MULIA TV Sahabat Sunnah

Bismillah Channel ini di buat bertujuan untuk Dokumentasi Video Kajian Sunnah Kajian Islam Ilmiah dan Video pendek Islami untuk motivasi pribadi dan keluarga khususnya serta apabila channel bermanfaat untuk sesama muslim kami lebih sangat bersyukur bisa diambil manfaat kebaikannya dan semoga kita semua mendapatkan pahala jariyah darinya. Kami senantiasa menerima masukan yang baik dan positif membangun untuk lebih baik lagi demikian saya ucapkan Jazakumullahu Khairan


#muliatvsahabatsunnah
#sahabatsunnah
#cintasunnah
#sunnah
#katakatabermakna
#katabermakna
#quotesislami
#ceramahagama
#motivasihidup
#motivasikebaikan


MULIA TV Sahabat Sunnah

Memperbanyak berdoa ketika hujan.

1. Doa Ketika mendung dan langit diselimuti awan hitam

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا فِيْه

Allohumma innii a'uudzu bika min syarri maa fiihi

"Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini."
(HR. Bukhari)

2. Do'a Ketika Hujan Pertama Kali Turun

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Allohumma sho'iban nafi’an

"Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat."
(HR. Bukhari)

3. Do'a Ketika Hujan Turun Dengan Sangat Lebat

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allohumma hawaalainaa wa laa ’alainaa. Allohumma ’alal aakaami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthuunil audiyati, wa manaabitisy syajari.

"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, namun jangan untuk menghancurkan dan merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan."
( HR. Bukhari)

4. Do'a Ketika Angin Bertiup Kencang

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أرسلت بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أرسلت بِهِ.

Allohumma innii as aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), dan kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan dari tujuan angin itu dihembuskan. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, dan kejahatan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan dari tujuan angin itu dihembuskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Ketika Mendengar Petir

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِه

Subhaanalladzi yusabbihur ro'du bihamdihii wal malaaikatu min khiifatihi

“Maha Suci Allah yang halilintar/petir bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya."

6. Ketika Hujan Berhenti

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Muthirnaa bi fadhlillaahi wa rohmatihi.

“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.” (Muttafaq 'alaih)

1 month ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *Tauhid Adalah Inti Dakwah Para Nabi*

*Tauhid — mengesakan Allah dalam ibadah — adalah inti dari dakwah seluruh Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.”
(QS. Al-Anbiya: 25)

Demikian pula Allah berfirman,

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.’”
(QS. An-Nahl: 36)

Dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ, seluruhnya menyeru manusia untuk hanya beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk penyembahan selain-Nya.

Inilah dakwah yang paling mendasar — pondasi seluruh amal dan kunci keselamatan di dunia dan akhirat.

Semoga Bermanfaat Barakallahufiikum

2 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (5)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Kelima: Meyakini Bahwa Alloh Berada di Setiap Tempat*

Jika kamu bertanya kepada seseorang: “Di mana Alloh?” Dia akan menjawab: “Di setiap tempat.”

Ini adalah kekufuran, kemurtadan, dan keluar dari agama. Karena ini mendustakan Kitab Alloh, sunnah Rosul-Nya, ijma’ (kesepakatan) para ulama, fitroh, dan akal.

Adapun Kitab Alloh, itu mutawatir (diriwayatkan secara luas) dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾

“Ar-Rohman di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Juga firman-Nya:

﴿أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾

“Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16)

Adapun Sunnah Nabi, itu mutawatir dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada seorang budak wanita:

«أَيْنَ اللَّهُ؟» قَالَت: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَن أَنَا؟» قَالَت: أَنتَ رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ»

“Di mana Alloh?” Budak itu menjawab: “Di langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu menjawab: “Engkau adalah Rosululloh.” Beliau bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia adalah Mukminah.” (HR. Muslim)

Ijma’ (kesepakatan) bahwa Alloh ada di atas langit telah diceritakan oleh banyak ulama. Di antaranya adalah Imam Abu Al-’Abbas Ibnu Taimiyah (728 H) dalam ‘Aqidah Al-Wasiithiyyah, di mana dia menjadikannya sebagai keyakinan para Salaf.

