Di balik kejayaan itu, ada petani yang kalah zaman. Ada talun yang berubah jadi monokultur. Ada penguasa lokal yang menjadi kaki tangan Badak Putih.
Dan ada Yudira, yang memilih menghujamkan condre ke dada bupati, meski tahu tubuhnya akan dicincang tentara Belanda.
Sejarah tak selalu ditulis oleh yang menang. Kadang ia bersembunyi dalam kisah cinta yang berdarah. Temukan perbincangannya dalam Diskusi #104 Temu Sejarah βCinta Kopi dan Kekuasaanβ.
π Kamis, 5 Maret 2026 β° 20:30β22:30 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Bagaimana Peranakan Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah di Indonesia?
Di tengah wacana keberagaman pasca-1998, bagaimana narasi tentang Tionghoa hadir di ruang kelas? Apakah sudah setara, atau masih menyisakan bias dan konstruksi lama?
Temu Sejarah #103 mengangkat tema: βKajian Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah.β
Diskusi ini akan membedah buku hasil karya Disertai Doktoral Dr. Hendra Kurniawan, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang menganalisis secara kritis representasi Tionghoa dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia. Pembahasan juga akan dikaitkan dengan Kurikulum Nasional 2024 yang telah berlaku (beserta revisinya pada 2025), serta relevansinya dengan buku Sejarah Nasional Indonesia terbaru yang baru saja disahkan.
π Kamis, 26 Februari 2026 β° 20.30β22.00 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Sebelum jadi Kebun Binatang, tempat ini sebenarnya apa?
Pernah dengar kalau Bandung hampir kehilangan kebun binatangnya sejak zaman Belanda? Ada cerita tentang kebun binatang di Dago, Cimindi, bangkrut, dijual⦠sampai warga patungan 2.000 gulden demi menyelamatkan satwa.
Di tengah polemik dan konflik hari ini, jawabannya mungkin justru ada di masa lalu.
Yuk ikuti Diskusi Buku #102 Temu Sejarah Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang, berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung, bersama penulis Yudi Hamzah, dimoderatori oleh Pramukti Adhi Bhakti.
π Kamis, 19 Februari 2026 β° 20.30β22.00 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baruβterdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana βgaris Holleβ ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
π Kamis, 5 Februari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja βSang Tabe Namosiwayahβ, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
π Kamis, 29 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π Via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
π Kamis, 22 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π» Via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #99 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
π Kamis, 15 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #98 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan. Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
π Minggu, 18 Januari 2026 β° 09.00β12.00 WIB π Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
π° Kontribusi: 30K π² Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! β¨
Ketika kerajaan runtuh, cinta pun ikut diuji. Dari puing-puing Medang yang dibumihanguskan, Airlangga bangkit membangun Kahuripan. Namun kejayaan tak selalu berakhir damai. Tahta diperebutkan, kerajaan terbelah, dan saudara berubah menjadi musuh.
Mahesa dan Wira, lahir dari rahim sejarah yang sama, harus berdiri di dua panji berbeda. Sementara Kirana, perempuan yang dicintai, terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi kekuasaan. Cinta segitiga ini tumbuh di tengah perang, ketika kesetiaan diuji dan pengkhianatan terasa begitu dekat.
Apakah cinta mampu bertahan saat saudara saling menghunus pedang? Ataukah sejarah kembali membuktikan: kekuasaan selalu menuntut korban?
Mari menyelami kisah Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan, sebuah cerita tentang cinta, perang, dan takdir yang berputar tanpa ampun dalam Diskusi Buku #97 β Temu Sejarah bersama penulis, Shenawangtri, dimoderatori oleh Lisa Nurjanah.
π Kamis, 8 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #97 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Ketika Jawa diguncang perebutan kuasa dan para bangsawan terpaku dalam bayang-bayang VOC, satu nama justru bangkit menantang arus. Raden Ronggo Prawirodirjo III, Banteng Terakhir dari Madiun, menjadi nyala terakhir perlawanan saat kekuasaan Mataram kian rapuh dan Yogyakarta terpecah oleh kepentingan kolonial.
Ia bukan hanya seorang bupati. Ia adalah bara yang menolak padam. Ronggo berdiri melawan kebijakan Kesultanan yang dianggap tunduk, menantang pasukan Yogyakarta, dan mempertahankan harga diri tanah Madiun ketika banyak pihak memilih menyerah. Dalam riwayatnya, sejarah menemukan keberanian yang dibayar dengan darah.
