Di hadapan media, Noel menyebut dirinya sebagai “satu-satunya aktivis yang punya komitmen bahwa korupsi harus dihukum mati”. Kalimat itu menegaskan konsistensi retoriknya: ia menempatkan korupsi sebagai musuh utama bangsa, yang pantas diganjar dengan hukuman paling keras.
Namun, justru di titik inilah ironi itu muncul. Retorika keras yang dulu ia gaungkan kini berbalik menghantam dirinya. Publik menagih janji moral yang pernah ia ucapkan. Di sinilah kita melihat problem mendasar politik Indonesia: moralitas sering dijadikan alat retorika, bukan fondasi etis yang sungguh-sungguh dihayati. Apa yang dulu terdengar heroik kini terasa seperti satir tragis. Dan dari sini, kritik dialektis pun lahir—apakah kita sedang berhadapan dengan kejatuhan personal seorang politisi, atau justru menyaksikan bagaimana hipokrisi sudah menjadi bagian yang lumrah dari budaya politik kita?
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
5 Tahun Mengabdi, Tiba-Tiba Dituduh Mencuri Cincin Bos: Kisah Pilu Pekerja yang Diperlakukan Tak Adil
#NaufalLawyer – www.NaufalLawyer.com – Muhammad Naufal Taftazani, S.H.
www.naufallawyer.com/2025/11/5-tahun-mengabdi-tiba…
[ Naufal Lawyer ]
2 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Laporan Tambang Ilegal ke Polresta Banyuwangi Sudah 4 Bulan Kenapa Tersangkanya Belum Ditemukan?
-Eksklusif Wawancara dengan Bapak Hasyim Pelapor Dugaan Tambang Ilegal Kelurahan Bulusan, Kec. Kalipuro, Kab. Banyuwangi.
www.naufallawyer.com/2025/10/laporan-ke-polresta-b…
3 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Antara Gizi dan Kapital: Siapa Sebenarnya Diuntungkan Program MBG?
#NaufalLawyer - Muhammad Naufal Taftazani
www.naufallawyer.com/2025/09/antara-gizi-dan-kapit…
3 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Asal Mula Fenomena Joget-Joget yang Kemudian Memicu Kemarahan Rakyat
www.naufallawyer.com/2025/09/asal-mula-fenomena-jo…
Banyuwangi – Aktivis Islam asal Banyuwangi, Ustad Ihsan Subaji, menyoroti fenomena joget-joget dalam acara kenegaraan yang menurutnya menjadi pemicu kemarahan publik dan gelombang demonstrasi besar belakangan ini. #NaufalLawyer - www.NaufalLawyer.com
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Wakil Rakyat 'Negeri' vs Wakil Rakyat 'Swasta': Sebuah Renungan tentang Arti Sebenarnya dari Melayani
www.naufallawyer.com/2025/08/wakil-rakyat-negeri-v…
Agustus 29, 2025 - Muhammad Naufal Taftazani #NaufalLawyer
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
🔥 “Demo Ricuh DPR RI Memakan Korban”
🎙️ Banyuwangi Aktivis Podcast #NaufalLawyer – Episode 2
Episode kedua ini menghadirkan diskusi hangat dan kritis seputar demo ricuh di DPR RI yang memakan korban, termasuk kisah tragis Affan Kurniawan, seorang driver ojek online.
Host : Muhammad Naufal Taftazani - www.NaufalLawyer.com Tamu / Para Aktivis Pembicara :
1. Abdul Basir, S.H. ( 00:01:33:19 )
2. M. Arief Akbar ( 00:05:14:29 )
3. Capt. Rudi Kamseno ( 00:07:09:21 )
4. Arief Wicaksono, S.H. ( 00:09:58:09 )
🎧 Suara rakyat, keadilan, dan solidaritas ✊✨
Mari dengarkan, renungkan, dan sebarkan!
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Demo Ricuh DPR RI Memakan Korban, Suara Aktivis Banyuwangi Menggema di Podcast #NaufalLawyer
Baca selengkapnya :
www.naufallawyer.com/2025/08/demo-ricuh-dpr-ri-mem…
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Kasus Dugaan Tambang Ilegal di Kalipuro Masuk Tahap Penyelidikan, Warga Tunggu Penetapan Tersangka
baca selengkapnya :
www.naufallawyer.com/2025/08/kasus-dugaan-tambang-…
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Episode 1 – Masuk Tahap Penyelidikan: Kasus Dugaan Tambang Ilegal Kalipuro
🛑 Warga: Terima Kasih Polresta, Kami Menunggu Penetapan Tersangka
🎙️ Banyuwangi Aktivis Podcast (BAP) #NaufalLawyer – Edisi 2025
Host : #NaufalLawyer - Muhammad Naufal Taftazani | www.NaufalLawyer.com
Guest : Bapak Hasyim (Pelapor Tambang Ilegal)
📢 Di episode perdana tahun ini, kita hadirkan suara langsung dari Bapak Hasyim – warga Kampung Baru, Kalipuro, sekaligus pelapor kasus tambang ilegal galian C di Kelurahan Bulusan, Banyuwangi.
