Teman-teman ATLM.... Kali ini kita bahas secara ringkas panel apa saja yang penting terkait pengendalian hipertensi secara laboratorium terutama pemeriksaan khusus. Secara spesifik tidak banyak mendukung dalam diagnosis kasus hipertensi, namun dapat menjadi salah satu panel penting bagi laboratorium dalam kasus hipertensi.
1. Cystatin-C Pemeriksaan ini untuk melihat fungsi ginjal sebagai parameter sensitif dan spesifik GFR. Masih belum banyak dipakai karena harga pemeriksaan tergolong mahal.
2. Renin dan Aldosteron Renin sebagai PRA untuk melihat pemantauan terapi mineralokortikoid bersama aldosteron. Renin berperan dalam eprubahan angiotensinogem menjadi angiotensin. Pemantauan aldosteron melihat homeostasis K+ Na+ dan dalam tekanan darah oleh ginjal. Aldosteron pengontrol utama konsentrasi kalium serum.
3. Kortisol Terkait dengan Cushing's syndrome, meingkat apda penyakit ini. Kortisol urine untuk evaluasi fungsi korteks adrenal.
4. Urea dan kreatinin Melihat fungsi ginjal secara umum. Adanya gangguan ginjal, dapat berupa kenaikan kadar keduanya dalam darah.
5. Mikroalbuminuria Kasus hipertensi esensial, mikroalbuminuria memprediksi insiden penyakit kardiovaskuler. Mikroalbuminuria melihat disfungsi sistemik endotel vaskuler. Mikroalbumin juga berperan dalam kasus nefropati diabetik yang menyertai hipertensi.
6. Profil Lipid Melihat penyebab hipertensi, pada kasus aterosklerosis. Naik turun nya HDL LDL berperan dalam pembentuk plak aterosklerosis. Kadar LDL yang tinggi menjadi warning dalam pembentukan LDL radikal, berupa LDL teroksidasi. Yang akan dimakan makrofag, lalu membentuk benjolan ateroma sebagai foam cell.
7. Elektrolit Darah Pemeriksaan elektrolit K+, Na+, Cl- dan Ca2+ mendukung dalam evaluasi terapi. Kalium serum dan natrium serum menjadi hal penting dalam pemantauan dan pengendalian hipertensi.
Teman-teman ATLM.... Kali ini kita bahas secara singkat strategi gangguan tiroid secara laboratorium untuk diagnosis efisien dan lebih baik dan tajam. Cukup dengan pemeriksaan TSHs dan FT4.
Pilihan paling optimal menentukan status Tiroid apakah, Hipotiroid, Eutiroid atau Hipertiroid.
Gabungan TSHs dan FT4 memiliki sensitifitas yang tinggi dan spesifisitas yang tinggi juga. FT4 dan TSHs memberikan pendekatan diagnostik lebih realistik untuk diagnosis dan terapi penyakit tiroid.
TSHs TSH diperlukan untuk dugaan hipotiroid atau hipertiroid. Merupakan tes terbaik untuk skrining fungsi tiroid abnormal. TSH menggantikan T4 sebagai First Line Test untuk evaluasi fungsi tiroid.
Nilai klinis utama pengukuran TSHs untuk diagnosis hipotiroidisme (primer, sekunder atau tersier) dan Hipertiroidisme.
FT4 Diperlukan untuk menegaskan diagnosis penyakit tiroid sebagai tambahan untuk TSHs. FT4 menentukan T4 aktif. FT4 mengukur T4 bebas secara langsung. FT4 tidak dipengaruhi oleh perubahan tiroid binding globulin (TBG).
Tambahan: FT3 FT3 diperiksa bila diagnosis kurang jelas hasil pemeriksaan TSH dan FT4. FT3 tidak rendah, T4 normal dan T3 meningkat, maka disebut T3 toksikosis yang dipengaruhi oleh TBG.
Maka lanjut periksa T3 Total, untuk mendeteksi kasus T3 toksikosis, dengan hipertiroid, tapi FT4 normal, T3 meningkat.
Demikian semoga bermanfaat buat, teman-teman semua. Silahkan share.
Teman-teman ATLM..... Salah satu golongan darah yang jarang ditemukan dan perlu kita bahas adalah Golongan Darah Oh Bombay. Golongan darah ini ditemukan Bhende di Bombay tahun 1952.
Ciri khas golongan darah ini saat diperiksa sistem ABO akan sama dengan golongan darah O, namun bukan golongan darah O. Golongan darah Oh Bombay fenotipe hh, tidak mengekpresikan antigen H substansi. Pasien tidak boleh di transfusikan O biasa, tapi harus sesama Oh Bombay.
Saat uji golongan darah tabung, maka akan terjadi aglutinasi pada sel O dan anti H negatif. Sehingga ditulis sebagai Oh Bombay. Jadi apabila tidak menggunakan sel A, sel B dan Sel O maka kemungkinan diinterpretasikan sebagai golongan darah O.
Penyebaran Golongan darah Oh Bombay diwilayah Indonesia barat lebih tinggi, mengingat sebaran dari India paking dekat Indonesia, misal mulai Aceh hingga Pulau Jawa dan Kalimantan Barat.