Beliau juga berkata dalam Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubra, Abdullah bin Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnul Mubarok (181 H) bahwa dia ditanya: “Dengan apa kita mengenal Robb kita?” Dia menjawab:

«بِأَنَّهُ فَوقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَلَا نَقُولُ كَمَا تَقُولُ الجَهمِيَّةُ: إِنَّهُ هَاهُنَا فِي الأَرضِ»

“Dia di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Kita tidak mengatakan sebagaimana orang Jahmiyah mengatakan: ‘Dia ada di sini, di bumi.’”

Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.

Diriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Sulaiman bin Harb (224 H), seorang imam, bahwa dia mendengar Hammad bin Zaid (179 H) menyebut orang-orang Jahmiyah. Lalu dia berkata: “Mereka hanyalah berusaha untuk mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di langit.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab Ar-Rodd ‘ala Al-Jahmiyah dari Sa’id bin ‘Amir Adh-Dhoba’i (208 H)—imam penduduk Bashroh dalam ilmu dan agama, salah satu guru Imam Ahmad—bahwa ketika disebutkan orang-orang Jahmiyah di sisinya, dia berkata: “Perkataan mereka lebih buruk dari orang-orang Yahudi dan Nashoro. Orang-orang Yahudi dan Nashoro serta para penganut agama lain bersepakat dengan kaum Muslimin bahwa Alloh ada di atas ‘Arsy, sedangkan mereka (orang-orang Jahmiyah) mengatakan: ‘Tidak ada di atas sesuatu apa pun.’”

Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (311 H), imam para imam, berkata:

مَن لَم يَقُلْ: إِنَّ اللَّهَ فَوقَ سَمَوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَجَبَ أَن يُستَتَابَ، فَإِن تَابَ وَإِلَّا ضُرِبَت عُنُقُهُ، ثُمَّ أُلقِيَ عَلَى مَزبَلَةٍ؛ لِئَلَّا يَتَأَذَّى بِرِيحِهِ أَهلُ القِبلَةِ وَلَا أَهلُ الذِّمَّةِ

“Siapa yang tidak mengatakan bahwa Alloh berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya: wajib untuk diminta bertaubat. Jika dia bertaubat (maka baik), jika tidak, lehernya dipenggal, lalu dilemparkan ke tempat sampah. Agar penduduk kiblat dan ahli dzimmah tidak terganggu oleh baunya.”

Hal ini disebutkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang shohih.

Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abbad bin Al-’Awam Al-Wasithy (185 H), imam penduduk Wasith dari generasi guru-guru Asy-Syafi’i dan Ahmad, bahwa dia berkata:

«فَرَأَيتُ آخِرَ كَلَامِهِم يَنتَهِي أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ»

“Aku berbicara dengan Bisyr Al-Mirisy (218 H) dan teman-teman Bisyr. Aku melihat bahwa akhir dari perkataan mereka adalah mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’”

Dari Abdur Rohman bin Mahdi (198 H), imam yang terkenal, dia berkata:

«لَيسَ فِي أَصحَابِ الأَهوَاءِ شَرٌّ مِن أَصحَابِ جَهمٍ، يَدُورُونَ عَلَى أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ، أَرَى وَاللَّهِ أَلَّا يُنَاكِحُوا وَلَا يُوَارَثُوا»

“Tidak ada di antara penganut hawa nafsu yang lebih buruk dari pengikut Jahm. Mereka berkeliling untuk mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’ Demi Alloh, aku berpendapat agar mereka tidak dinikahi dan tidak diwarisi.” (HR. Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah)

Adapun fitroh (naluri): Kamu melihat kita, jika ingin berdoa, kita mengangkat tangan kita ke langit. Demi Alloh, beritahu aku: Apa yang membuat kita mengangkat tangan kita ke langit kecuali fitroh yang Alloh ciptakan pada diri kita?!

Adapun akal, jika kamu ditanya: “Mana tempat yang lebih baik, atas atau bawah?”

Tidak diragukan lagi, akal menunjukkan bahwa tempat yang tinggi lebih baik dari tempat yang rendah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam bantahannya terhadap orang-orang zindiq, dan Imam Ibnu Taimiyah (728 H) dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyyah, serta Imam Ibnul Qoyyim (751 H) dalam kitabnya Ash-Showaiq Al-Mursalah.

Maka, bersungguh-sungguhlah kita meyakini dengan yakin dan mantap bahwa Alloh ada di atas langit. Namun, ilmu-Nya ada di setiap tempat, Dia mengetahui kita dan segala yang terjadi.

