Sekelompok turis asal Indonesia terekam berjoget di area Wat Paknam Phasi Charoen, Bangkok, hingga menuai hujatan dari netizen Thailand. Dalam video yang diunggah warga Thailand di X/RedSkullxxx, tampak beberapa ibu-ibu menari di depan patung Buddha raksasa sambil direkam oleh rombongannya.
Kasus pengeroyokan brutal yang dialami pasangan suami istri (pasutri), Eko Prasetya (24) dan istrinya Nurul Hikmah di depan Pos Polisi Simpang Dewa Ruci, Kuta, pada Minggu malam 18 Mei 2025, diungkap polisi.
Polisi menangkap empat pelaku, yakni Yoseph Richard D. Wahak (27), asal Kupang, NTT. Jhordan Javerson Riwu (25), asal Kupang, NTT. Darren Jerremy Adoe (22), asal Aebobo, NTT. Puttu Sandro Bessie (23), asal Rote, NTT.
Kapolsek Kuta AKP Agus Riwayanto Diputra menjelaskan, pengeroyokan tersebut dipicu oleh cekcok di jalan raya.
Pelaku yang dalam kondisi mabuk tidak terima setelah rekan mereka diteriaki kata-kata kasar oleh korban.
"Motifnya karena pelaku merasa tidak terima temannya diteriaki oleh korban usai nyaris bersenggolan di jalan,” kata AKP Agus, Minggu (25/5).
MONOPOLY BALI EDITION : ADA YG SUDAH PUNYA? Salah satu game board paling terkenal di dunia, Monopoly, kini hadir dalam versi lokal bertajuk Monopoly Bali Edition. Diluncurkan di Ubud, Gianyar, permainan ini tidak hanya mengenalkan berbagai destinasi wisata di Bali, tetapi juga mengajak pemain untuk peduli terhadap lingkungan dan budaya lokal. Dalam permainan, misalnya, pemain bisa mendapatkan kartu yang mewajibkan mereka membayar biaya restorasi sebesar Rp100 juta menggunakan uang Monopoly, atau mengikuti aksi bersih-bersih pantai.
Monopoly Bali Edition menampilkan titik-titik perhentian yang tersebar merata di seluruh penjuru pulau, mulai dari Sungai Ayung, Tirta Empul, Gunung Batur, hingga Subak Jatiluwih. Tak ketinggalan, kuliner khas seperti ayam betutu dan nasi goreng juga dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman bermain.
Proyek ini dikerjakan selama 1,5 tahun oleh Kemenpar bersama Monopoly, tanpa menggunakan dana negara. Pemerintah memperoleh keuntungan berupa promosi global untuk Bali, sementara pihak perusahaan mendapat potensi peningkatan penjualan.
Sebanyak 13 ribu pecalang dari 1.500 Desa Adat se Bali, sepakat dan mendeklarasikan penolakan terhadap hadirnya preman yang berkedok ormas. Deklarasi tersebut disampaikan dalam acara Gelar Agung Pacalang, di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Denpasar, Sabtu (17/5). Ketua MDA atau Bendesa Agung Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menegaskan pecalang Bali menjadi garda terdepan menjaga adat, budaya, tradisi, dan kearifan lokal Bali.
“Pecalang Bali sejak leluhur sudah menjaga Bali, nindihin gumi Bali. Pecalang Bali menolak kriminalisme, premanisme dan sikap anarkis yang dilakukan preman berbaju ormas dan berkedok ormas, “ kata Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet.
Pada tahun 2015, Ida Pedanda Gde Made Gunung, seorang sulinggih terkemuka dari Griya Gede Purnawati, Desa Pakraman Kemenuh, Gianyar, menyampaikan keprihatinannya terhadap pelaksanaan upacara adat dan keagamaan di Bali yang cenderung berlebihan dan dapat memberatkan umat secara ekonomi. Dalam Paruman Agung Dharma Ghosana Nusantara yang digelar di Griya Ulon, Desa Pakraman Jungutan, Karangasem, beliau menekankan pentingnya mencegah pelaksanaan upacara yang berlebihan agar tidak memiskinkan umat.
Beliau menegaskan bahwa agama Hindu tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kemiskinan akibat pelaksanaan upacara yang berlebihan. Sebaliknya, beliau mendorong umat untuk melaksanakan upacara sesuai dengan kemampuan dan ajaran sastra suci, bukan semata-mata mengikuti kebiasaan atau gengsi.