Secara umum golongan darah Oh Bombay ini kasusnya jarang ditemukan. Lebih dari 99.9% individu HH atau Hh, hanya 0.1% hh. Gen h tidak memproduksi L-fucocyltransferase. Mempunyai anti-A, anti-B dan anti-H.
Apakah teman-teman yang bekerja di UTDRS UTDPMI pernah menemukan kasus Golongan darah Oh Bombay??
Teman-teman ATLM..... Pemeriksaan Profil Lipid merupakan pemeriksaan yang mungkin diperiksa tiap hari di pelayanan laboratorium. Pemeriksaan meliputi 4 parameter: Cholesterol, Trigliserida, HDL dan LDL.
Pemeriksaan Cholesterol (TC), Trigliserida (TG) dan HDL-C dilakukan secara direk analisis, sementara beberapa laboratorium dengan melakukan penghitungan Friedewald Equation untuk LDL-C. Namun ada pula yang pengukuran langsung enzimatik LDL cholesterol. Pengukuran HDL-C enzimatik lebih baik ketimbang HDL-C pengendapan Fosfowolframat.
Namun kekurangan rumus ini tidak bisa dipakai bila pada kondisi: 1. TG > 400 mg/dl 2. Non-Fasting Sample (karena Chylomicron tinggi). Rumus tidak berlaku bila pasien tidak puasa. 3. Type III pasien (beta-VLDL, dengan rasio TG:C = 3:1).
Pengukuran LDL-C langsung menggunakan Reagensia LDL cara terbaik karena tidak terpengaruh dengan kadar Trigliserida tinggi > 400 mg/dl. Lebih setuju pakai pemeriksaan ini ketimbang perhitungan Friedewald Equation yang tidak akurat.
CRR Merupakan Cardiac Risk Ratio. Perhitungan tambahan, dengan melihat rasio TC dengan HDL-C. CRR = TC/HDL-C Guna: Untuk melihat risiko penyakit jantung koroner Normal: 3.3 - 5.7
Rasio TG:HDL CADP = TG/HDL-C Ini dikenal sebagai Prediktor Independen Arteri Koronari (CADP). Digunakan untuk studi sindrom metabolik, gangguan kardiometabolik, prediksi risiko penyakit jantung, serta dikaitkan dengan resistensi insulin pada DM. Pemeriksaan ini merupakan prediktor kejadian koroner di maka mendatang. Interpretasi: Normal = < 2.0 Risiko rendah = 2 - 4 Risiko Tinggi = > 4 Risiko Sangat Tinggi = > 6
Jadi Idealnya dalam pelaporan laboratorium ada 6 parameter pemeriksaan yang dilaporkan: TC, TG, HDL-C, LDL-C, CRR dan CAPD.
Catatan: Pasien dengan pemeriksaan faal lemak ini idealnya berpuasa 12 jam. Beberapa sumber mengatakan 9-12 jam, 12-14 jam.
Pengukuran Lebih Lanjut dalam Lipoprotein dikenal dengan mengukur kadar protein di dalamnya, maka dikenal ApoA1 (Protein HDL) dan Apo B100 (Protein LDL). Mungkin akan kita bahas nanti.
Teman-Teman ATLM..... Dalam urinalisis harian, kadang ada kesulitan untuk membedakan kasus hemoglobinuria dan hematuria. Berikut ini ulasan singkat.
1. Makroskopik: Hemoglobinuria dapat dibedakan dari hematuria dengan melihat makroskopik urine warna merah, lalu dilakukan sentrifugasi urine, warna tetap merah dan tidak ada endapan eritrosit, maka kasus hemoglobinuria.
Sementara kasus hematuria Tampak warna urine merah keruh dan bila disentrifugasi akan menghasilkan endapan sel eritrosit, dan supernatan jernih.
2. Kimia Multistik Blood: Bantalan stik blood kasus hematuria akan berupa bintik-bintik hijau. Sementara kasus Hemoglobinuria tampak warna hijau merata warnanya.
3. Sedimen urine: Kasus hemoglobinuria, sedimen urine tidak ditemukan eritrosit, mungkin ditemukan Silinder hemoglobin. Sementara kasus hematuria banyak ditemukan sel eritrosit, bahkan penuh dalam lapang pandang, dan mungkin ditemukan silinder RBC.
Kesimpulan: Hematuria= keruh merah, blood bintik hijau dan banyak eritrosit di sedimen
Hemoglobinuria= jernih merah, blood hijau merata, eritrosit tidak ditemukan di sedimen
*************************************** Tambahan: Hematuria dan hemoglobinuria bisa saja bersamaan dalam urine, sehingga kedua parameter ini tidak bisa dibedakan.
MEMBEDAKAN URINE DARI CAIRAN LAIN KASUS DRUG ABUSE
Teman-teman ATLM..... Kebenaran spesimen urine didapatkan dari pasien dapat dibuktikan dengan beberapa uji spesifik. Kadang kala uji Drug Abuse (Narkoba) dapat saja urine ditukar dengan Air teh, air pewarna kuning, urine sintetik atau sejenisnya. Jangan langsung periksa rapid narkoba, tapi pastikan dulu urinenya
Kali ini saya bahas bagaimana cara menyiasatinya agar urine representatif sebagai spesimen uji Drug Abuse 6 golongan. Biar memang positif harus positif, bukan lantaran diganti air kuning jadi negatif. Hal ini akan menjadi kabur diagnosis karena urine yang tidak valid.
