Dalam, “Kimiya’ al-Sa’adah”, Imam al-Ghazali menyebut ada tiga potensi dalam diri manusia: “quwwah al-ghadhab” (potensi marah), “quwwah al-syahwat” (potensi syahwat), “quwwah al-‘ilm” (potensi ilmu).
Ketiganya merupakan potensi alamiah manusia. Produk bawaan. Secara umum, manusia memiliki. Porsi masing-masing saja yang berbeda.
Secara ideal, potensi-potensi tersebut, terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”, harus berada dalam porsi moderat. Tengah-tengah. Tidak lebih, tidak kurang. Pas.
Dengan begitu, potensi-potensi itu akan menjadi bekal manusia dalam membangun kebahagiaan sempurna dalam kehidupan hari ini dan Hari Nanti.
Jika tidak begitu, jika porsi potensi-potensi itu (terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”) kebanyakan atau kesedikitan maka potensi-potensi itu akan berubah menjadi kekuatan perusak.
“Quwwah al-Syahwah”
Porsi “quwwah al-syahwah” (potensi syahwat) yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kehinaan: pelanggaran dan kejahatan yang bersifat syahwat.
Jangan berpikir bahwa syahwat itu cuma soal seks.
Dalam bahasa Arab, “syahwat” secara bahasa berarti “demen” (suka, cinta) dan “keinginan”.
Kata itu biasanya digunakan terkait urusan seks dan harta (dan yang terkait dengan harta: perut alias urusan panganan, jabatan, dll).
Nah, jika potensi syahwat melebihi porsi, seseorang akan terjatuh dalam pelanggaran dan kejahatan terkait seks dan harta.
Anda bisa sebut macam-macam pelanggaran dan kejahatan (baik dari sudut pandang norma agama, hukum, dan sosial) dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.
Jika potensi syahwat berlebihan, dalam soal seks, Anda jadi liar; dalam soal harta, Anda jadi serakah.
Semuanya akan menghancurkan Anda pada waktunya.
Sebaliknya, jika potensi syahwat di bawah porsi, seseorang akan lemah menjalani kehidupan. Tidak bergairah dalam urusan seks, tidak semangat dalam urusan duit. Singkatnya, loyo dalam urusan duniawi.
Maka, agar potensi syahwat atau “quwwah al-syahwah” ini memberi manfaat dan tidak membawa madarat, kendalikan ia, atur porsinya secara pas. Sedang-sedang saja. Tidak kelebihan, tidak kekurangan.
Potensi syahwat yang terkendali akan menjadikan Anda orang yang “iffah”: menjaga diri dari seks terlarang, dan “qana’ah”: menerima yang ada, menjaga diri dari harta haram, tidak serakah.
Jadi, syahwat, keinginan duniawi, itu tidak untuk dimatikan, tapi juga tidak untuk dibiarkan hidup secara liar.
Syahwat ada untuk dikendalikan.
“Quwwah al-Ghadhab”
Seperti “quwwah al-syahwah”, “quwwah al-ghadhab” (potensi marah) juga ada untuk dikendalikan. Jangan dibiarkan mati, jangan pula dibiarkan hidup liar.
Biarkan ia ada dalam diri Anda dalam porsi yang pas.
Porsi “quwwah al-ghadhab” yang terlalu rendah akan menyebabkan seseorang acuh tak acuh, meneng-meneng bae, terhadap keadaan yang tak semestinya. Tidak punya kepedulian untuk amar makruf, tidak punya semangat untuk nahi munkar.
Sebaliknya, porsi “quwwah al-ghadhab” yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat.
Anda bisa sebutkan macam-macam pelanggaran dan kejahatan itu: pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.
Dari sisi itu, dapat dipahami kenapa ada sikap-sikap intoleransi beragama yang berujung pada penghinaan, perusakan, kekerasan, bahkan pembantaian, atau, dulu, suwiping dan/atau perusakan warung-warung oleh ormas keagamaan, atau terorisme bermotif agama … Para pelaku adalah orang-orang yang memiliki porsi “quwwah al-ghadhab” yang turah-turah.
Mereka orang-orang yang sebenarnya peduli dengan agama, hanya saja, “quwwah al-ghadhab” dalam diri mereka terlalu besar. Akibatnya, mereka mengekspresikan kepedulian itu dengan kedunguan (al-humq) yang merusak.
Maka, mestinya kita paham, kedunguan yang merusak semacam di atas itu bukan watak agama: itu watak kaum beragama yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab” dalam beragama.
“Quwwah al-ghadhab” ini dapat bermanfaat , tidak menimbulkan madarat, tidak merusak, hanya jika diatur dalam porsi yang pas. Terkendali.
Anda yang memiliki “quwwah al-ghadhab” dalam porsi yang pas akan menjadi orang yang sabar (al-shabr), berani (al-syaja’ah), dan bijaksana (al-hikmah) dalam bertindak dan menyikapi keadaan yang menurut Anda tidak pantas.
