Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baruβterdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana βgaris Holleβ ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
π Kamis, 5 Februari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja βSang Tabe Namosiwayahβ, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
π Kamis, 29 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π Via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
π Kamis, 22 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π» Via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #99 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
π Kamis, 15 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #98 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan. Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
π Minggu, 18 Januari 2026 β° 09.00β12.00 WIB π Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
π° Kontribusi: 30K π² Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! β¨
Ketika kerajaan runtuh, cinta pun ikut diuji. Dari puing-puing Medang yang dibumihanguskan, Airlangga bangkit membangun Kahuripan. Namun kejayaan tak selalu berakhir damai. Tahta diperebutkan, kerajaan terbelah, dan saudara berubah menjadi musuh.
Mahesa dan Wira, lahir dari rahim sejarah yang sama, harus berdiri di dua panji berbeda. Sementara Kirana, perempuan yang dicintai, terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi kekuasaan. Cinta segitiga ini tumbuh di tengah perang, ketika kesetiaan diuji dan pengkhianatan terasa begitu dekat.
Apakah cinta mampu bertahan saat saudara saling menghunus pedang? Ataukah sejarah kembali membuktikan: kekuasaan selalu menuntut korban?
Mari menyelami kisah Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan, sebuah cerita tentang cinta, perang, dan takdir yang berputar tanpa ampun dalam Diskusi Buku #97 β Temu Sejarah bersama penulis, Shenawangtri, dimoderatori oleh Lisa Nurjanah.
π Kamis, 8 Januari 2026 β° 20.00β21.30 WIB π via Zoom π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #97 β Nama β Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
Ketika Jawa diguncang perebutan kuasa dan para bangsawan terpaku dalam bayang-bayang VOC, satu nama justru bangkit menantang arus. Raden Ronggo Prawirodirjo III, Banteng Terakhir dari Madiun, menjadi nyala terakhir perlawanan saat kekuasaan Mataram kian rapuh dan Yogyakarta terpecah oleh kepentingan kolonial.
Ia bukan hanya seorang bupati. Ia adalah bara yang menolak padam. Ronggo berdiri melawan kebijakan Kesultanan yang dianggap tunduk, menantang pasukan Yogyakarta, dan mempertahankan harga diri tanah Madiun ketika banyak pihak memilih menyerah. Dalam riwayatnya, sejarah menemukan keberanian yang dibayar dengan darah.
Melalui buku karya Akhlis Syamsal Qomar, kita diajak membuka kembali halaman-halaman kelam namun heroik dari tahun 1779β1810, masa ketika Ronggo Madiun berdiri sebagai simbol terakhir perlawanan lokal terhadap runtuhnya wibawa tradisional Jawa, sekaligus sebagai momentum peringatan Haul ke-215 wafatnya Raden Ronggo Prawirodirjo III.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #96 β Temu Sejarah berkolaborasi dengan Laboratorium dan Ruang Baca Program Studi Pendidikan Sejarah UNS, yang diselenggarakan dalam rangka Haul ke-215 Raden Ronggo Prawirodirjo III, βBanteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III (1779β1810)β bersama penulis, Akhlis Syamsal Qomar, keynote speaker Peter Carey, dan dimoderatori oleh mahasiswa sejarah, Ilham Putra Pratama.
π Kamis, 18 Desember 2025 β° 20.00β21.30 WIB π» Via Zoom πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
Di tengah riuhnya Bandung modern, ternyata ada sebuah komplek vila mewah seluas 13 hektare yang pernah berdiri megah, lalu hilang begitu saja dari ingatan kota. Nama kawasan itu: Bandoengsch Villapark. Komplek villa sejuta gulden karya arsitek legendaris C.P. Wolff Schoemaker bersama biro arsitekturnya.
Puluhan tahun tak tersentuh, tak tercatat, bahkan hampir terhapus. Lalu seorang peneliti, Karguna Purnama Harya menemukan jejaknya dari potongan arsip, koran tua, peta kuno, hingga foto udara 1920-an. Dari situlah lahir buku βMenemukan Bandoengsch Villaparkβ, yang membuka kembali pintu sejarah besar yang nyaris lenyap.
