Dari balik sunyi reruntuhan sejarah, ada kisah yang nyaris hilang dari ingatan. Sebuah kerajaan yang lahir dari perpecahan, bukan kejayaan. Sebuah takhta yang diwariskan dengan harapan damai namun justru memantik konflik.
Kerajaan Janggala. Pecahan dari Kahuripan yang dibelah oleh Raja Airlangga pada tahun 1042 M, demi menghindari perang saudara di antara putra-putranya.
Namun sejarah berkata lain. Alih-alih damai, Janggala justru terjebak dalam rivalitas panjang dengan saudaranya sendiri: Pangjalu (Kadhiri).
Berpusat di Kahuripan, di tanah Jawa Timur yang kini kita pijak, kerajaan ini pernah hidup… bernafas… dan berjuang mempertahankan eksistensinya. Hingga akhirnya, sekitar abad ke-12, Janggala takluk. Ditelan oleh kekuatan yang dulu lahir dari rahim yang sama.
Mari temukan kembali kisah yang terkubur ini dalam Diskusi Buku #106 Temu Sejarah berkolaborasi dengan UPI Review Buku “Mencari Jejak Kerajaan Janggala” karya Soekarno B.G
🗓 Kamis, 26 Maret 2026 ⏰ 20.00 – 21.30 WIB 📍 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #106 - Nama - Domisili Kirim ke WA 0895-3572-55688 [Pendaftaran hanya untuk di luar anggota grup]
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
Bandung pernah berada di titik paling genting dalam sejarahnya.
Di hari-hari awal kemerdekaan, kota ini bukan hanya dipenuhi semangat revolusi, tetapi juga ketegangan, konflik, dan kisah-kisah yang jarang diceritakan. Periode Agustus 1945 hingga Maret 1946 menyimpan banyak cerita yang selama ini luput dari perhatian sejarah besar Indonesia.
Dalam buku Bandung Awal Revolusi 1945–1946, John R.W. Smail membuka lapisan-lapisan sejarah yang jarang kita dengar. Ada rivalitas antara orang Sunda dan non-Sunda yang memengaruhi dinamika kekuasaan. Ada sosok “camat perjuangan” berambut panjang yang memimpin dengan cara yang tak biasa. Bahkan ada kisah bungkusan daun yang dibawa ke medan perang—bukan untuk logistik, melainkan untuk menyimpan jasad para prajurit Gurkha yang gugur.
Revolusi ternyata tidak hanya tentang pertempuran besar. Ia juga tentang cerita-cerita kecil yang membentuk wajah sebuah kota.
Temu Sejarah Indonesia mengundang kamu untuk menyelami kembali masa paling bergolak dalam sejarah Bandung dalam Diskusi Buku #105 berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung : Bandung Awal Revolusi 1945–1946, bersama narasumber, Iman Firmansyah, dimoderatori oleh Ahmad Dzakiyul Afkar.
🗓 Kamis, 12 Maret 2026 ⏰ 20:30–22:00 WIB 📍 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #105 - Nama - Domisili Kirim ke WA 0895-3572-55688 [Pendaftaran hanya untuk di luar anggota grup]
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
Di balik kejayaan itu, ada petani yang kalah zaman. Ada talun yang berubah jadi monokultur. Ada penguasa lokal yang menjadi kaki tangan Badak Putih.
Dan ada Yudira, yang memilih menghujamkan condre ke dada bupati, meski tahu tubuhnya akan dicincang tentara Belanda.
Sejarah tak selalu ditulis oleh yang menang. Kadang ia bersembunyi dalam kisah cinta yang berdarah. Temukan perbincangannya dalam Diskusi #104 Temu Sejarah “Cinta Kopi dan Kekuasaan”.
🗓 Kamis, 5 Maret 2026 ⏰ 20:30–22:30 WIB 📍 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #104 - Nama - Domisili Kirim ke WA 0895-3572-55688
Bagaimana Peranakan Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah di Indonesia?