Beliau menyampaikan keresahan masyarakat atas kerusakan lingkungan 🌱, rasa gelisah yang belum terjawab ⚖️, sekaligus apresiasi kepada Polresta Banyuwangi yang sudah memproses laporan ini.
🔊 Dengarkan pernyataan lengkapnya, agar suara rakyat kecil bisa benar-benar sampai ke telinga pihak berwenang 🙏.
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Muhammad Naufal Taftazani , S.H • NAUFAL Lawyer
Ebenezer dan Krisis Moral Politik: Politik Para Hipokrit !
Muhammad Naufal Taftazani | #NaufalLawyer
www.naufallawyer.com/2025/08/ebenezer-dan-krisis-m…
Kasus korupsi yang menyeret Ebenezer jelas bukan sekadar soal seorang politisi yang jatuh karena kesalahan pribadi. Ia lebih mirip sebuah drama politik yang mempertontonkan betapa jauhnya jarak antara narasi moral dan praktik kekuasaan di negeri ini.
Kita sering mendengar korupsi disebut sebagai extraordinary crime—kejahatan luar biasa yang merusak sendi keadilan sosial dan menghancurkan kepercayaan publik terhadap negara hukum. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Justru korupsi muncul berulang kali, nyaris seperti rutinitas, seakan sudah menjadi bagian dari mekanisme normal politik Indonesia.
Kalau kita menoleh ke belakang, jelas ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Korupsi telah menjelma semacam “tradisi gelap” dalam politik modern kita. Mereka yang seharusnya mengemban amanah rakyat justru tega mengkhianatinya. Ebenezer hanyalah salah satu nama terbaru dalam daftar panjang para pejabat yang terseret arus kepentingan dan godaan kekuasaan.
Maka, alih-alih kita menganggap ini sebagai anomali, kasus Ebenezer justru menegaskan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar yang salah. Demokrasi kita masih berjalan dengan logika transaksional, dan lembaga hukum yang mestinya jadi benteng malah rapuh di hadapan tekanan politik.
Kalau kita menengok ke belakang, ada dua momen penting ketika Immanuel “Noel” Ebenezer menyuarakan gagasan ekstrem soal hukuman mati bagi koruptor. Pertama, pada 2 Februari 2021, lewat unggahan di akun X (dulu Twitter), ia menulis dengan lantang: “Kembali ke Pokok Persoalan Bangsa ini. HUKUM MATI KORUPTOR !!!” seraya menandai beberapa tokoh publik seperti Susi Pudjiastuti, Presiden Jokowi, dan Erick Thohir. Saat itu, pernyataan Noel terasa heroik, seperti ajakan keras untuk menegakkan keadilan yang tak bisa ditawar.
Setahun kemudian, tepatnya 14 Januari 2022, ia kembali menegaskan sikapnya ketika melaporkan dosen Ubedilah Badrun ke Polda Metro Jaya. Di hadapan media, Noel menyebut dirinya sebagai “satu-satunya aktivis yang punya komitmen bahwa korupsi harus dihukum mati”. Kalimat itu menegaskan konsistensi retoriknya: ia menempatkan korupsi sebagai musuh utama bangsa, yang pantas diganjar dengan hukuman paling keras.
Namun, justru di titik inilah ironi itu muncul. Retorika keras yang dulu ia gaungkan kini berbalik menghantam dirinya. Publik menagih janji moral yang pernah ia ucapkan. Di sinilah kita melihat problem mendasar politik Indonesia: moralitas sering dijadikan alat retorika, bukan fondasi etis yang sungguh-sungguh dihayati. Apa yang dulu terdengar heroik kini terasa seperti satir tragis. Dan dari sini, kritik dialektis pun lahir—apakah kita sedang berhadapan dengan kejatuhan personal seorang politisi, atau justru menyaksikan bagaimana hipokrisi sudah menjadi bagian yang lumrah dari budaya politik kita?
4 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Load more