Orang-orang seperti Anda ini memiliki keberanian untuk amar makruf nahi munkar yang dilakukan dengan bijaksana dan tidak merusak.
“Quwwah al-‘Ilm”
Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-syahwah”, seperti sudah disebutkan di atas, akan melakukan macam-macam pelanggaran dan kejahatan dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.
Singkatnya, pelanggaran terkait seks dan perut.
Imam al-Ghazali menyebut perkara seks dan perut dengan “akhlak al-baha’im” atau “perilaku binatang”.
(“Baha’im”, bentuk jamak dari “bahimah”, adalah sebutan untuk hewan selain predator/pemangsa).
Orang yang melakukan kejahatan terkait seks dan perut, melakukan “akhlak al-baha’im”, dia lebih rendah daripada “baha’im” sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang itu.
Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab”, juga seperti sudah disebutkan di atas, akan terjatuh dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat. Pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.
Imam al-Ghazali menyebut tindakan-tindakan semacam itu dengan “akhlak al-siba'” atau “perilaku binatang buas”.
Orang-orang yang membunuh, merusak, membakar, melakukan kekerasan, menghina, melakukan “akhlak al-siba'”, dia lebih rendah daripada “al-siba'” itu sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang buas itu.
Maka, agar seseorang tidak kelebihan atau kekurangan “quwwah al-syahwah” dan “quwwah al-ghadhab”, agar potensi syahwat dan potensi marah itu berada dalam porsi yang moderat, ia mesti menguatkan “quwwah al-ilm” atau “potensi ilmu”. Potensi keilmuan, potensi nalar, potensi kewarasan.
“Quwwah al-‘ilm” inilah yang menjadikan manusia unik.
Yang membedakan manusia dengan “baha’im” dan “siba'”.
Yang mencegah manusia berperilaku binatang.
Yang menyadarkan manusia bahwa membunuh, merusak, melakukan kekerasan, menghina, bukanlah perilaku manusiawi.
Seminggu setelah Idul Fitri, sebagian masyarakat Jawa merayakan Riyadin Kupat. Kupatan. Lebaran Ketupat.
Perayaannya sederhana saja. Orang-orang datang ke masjid. Masing-masing bawa berkat isi ketupat dan lepet ditemani sayur lodeh–karena inilah penyebutan “Lebaran Ketupat”–dan dikumpulkan di tengah-tengah. Ceramah singkat, tahlil, dan pembagian berkat. Setiap orang tidak tahu, berkat ketupat yang dia dapat bikinan siapa.
(Tiap daerah bisa berbeda model perayaan).
Seminggu setelah Idul Fitri dipilih sebagai waktu perayaan sebab Kupatan ini menjadi penanda selesainya puasa sunah enam hari Syawal.
Persis seperti perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H), hikmah atau nilai filosofis perayaan Idul Fitri dan Idul Adha adalah paripurnanya rangkaian ibadah.
Idul Fitri dirayakan sehari setelah selesainya puasa Ramadan. Idul Adha dirayakan sehari setelah paripurnanya ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah.
Sebagai hari raya, maka, pada Idul Fitri dan Idul Adha itu, puasa dilarang. Haram. Hari itu waktunya “makan-makan”.
Yang membedakan Riyadin Kupat, “Idul Kupat”, dengan Idul Fitri dan Idul Adha adalah, “Idul Kupat” berbasis tradisi [masyarakat], sedangkan Idul Fitri dan Idul Adha berbasis agama.
Sebab basis “Idul Kupat” adalah tradisi, bukan agama, maka ia tidak punya akibat yang bersifat agamawi, seperti larangan berpuasa. Berbeda dengan Idul Fitri dan Idul Adha.
Meski basis “Idul Kupat” adalah tradisi, namun ia memiliki kebaikan-kebaikan yang bersifat agamawi. Islami. Dalam “Idul Kupat” itu dibacakan kalimat-kalimat thayyibah, zikir, Alquran. Jangan lupa pula, “Idul Kupat” adalah ajang silaturahim sesama tetangga. Sesama warga. Tidak kalah islaminya.
Jadi, ada “tradisi agama”, ada “tradisi bernilai agama”.
Tradisi agama adalah adat yang lahir dari agama. Tradisi bernilai agama adalah adat yang lahir dari masyarakat dan baik menurut sudut pandang agama.
Berbeda sumber, tetapi sama-sama punya kebaikan yang diakui agama.
Idul Fitri dan Idul Adha adalah tradisi agama. Lebaran Ketupat adalah tradisi bernilai agama.
ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
Kurang-lebih, kutipan di atas bisa dipahami begini:
“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”
Tentang substansi hari raya sekaligus kritik atas keumuman yang terjadi pada hari raya.
Kutipan yang kerap wira-wiri saat momen Idul Fitri. Mungkin Anda sudah lama tahu dan telah membacanya berkali-kali. Termasuk Lebaran tahun ini.
