Selamat datang di Lelana Rasa 🌿
Ruang sederhana untuk merenung, bertanya, dan melihat kehidupan dengan jernih.
Di sini kita berbagi pandangan, inspirasi, dan refleksi — banyak terinspirasi dari ajaran Buddha, Filsafat, sudut pandang kritis, dan keinginan untuk memahami hidup apa adanya.
Lelana Rasa bukan ruang untuk menghakimi atau merendahkan keyakinan siapa pun. Justru, ini adalah tempat untuk menumbuhkan keberanian bertanya, menghargai keraguan, dan merawat kesadaran.
🌌 Mari berjalan bersama dalam perjalanan batin yang penuh tanya,
menuju hidup yang lebih sadar, jernih, dan penuh makna.
🔔 Jangan lupa subscribe, like, dan bagikan jika video ini memberi makna bagi perjalananmu.
#LelanaRasa #Renungan #filsafat #Buddha #Kritis #Spiritual.
LELANA RASA
Malam ini...
Kita tidak akan membicarakan filsafat.
Tidak juga agama.
Melainkan... sebuah kisah.
Bukan mitos. Bukan legenda.
Melainkan Kisah nyata seorang manusia... yang berani mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa.
Tentang kehidupan. Tentang penderitaan. Tentang pencarian. Dan tentang keberanian... untuk menguji sendiri setiap jawaban yang ia temui.
Namun mungkin... di akhir perjalanan nanti... kisah itu tidak lagi hanya bercerita tentang Siddhartha.
Melainkan... tentang kita semua.
🍃 Sampai jumpa nanti malam.
1 day ago (edited) | [YT] | 22
View 4 replies
LELANA RASA
# BANYAK ORANG SALAH PAHAM
Tak sedikit orang yang menilai diriku—bahkan channel YouTube yang kubangun—hanya dari beberapa konten yang kutampilkan.
Ada yang menganggap aku anti agama. Ada yang menyebutku nihilis. Ada yang yakin aku tidak percaya Tuhan. Bahkan ada yang memberiku identitas yang tak pernah kuucapkan sendiri.
Padahal...
Membahas suatu gagasan bukan berarti menjadikannya identitas diri.
Mempertanyakan bukan berarti menolak.
Mengkaji bukan berarti memihak.
Tujuanku sederhana.
Chanel ini hanya membagikan puzzle puzzle pemikiran sebagai ruang refleksi.
membagikan apa yang kupahami, apa yang kupelajari, dan apa yang menurutku layak dibagikan sebagai sedikit berbagi wawasan untuk dipikirkan bersama sebagai bagian dari upaya memahami sejarah, pengalaman, dan berbagai pemikiran manusia.
Sebuah ruang untuk berbagi wawasan.
Bukan ruang untuk memaksakan keyakinan.
tidak harus menerima semua gagasan.
Aku hanya menyerap apa yang kurasa bermanfaat. Yang dapat membuatku lebih bijaksana, lebih manusiawi, dan lebih terbuka.
Selebihnya...
tetap menjadi wawasan.
Bukan menjadi keyakinan.
Bagiku...
berpikir bukan berarti harus selalu sepakat.
Berbeda pandangan bukan berarti harus menjadi musuh.
Karena pengetahuan tidak tumbuh di ruang yang hanya dipenuhi orang-orang yang selalu setuju.
Ia tumbuh ketika kita berani mendengar.
Berani mempertanyakan.
Berani menguji.
Dan jika diperlukan...
berani mengubah pandangan ketika alasan dan bukti menunjukkan pemahaman yang lebih baik.
Maka jangan takut untuk belajar.
Jangan takut untuk berpikir kritis.
Jangan takut untuk berbagi apa yang menurutmu bermanfaat.
Karena...
gagasan bukan untuk dipenjara
Pengetahuan bukan untuk dimonopoli.
Dan kebenaran tidak pernah takut untuk diuji.