Di tengah polemik perubahan Perda Cagar Budaya yang bisa menghapus identitas kota, kisah Villapark menjadi alarm keras: apa yang terjadi pada sejarah jika kita tak menjaganya? Semua itu akan kita ungkap dalam Diskusi Buku #95 β Temu Sejarah.
π Kamis, 11 Desember 2025 β° 20.00 β 21.30 WIB π» Via Zoom πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
Berbicara di depan publik bukan cuma soal suara lantang, tapi bagaimana pesanmu benar-benar menyentuh dan berdampak.
Yuk kembangkan kemampuanmu, dengan belajar langsung dari perspektif MC dan jurnalis dalam satu webinar spesial hasil kolaborasi Bicara MC dan Humas DPC PATELKI Kota Bandung.
SPEAK WITH IMPACT: Cara Berbicara ala MC & Jurnalis Mengolah Suara, Menajamkan Pesan, Menciptakan Dampak di Era Digital bareng Tiwi Kasavela (Praktisi Media), Dewy Uma (MC Profesional) dimoderatori oleh Diksi Paisal (ATLM).
π Ngobras (Ngobrol Bareng Humas) & Webinar Bicara MC #9 π Jumat, 5 Desember 2025 β° 20.00β21.30 WIB π» Via Zoom π― Gratis untuk semua peserta
Cara daftar: Ketik Daftar Bicara MC #9 β Nama β Domisili Kirim via WA ke 0895-3572-55688
Follow @bicaramc @dpcpatelkikotabdg dan @humas_dpcpatelkikotabdg untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa jumβat malam nanti π₯
Setiap kota pernah bernyawa. Salatiga pun punya nadi yang tertulis di atas batu.
Sejak tahun 750 Masehi, Salatiga sudah tercatat di Prasasti Plumpungan, batu andesit besar yang menjadi cikal bakal lahirnya kota ini. Dalam prasasti itu tertulis bahwa desa yang dulu bernama βHampraβ diberikan status βperdikanβ artinya: dibebaskan dari pajak dan upeti, sebagai penghormatan atas jasa mereka. Itu artinya: warisan budaya Salatiga bukan hanya bangunan lama, tapi jejak administratif, nilai keadilan, dan kelahiran komunitas yang sejak awal dihargai oleh sebuah raja.
Mari kita selami bersama kisah di balik batu, prasasti, dan naskah kuno. Melalui Diskusi Buku #94 Temu Sejarah : Cagar Budaya Salatiga dalam Tindak Slamet Rahardjoβ bersama Esthi Susanti Hudiono (Penulis) dimoderatori oleh Bintang Adi Kuncoro.
π Kamis, 4 Desember 2025 β° 20.00β21.30 WIB π» Via ZOOM β gratis
Daftar: Ketik (Daftar diskusi buku #94 β Nama β Domisili), kirim ke WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti! π₯
Tiwi Kasavela
Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baruβterdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana βgaris Holleβ ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
π Kamis, 5 Februari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Daftar:
Ketik, Daftar Diskusi Buku #101 β Nama β Domisili
Kirim ke 0895-3572-55688
Ebook akan dibagikan gratis menjelang acara via grup WhatsApp Temu Sejarah.
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! β¨
#temusejarah #diskusibuku #holleline #sejarahsunda
4 days ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja βSang Tabe Namosiwayahβ, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
π Kamis, 29 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π Via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π© Format daftar: Daftar Diskusi Buku #100 - Nama β Domisili
Kirim ke: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #lembangmasalalu #sejarahlembang #bukusejarah #sejarahindonesia #bandungraya #ruangsejarah
1 week ago | [YT] | 6
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
π Kamis, 22 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #99 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #muhibahcinta #sejarahmaritim #selatmalaka #sastranusantara #novelindonesia
3 weeks ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
π Kamis, 15 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #98 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku #madiun1948 #sejarahindonesia #sejarahsosiokultural #belajarsejarah #ruangdiskusi
4 weeks ago | [YT] | 1
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan.
Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
π Minggu, 18 Januari 2026
β° 09.00β12.00 WIB
π Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
π° Kontribusi: 30K
π² Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! β¨
#temusejarah #temusejarahexplore #sejarahindonesia #g30s #pahlawanrevolusi #museumahnasution #refleksisejarah
1 month ago | [YT] | 4
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Ketika kerajaan runtuh, cinta pun ikut diuji. Dari puing-puing Medang yang dibumihanguskan, Airlangga bangkit membangun Kahuripan. Namun kejayaan tak selalu berakhir damai. Tahta diperebutkan, kerajaan terbelah, dan saudara berubah menjadi musuh.
Mahesa dan Wira, lahir dari rahim sejarah yang sama, harus berdiri di dua panji berbeda. Sementara Kirana, perempuan yang dicintai, terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi kekuasaan. Cinta segitiga ini tumbuh di tengah perang, ketika kesetiaan diuji dan pengkhianatan terasa begitu dekat.
Apakah cinta mampu bertahan saat saudara saling menghunus pedang? Ataukah sejarah kembali membuktikan: kekuasaan selalu menuntut korban?
Mari menyelami kisah Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan, sebuah cerita tentang cinta, perang, dan takdir yang berputar tanpa ampun dalam Diskusi Buku #97 β Temu Sejarah bersama penulis, Shenawangtri, dimoderatori oleh Lisa Nurjanah.
π Kamis, 8 Januari 2026
β° 20.00β21.30 WIB
π via Zoom
π Gratis & terbuka untuk umum
π Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #97 β Nama β Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti π₯
#temusejarah #diskusibuku
#sejarahnusantara #novelsejarah
#sastrasejarah #ruangdiskusi
1 month ago | [YT] | 12
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Ketika Jawa diguncang perebutan kuasa dan para bangsawan terpaku dalam bayang-bayang VOC, satu nama justru bangkit menantang arus. Raden Ronggo Prawirodirjo III, Banteng Terakhir dari Madiun, menjadi nyala terakhir perlawanan saat kekuasaan Mataram kian rapuh dan Yogyakarta terpecah oleh kepentingan kolonial.
Ia bukan hanya seorang bupati. Ia adalah bara yang menolak padam. Ronggo berdiri melawan kebijakan Kesultanan yang dianggap tunduk, menantang pasukan Yogyakarta, dan mempertahankan harga diri tanah Madiun ketika banyak pihak memilih menyerah. Dalam riwayatnya, sejarah menemukan keberanian yang dibayar dengan darah.
Melalui buku karya Akhlis Syamsal Qomar, kita diajak membuka kembali halaman-halaman kelam namun heroik dari tahun 1779β1810, masa ketika Ronggo Madiun berdiri sebagai simbol terakhir perlawanan lokal terhadap runtuhnya wibawa tradisional Jawa, sekaligus sebagai momentum peringatan Haul ke-215 wafatnya Raden Ronggo Prawirodirjo III.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #96 β Temu Sejarah berkolaborasi dengan Laboratorium dan Ruang Baca Program Studi Pendidikan Sejarah UNS, yang diselenggarakan dalam rangka Haul ke-215 Raden Ronggo Prawirodirjo III, βBanteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III (1779β1810)β bersama penulis, Akhlis Syamsal Qomar, keynote speaker Peter Carey, dan dimoderatori oleh mahasiswa sejarah, Ilham Putra Pratama.
π Kamis, 18 Desember 2025
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via Zoom
πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
π© Cara Daftar:
Ketik: Daftar Diskusi Buku #96 β Nama β Domisili
Kirim ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi lainnya, sampai jumpa Kamis malam nanti! π₯
#temusejarah #radenronggo #haul215 #madiun #sejarahjawa #sejarahindonesia #kesultananyogyakarta #diskusibuku #sejarahlokal
1 month ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Di tengah riuhnya Bandung modern, ternyata ada sebuah komplek vila mewah seluas 13 hektare yang pernah berdiri megah, lalu hilang begitu saja dari ingatan kota.