Pernyataan beliau ini menjadi pengingat bagi umat Hindu di Bali untuk lebih bijak dalam melaksanakan upacara keagamaan. Menurutnya, semangat beragama tidak boleh ditakar dari besar kecilnya biaya yang dikeluarkan. Upacara yang terlalu mewah kerap dilakukan demi gengsi, bukan karena tuntunan sastra suci. Hal inilah yang kerap menjebak masyarakat dalam tekanan sosial dan utang yang berkepanjangan.
Ia mengajak umat Hindu di Bali untuk lebih rasional dan kembali pada esensi spiritual dalam setiap upacara.
“Buatlah upacara sesuai kemampuan, bukan ikut-ikutan. Jangan sampai niat suci malah membawa penderitaan,” pesannya.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya kompetisi sosial dalam pelaksanaan upacara, di mana kesakralan kadang tertutupi oleh tuntutan gaya dan simbol kemewahan.
Beliau seperti mengajak umat untuk kembali ke jiwa upacara, bukan pada kemewahan simbolik. Sebuah pengingat bahwa menjadi orang Bali sejati adalah soal rasa, bukan rupa.
Rahajeng Rahina Suci Galungan Lan Kuningan 🙏🏻
Sumber : Kutipan Ida Pedanda Gde Made Gunung 2015 Griya Ulon Jungutan Karangasem
Polres Karangasem menahan tiga pria berinisial IGLAED (30), IGLR (56), dan IGNAAP (21) atas dugaan pemukulan terhadap seorang pecalang saat rangkaian Karya IBTK (Ida Bhatara Turun Kabeh) di Pura Agung Besakih, Senin (14/4/2025). Ketiganya merupakan warga Banjar Dinas Selat Kelod, Desa Selat, Kecamatan Selat, dan ditahan berdasarkan Laporan Polisi yang diterbitkan pada hari yang sama. Ketiganya disangkakan melanggar Pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama di muka umum.
Bali Real
Sekelompok turis asal Indonesia terekam berjoget di area Wat Paknam Phasi Charoen, Bangkok, hingga menuai hujatan dari netizen Thailand. Dalam video yang diunggah warga Thailand di X/RedSkullxxx, tampak beberapa ibu-ibu menari di depan patung Buddha raksasa sambil direkam oleh rombongannya.
9 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Bali Real
Kasus pengeroyokan brutal yang dialami pasangan suami istri (pasutri), Eko Prasetya (24) dan istrinya Nurul Hikmah di depan Pos Polisi Simpang Dewa Ruci, Kuta, pada Minggu malam 18 Mei 2025, diungkap polisi.
Polisi menangkap empat pelaku, yakni Yoseph Richard D. Wahak (27), asal Kupang, NTT. Jhordan Javerson Riwu (25), asal Kupang, NTT. Darren Jerremy Adoe (22), asal Aebobo, NTT. Puttu Sandro Bessie (23), asal Rote, NTT.
Kapolsek Kuta AKP Agus Riwayanto Diputra menjelaskan, pengeroyokan tersebut dipicu oleh cekcok di jalan raya.
Pelaku yang dalam kondisi mabuk tidak terima setelah rekan mereka diteriaki kata-kata kasar oleh korban.
"Motifnya karena pelaku merasa tidak terima temannya diteriaki oleh korban usai nyaris bersenggolan di jalan,” kata AKP Agus, Minggu (25/5).
9 months ago | [YT] | 1
View 0 replies
Bali Real
MONOPOLY BALI EDITION : ADA YG SUDAH PUNYA?
Salah satu game board paling terkenal di dunia, Monopoly, kini hadir dalam versi lokal bertajuk Monopoly Bali Edition. Diluncurkan di Ubud, Gianyar, permainan ini tidak hanya mengenalkan berbagai destinasi wisata di Bali, tetapi juga mengajak pemain untuk peduli terhadap lingkungan dan budaya lokal. Dalam permainan, misalnya, pemain bisa mendapatkan kartu yang mewajibkan mereka membayar biaya restorasi sebesar Rp100 juta menggunakan uang Monopoly, atau mengikuti aksi bersih-bersih pantai.
Monopoly Bali Edition menampilkan titik-titik perhentian yang tersebar merata di seluruh penjuru pulau, mulai dari Sungai Ayung, Tirta Empul, Gunung Batur, hingga Subak Jatiluwih. Tak ketinggalan, kuliner khas seperti ayam betutu dan nasi goreng juga dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman bermain.