CIRI KHAS URINE Dalam urine terkandung Urea, kreatinin tinggi. Adanya Bahan terlarut Sulfat, karbonat, Fosfat, oksalat, serta pigmen Urobilinogen menjadi pembeda dari cairan manapun.
Langkah membedakan urine dari cairan lain kasus Drug Abuse dengan Chain Custody: 1. Pastikan tersangka berkemih dihadapan petugas Sipir penjara atau Polisi. 2. Bila urine baru dikemihkan pasti hangat, segar, bau khas. 3. Lakukan uji endapan putih sulfat, karbonat, oksalat, fosfat dengan larutan BaCl2 10%. 4. Boleh lakukan uji Urobilinogen dalam urine segar (<1 jam) dengan reagen Ehrlich (Muncul Warna merah) 5. Uji adanya kreatinine dengan reagen Jaffe maka muncul warna Orange, bukti benar urine 6. Uji kadar urine bisa dilakukan juga dengan teknik Berthelot maka muncul warna hijau.
Kesimpulan yang dipilih: 1. Uji BaCl2 10% menghasilkan endapan paling mudah dilakukan 2. Uji Creatinine dengan reagen Jaffe muncul warna Orange (uji paling spesifik urine)
Bila sudah benar dan yakin urine tersangka, maka bisa lanjut ke uji drug Abuse untuk menentukan metabolit MET, AMP, BZO, THC, MOR, OPT, COC.
Penjelasan ringkas: Urine merupakan cairan dengan kadar urea kreatinin paling tertinggi dibandingkan cairan tubuh lain, baik serum, LCS, transudat eksudat, pleura, ascites, sperma dan lainnya. Didalam urine sintetik, air diberi pewarna, air teh akan beraksi negatif jika diuji BaCl2 10% dan Uji Kreatinine Jaffe.
Demikian, ulasan singkat semoga bermanfaat dan membantu pemecahan masalah di laboratorium. Silakan share. Tabik.
Teman-teman ATLM..... Penegakan Diagnosis Malaria menggunakan Mikroskopik slide sediaan darah tebal dan tipis diwarnai Giemsa merupakan "Gold Standard".
Mengapa Gold Standard? Karena pasien sakit dan sembuh setelah mendapatkan pengobatan dapat diketahui berdasarkan stadium yang muncul didalam darah tepi. Adanya bentuk Tropozoit dan Schizon menggambarkan infeksi berlangsung dan mungkin sebagian siklus akan membentuk gametogoni, pembentukan Gametosit.
Bila pemberian obat malaria, maka akan tersisa stadium gametosit dalam darah. Mungkin sebagai tanda proses penyembuhan pasien. Dan gejala klinis demam panas berkeringat mungkin sudah hilang.
Malaria RDT menjanjikan hasil yang lebih cepat tanpa perlu keterampilan khusus dalam melakukan uji. Namun, setelah dibandingkan dengan Malaria Slide, maka mungkin saja ditemukan positif palsu dengan masih terbentuk garis pada uji rapid. Padahal pasien secara klinis sudah sembuh.
Hasil positif palsu ini karena deteksi malaria RDT berdasarkan protein dari plasmodium, misal Histidine Rich Protein II (HRP 2) dan enzim pLDH.
Adanya pengobatan, protein ini masih ada dalam peredaran darah sehingga dapat dideteksi sebagai positif pada orang selesai pengobatan malaria. Juga adanya enzim pLDH pada fase aseksual dan seksual dari parasit.
Sehingga secara spesifisitas uji masih kalah jika dibandingkan dengan Malaria Slide. Demikin juga sensitifitas tidak mampu setara dengan malaria slide karena mungkin saja ada hasil yang negatif, karena terkait dengan stadium dan kepadatan parasit.
Kita tahu, ya... HRP 2 dihasilkan oleh tropozoit dan Gametosit muda falciparum. Dapat dideteksi dalam sirkulasi antigen ini dalam 68% pasien dengan pengobatan dalam 7 hari, 27% setelah pengobatan 28 hari.
Sementara, pLDH pada vivax dan malariae juga hampir serupa kondisinya dengan HRP 2.
Namun, dalam penyelidikan epidemiologi dan pemetaan kasus malaria endemik dapat digunakan RDT untuk hasil cepat dan memadai sensitifitas dan spesifisitas.
Sebagai catatan: Malaria RDT dapat digunakan pada sumber daya terbatas, tidak ada mikroskop dan di luar jam dinas puskesmas, misal malam hari. Mempercepat keputusan terapi pasien
Sementara malaria Mikroskopik Slide sangat baik untuk penegakan diagnosis malaria, jenis spesies dan evaluasi hasil pengobatan pasien. Disisi lain tingkat keparahan dapat dilihat dengan kepadatan parasit dan mix infection. Namun perlu keterampilan tenaga dan mensyaratkan pelatihan untuk hasil lebih baik.
Teman-teman ATLM Indonesia.... Kali ini kita bahas teknik pengukuran Platelet secara khusus menggunakan zat Fluorescens sehingga disebut PLT-F pada alat Sysmex XN-1000 (bagi pengguna silahkan mengumpul).