Melalui buku karya Akhlis Syamsal Qomar, kita diajak membuka kembali halaman-halaman kelam namun heroik dari tahun 1779β1810, masa ketika Ronggo Madiun berdiri sebagai simbol terakhir perlawanan lokal terhadap runtuhnya wibawa tradisional Jawa, sekaligus sebagai momentum peringatan Haul ke-215 wafatnya Raden Ronggo Prawirodirjo III.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #96 β Temu Sejarah berkolaborasi dengan Laboratorium dan Ruang Baca Program Studi Pendidikan Sejarah UNS, yang diselenggarakan dalam rangka Haul ke-215 Raden Ronggo Prawirodirjo III, βBanteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III (1779β1810)β bersama penulis, Akhlis Syamsal Qomar, keynote speaker Peter Carey, dan dimoderatori oleh mahasiswa sejarah, Ilham Putra Pratama.
π Kamis, 18 Desember 2025 β° 20.00β21.30 WIB π» Via Zoom πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
Tiwi Kasavela
Siapa yang diuntungkan dari harum kopi Priangan?
Di balik kejayaan itu, ada petani yang kalah zaman. Ada talun yang berubah jadi monokultur. Ada penguasa lokal yang menjadi kaki tangan Badak Putih.
Dan ada Yudira, yang memilih menghujamkan condre ke dada bupati, meski tahu tubuhnya akan dicincang tentara Belanda.
Sejarah tak selalu ditulis oleh yang menang. Kadang ia bersembunyi dalam kisah cinta yang berdarah. Temukan perbincangannya dalam Diskusi #104 Temu Sejarah βCinta Kopi dan Kekuasaanβ.
π Kamis, 5 Maret 2026
β° 20:30β22:30 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #104 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Sampai jumpa Kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #sejarahindonesia
17 hours ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Bagaimana Peranakan Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah di Indonesia?
Di tengah wacana keberagaman pasca-1998, bagaimana narasi tentang Tionghoa hadir di ruang kelas? Apakah sudah setara, atau masih menyisakan bias dan konstruksi lama?
Temu Sejarah #103 mengangkat tema: βKajian Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah.β
Diskusi ini akan membedah buku hasil karya Disertai Doktoral Dr. Hendra Kurniawan, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang menganalisis secara kritis representasi Tionghoa dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia. Pembahasan juga akan dikaitkan dengan Kurikulum Nasional 2024 yang telah berlaku (beserta revisinya pada 2025), serta relevansinya dengan buku Sejarah Nasional Indonesia terbaru yang baru saja disahkan.
π Kamis, 26 Februari 2026
β° 20.30β22.00 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #103 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Mari membaca ulang sejarahβdan meninjau kembali siapa saja yang diberi ruang di dalamnya.
Sampai jumpa Kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #sejarahindonesia
1 week ago | [YT] | 6
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Sebelum jadi Kebun Binatang, tempat ini sebenarnya apa?
Pernah dengar kalau Bandung hampir kehilangan kebun binatangnya sejak zaman Belanda?
Ada cerita tentang kebun binatang di Dago, Cimindi, bangkrut, dijual⦠sampai warga patungan 2.000 gulden demi menyelamatkan satwa.
Di tengah polemik dan konflik hari ini, jawabannya mungkin justru ada di masa lalu.
Yuk ikuti Diskusi Buku #102 Temu Sejarah Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang, berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung, bersama penulis Yudi Hamzah, dimoderatori oleh Pramukti Adhi Bhakti.
π Kamis, 19 Februari 2026
β° 20.30β22.00 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Daftar: ketik, Daftar Diskusi Buku #102 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! β¨
#temusejarah #diskusibuku #bandung
1 week ago | [YT] | 8
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baruβterdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana βgaris Holleβ ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
π Kamis, 5 Februari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Daftar:
Ketik, Daftar Diskusi Buku #101 β Nama β Domisili
Kirim ke 0895-3572-55688
Ebook akan dibagikan gratis menjelang acara via grup WhatsApp Temu Sejarah.