Sebab...
peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya mewarisi jawaban.
Melainkan...
oleh mereka yang berani bertanya, berani mencari, dan tetap rendah hati di hadapan berbagai kemungkinan, perbedaan pandangan, dan kebenaran yang masih terus kita cari.
— Lelana Rasa 🌿
6 days ago | [YT] | 33
View 20 replies
LELANA RASA
Mana yang lebih berbahaya?
Pertanyaan yang mengguncang keyakinan... atau keyakinan yang tidak pernah berani menghadapi pertanyaan?
Tulis pendapatmu. Mari berdiskusi dengan saling menghargai.
https://youtu.be/0rWZyt0y75w
2 weeks ago | [YT] | 19
View 9 replies
LELANA RASA
— Dua Panah Beracun —
Manusia lelah hidup...
bukan hanya karena panah pertama:
lahir, sakit, menua, dan mati.
Tetapi juga karena ia terus menusukkan panah kedua kepada dirinya sendiri.
Penolakan. Kemelekatan. Penyesalan. Kekhawatiran. Dan cerita-cerita yang tak pernah berhenti.
Ia terus memikul hal-hal yang seharusnya sudah dilepaskan.
Bukan semua penderitaan dapat dihindari.
Namun...
banyak di antaranya lahir dari beban yang kita ciptakan sendiri.
Orang yang tidak melihat...
tanpa disadari, terus menambahkan panah kedua yang ia ciptakan sendiri kepada dirinya sendiri.
Terus melawan kenyataan. Terus menolak apa yang telah terjadi. Terus berharap kenyataan menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Maka... panah kedua tak pernah berhenti melukainya.
Di atas panah pertama yang memang tak dapat dihindari.
Itulah... “Dukkha“.
Namun...
orang yang mulai melihat...
tidak menghilangkan panah pertama.
Ia tetap merasakan sakit, kehilangan, penuaan, dan kematian.
Tetapi...
ia berhenti menambahkan dukkha di atas rasa sakit.
Ia melihat. Memahami. Lalu perlahan... melepaskan.
Panah pertama adalah mungkin tetap datang.
Panah kedua mulai kehilangan kekuatannya.
Dan di situlah... Jalan padamnya dukkha mulai mungkin terjadi.
Dan Jalan itu.. masih terbentang sampai saat ini..
Kebenaran hidup sudah ditunjukkan:
Empat Kebenaran Mulia..
Dan jalan itupun sudah ditunjukkan:
Dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Bukan untuk dipercaya.
Tetapi untuk dilihat.
Dipahami.
Dan dijalani.
Tidak ada keajaiban disini.
Tidak ada doa langsung bebas.
Tidak ada dewa yang membebaskanmu.
Yang ada hanya sebab akibat.
Yang ada... hanyalah Latihan.
Berlatihlah.. dengan sungguh-sunggguh.
Dan mungkin...
kebebasan tidak datang dalam satu keajaiban.
Melainkan... melalui langkah-langkah kecil yang terus diulang setiap hari.
Menghindari kejahatan.
Mengembangkan kebajikan.
Menyucikan hati dan pikiran.
Karena dalam setiap pikiran, setiap perbuatan, setiap pandangan yang di ulang.. manusia tidak hanya sedang hidup, melainkan juga sedang membentuk dirinya sendiri.
Dan mungkin...
Di situlah... jalan menuju padamnya dukkha perlahan terbuka.
Semoga batinmu baik-baik saja disana..
— Lelana rasa🌿
2 weeks ago | [YT] | 22
View 0 replies
LELANA RASA
Semakin sering kita melihat seseorang berkata:
"Aku sudah tidak lagi beragama."
Mengapa fenomena ini semakin banyak terjadi?
Apakah karena ilmu pengetahuan? Karena pengalaman hidup? Karena pencarian? Atau ada alasan lain yang lebih dalam?