PLT-F channel pada alat hematology Analyzer digunakan untuk hitung PLT dengan pewarna Fluorescens khusus. Maka disini akan muncul Immature Platelet Fraction (IPF). Secara khusus zat ini mewarnai retikulum platelet muda.
Teknik pengukuran ini 5 kali lebih banyak sel dihitung sehingga lebih presisi dan akurasi, terutama pada kasus trombositopenia, misal kasus infeksi DBD pasien dengan anemia kurang zat besi, kasus lain lebih spesifik pada Idiopatic Thrombocytopenia Purpura (ITP).
Adanya IPF maka akan lebih bagus, karena dapat melihat tingkat maturasi sel PLT. Nilai Rujukan IPF 1-7%.
Manfaat pengukuran IPF untuk membantu diagnosis banding trombositopenia (apakah kasus aplastik, konsumtif).
Manfaat lain, sebagai prediktor awal pemulihan platelet setelah transplantasi HPC atau infeksi DBD.
IPF digunakan digunakan lebih spesifik untuk melihat penyembuhan pasien DBD dengan trombositopenia ketimbang hanya angka PLT.
Kadar IPF yang meningkat pada kasus DBD korelasi sumsum tulang akselerasi memproduksi lebih banyak trombosit dengan berbagai tingkat maturasi (H-IPF, IPF, PLT). Misal IPF 21% lebih baik ketimbang IPF 3%. Angka kesembuhan lebih besar DBD lebih tinggi bila IPF tinggi.
Sisi lain pemeriksaan PLT-F digunakan untuk membedakan populasi ukuran yang sama antara RBC (mikrosit, fragment cell, helmet cell) yang seukuran dengan PLT (PLT matur dan immatur, giant cell).
Zat Fluorescens bereaksi terhadap PLT sedangkan RBC tidak sehingga bisa dipisahkan keduanya, yang tidak mampu oleh hematology analyzer 3 DIFF impedance dan Scattergram biasa.
Misal hasil 3 diff PLT 1.000.000 sel/mm3 darah atau dengan alat Scattergram 5 Diff didapatkan 950.000 sel/mm3. Hasil ini ikut terbaca juga RBC ukuran kecil, perlu koreksi pakai PLT-F dan Hapusan Barbara Brown.
Namun dengan PLT-F dan PLT-O maka terkoreksi hasilnya setelah dipisahkan RBC, sehingga didapatkan hasil misal 350.000 sel/mm3 darah.
Hal ini juga dapat dikoreksi dengan hapusan darah dengan estimasi Barbara Brown setiap 1 PLT dilensa objektif 100x setara 20.000 sel.
Dalam kondisi pengambilan spesimen darah tidak dapat banyak maka diperlukan penampungan berukuran kecil, namun tidak mengurangi ketepatan dalam analisis di laboratorium.
Maka solusinya tabung mini berwarna biru laut ini berisi Natrium sitrat 3.2% solusinya. Cukup mengumpulkan darah 900 ul + 100 ul antikoagulan dalam tabung maka sudah siap digunakan sebagai spesimen uji hemostasis.
Kita tahu juga, Natrium sitrat 3.2% disini bekerja sebagai "chelating Agent" terhadap Calcium dalam darah menjadi senyawa kompleks mencegah aktivasi pembekuan darah.
Bila dikatakan 1 ml berisi darah, maka 40% adalah hematokrit, maka 60% atau 600 ul merupakan plasma didapat, tergantung kadar hemoglobin pasien, bila tinggi maka akan lebih rendah volime plasmanya.
500-600 ul sudah cukup untuk pemeriksaan faal hemostasis rutin seperti: APTT, PT, INR, D-Dimer dan Titer Fibrinogen.
Pastikan di homogenkan perlahan 4-5 inversi dan sentrifugasi kecepatan menengah 3000 sd 4000 rpm agar didapatkan poor platelet plasma. Beberapa literatur 3000rpm. Sejumlah besar platelet akan mengendap dilapisan buffycoat dengan rpm ini.
Mengapa harus plasma rendah platelet? Agar pemeriksaan hemostasis lebih sempurna, tidak terganggu oleh adanya platelet. Dalam kondisi tertentu tidak diperlukan adanya platelet.
ATLM Indonesia
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H Maaf Lahir Batin. Terima Kasih atas dukungan Teman-teman Youtube semua.
10 months ago | [YT] | 2
View 0 replies
ATLM Indonesia
BIOMARKER HIPERTENSI SECARA LABORATORIUM....
Teman-teman ATLM....
Kali ini kita bahas secara ringkas panel apa saja yang penting terkait pengendalian hipertensi secara laboratorium terutama pemeriksaan khusus. Secara spesifik tidak banyak mendukung dalam diagnosis kasus hipertensi, namun dapat menjadi salah satu panel penting bagi laboratorium dalam kasus hipertensi.
1. Cystatin-C
Pemeriksaan ini untuk melihat fungsi ginjal sebagai parameter sensitif dan spesifik GFR. Masih belum banyak dipakai karena harga pemeriksaan tergolong mahal.