Proyek ini dikerjakan selama 1,5 tahun oleh Kemenpar bersama Monopoly, tanpa menggunakan dana negara. Pemerintah memperoleh keuntungan berupa promosi global untuk Bali, sementara pihak perusahaan mendapat potensi peningkatan penjualan.
Sumber :kulturdomestik
9 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
9 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Sebanyak 13 ribu pecalang dari 1.500 Desa Adat se Bali, sepakat dan mendeklarasikan penolakan terhadap hadirnya preman yang berkedok ormas. Deklarasi tersebut disampaikan dalam acara Gelar Agung Pacalang, di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Denpasar, Sabtu (17/5). Ketua MDA atau Bendesa Agung Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menegaskan pecalang Bali menjadi garda terdepan menjaga adat, budaya, tradisi, dan kearifan lokal Bali.
“Pecalang Bali sejak leluhur sudah menjaga Bali, nindihin gumi Bali. Pecalang Bali menolak kriminalisme, premanisme dan sikap anarkis yang dilakukan preman berbaju ormas dan berkedok ormas, “ kata Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet.
Baca selengkapnya di
Denpasarviral.com
9 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Moment Marshanda Melukat di Bali
10 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Pengawas Tanah Bali
10 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Penampahan Galungan
10 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Pada tahun 2015, Ida Pedanda Gde Made Gunung, seorang sulinggih terkemuka dari Griya Gede Purnawati, Desa Pakraman Kemenuh, Gianyar, menyampaikan keprihatinannya terhadap pelaksanaan upacara adat dan keagamaan di Bali yang cenderung berlebihan dan dapat memberatkan umat secara ekonomi. Dalam Paruman Agung Dharma Ghosana Nusantara yang digelar di Griya Ulon, Desa Pakraman Jungutan, Karangasem, beliau menekankan pentingnya mencegah pelaksanaan upacara yang berlebihan agar tidak memiskinkan umat.
Beliau menegaskan bahwa agama Hindu tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kemiskinan akibat pelaksanaan upacara yang berlebihan. Sebaliknya, beliau mendorong umat untuk melaksanakan upacara sesuai dengan kemampuan dan ajaran sastra suci, bukan semata-mata mengikuti kebiasaan atau gengsi.
Pernyataan beliau ini menjadi pengingat bagi umat Hindu di Bali untuk lebih bijak dalam melaksanakan upacara keagamaan. Menurutnya, semangat beragama tidak boleh ditakar dari besar kecilnya biaya yang dikeluarkan. Upacara yang terlalu mewah kerap dilakukan demi gengsi, bukan karena tuntunan sastra suci. Hal inilah yang kerap menjebak masyarakat dalam tekanan sosial dan utang yang berkepanjangan.
Ia mengajak umat Hindu di Bali untuk lebih rasional dan kembali pada esensi spiritual dalam setiap upacara.
“Buatlah upacara sesuai kemampuan, bukan ikut-ikutan. Jangan sampai niat suci malah membawa penderitaan,” pesannya.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya kompetisi sosial dalam pelaksanaan upacara, di mana kesakralan kadang tertutupi oleh tuntutan gaya dan simbol kemewahan.
Beliau seperti mengajak umat untuk kembali ke jiwa upacara, bukan pada kemewahan simbolik. Sebuah pengingat bahwa menjadi orang Bali sejati adalah soal rasa, bukan rupa.
Rahajeng Rahina Suci Galungan Lan Kuningan 🙏🏻
Sumber : Kutipan Ida Pedanda Gde Made Gunung 2015 Griya Ulon Jungutan Karangasem
10 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Bali Real
Polres Karangasem menahan tiga pria berinisial IGLAED (30), IGLR (56), dan IGNAAP (21) atas dugaan pemukulan terhadap seorang pecalang saat rangkaian Karya IBTK (Ida Bhatara Turun Kabeh) di Pura Agung Besakih, Senin (14/4/2025). Ketiganya merupakan warga Banjar Dinas Selat Kelod, Desa Selat, Kecamatan Selat, dan ditahan berdasarkan Laporan Polisi yang diterbitkan pada hari yang sama. Ketiganya disangkakan melanggar Pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama di muka umum.
Sumber denpasarcerita
11 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Load more