Nama kawasan itu: Bandoengsch Villapark. Komplek villa sejuta gulden karya arsitek legendaris C.P. Wolff Schoemaker bersama biro arsitekturnya.
Puluhan tahun tak tersentuh, tak tercatat, bahkan hampir terhapus.
Lalu seorang peneliti, Karguna Purnama Harya menemukan jejaknya dari potongan arsip, koran tua, peta kuno, hingga foto udara 1920-an. Dari situlah lahir buku βMenemukan Bandoengsch Villaparkβ, yang membuka kembali pintu sejarah besar yang nyaris lenyap.
Di tengah polemik perubahan Perda Cagar Budaya yang bisa menghapus identitas kota, kisah Villapark menjadi alarm keras:
apa yang terjadi pada sejarah jika kita tak menjaganya? Semua itu akan kita ungkap dalam Diskusi Buku #95 β Temu Sejarah.
π Kamis, 11 Desember 2025
β° 20.00 β 21.30 WIB
π» Via Zoom
πΈ Gratis & Terbuka untuk Umum
π© Cara Daftar:
Ketik: Daftar Diskusi Buku #95 β Nama β Domisili
Kirim ke: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti! π₯
#temusejarah #diskusibuku #bandoengschvillapark #sejarahbandung #cagarbudayabandung #heritagebandung #arsitekturbandung #schoemaker
1 month ago | [YT] | 2
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Berbicara di depan publik bukan cuma soal suara lantang, tapi bagaimana pesanmu benar-benar menyentuh dan berdampak.
Yuk kembangkan kemampuanmu, dengan belajar langsung dari perspektif MC dan jurnalis dalam satu webinar spesial hasil kolaborasi Bicara MC dan Humas DPC PATELKI Kota Bandung.
SPEAK WITH IMPACT: Cara Berbicara ala MC & Jurnalis Mengolah Suara, Menajamkan Pesan, Menciptakan Dampak di Era Digital bareng Tiwi Kasavela (Praktisi Media), Dewy Uma (MC Profesional) dimoderatori oleh Diksi Paisal (ATLM).
π Ngobras (Ngobrol Bareng Humas) & Webinar Bicara MC #9
π Jumat, 5 Desember 2025
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via Zoom
π― Gratis untuk semua peserta
Cara daftar:
Ketik Daftar Bicara MC #9 β Nama β Domisili
Kirim via WA ke 0895-3572-55688
Follow @bicaramc @dpcpatelkikotabdg dan
@humas_dpcpatelkikotabdg untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa jumβat malam nanti π₯
#bicaramc #publicspeaking #webinargratis #kelaspublicspeaking #mcindonesia #patelki #dpcpatelkikotabdg #humas_dpcpatelkibdg#webinarkomunikasi
2 months ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Setiap kota pernah bernyawa. Salatiga pun punya nadi yang tertulis di atas batu.
Sejak tahun 750 Masehi, Salatiga sudah tercatat di Prasasti Plumpungan, batu andesit besar yang menjadi cikal bakal lahirnya kota ini. Dalam prasasti itu tertulis bahwa desa yang dulu bernama βHampraβ diberikan status βperdikanβ artinya: dibebaskan dari pajak dan upeti, sebagai penghormatan atas jasa mereka.
Itu artinya: warisan budaya Salatiga bukan hanya bangunan lama, tapi jejak administratif, nilai keadilan, dan kelahiran komunitas yang sejak awal dihargai oleh sebuah raja.
Mari kita selami bersama kisah di balik batu, prasasti, dan naskah kuno. Melalui Diskusi Buku #94 Temu Sejarah : Cagar Budaya Salatiga dalam Tindak Slamet Rahardjoβ bersama Esthi Susanti Hudiono (Penulis) dimoderatori oleh Bintang Adi Kuncoro.
π Kamis, 4 Desember 2025
β° 20.00β21.30 WIB
π» Via ZOOM β gratis
Daftar: Ketik (Daftar diskusi buku #94 β Nama β Domisili), kirim ke WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti! π₯
#temusejarah #diskusibuku #cagarbudaya #salatiga #sejarahindonesia #pelestarianbudaya
2 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Load more