Di tengah wacana keberagaman pasca-1998, bagaimana narasi tentang Tionghoa hadir di ruang kelas? Apakah sudah setara, atau masih menyisakan bias dan konstruksi lama?
Temu Sejarah #103 mengangkat tema: “Kajian Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah.”
Diskusi ini akan membedah buku hasil karya Disertai Doktoral Dr. Hendra Kurniawan, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang menganalisis secara kritis representasi Tionghoa dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia. Pembahasan juga akan dikaitkan dengan Kurikulum Nasional 2024 yang telah berlaku (beserta revisinya pada 2025), serta relevansinya dengan buku Sejarah Nasional Indonesia terbaru yang baru saja disahkan.
🗓 Kamis, 26 Februari 2026 ⏰ 20.30–22.00 WIB 📍 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #103 - Nama - Domisili Kirim ke WA 0895-3572-55688
Mari membaca ulang sejarah—dan meninjau kembali siapa saja yang diberi ruang di dalamnya.
Sebelum jadi Kebun Binatang, tempat ini sebenarnya apa?
Pernah dengar kalau Bandung hampir kehilangan kebun binatangnya sejak zaman Belanda? Ada cerita tentang kebun binatang di Dago, Cimindi, bangkrut, dijual… sampai warga patungan 2.000 gulden demi menyelamatkan satwa.
Di tengah polemik dan konflik hari ini, jawabannya mungkin justru ada di masa lalu.
Yuk ikuti Diskusi Buku #102 Temu Sejarah Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang, berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung, bersama penulis Yudi Hamzah, dimoderatori oleh Pramukti Adhi Bhakti.
🗓 Kamis, 19 Februari 2026 ⏰ 20.30–22.00 WIB 📍 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik, Daftar Diskusi Buku #102 - Nama - Domisili Kirim ke WA 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! ✨
Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baru—terdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana “garis Holle” ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
🗓 Kamis, 5 Februari 2026 ⏰ 20.00–21.30 WIB 📍 Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: Ketik, Daftar Diskusi Buku #101 – Nama – Domisili Kirim ke 0895-3572-55688
Ebook akan dibagikan gratis menjelang acara via grup WhatsApp Temu Sejarah.
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! ✨
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja “Sang Tabe Namosiwayah”, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
🗓 Kamis, 29 Januari 2026 ⏰ 20.00–21.30 WIB 📍 Via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Format daftar: Daftar Diskusi Buku #100 - Nama – Domisili Kirim ke: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
🗓 Kamis, 22 Januari 2026 ⏰ 20.00–21.30 WIB 💻 Via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📝 Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #99 – Nama – Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
🗓 Kamis, 15 Januari 2026 ⏰ 20.00–21.30 WIB 📌 via Zoom 🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📝 Cara daftar: Ketik Daftar Diskusi Buku #98 – Nama – Domisili Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan. Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
🗓 Minggu, 18 Januari 2026 ⏰ 09.00–12.00 WIB 📌 Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
💰 Kontribusi: 30K 📲 Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! ✨
Tiwi Kasavela
Dari balik sunyi reruntuhan sejarah, ada kisah yang nyaris hilang dari ingatan. Sebuah kerajaan yang lahir dari perpecahan, bukan kejayaan. Sebuah takhta yang diwariskan dengan harapan damai namun justru memantik konflik.
Kerajaan Janggala. Pecahan dari Kahuripan yang dibelah oleh Raja Airlangga pada tahun 1042 M, demi menghindari perang saudara di antara putra-putranya.
Namun sejarah berkata lain. Alih-alih damai, Janggala justru terjebak dalam rivalitas panjang dengan saudaranya sendiri: Pangjalu (Kadhiri).
Berpusat di Kahuripan, di tanah Jawa Timur yang kini kita pijak, kerajaan ini pernah hidup… bernafas… dan berjuang mempertahankan eksistensinya. Hingga akhirnya, sekitar abad ke-12, Janggala takluk.
Ditelan oleh kekuatan yang dulu lahir dari rahim yang sama.