Maka, tulisan ini sekadar informasi. JFYI.
Pemilik kutipan adalah Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) dalam karyanya, “Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mausim al-‘Am min al-Wadzaif”. Ini kitab unik dan menarik. Pembabannya berdasarkan urutan bulan Hijriah. Inti kitab ini memang membahas hal-hal terkait bulan-bulan Islam tersebut—kecuali Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir: keutamaan-keutamaan bulan tersebut, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan tersebut, ragam ibadah pada bulan tersebut, dan lain-lain.
Jadi, jika Anda misal mendapatkan jadwal mengisi pengajian/ khutbah bertepatan pada bulan-bulan Hijriah tertentu selain tiga bulan di atas dan ingin menyampaikan materi yang sesuai momentum maka kitab ini bisa jadi referensi.
Kembali ke kutipan di atas. Nah, kutipan tersebut disisipkan oleh Ibnu Rajab dalam bab bulan Dzul Hijjah dalam konteks macam-macam hari raya umat Islam.
Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan untuk sekadar bersenang-senang dan hura-hura. Nabi kemudian menerima wahyu untuk mengganti dua hari itu dengan dua hari lain yang juga untuk dirayakan, namun dengan cara berbeda.
Dua hari yang awalnya dirayakan dengan sekadar senang-senang diganti dengan dua hari raya penuh zikir, syukur, ampunan, dan permaafan.
Dua hari yang dirayakan dengan hura-hura tanpa arti apa-apa diganti dengan dua hari yang dirayakan dengan kegembiraan yang bermakna.
Itulah Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain dua hari besar yang dirayakan tiap tahun itu, ada satu hari yang juga menjadi hari raya, yaitu hari Jumat.
Jadi, ada tiga hari raya umat Islam: Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat.
Ketiganya menjadi penanda dari ketaatan yang telah lengkap dan paripurna.
Jumat menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya shalat lima waktu dalam sepekan.
Kenapa Jumat?
Sebab, Jumat memiliki catatan yang dianggap sebagai keutamaan. Nabi Adam diciptakan pada hari ini. Dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga juga pada hari ini. Kiamat terjadi pada hari ini. Jumatan dilaksanakan pada hari ini. Dan lain-lain.
Begitulah Jumat menjadi hari raya.
Karena itu, haram hukumnya berpuasa pada hari Jumat jika hanya dilakukan sehari itu saja. Maksudnya, jika bukan bagian dari rangkaian puasa hari-hari sebelumnya atau bukan bagian dari rangkaian dari puasa hari-hari berikutnya.
Keharaman puasa pada hari Jumat sama seperti keharaman puasa saat Idul Fitri dan Idul Adha (serta hari Tasyrik). Sebab, sama-sama menjadi hari raya.
Sementara, Idul Fitri menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya puasa Ramadan dan umat mendapatkan pengampunan dosa-dosa berkat puasa mereka.
Dan, terakhir, Idul Adha menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya prosesi ibadah haji. Ibadah haji menjadi paripurna setelah wukuf di Arafah tanggal sembilan Dzul Hijjah. Sehari berikutnya, tanggal 10 Dzul Hijjah, itulah Idul Adha, pelengkap paripurna haji. Walaupun menjadi pelengkap paripurna ibadah haji, namun Idul Adha juga menjadi hari raya untuk semua umat Islam, termasuk yang tidak berhaji.
Jadi, begitulah. Ketiga hari raya tersebut adalah penanda dari ketaatan yang telah lengkap dalam satu periode.
(Di sebagian masyarakat Jawa, ada tradisi hari raya ketupat. Riyaya kupat. Kupatan. Dirayakan seminggu setelah Idul Fitri sebagai penanda paripurnanya puasa sunah enam hari Syawal. Riyaya Kupat ini basisnya tradisi, bukan agama. Jadi, tidak ada implikasi yang bersifat agamawi, seperti larangan berpuasa pada hari raya ini. Tidak seperti Idul Fitri dan Idul adha serta hari Jumat, saat-saat haram berpuasa).
Karena itulah umat bergembira dan berbahagia pada hari raya sebab telah berhasil menyempurnakan ketaatan dan berhak mendapatkan apa yang dijanjikan atas ibadah dan ketaatan tersebut, yaitu pahala dan ampunan, untuk kemudian melangkah melanjutkan hari-hari berikutnya dengan ketaatan-ketataan yang sama namun dengan kualitas dan kuantitas yang meningkat, untuk kemudian dilengkapi dengan hari raya yang dirayakan dengan gembira dan bahagia sebab telah berhasil menyempurnakan … (lanjutkan dan ulangi).
Dalam konteks itulah masuk kutipan yang populer tiap Idul Fitri, seperti sudah disebut dalam paragraf pertama di atas:
ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”
Jadi, kecenderungan untuk mengenakan baju baru dalam hari raya, terutama Idul Fitri, memang tradisi lama.