Dia Subhanahu ada di atas, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Sedangkan ilmu-Nya, yang merupakan sifat-Nya, meliputi segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan seandainya sesuatu itu terjadi, bagaimana terjadinya, sesungguhnya Dia mengetahuinya Subhanahu.

Maka, janganlah kamu mencampuradukkan antara dua hal ini. Jika kamu ditanya: “Di mana Alloh?” Maka jawablah dengan yakin: “Dia di langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” Sebagaimana Dia kabarkan dalam tujuh ayat, dan di antaranya adalah firman-Nya:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾

“Ar-Rohman tinggi di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Sedangkan ilmu-Nya, ada di setiap tempat.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

3 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (4)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Keempat: Mendatangi Tukang Sihir, Dukun, dan Peramal*

Terkadang sebagian Muslim diuji dengan penyakit pada dirinya, istri, anak, atau teman dekatnya. Lalu dia pergi ke dokter, mengetuk pintu-pintu mereka, dan meminta kesembuhan kepada Allah dengan melakukan sebab-sebab yang Alloh mudahkan. Hal ini tidaklah tercela.

Namun, yang tercela adalah sebagian dari mereka, jika tidak menemukan kesembuhan dan obat dari dokter, setelah itu mereka pergi ke tukang sihir, peramal, dan dukun. Mereka meminta kesembuhan kepada mereka dan meminta pertolongan kepada mereka dan jin-jin mereka agar menghilangkan bahaya yang menimpanya. Ini adalah hal yang berbahaya.

Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَنُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ﴾

“Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi syaiton-syaitonlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 102)

Kemudian di akhir ayat, Alloh berfirman:

﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾

“Sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya (dengan iman), maka tidak ada baginya di Akhirat sedikit pun bagian.” (QS. Al-Baqoroh: 102)

Maksudnya, tidak ada baginya bagian sedikit pun di Akhirat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari sebagian istri Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

«مَن أَتى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَم تُقبَل لَهُ صَلاةٌ أَربَعِينَ يَومًا»

“Siapa mendatangi peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka Sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (HR. Ahmad)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Huroiroh:

«فَقَد كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ»

“Sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad)

Ini adalah masalah yang berbahaya. Seorang Muslim harus berhati-hati, dan tidak merusak agama serta Akhiratnya dengan harga yang murah. Kewajiban adalah bersabar, terus bersabar, dan berharap pahala dari Alloh. Hendaklah dia tahu bahwa apa yang menimpanya adalah takdir Alloh. Seandainya Alloh berkehendak, niscaya Dia akan menghilangkannya dengan firman-Nya: “Jadilah!” maka jadilah.

Maka, bersungguh-sungguhlah untuk kembali kepada Alloh dan bersabar. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿اصْبِرُوا وَصَابِرُوا﴾

“Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian.” (QS. Ali ‘Imron: 200)

Juga firman Alloh Ta’ala:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Hanyalah orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Sa’id, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«وَمَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيرًا وَأَوسَعَ مِنَ الصَّبرِ»

“Siapa yang berusaha bersabar, Alloh akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Al-Bukhori meriwayatkan secara mu’allaq dari ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu bahwa beliau berkata:

«وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ»

“Kami menemukan sebaik-baik kehidupan kami adalah dengan kesabaran.” (HR. Al-Bukhori)

Waspadalah terhadap tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama “tabib (dokter) tradisional.” Saya tidak bermaksud bahwa semua tabib tradisional adalah tukang sihir, tidak. Akan tetapi, maksud saya adalah bahwa ada tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama pengobatan tradisional dan Arab.

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana cara membedakan antara tabib yang jujur dan tukang sihir yang pendusta?”

Jawabannya: “Dengan melihat pertanyaan-pertanyaannya. Misalnya dia menanyakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Siapa nama ibumu?’

Atau dia menyebutkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Kamu telah membunuh kucing pada tahun sekian,’ atau ‘di perutmu ada tahi lalat,’ atau ‘ambillah uang ini lalu lemparkan di tempat ini,’ atau ‘ambil ayam betina atau jantan lalu sembelihlah di tempat buang air besar,’ dan seterusnya.

Jika kamu melihatnya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, maka lari dan selamatkanlah agamamu. Karena kamu sedang berada di hadapan tukang sihir dan penipu. Selamatkan agama karena ia paling berharga.

Saya memperingatkan kalian dari beberapa majalah yang memuat ramalan bintang, seperti bintang Taurus dan yang lainnya. Mereka mengatakan: ‘Jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu beruntung,’ dan ‘jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu celaka,’ dan seterusnya.