2. Renin dan Aldosteron
Renin sebagai PRA untuk melihat pemantauan terapi mineralokortikoid bersama aldosteron. Renin berperan dalam eprubahan angiotensinogem menjadi angiotensin. Pemantauan aldosteron melihat homeostasis K+ Na+ dan dalam tekanan darah oleh ginjal. Aldosteron pengontrol utama konsentrasi kalium serum.
3. Kortisol
Terkait dengan Cushing's syndrome, meingkat apda penyakit ini. Kortisol urine untuk evaluasi fungsi korteks adrenal.
4. Urea dan kreatinin
Melihat fungsi ginjal secara umum. Adanya gangguan ginjal, dapat berupa kenaikan kadar keduanya dalam darah.
5. Mikroalbuminuria
Kasus hipertensi esensial, mikroalbuminuria memprediksi insiden penyakit kardiovaskuler. Mikroalbuminuria melihat disfungsi sistemik endotel vaskuler. Mikroalbumin juga berperan dalam kasus nefropati diabetik yang menyertai hipertensi.
6. Profil Lipid
Melihat penyebab hipertensi, pada kasus aterosklerosis. Naik turun nya HDL LDL berperan dalam pembentuk plak aterosklerosis. Kadar LDL yang tinggi menjadi warning dalam pembentukan LDL radikal, berupa LDL teroksidasi. Yang akan dimakan makrofag, lalu membentuk benjolan ateroma sebagai foam cell.
7. Elektrolit Darah
Pemeriksaan elektrolit K+, Na+, Cl- dan Ca2+ mendukung dalam evaluasi terapi. Kalium serum dan natrium serum menjadi hal penting dalam pemantauan dan pengendalian hipertensi.
Demikian, semoga bermanfaat.
10 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
ATLM Indonesia
STRATEGI DIAGNOSIS GANGGUAN FUNGSI TIROID
Teman-teman ATLM....
Kali ini kita bahas secara singkat strategi gangguan tiroid secara laboratorium untuk diagnosis efisien dan lebih baik dan tajam.
Cukup dengan pemeriksaan TSHs dan FT4.
Pilihan paling optimal menentukan status Tiroid apakah, Hipotiroid, Eutiroid atau Hipertiroid.
Gabungan TSHs dan FT4 memiliki sensitifitas yang tinggi dan spesifisitas yang tinggi juga. FT4 dan TSHs memberikan pendekatan diagnostik lebih realistik untuk diagnosis dan terapi penyakit tiroid.
TSHs
TSH diperlukan untuk dugaan hipotiroid atau hipertiroid. Merupakan tes terbaik untuk skrining fungsi tiroid abnormal. TSH menggantikan T4 sebagai First Line Test untuk evaluasi fungsi tiroid.
Nilai klinis utama pengukuran TSHs untuk diagnosis hipotiroidisme (primer, sekunder atau tersier) dan Hipertiroidisme.
FT4
Diperlukan untuk menegaskan diagnosis penyakit tiroid sebagai tambahan untuk TSHs.
FT4 menentukan T4 aktif. FT4 mengukur T4 bebas secara langsung. FT4 tidak dipengaruhi oleh perubahan tiroid binding globulin (TBG).
Tambahan:
FT3
FT3 diperiksa bila diagnosis kurang jelas hasil pemeriksaan TSH dan FT4. FT3 tidak rendah, T4 normal dan T3 meningkat, maka disebut T3 toksikosis yang dipengaruhi oleh TBG.
Maka lanjut periksa T3 Total, untuk mendeteksi kasus T3 toksikosis, dengan hipertiroid, tapi FT4 normal, T3 meningkat.
Demikian semoga bermanfaat buat, teman-teman semua. Silahkan share.
10 months ago | [YT] | 2
View 0 replies
ATLM Indonesia
GOLONGAN DARAH Oh BOMBAY
Teman-teman ATLM.....
Salah satu golongan darah yang jarang ditemukan dan perlu kita bahas adalah Golongan Darah Oh Bombay. Golongan darah ini ditemukan Bhende di Bombay tahun 1952.
Ciri khas golongan darah ini saat diperiksa sistem ABO akan sama dengan golongan darah O, namun bukan golongan darah O.
Golongan darah Oh Bombay fenotipe hh, tidak mengekpresikan antigen H substansi.
Pasien tidak boleh di transfusikan O biasa, tapi harus sesama Oh Bombay.
Saat uji golongan darah tabung, maka akan terjadi aglutinasi pada sel O dan anti H negatif. Sehingga ditulis sebagai Oh Bombay. Jadi apabila tidak menggunakan sel A, sel B dan Sel O maka kemungkinan diinterpretasikan sebagai golongan darah O.
Penyebaran Golongan darah Oh Bombay diwilayah Indonesia barat lebih tinggi, mengingat sebaran dari India paking dekat Indonesia, misal mulai Aceh hingga Pulau Jawa dan Kalimantan Barat.
Secara umum golongan darah Oh Bombay ini kasusnya jarang ditemukan. Lebih dari 99.9% individu HH atau Hh, hanya 0.1% hh. Gen h tidak memproduksi L-fucocyltransferase. Mempunyai anti-A, anti-B dan anti-H.
Apakah teman-teman yang bekerja di UTDRS UTDPMI pernah menemukan kasus Golongan darah Oh Bombay??