Mari temukan kembali kisah yang terkubur ini dalam Diskusi Buku #106 Temu Sejarah berkolaborasi dengan UPI Review Buku “Mencari Jejak Kerajaan Janggala” karya Soekarno B.G
🗓 Kamis, 26 Maret 2026
⏰ 20.00 – 21.30 WIB
📍 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #106 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688 [Pendaftaran hanya untuk di luar anggota grup]
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #kerajaanjanggala #diskusibuku #sejarahindonesia
12 hours ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Bandung pernah berada di titik paling genting dalam sejarahnya.
Di hari-hari awal kemerdekaan, kota ini bukan hanya dipenuhi semangat revolusi, tetapi juga ketegangan, konflik, dan kisah-kisah yang jarang diceritakan. Periode Agustus 1945 hingga Maret 1946 menyimpan banyak cerita yang selama ini luput dari perhatian sejarah besar Indonesia.
Dalam buku Bandung Awal Revolusi 1945–1946, John R.W. Smail membuka lapisan-lapisan sejarah yang jarang kita dengar. Ada rivalitas antara orang Sunda dan non-Sunda yang memengaruhi dinamika kekuasaan. Ada sosok “camat perjuangan” berambut panjang yang memimpin dengan cara yang tak biasa. Bahkan ada kisah bungkusan daun yang dibawa ke medan perang—bukan untuk logistik, melainkan untuk menyimpan jasad para prajurit Gurkha yang gugur.
Revolusi ternyata tidak hanya tentang pertempuran besar. Ia juga tentang cerita-cerita kecil yang membentuk wajah sebuah kota.
Temu Sejarah Indonesia mengundang kamu untuk menyelami kembali masa paling bergolak dalam sejarah Bandung dalam Diskusi Buku #105 berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung : Bandung Awal Revolusi 1945–1946, bersama narasumber, Iman Firmansyah, dimoderatori oleh Ahmad Dzakiyul Afkar.
🗓 Kamis, 12 Maret 2026
⏰ 20:30–22:00 WIB
📍 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #105 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688 [Pendaftaran hanya untuk di luar anggota grup]
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #sejarahbandung #diskusibuku #sejarahindonesia
1 week ago | [YT] | 12
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Siapa yang diuntungkan dari harum kopi Priangan?
Di balik kejayaan itu, ada petani yang kalah zaman. Ada talun yang berubah jadi monokultur. Ada penguasa lokal yang menjadi kaki tangan Badak Putih.
Dan ada Yudira, yang memilih menghujamkan condre ke dada bupati, meski tahu tubuhnya akan dicincang tentara Belanda.
Sejarah tak selalu ditulis oleh yang menang. Kadang ia bersembunyi dalam kisah cinta yang berdarah. Temukan perbincangannya dalam Diskusi #104 Temu Sejarah “Cinta Kopi dan Kekuasaan”.
🗓 Kamis, 5 Maret 2026
⏰ 20:30–22:30 WIB
📍 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #104 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #diskusibuku #sejarahindonesia
3 weeks ago | [YT] | 1
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Bagaimana Peranakan Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah di Indonesia?
Di tengah wacana keberagaman pasca-1998, bagaimana narasi tentang Tionghoa hadir di ruang kelas? Apakah sudah setara, atau masih menyisakan bias dan konstruksi lama?
Temu Sejarah #103 mengangkat tema: “Kajian Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah.”
Diskusi ini akan membedah buku hasil karya Disertai Doktoral Dr. Hendra Kurniawan, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang menganalisis secara kritis representasi Tionghoa dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia. Pembahasan juga akan dikaitkan dengan Kurikulum Nasional 2024 yang telah berlaku (beserta revisinya pada 2025), serta relevansinya dengan buku Sejarah Nasional Indonesia terbaru yang baru saja disahkan.
🗓 Kamis, 26 Februari 2026
⏰ 20.30–22.00 WIB
📍 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik Daftar Diskusi Buku #103 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Mari membaca ulang sejarah—dan meninjau kembali siapa saja yang diberi ruang di dalamnya.