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! β¨
#temusejarah #diskusibuku #holleline #sejarahsunda
3 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja βSang Tabe Namosiwayahβ, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
π Kamis, 29 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π Via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Format daftar: Daftar Diskusi Buku #100 - Nama β Domisili
Kirim ke: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #lembangmasalalu #sejarahlembang #bukusejarah #sejarahindonesia #bandungraya #ruangsejarah
1 month ago | [YT] | 5
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
π Kamis, 22 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #99 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #muhibahcinta #sejarahmaritim #selatmalaka #sastranusantara #novelindonesia
1 month ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
π Kamis, 15 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #98 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #madiun1948 #sejarahindonesia #sejarahsosiokultural #belajarsejarah #ruangdiskusi
1 month ago | [YT] | 1
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan.
Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
π Minggu, 18 Januari 2026
β° 09.00β12.00 WIB
π Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
π° Kontribusi: 30K
π² Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! β¨
#temusejarah #temusejarahexplore #sejarahindonesia #g30s #pahlawanrevolusi #museumahnasution #refleksisejarah
1 month ago | [YT] | 4
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Ketika kerajaan runtuh, cinta pun ikut diuji. Dari puing-puing Medang yang dibumihanguskan, Airlangga bangkit membangun Kahuripan. Namun kejayaan tak selalu berakhir damai. Tahta diperebutkan, kerajaan terbelah, dan saudara berubah menjadi musuh.
Mahesa dan Wira, lahir dari rahim sejarah yang sama, harus berdiri di dua panji berbeda. Sementara Kirana, perempuan yang dicintai, terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi kekuasaan. Cinta segitiga ini tumbuh di tengah perang, ketika kesetiaan diuji dan pengkhianatan terasa begitu dekat.
Apakah cinta mampu bertahan saat saudara saling menghunus pedang? Ataukah sejarah kembali membuktikan: kekuasaan selalu menuntut korban?
Mari menyelami kisah Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan, sebuah cerita tentang cinta, perang, dan takdir yang berputar tanpa ampun dalam Diskusi Buku #97 β Temu Sejarah bersama penulis, Shenawangtri, dimoderatori oleh Lisa Nurjanah.
π Kamis, 8 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #97 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku
#sejarahnusantara #novelsejarah
#sastrasejarah #ruangdiskusi
1 month ago | [YT] | 12
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Ketika Jawa diguncang perebutan kuasa dan para bangsawan terpaku dalam bayang-bayang VOC, satu nama justru bangkit menantang arus. Raden Ronggo Prawirodirjo III, Banteng Terakhir dari Madiun, menjadi nyala terakhir perlawanan saat kekuasaan Mataram kian rapuh dan Yogyakarta terpecah oleh kepentingan kolonial.
Ia bukan hanya seorang bupati. Ia adalah bara yang menolak padam. Ronggo berdiri melawan kebijakan Kesultanan yang dianggap tunduk, menantang pasukan Yogyakarta, dan mempertahankan harga diri tanah Madiun ketika banyak pihak memilih menyerah. Dalam riwayatnya, sejarah menemukan keberanian yang dibayar dengan darah.
Melalui buku karya Akhlis Syamsal Qomar, kita diajak membuka kembali halaman-halaman kelam namun heroik dari tahun 1779β1810, masa ketika Ronggo Madiun berdiri sebagai simbol terakhir perlawanan lokal terhadap runtuhnya wibawa tradisional Jawa, sekaligus sebagai momentum peringatan Haul ke-215 wafatnya Raden Ronggo Prawirodirjo III.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #96 β Temu Sejarah berkolaborasi dengan Laboratorium dan Ruang Baca Program Studi Pendidikan Sejarah UNS, yang diselenggarakan dalam rangka Haul ke-215 Raden Ronggo Prawirodirjo III, βBanteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III (1779β1810)β bersama penulis, Akhlis Syamsal Qomar, keynote speaker Peter Carey, dan dimoderatori oleh mahasiswa sejarah, Ilham Putra Pratama.
π Kamis, 18 Desember 2025
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via Zoom
πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
π© Cara Daftar:
Ketik: Daftar Diskusi Buku #96 β Nama β Domisili
Kirim ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi lainnya, sampai jumpa Kamis malam nanti! π₯
#temusejarah #radenronggo #haul215 #madiun #sejarahjawa #sejarahindonesia #kesultananyogyakarta #diskusibuku #sejarahlokal
2 months ago | [YT] | 3
View 0 replies
Load more