10 months ago | [YT] | 4
View 0 replies
ATLM Indonesia
PROFIL LIPID
Teman-teman ATLM.....
Pemeriksaan Profil Lipid merupakan pemeriksaan yang mungkin diperiksa tiap hari di pelayanan laboratorium.
Pemeriksaan meliputi 4 parameter: Cholesterol, Trigliserida, HDL dan LDL.
Pemeriksaan Cholesterol (TC), Trigliserida (TG) dan HDL-C dilakukan secara direk analisis, sementara beberapa laboratorium dengan melakukan penghitungan Friedewald Equation untuk LDL-C. Namun ada pula yang pengukuran langsung enzimatik LDL cholesterol.
Pengukuran HDL-C enzimatik lebih baik ketimbang HDL-C pengendapan Fosfowolframat.
Dasar perhitungannya
TC = VLDL-C + LDL-C + HDL-C
Friedewald Equation:
LDL-C = TC - HDL-C - TG/5
Dimana TG/5 = estimasi VLDL-C
Namun kekurangan rumus ini tidak bisa dipakai bila pada kondisi:
1. TG > 400 mg/dl
2. Non-Fasting Sample (karena Chylomicron tinggi). Rumus tidak berlaku bila pasien tidak puasa.
3. Type III pasien (beta-VLDL, dengan rasio TG:C = 3:1).
Pengukuran LDL-C langsung menggunakan Reagensia LDL cara terbaik karena tidak terpengaruh dengan kadar Trigliserida tinggi > 400 mg/dl. Lebih setuju pakai pemeriksaan ini ketimbang perhitungan Friedewald Equation yang tidak akurat.
CRR
Merupakan Cardiac Risk Ratio. Perhitungan tambahan, dengan melihat rasio TC dengan HDL-C.
CRR = TC/HDL-C
Guna:
Untuk melihat risiko penyakit jantung koroner
Normal: 3.3 - 5.7
Rasio TG:HDL
CADP = TG/HDL-C
Ini dikenal sebagai Prediktor Independen Arteri Koronari (CADP). Digunakan untuk studi sindrom metabolik, gangguan kardiometabolik, prediksi risiko penyakit jantung, serta dikaitkan dengan resistensi insulin pada DM. Pemeriksaan ini merupakan prediktor kejadian koroner di maka mendatang.
Interpretasi:
Normal = < 2.0
Risiko rendah = 2 - 4
Risiko Tinggi = > 4
Risiko Sangat Tinggi = > 6
Jadi Idealnya dalam pelaporan laboratorium ada 6 parameter pemeriksaan yang dilaporkan: TC, TG, HDL-C, LDL-C, CRR dan CAPD.
Catatan:
Pasien dengan pemeriksaan faal lemak ini idealnya berpuasa 12 jam. Beberapa sumber mengatakan 9-12 jam, 12-14 jam.
Pengukuran Lebih Lanjut dalam Lipoprotein dikenal dengan mengukur kadar protein di dalamnya, maka dikenal ApoA1 (Protein HDL) dan Apo B100 (Protein LDL). Mungkin akan kita bahas nanti.
Demikian uraian singkat, semoga bermanfaat.
10 months ago | [YT] | 7
View 0 replies
ATLM Indonesia
Hemoglobinuria vs Hematuria
Teman-Teman ATLM.....
Dalam urinalisis harian, kadang ada kesulitan untuk membedakan kasus hemoglobinuria dan hematuria. Berikut ini ulasan singkat.
1. Makroskopik:
Hemoglobinuria dapat dibedakan dari hematuria dengan melihat makroskopik urine warna merah, lalu dilakukan sentrifugasi urine, warna tetap merah dan tidak ada endapan eritrosit, maka kasus hemoglobinuria.
Sementara kasus hematuria Tampak warna urine merah keruh dan bila disentrifugasi akan menghasilkan endapan sel eritrosit, dan supernatan jernih.
2. Kimia Multistik Blood:
Bantalan stik blood kasus hematuria akan berupa bintik-bintik hijau. Sementara kasus Hemoglobinuria tampak warna hijau merata warnanya.
3. Sedimen urine:
Kasus hemoglobinuria, sedimen urine tidak ditemukan eritrosit, mungkin ditemukan Silinder hemoglobin. Sementara kasus hematuria banyak ditemukan sel eritrosit, bahkan penuh dalam lapang pandang, dan mungkin ditemukan silinder RBC.
Kesimpulan:
Hematuria= keruh merah, blood bintik hijau dan banyak eritrosit di sedimen
Hemoglobinuria= jernih merah, blood hijau merata, eritrosit tidak ditemukan di sedimen
***************************************
Tambahan:
Hematuria dan hemoglobinuria bisa saja bersamaan dalam urine, sehingga kedua parameter ini tidak bisa dibedakan.
Demikian, semoga bermanfaat.
10 months ago | [YT] | 6
View 0 replies
ATLM Indonesia
MEMBEDAKAN URINE DARI CAIRAN LAIN KASUS DRUG ABUSE
Teman-teman ATLM.....