Sampai jumpa Kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #diskusibuku #sejarahindonesia
4 weeks ago | [YT] | 6
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Sebelum jadi Kebun Binatang, tempat ini sebenarnya apa?
Pernah dengar kalau Bandung hampir kehilangan kebun binatangnya sejak zaman Belanda?
Ada cerita tentang kebun binatang di Dago, Cimindi, bangkrut, dijual… sampai warga patungan 2.000 gulden demi menyelamatkan satwa.
Di tengah polemik dan konflik hari ini, jawabannya mungkin justru ada di masa lalu.
Yuk ikuti Diskusi Buku #102 Temu Sejarah Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang, berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Bandung, bersama penulis Yudi Hamzah, dimoderatori oleh Pramukti Adhi Bhakti.
🗓 Kamis, 19 Februari 2026
⏰ 20.30–22.00 WIB
📍 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar: ketik, Daftar Diskusi Buku #102 - Nama - Domisili
Kirim ke WA 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! ✨
#temusejarah #diskusibuku #bandung
4 weeks ago | [YT] | 8
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Apakah aksara menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang disingkirkan? Di balik undak-usuk basa Sunda, di balik lemes, sedeng, dan kasar, tersimpan sebuah garis sunyi yang mengubah arah sejarah: Holle Line.
Ketika aksara Latin membuka jalan menuju kekuasaan, mereka yang bertahan pada Arab Pegon perlahan tersingkir dari panggung sosial-politik. Bahasa tak lagi netral. Ia menjadi alat. Ia menjadi saringan. Dan dari situlah lahir elit Sunda baru—terdidik, independen, dan politis.
Siapa Karel Frederik Holle sebenarnya? Mengapa proyek bahasa bisa melahirkan formasi politik? Dan bagaimana “garis Holle” ikut menentukan bangkit-tenggelamnya politik Sunda hingga Negara Pasundan?
Mari menbedahnya dalam Diskusi Buku #101 Temu Sejarah Holle Line: Menelusur Akar Pemikiran Politik Sunda melalui Naskah dalam Peti Holle bersama Iip D. Yanya (Penulis buku Holle Line) Asep M. Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Bandung) dan Nanang Suryana (Penulis Holle Line, Dosen FISIP UNPAD).
🗓 Kamis, 5 Februari 2026
⏰ 20.00–21.30 WIB
📍 Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Daftar:
Ketik, Daftar Diskusi Buku #101 – Nama – Domisili
Kirim ke 0895-3572-55688
Ebook akan dibagikan gratis menjelang acara via grup WhatsApp Temu Sejarah.
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya. Sampai jumpa kamis malam nanti! ✨
#temusejarah #diskusibuku #holleline #sejarahsunda
4 weeks ago | [YT] | 0
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Lembang adalah ruang waktu yang menyimpan lapisan cerita, dari mandala kecil di bawah kemaharajaan Pakuan Pajajaran, gema puja “Sang Tabe Namosiwayah”, hingga mitos Sangkuriang yang hidup di langit dan ingatan kolektif kita.
Namun di balik kecantikannya, Lembang juga menyimpan potensi bencana, mengingatkan kita untuk belajar menjadi lebih bijaksana.
Dalam Diskusi Buku #100 Temu Sejarah, kita akan membahas buku Lembang Masa Lalu, di mana Malia Nur Alifa akan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk romantisme semata, melainkan agar masa lalu menjadi pelajaran, dan sejarah menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran hari ini.
🗓 Kamis, 29 Januari 2026
⏰ 20.00–21.30 WIB
📍 Via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📩 Format daftar: Daftar Diskusi Buku #100 - Nama – Domisili
Kirim ke: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #diskusibuku #lembangmasalalu #sejarahlembang #bukusejarah #sejarahindonesia #bandungraya #ruangsejarah
4 weeks ago | [YT] | 5
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Waktu terus berlari, sementara sejarah kerap lahir dari pilihan-pilihan sunyi. Di geladak KRI Dewaruci, kapal latih legendaris TNI AL yang sejak lama mengarungi samudra membawa misi persahabatan, sebuah kegelisahan personal bertemu dengan denyut sejarah maritim Indonesia.