Tentu, kutipan Ibnu Rajab itu bukan tentang kritik soal mengenakan baju baru, melainkan jika ketaatan kita tidak maju, mandeg, apalagi mundur, setelah hari raya usai.
Punya/ganti kendaraan baru—jika mampu—dan mengenakan baju baru sambil meningkatkan ketaatan adalah pilihan yang ideal. Betul? Betul.
Ibnu Rajab menyebut Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat sebagai “hari raya di dunia”.
Memang ada “hari raya di akhirat”?
Ada.
“Hari raya di surga”.
Apa itu?
Yaitu, saat ahli surga—seperti Anda—kelak berkunjung ke hadirat Tuhan dan memandang Tuhan.
Tidak ada yang paling diharapkan dan disukai oleh penghuni surga selain hal itu.
Berdekat dengan Tuhan adalah satu-satunya hari raya. Tidak ada yang lain.
ليس للمحب عيد سوى قرب محبوبه
“Bagi seorang pecinta, tidak ada hari raya selain saat sedang berdekatan dengan yang dicinta.”
Kekuatan setan ada pada nafsu. Dan Nafsu menjadi kuat oleh makan-minum. Maka, puasa adalah upaya untuk menaklukkan setan.
Jangan banyak makan saat berbuka puasa. Tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah selain perut yang penuh oleh makanan meski halal. Bagaimana mengekang nafsu dapat berguna jika seseorang melampiaskan makanan—saat berbuka—yang telah ia tahan sepanjang siang, bahkan mungkin dengan jenis makanan yang lebih banyak daripada biasanya?!
Yang diharapkan dari berpuasa adalah seseorang meneladani sifat Allah, yaitu “al-shamadiyyah” atau “tidak makan dan tidak minum”, serta mengikuti tabiat malaikat, yaitu menahan nafsu.
Derajat manusia lebih tinggi daripada binatang sebab ia dikaruniai akal untuk mengalahkan nafsunya; dan lebih rendah daripada malaikat sebab ia dapat dikuasai oleh nafsunya.
Saat manusia dikuasai oleh nafsu, derajatnya jadi lebih rendah daripada binatang. Saat manusia berhasil menguasai nafsu, derajatnya melesat melampaui malaikat.
Apa gunanya menahan makan hingga petang tetapi tenggelam dalam nafsu sepanjang siang?! “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun yang ia dapat hanya lapar dan dahaga.”
Berapa banyak “orang yang berpuasa tetapi tidak berpuasa”; yaitu orang yang berhasil menahan lapar dan dahaga tetapi membebasliarkan anggota tubuhnya dalam dosa.
Mendengar aksi bom bunuh diri baru-baru ini, saya jadi memahami satu hikmah dan kebaikan dalam pepatah-netizen yang kerap dilontarkan sebagai olok-olok.
"Tetaplah hidup meski gak guna."
Paling tidak, ada optimisme dalam pepatah itu: tetaplah hidup.
Yang diharapkan tetap adalah hidup. Guna-gak guna, itu soal dinamika. Bisa berubah.
Mungkin saat ini Anda memang gak guna, tapi siapa tahu nanti malah tambah gak guna atau sebaliknya, menjadi orang yang paling berguna.
Sebab, salah satu ciri makhluk hidup adalah berubah.
Jadi, tetaplah hidup.
Maka, jihad kita hari ini adalah tetap hidup, memperjuangkan hidup, dan berguna dalam hidup.
Sudah diberi hidup, jangan cari mati.
Mati biar datang sendiri. Tidak perlu dicari. Apalagi dengan cara bunuh diri sambil bunuh orang lain: itu jelas-jelas frustrasi.
Juman Rofarif
KENAPA ORANG MENGHINA, MERUSAK, MEMBUNUH …
Dalam, “Kimiya’ al-Sa’adah”, Imam al-Ghazali menyebut ada tiga potensi dalam diri manusia: “quwwah al-ghadhab” (potensi marah), “quwwah al-syahwat” (potensi syahwat), “quwwah al-‘ilm” (potensi ilmu).
Ketiganya merupakan potensi alamiah manusia. Produk bawaan. Secara umum, manusia memiliki. Porsi masing-masing saja yang berbeda.
Secara ideal, potensi-potensi tersebut, terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”, harus berada dalam porsi moderat. Tengah-tengah. Tidak lebih, tidak kurang. Pas.
Dengan begitu, potensi-potensi itu akan menjadi bekal manusia dalam membangun kebahagiaan sempurna dalam kehidupan hari ini dan Hari Nanti.
Jika tidak begitu, jika porsi potensi-potensi itu (terutama “quwwah al-ghadhab” dan “quwwah al-syahwat”) kebanyakan atau kesedikitan maka potensi-potensi itu akan berubah menjadi kekuatan perusak.