Kebenaran spesimen urine didapatkan dari pasien dapat dibuktikan dengan beberapa uji spesifik. Kadang kala uji Drug Abuse (Narkoba) dapat saja urine ditukar dengan Air teh, air pewarna kuning, urine sintetik atau sejenisnya. Jangan langsung periksa rapid narkoba, tapi pastikan dulu urinenya
Kali ini saya bahas bagaimana cara menyiasatinya agar urine representatif sebagai spesimen uji Drug Abuse 6 golongan. Biar memang positif harus positif, bukan lantaran diganti air kuning jadi negatif. Hal ini akan menjadi kabur diagnosis karena urine yang tidak valid.
CIRI KHAS URINE
Dalam urine terkandung Urea, kreatinin tinggi. Adanya Bahan terlarut Sulfat, karbonat, Fosfat, oksalat, serta pigmen Urobilinogen menjadi pembeda dari cairan manapun.
Langkah membedakan urine dari cairan lain kasus Drug Abuse dengan Chain Custody:
1. Pastikan tersangka berkemih dihadapan petugas Sipir penjara atau Polisi.
2. Bila urine baru dikemihkan pasti hangat, segar, bau khas.
3. Lakukan uji endapan putih sulfat, karbonat, oksalat, fosfat dengan larutan BaCl2 10%.
4. Boleh lakukan uji Urobilinogen dalam urine segar (<1 jam) dengan reagen Ehrlich (Muncul Warna merah)
5. Uji adanya kreatinine dengan reagen Jaffe maka muncul warna Orange, bukti benar urine
6. Uji kadar urine bisa dilakukan juga dengan teknik Berthelot maka muncul warna hijau.
Kesimpulan yang dipilih:
1. Uji BaCl2 10% menghasilkan endapan paling mudah dilakukan
2. Uji Creatinine dengan reagen Jaffe muncul warna Orange (uji paling spesifik urine)
Bila sudah benar dan yakin urine tersangka, maka bisa lanjut ke uji drug Abuse untuk menentukan metabolit MET, AMP, BZO, THC, MOR, OPT, COC.
Penjelasan ringkas:
Urine merupakan cairan dengan kadar urea kreatinin paling tertinggi dibandingkan cairan tubuh lain, baik serum, LCS, transudat eksudat, pleura, ascites, sperma dan lainnya.
Didalam urine sintetik, air diberi pewarna, air teh akan beraksi negatif jika diuji BaCl2 10% dan Uji Kreatinine Jaffe.
Demikian, ulasan singkat semoga bermanfaat dan membantu pemecahan masalah di laboratorium. Silakan share. Tabik.
11 months ago | [YT] | 7
View 0 replies
ATLM Indonesia
MALARIA SLIDE GOLD STANDARD Vs RDT
Teman-teman ATLM.....
Penegakan Diagnosis Malaria menggunakan Mikroskopik slide sediaan darah tebal dan tipis diwarnai Giemsa merupakan "Gold Standard".
Mengapa Gold Standard?
Karena pasien sakit dan sembuh setelah mendapatkan pengobatan dapat diketahui berdasarkan stadium yang muncul didalam darah tepi. Adanya bentuk Tropozoit dan Schizon menggambarkan infeksi berlangsung dan mungkin sebagian siklus akan membentuk gametogoni, pembentukan Gametosit.
Bila pemberian obat malaria, maka akan tersisa stadium gametosit dalam darah. Mungkin sebagai tanda proses penyembuhan pasien. Dan gejala klinis demam panas berkeringat mungkin sudah hilang.
Malaria RDT menjanjikan hasil yang lebih cepat tanpa perlu keterampilan khusus dalam melakukan uji.
Namun, setelah dibandingkan dengan Malaria Slide, maka mungkin saja ditemukan positif palsu dengan masih terbentuk garis pada uji rapid. Padahal pasien secara klinis sudah sembuh.
Hasil positif palsu ini karena deteksi malaria RDT berdasarkan protein dari plasmodium, misal Histidine Rich Protein II (HRP 2) dan enzim pLDH.
Adanya pengobatan, protein ini masih ada dalam peredaran darah sehingga dapat dideteksi sebagai positif pada orang selesai pengobatan malaria. Juga adanya enzim pLDH pada fase aseksual dan seksual dari parasit.
Sehingga secara spesifisitas uji masih kalah jika dibandingkan dengan Malaria Slide. Demikin juga sensitifitas tidak mampu setara dengan malaria slide karena mungkin saja ada hasil yang negatif, karena terkait dengan stadium dan kepadatan parasit.
Kita tahu, ya...
HRP 2 dihasilkan oleh tropozoit dan Gametosit muda falciparum. Dapat dideteksi dalam sirkulasi antigen ini dalam 68% pasien dengan pengobatan dalam 7 hari, 27% setelah pengobatan 28 hari.
Sementara, pLDH pada vivax dan malariae juga hampir serupa kondisinya dengan HRP 2.
Namun, dalam penyelidikan epidemiologi dan pemetaan kasus malaria endemik dapat digunakan RDT untuk hasil cepat dan memadai sensitifitas dan spesifisitas.