Dalam Muhibah Cinta di Selat Malaka, Hermawan Aksan merangkai catatan muhibah Dewaruci di jalur strategis Selat Malaka, ruang temu bangsa-bangsa sejak berabad lalu, dengan pergulatan batin tentang cinta, doa, dan keputusan yang tak bisa ditunda. Antara berlayar demi negeri atau tinggal demi hati, waktu menjadi saksi yang tak memihak.
Kisah ini akan kita ulas dalam Diskusi Buku #99 Temu Sejarah, berkolaborasi dengan Sindikasi Aksara dan Penerbit Buku Abdi, bersama penulis Hermawan Aksan dan dimoderatori oleh Foggy FF.
🗓 Kamis, 22 Januari 2026
⏰ 20.00–21.30 WIB
💻 Via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📝 Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #99 – Nama – Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #diskusibuku #muhibahcinta #sejarahmaritim #selatmalaka #sastranusantara #novelindonesia
1 month ago | [YT] | 3
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Peristiwa Madiun 1948 bukan sekadar benturan ideologi dan politik kekuasaan. Ia adalah ledakan kekecewaan sosial yang lama terpendam.
Dari sudut pandang sosio-kultural, RERA memutus harapan mobilitas sosial pemuda rakyat yang menjadikan laskar sebagai jalan menuju martabat. Di pedesaan, konflik kelas mengeras ketika penderitaan tani dibingkai sebagai perjuangan kolektif melalui janji reforma agraria dan slogan populis.
Dalam budaya bapakisme, kepemimpinan karismatik, patronase material, dan indoktrinasi ideologis, kekecewaan massa berubah menjadi energi revolusi sosial yang akhirnya meledak di Madiun, 1948.
Mari membedahnya lebih lanjut dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah berkolaborasi dengan Historia Van Madioen : Madiun Affair 1948 dalam perspektif sosio-kultural bersama Septian D. Kharisma, dimoderatori oleh Nabia Rizkia.
🗓 Kamis, 15 Januari 2026
⏰ 20.00–21.30 WIB
📌 via Zoom
🎟 Gratis & terbuka untuk umum
📝 Cara daftar:
Ketik Daftar Diskusi Buku #98 – Nama – Domisili
Kirim via WA: 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa kamis malam nanti 🔥
#temusejarah #diskusibuku #madiun1948 #sejarahindonesia #sejarahsosiokultural #belajarsejarah #ruangdiskusi
1 month ago | [YT] | 1
View 0 replies
Tiwi Kasavela
Sejarah tidak selalu hadir lewat buku tebal dan tanggal hafalan.
Kadang, ia menunggu kita di sebuah rumah, dalam sunyi, dalam ingatan.
60 tahun pasca peristiwa G30S, Temu Sejarah mengajakmu bertemu langsung dengan ruang sejarah, berjalan di rumah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan ngobrol santai tentang Pahlawan Revolusi, memori kolektif, serta relevansinya hari ini.
Mari bergabung dalam Temu Sejarah Explore #9 berkolaborasi dengan Komunitas Pahlawan Pancasila bersama, Aidil, Noviriny Drivina dan Isnaya Denaswari.
🗓 Minggu, 18 Januari 2026
⏰ 09.00–12.00 WIB
📌 Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, Jl. Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat
💰 Kontribusi: 30K
📲 Daftar: bit.ly/exploremuseumnas konfirmasi ke 0895-3572-55688
Follow @temusejarah untuk informasi menarik lainnya, sampai jumpa di Jakarta! ✨
#temusejarah #temusejarahexplore #sejarahindonesia #g30s #pahlawanrevolusi #museumahnasution #refleksisejarah
1 month ago | [YT] | 4
View 0 replies
Load more