“Quwwah al-Syahwah”
Porsi “quwwah al-syahwah” (potensi syahwat) yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kehinaan: pelanggaran dan kejahatan yang bersifat syahwat.
Jangan berpikir bahwa syahwat itu cuma soal seks.
Dalam bahasa Arab, “syahwat” secara bahasa berarti “demen” (suka, cinta) dan “keinginan”.
Kata itu biasanya digunakan terkait urusan seks dan harta (dan yang terkait dengan harta: perut alias urusan panganan, jabatan, dll).
Nah, jika potensi syahwat melebihi porsi, seseorang akan terjatuh dalam pelanggaran dan kejahatan terkait seks dan harta.
Anda bisa sebut macam-macam pelanggaran dan kejahatan (baik dari sudut pandang norma agama, hukum, dan sosial) dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.
Jika potensi syahwat berlebihan, dalam soal seks, Anda jadi liar; dalam soal harta, Anda jadi serakah.
Semuanya akan menghancurkan Anda pada waktunya.
Sebaliknya, jika potensi syahwat di bawah porsi, seseorang akan lemah menjalani kehidupan. Tidak bergairah dalam urusan seks, tidak semangat dalam urusan duit. Singkatnya, loyo dalam urusan duniawi.
Maka, agar potensi syahwat atau “quwwah al-syahwah” ini memberi manfaat dan tidak membawa madarat, kendalikan ia, atur porsinya secara pas. Sedang-sedang saja. Tidak kelebihan, tidak kekurangan.
Potensi syahwat yang terkendali akan menjadikan Anda orang yang “iffah”: menjaga diri dari seks terlarang, dan “qana’ah”: menerima yang ada, menjaga diri dari harta haram, tidak serakah.
Jadi, syahwat, keinginan duniawi, itu tidak untuk dimatikan, tapi juga tidak untuk dibiarkan hidup secara liar.
Syahwat ada untuk dikendalikan.
“Quwwah al-Ghadhab”
Seperti “quwwah al-syahwah”, “quwwah al-ghadhab” (potensi marah) juga ada untuk dikendalikan. Jangan dibiarkan mati, jangan pula dibiarkan hidup liar.
Biarkan ia ada dalam diri Anda dalam porsi yang pas.
Porsi “quwwah al-ghadhab” yang terlalu rendah akan menyebabkan seseorang acuh tak acuh, meneng-meneng bae, terhadap keadaan yang tak semestinya. Tidak punya kepedulian untuk amar makruf, tidak punya semangat untuk nahi munkar.
Sebaliknya, porsi “quwwah al-ghadhab” yang berlebihan akan menjatuhkan seseorang dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat.
Anda bisa sebutkan macam-macam pelanggaran dan kejahatan itu: pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.
Dari sisi itu, dapat dipahami kenapa ada sikap-sikap intoleransi beragama yang berujung pada penghinaan, perusakan, kekerasan, bahkan pembantaian, atau, dulu, suwiping dan/atau perusakan warung-warung oleh ormas keagamaan, atau terorisme bermotif agama … Para pelaku adalah orang-orang yang memiliki porsi “quwwah al-ghadhab” yang turah-turah.
Mereka orang-orang yang sebenarnya peduli dengan agama, hanya saja, “quwwah al-ghadhab” dalam diri mereka terlalu besar. Akibatnya, mereka mengekspresikan kepedulian itu dengan kedunguan (al-humq) yang merusak.
Maka, mestinya kita paham, kedunguan yang merusak semacam di atas itu bukan watak agama: itu watak kaum beragama yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab” dalam beragama.
“Quwwah al-ghadhab” ini dapat bermanfaat , tidak menimbulkan madarat, tidak merusak, hanya jika diatur dalam porsi yang pas. Terkendali.
Anda yang memiliki “quwwah al-ghadhab” dalam porsi yang pas akan menjadi orang yang sabar (al-shabr), berani (al-syaja’ah), dan bijaksana (al-hikmah) dalam bertindak dan menyikapi keadaan yang menurut Anda tidak pantas.
Orang-orang seperti Anda ini memiliki keberanian untuk amar makruf nahi munkar yang dilakukan dengan bijaksana dan tidak merusak.
“Quwwah al-‘Ilm”
Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-syahwah”, seperti sudah disebutkan di atas, akan melakukan macam-macam pelanggaran dan kejahatan dalam lingkaran seks dan harta: kekerasan seksual, pencabulan, perselingkuhan, permalingan, pungli, korupsi, dll.
Singkatnya, pelanggaran terkait seks dan perut.
Imam al-Ghazali menyebut perkara seks dan perut dengan “akhlak al-baha’im” atau “perilaku binatang”.
(“Baha’im”, bentuk jamak dari “bahimah”, adalah sebutan untuk hewan selain predator/pemangsa).
Orang yang melakukan kejahatan terkait seks dan perut, melakukan “akhlak al-baha’im”, dia lebih rendah daripada “baha’im” sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang itu.