Sebagai catatan:
Malaria RDT dapat digunakan pada sumber daya terbatas, tidak ada mikroskop dan di luar jam dinas puskesmas, misal malam hari. Mempercepat keputusan terapi pasien
Sementara malaria Mikroskopik Slide sangat baik untuk penegakan diagnosis malaria, jenis spesies dan evaluasi hasil pengobatan pasien. Disisi lain tingkat keparahan dapat dilihat dengan kepadatan parasit dan mix infection. Namun perlu keterampilan tenaga dan mensyaratkan pelatihan untuk hasil lebih baik.
11 months ago | [YT] | 4
View 0 replies
ATLM Indonesia
PLT-F dan IPF
Teman-teman ATLM Indonesia....
Kali ini kita bahas teknik pengukuran Platelet secara khusus menggunakan zat Fluorescens sehingga disebut PLT-F pada alat Sysmex XN-1000 (bagi pengguna silahkan mengumpul).
PLT-F channel pada alat hematology Analyzer digunakan untuk hitung PLT dengan pewarna Fluorescens khusus. Maka disini akan muncul Immature Platelet Fraction (IPF).
Secara khusus zat ini mewarnai retikulum platelet muda.
Teknik pengukuran ini 5 kali lebih banyak sel dihitung sehingga lebih presisi dan akurasi, terutama pada kasus trombositopenia, misal kasus infeksi DBD pasien dengan anemia kurang zat besi, kasus lain lebih spesifik pada Idiopatic Thrombocytopenia Purpura (ITP).
Adanya IPF maka akan lebih bagus, karena dapat melihat tingkat maturasi sel PLT. Nilai Rujukan IPF 1-7%.
Manfaat pengukuran IPF untuk membantu diagnosis banding trombositopenia (apakah kasus aplastik, konsumtif).
Manfaat lain, sebagai prediktor awal pemulihan platelet setelah transplantasi HPC atau infeksi DBD.
IPF digunakan digunakan lebih spesifik untuk melihat penyembuhan pasien DBD dengan trombositopenia ketimbang hanya angka PLT.
Kadar IPF yang meningkat pada kasus DBD korelasi sumsum tulang akselerasi memproduksi lebih banyak trombosit dengan berbagai tingkat maturasi (H-IPF, IPF, PLT). Misal IPF 21% lebih baik ketimbang IPF 3%. Angka kesembuhan lebih besar DBD lebih tinggi bila IPF tinggi.
Sisi lain pemeriksaan PLT-F digunakan untuk membedakan populasi ukuran yang sama antara RBC (mikrosit, fragment cell, helmet cell) yang seukuran dengan PLT (PLT matur dan immatur, giant cell).
Zat Fluorescens bereaksi terhadap PLT sedangkan RBC tidak sehingga bisa dipisahkan keduanya, yang tidak mampu oleh hematology analyzer 3 DIFF impedance dan Scattergram biasa.
Misal hasil 3 diff PLT 1.000.000 sel/mm3 darah atau dengan alat Scattergram 5 Diff didapatkan 950.000 sel/mm3. Hasil ini ikut terbaca juga RBC ukuran kecil, perlu koreksi pakai PLT-F dan Hapusan Barbara Brown.
Namun dengan PLT-F dan PLT-O maka terkoreksi hasilnya setelah dipisahkan RBC, sehingga didapatkan hasil misal 350.000 sel/mm3 darah.
Hal ini juga dapat dikoreksi dengan hapusan darah dengan estimasi Barbara Brown setiap 1 PLT dilensa objektif 100x setara 20.000 sel.
Demikian semoga bermanfaat, tulisan ini.
11 months ago | [YT] | 4
View 3 replies
ATLM Indonesia
TABUNG MINI NATRIUM SITRAT 3.2% HEMOSTASIS
Dalam kondisi pengambilan spesimen darah tidak dapat banyak maka diperlukan penampungan berukuran kecil, namun tidak mengurangi ketepatan dalam analisis di laboratorium.
Maka solusinya tabung mini berwarna biru laut ini berisi Natrium sitrat 3.2% solusinya. Cukup mengumpulkan darah 900 ul + 100 ul antikoagulan dalam tabung maka sudah siap digunakan sebagai spesimen uji hemostasis.
Kita tahu juga, Natrium sitrat 3.2% disini bekerja sebagai "chelating Agent" terhadap Calcium dalam darah menjadi senyawa kompleks mencegah aktivasi pembekuan darah.
Bila dikatakan 1 ml berisi darah, maka 40% adalah hematokrit, maka 60% atau 600 ul merupakan plasma didapat, tergantung kadar hemoglobin pasien, bila tinggi maka akan lebih rendah volime plasmanya.
500-600 ul sudah cukup untuk pemeriksaan faal hemostasis rutin seperti: APTT, PT, INR, D-Dimer dan Titer Fibrinogen.
Pastikan di homogenkan perlahan 4-5 inversi dan sentrifugasi kecepatan menengah 3000 sd 4000 rpm agar didapatkan poor platelet plasma. Beberapa literatur 3000rpm. Sejumlah besar platelet akan mengendap dilapisan buffycoat dengan rpm ini.
Mengapa harus plasma rendah platelet? Agar pemeriksaan hemostasis lebih sempurna, tidak terganggu oleh adanya platelet. Dalam kondisi tertentu tidak diperlukan adanya platelet.
Semoga bermanfaat. Salam ATLM
1 year ago | [YT] | 9
View 0 replies
Load more