Di video terbaru, saya mencoba membahas fenomena ini secara tenang dan tanpa menghakimi siapa pun.
Silakan tonton, lalu tuliskan pandangan atau pengalamanmu.
https://youtu.be/mVZVFa-aRNU
3 weeks ago | [YT] | 38
View 15 replies
LELANA RASA
Sebuah pertanyaan untuk kita renungkan bersama...
Apa yang membuat kita lupa... bahwa sebelum segala label... kita adalah manusia?
Apakah ego kita... lebih sering mencari kebenaran... atau justru mencari kemenangan?
Mungkin... perjalanan menjadi manusia yang lebih baik... dimulai ketika kita berani mempertanyakan diri sendiri.
Renungan lengkapnya baru saja tayang.
👇
https://youtu.be/0xzeoFL_CcU
3 weeks ago | [YT] | 15
View 0 replies
LELANA RASA
“-Patticasampadda-“
Alam tidak bekerja berdasarkan apa yang kita yakini.
Alam bekerja berdasarkan sebab dan kondisi.
Api tetap membakar, meski kau tak mempercayainya.
Benih tetap tumbuh jika sebab dan kondisinya terpenuhi.
Hujan tetap turun tanpa bertanya apa agamamu.
Segala sesuatu muncul ketika sebab dan kondisinya hadir.
Berubah ketika sebab dan kondisinya berubah.
Lenyap ketika sebab dan kondisinya berakhir.
Semakin dilihat.. tanpa asumsi,
Semakin diamati dengan 👉 jujur dan apa adanya..
Semakin tak ditemukan pusat yang mengendalikan semuanya.
“Yang tampak hanyalah jalinan sebab dan kondisi yang saling bergantung“
Tidak ada pusat yang dapat ditemukan untuk ditunjuk.
Sesuatu muncul, berlangsung, berubah, dan lenyap bergantung pada sebab kondisi.
Tidak ada pusat pengendali..
Yang ada hanya jaringan sebab kondisi tanpa pusat.
Mungkin...
yang menopang dunia bukanlah keyakinan kita.
Melainkan...
hukum sebab dan kondisi yang berjalan bahkan tanpa meminta untuk dipercayai.
Ia tidak menuntut iman.
Tidak menuntut sembah.
Tidak menuntut puji.
Tidak pula berkata kata.
Tidak memihak.
Tidak jahat.
Tidak baik.
Ia hanya ada.. bukan sebagai siapa.
Melainkan sebagai apa adanya..
disini.. saat ini.
tanpa siapapun didalamnya yang menjadi pusat kendali.
Ia hanya ada bukan untuk dipercaya.
Tapi untuk dilihat,
Dipahami,
dijalani,
Apa adanya...
— Lelana Rasa
3 weeks ago | [YT] | 54
View 21 replies
LELANA RASA
Mungkin sebagian Kesadaran bukanlah merasa diri lebih baik dari orang lain.
Kesadaran adalah ketika kita mulai lebih sering melihat kesalahan diri sendiri... daripada sibuk menghitung kesalahan orang lain.
Karena semakin dalam seseorang mengenal dirinya, biasanya semakin kecil keinginannya untuk menghakimi.
Mungkin perjalanan spiritual yang sesungguhnya bukanlah mencari siapa yang paling benar... melainkan belajar menjadi manusia yang lebih baik dalam memanusiakan manusia.
1 month ago | [YT] | 26
View 13 replies
LELANA RASA
Kalau Tuhan tidak ada... apakah membunuh tetap salah?
Pertanyaan ini ternyata sudah diperdebatkan sejak zaman Socrates hingga hari ini.
Saya mencoba membahasnya melalui pemikiran Socrates, Hume, Kant, Nietzsche, dan Buddha.
🎥 Video lengkap:
https://youtu.be/38P2VOEv-_4
Menurut kalian, dari mana moralitas berasal?
1 month ago | [YT] | 20
View 3 replies
Load more