Orang-orang yang kelebihan porsi “quwwah al-ghadhab”, juga seperti sudah disebutkan di atas, akan terjatuh dalam kedunguan (al-humq) yang merusak: pelanggaran dan kejahatan yang lahir dari kehilangan akal sehat. Pembunuhan, perusakan, pembakaran, kekerasan, penghinaan, dll.
Imam al-Ghazali menyebut tindakan-tindakan semacam itu dengan “akhlak al-siba'” atau “perilaku binatang buas”.
Orang-orang yang membunuh, merusak, membakar, melakukan kekerasan, menghina, melakukan “akhlak al-siba'”, dia lebih rendah daripada “al-siba'” itu sendiri. Turun derajat di bawah binatang-binatang buas itu.
Maka, agar seseorang tidak kelebihan atau kekurangan “quwwah al-syahwah” dan “quwwah al-ghadhab”, agar potensi syahwat dan potensi marah itu berada dalam porsi yang moderat, ia mesti menguatkan “quwwah al-ilm” atau “potensi ilmu”. Potensi keilmuan, potensi nalar, potensi kewarasan.
“Quwwah al-‘ilm” inilah yang menjadikan manusia unik.
Yang membedakan manusia dengan “baha’im” dan “siba'”.
Yang mencegah manusia berperilaku binatang.
Yang menyadarkan manusia bahwa membunuh, merusak, melakukan kekerasan, menghina, bukanlah perilaku manusiawi.
jumanrofarif.com/2021/09/09/kenapa-orang-menghina-…
4 years ago | [YT] | 1
View 0 replies
Juman Rofarif
LEBARAN KETUPAT; RIYADIN KUPAT, KUPATAN
Seminggu setelah Idul Fitri, sebagian masyarakat Jawa merayakan Riyadin Kupat. Kupatan. Lebaran Ketupat.
Perayaannya sederhana saja. Orang-orang datang ke masjid. Masing-masing bawa berkat isi ketupat dan lepet ditemani sayur lodeh–karena inilah penyebutan “Lebaran Ketupat”–dan dikumpulkan di tengah-tengah. Ceramah singkat, tahlil, dan pembagian berkat. Setiap orang tidak tahu, berkat ketupat yang dia dapat bikinan siapa.
(Tiap daerah bisa berbeda model perayaan).
Seminggu setelah Idul Fitri dipilih sebagai waktu perayaan sebab Kupatan ini menjadi penanda selesainya puasa sunah enam hari Syawal.
Persis seperti perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H), hikmah atau nilai filosofis perayaan Idul Fitri dan Idul Adha adalah paripurnanya rangkaian ibadah.
Idul Fitri dirayakan sehari setelah selesainya puasa Ramadan. Idul Adha dirayakan sehari setelah paripurnanya ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah.
Sebagai hari raya, maka, pada Idul Fitri dan Idul Adha itu, puasa dilarang. Haram. Hari itu waktunya “makan-makan”.
Yang membedakan Riyadin Kupat, “Idul Kupat”, dengan Idul Fitri dan Idul Adha adalah, “Idul Kupat” berbasis tradisi [masyarakat], sedangkan Idul Fitri dan Idul Adha berbasis agama.
Sebab basis “Idul Kupat” adalah tradisi, bukan agama, maka ia tidak punya akibat yang bersifat agamawi, seperti larangan berpuasa. Berbeda dengan Idul Fitri dan Idul Adha.
Meski basis “Idul Kupat” adalah tradisi, namun ia memiliki kebaikan-kebaikan yang bersifat agamawi. Islami. Dalam “Idul Kupat” itu dibacakan kalimat-kalimat thayyibah, zikir, Alquran. Jangan lupa pula, “Idul Kupat” adalah ajang silaturahim sesama tetangga. Sesama warga. Tidak kalah islaminya.
Jadi, ada “tradisi agama”, ada “tradisi bernilai agama”.
Tradisi agama adalah adat yang lahir dari agama. Tradisi bernilai agama adalah adat yang lahir dari masyarakat dan baik menurut sudut pandang agama.
Berbeda sumber, tetapi sama-sama punya kebaikan yang diakui agama.
Idul Fitri dan Idul Adha adalah tradisi agama. Lebaran Ketupat adalah tradisi bernilai agama.
🤝
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Juman Rofarif
ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
Kurang-lebih, kutipan di atas bisa dipahami begini:
“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”
Tentang substansi hari raya sekaligus kritik atas keumuman yang terjadi pada hari raya.
Kutipan yang kerap wira-wiri saat momen Idul Fitri. Mungkin Anda sudah lama tahu dan telah membacanya berkali-kali. Termasuk Lebaran tahun ini.
Maka, tulisan ini sekadar informasi. JFYI.
Pemilik kutipan adalah Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) dalam karyanya, “Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mausim al-‘Am min al-Wadzaif”. Ini kitab unik dan menarik. Pembabannya berdasarkan urutan bulan Hijriah. Inti kitab ini memang membahas hal-hal terkait bulan-bulan Islam tersebut—kecuali Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir: keutamaan-keutamaan bulan tersebut, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan tersebut, ragam ibadah pada bulan tersebut, dan lain-lain.
Jadi, jika Anda misal mendapatkan jadwal mengisi pengajian/ khutbah bertepatan pada bulan-bulan Hijriah tertentu selain tiga bulan di atas dan ingin menyampaikan materi yang sesuai momentum maka kitab ini bisa jadi referensi.
Kembali ke kutipan di atas. Nah, kutipan tersebut disisipkan oleh Ibnu Rajab dalam bab bulan Dzul Hijjah dalam konteks macam-macam hari raya umat Islam.
Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan untuk sekadar bersenang-senang dan hura-hura. Nabi kemudian menerima wahyu untuk mengganti dua hari itu dengan dua hari lain yang juga untuk dirayakan, namun dengan cara berbeda.
Dua hari yang awalnya dirayakan dengan sekadar senang-senang diganti dengan dua hari raya penuh zikir, syukur, ampunan, dan permaafan.
Dua hari yang dirayakan dengan hura-hura tanpa arti apa-apa diganti dengan dua hari yang dirayakan dengan kegembiraan yang bermakna.
Itulah Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain dua hari besar yang dirayakan tiap tahun itu, ada satu hari yang juga menjadi hari raya, yaitu hari Jumat.
Jadi, ada tiga hari raya umat Islam: Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat.
Ketiganya menjadi penanda dari ketaatan yang telah lengkap dan paripurna.
Jumat menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya shalat lima waktu dalam sepekan.
Kenapa Jumat?
Sebab, Jumat memiliki catatan yang dianggap sebagai keutamaan. Nabi Adam diciptakan pada hari ini. Dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga juga pada hari ini. Kiamat terjadi pada hari ini. Jumatan dilaksanakan pada hari ini. Dan lain-lain.
Begitulah Jumat menjadi hari raya.
Karena itu, haram hukumnya berpuasa pada hari Jumat jika hanya dilakukan sehari itu saja. Maksudnya, jika bukan bagian dari rangkaian puasa hari-hari sebelumnya atau bukan bagian dari rangkaian dari puasa hari-hari berikutnya.
Keharaman puasa pada hari Jumat sama seperti keharaman puasa saat Idul Fitri dan Idul Adha (serta hari Tasyrik). Sebab, sama-sama menjadi hari raya.
Sementara, Idul Fitri menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya puasa Ramadan dan umat mendapatkan pengampunan dosa-dosa berkat puasa mereka.
Dan, terakhir, Idul Adha menjadi hari raya sebagai penanda lengkapnya prosesi ibadah haji. Ibadah haji menjadi paripurna setelah wukuf di Arafah tanggal sembilan Dzul Hijjah. Sehari berikutnya, tanggal 10 Dzul Hijjah, itulah Idul Adha, pelengkap paripurna haji. Walaupun menjadi pelengkap paripurna ibadah haji, namun Idul Adha juga menjadi hari raya untuk semua umat Islam, termasuk yang tidak berhaji.
Jadi, begitulah. Ketiga hari raya tersebut adalah penanda dari ketaatan yang telah lengkap dalam satu periode.
(Di sebagian masyarakat Jawa, ada tradisi hari raya ketupat. Riyaya kupat. Kupatan. Dirayakan seminggu setelah Idul Fitri sebagai penanda paripurnanya puasa sunah enam hari Syawal. Riyaya Kupat ini basisnya tradisi, bukan agama. Jadi, tidak ada implikasi yang bersifat agamawi, seperti larangan berpuasa pada hari raya ini. Tidak seperti Idul Fitri dan Idul adha serta hari Jumat, saat-saat haram berpuasa).
Karena itulah umat bergembira dan berbahagia pada hari raya sebab telah berhasil menyempurnakan ketaatan dan berhak mendapatkan apa yang dijanjikan atas ibadah dan ketaatan tersebut, yaitu pahala dan ampunan, untuk kemudian melangkah melanjutkan hari-hari berikutnya dengan ketaatan-ketataan yang sama namun dengan kualitas dan kuantitas yang meningkat, untuk kemudian dilengkapi dengan hari raya yang dirayakan dengan gembira dan bahagia sebab telah berhasil menyempurnakan … (lanjutkan dan ulangi).
Dalam konteks itulah masuk kutipan yang populer tiap Idul Fitri, seperti sudah disebut dalam paragraf pertama di atas:
ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب
“Hari raya itu bukanlah saat seseorang mengenakan baju baru. Hari raya adalah saat ketaatan seseorang bertambah maju. Hari raya bukanlah saat seseorang bagus-bagusan pakaian dan kendaraan. Hari raya adalah saat seseorang diampuni kesalahan-kesalahan.”
Jadi, kecenderungan untuk mengenakan baju baru dalam hari raya, terutama Idul Fitri, memang tradisi lama.
Tentu, kutipan Ibnu Rajab itu bukan tentang kritik soal mengenakan baju baru, melainkan jika ketaatan kita tidak maju, mandeg, apalagi mundur, setelah hari raya usai.
Punya/ganti kendaraan baru—jika mampu—dan mengenakan baju baru sambil meningkatkan ketaatan adalah pilihan yang ideal. Betul? Betul.
Ibnu Rajab menyebut Hari Raya Fitri, Hari Raya Adha, dan hari Jumat sebagai “hari raya di dunia”.
Memang ada “hari raya di akhirat”?
Ada.
“Hari raya di surga”.
Apa itu?
Yaitu, saat ahli surga—seperti Anda—kelak berkunjung ke hadirat Tuhan dan memandang Tuhan.
Tidak ada yang paling diharapkan dan disukai oleh penghuni surga selain hal itu.
Berdekat dengan Tuhan adalah satu-satunya hari raya. Tidak ada yang lain.
ليس للمحب عيد سوى قرب محبوبه
“Bagi seorang pecinta, tidak ada hari raya selain saat sedang berdekatan dengan yang dicinta.”
•••
jumanrofarif.com/2021/05/16/hari-raya-dalam-islam/
4 years ago | [YT] | 2
View 0 replies
Juman Rofarif
🌄
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Juman Rofarif
❤
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Juman Rofarif
Kekuatan setan ada pada nafsu. Dan Nafsu menjadi kuat oleh makan-minum. Maka, puasa adalah upaya untuk menaklukkan setan.
Jangan banyak makan saat berbuka puasa. Tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah selain perut yang penuh oleh makanan meski halal. Bagaimana mengekang nafsu dapat berguna jika seseorang melampiaskan makanan—saat berbuka—yang telah ia tahan sepanjang siang, bahkan mungkin dengan jenis makanan yang lebih banyak daripada biasanya?!
Yang diharapkan dari berpuasa adalah seseorang meneladani sifat Allah, yaitu “al-shamadiyyah” atau “tidak makan dan tidak minum”, serta mengikuti tabiat malaikat, yaitu menahan nafsu.
Derajat manusia lebih tinggi daripada binatang sebab ia dikaruniai akal untuk mengalahkan nafsunya; dan lebih rendah daripada malaikat sebab ia dapat dikuasai oleh nafsunya.
Saat manusia dikuasai oleh nafsu, derajatnya jadi lebih rendah daripada binatang. Saat manusia berhasil menguasai nafsu, derajatnya melesat melampaui malaikat.
Apa gunanya menahan makan hingga petang tetapi tenggelam dalam nafsu sepanjang siang?! “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun yang ia dapat hanya lapar dan dahaga.”
Berapa banyak “orang yang berpuasa tetapi tidak berpuasa”; yaitu orang yang berhasil menahan lapar dan dahaga tetapi membebasliarkan anggota tubuhnya dalam dosa.
jumanrofarif.com/2021/04/25/kutipan-imam-al-ghazal…
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Juman Rofarif
Jihad kita hari ini adalah tetap hidup, memperjuangkan hidup, dan berguna dalam hidup.
Soal mati, biar ia datang sendiri. Tidak perlu dicari. Apalagi dengan cara bunuh diri sambil bunuh orang lain.
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Juman Rofarif
Mendengar aksi bom bunuh diri baru-baru ini, saya jadi memahami satu hikmah dan kebaikan dalam pepatah-netizen yang kerap dilontarkan sebagai olok-olok.
"Tetaplah hidup meski gak guna."
Paling tidak, ada optimisme dalam pepatah itu: tetaplah hidup.
Yang diharapkan tetap adalah hidup. Guna-gak guna, itu soal dinamika. Bisa berubah.
Mungkin saat ini Anda memang gak guna, tapi siapa tahu nanti malah tambah gak guna atau sebaliknya, menjadi orang yang paling berguna.
Sebab, salah satu ciri makhluk hidup adalah berubah.
Jadi, tetaplah hidup.
Maka, jihad kita hari ini adalah tetap hidup, memperjuangkan hidup, dan berguna dalam hidup.
Sudah diberi hidup, jangan cari mati.
Mati biar datang sendiri. Tidak perlu dicari. Apalagi dengan cara bunuh diri sambil bunuh orang lain: itu jelas-jelas frustrasi.
4 years ago | [YT] | 1
View 0 replies
Juman Rofarif
Jihad kita saat ini adalah tetap hidup, memperjuangkan hidup, dan berguna dalam hidup. ✅
Soal mati, biar ia datang sendiri. Gak perlu dicari. Apalagi sampai pake bunuh diri dan bunuh orang lain. ❎
4 years ago | [YT] | 1
View 0 replies
Juman Rofarif
👇
4 years ago | [YT] | 0
View 0 replies
Load more