Ini termasuk perdukunan dan peramalan, dan itu diharomkan dalam agama Alloh. *Siapa yang meyakini kebenaran mereka dan bahwa mereka mengetahui hal ghoib secara mandiri, maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar). Adapun orang yang melihatnya tanpa membenarkannya, Sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari* , dan ini termasuk kekafiran terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ, dengan rincian dalam masalah ini.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

3 months ago | [YT] | 1

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (3)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Ketiga: Berlebih-lebihan dalam Mengagungkan Orang-orang Sholih*

Termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ. Betapa banyak sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih di antara anak cucu Adam. Cukuplah bukti bahwa syirik pertama kali terjadi karena sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, sebagaimana telah disebutkan dalam tafsir Ibnu ‘Abbas terhadap firman Alloh Ta’ala:

﴿وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Waddan, Suwa’an, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasron.” (QS. Nuh: 23)

Di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi kita Muhammad ﷺ adalah mengklaim bahwa beliau mengetahui hal yang ghoib. Betapa banyak kaum Muslimin, seperti kelompok shufiyah dan sejenisnya, yang mengklaim bahwa Rosul kita ﷺ mengetahui hal yang ghoib. Ini adalah pendustaan yang jelas terhadap Kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya ﷺ.

Alloh berfirman kepada Nabi-Nya:

﴿وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ﴾

“Seandainya aku mengetahui hal yang ghoib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak akan ditimpa keburukan.” (QS. Al-A’rof: 188)

Penjelasan bahwa ilmu ghoib hanya milik-Nya adalah firman Alloh:

﴿وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ﴾

“Hanya di sisi-Nyalah kunci-kunci ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” (QS. Al-An’am: 59)

Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di langit dan bumi serta hal ghoib kecuali Alloh. Maka, siapa saja yang mengklaim bahwa Rosul kita Muhammad ﷺ mengetahui hal yang ghoib, sungguh dia telah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam sesuatu yang merupakan kekhususan Alloh. Maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar) yang tidak akan diampuni.

Juga di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, termasuk Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ, adalah mengklaim bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa dan memasukkan manusia ke Jannah atau mengeluarkan mereka dari Neraka.

Ini adalah kesalahan besar. Karena syafa’at —termasuk syafa’at Rosul kita ﷺ— tidak akan terjadi kecuali setelah Alloh mengizinkan dan ridho terhadap orang yang akan diberi syafa’at. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى﴾

“Mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang yang Alloh ridhoi.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Firman-Nya:

﴿مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾

“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa dia bertanya kepada Nabi ﷺ: “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?” Beliau menjawab:

«لَقَد ظَنَنتُ يَا أَبَا هُرَيرَةَ أَلَّا يَسأَلَنِي عَن هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنكَ لِمَا رَأَيتُ مِن حِرصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَومَ القِيَامَةِ مَن قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِن قَبلِ نَفسِهِ»

“Aku sudah menduga, wahai Abu Huroiroh, tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang hadits ini sebelum kamu, karena aku melihat betapa kamu bersemangat dalam mencari hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illalloh’ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Al-Bukhori)

Disebutkan dalam Ash-Shohihain dari Abu Huroiroh, dari Nabi ﷺ:

«فَيَأتُونِي فَأَسجُدُ تَحتَ العَرشِ فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارفَعْ رَأسَكَ، وَاشفَعْ تُشَفَّعْ، وَسَل تُعْطَهْ»

“Maka mereka mendatangiku, lalu aku sujud di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berikanlah syafa’at niscaya engkau akan diberi syafa’at, dan mintalah niscaya engkau akan diberi.’” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Jadi, beliau tidak akan memberikan syafa’at kecuali setelah Alloh `Azza wa Jalla mengizinkannya. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa? Ini sama sekali bukan merendahkan beliau, tidak demi Alloh. Akan tetapi, ini adalah bentuk ketaatan terhadap perintahnya dan perintah Alloh, serta menempatkan beliau pada kedudukannya.

Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari ‘Umar:

«لَا تُطرُونِي كَمَا أَطرَتِ النَّصَارَى ابنَ مَريَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبدُهُ، فَقُولُوا: عَبدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nashoro (Nasroni) berlebih-lebihan memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: ‘Hamba Alloh dan Rosul-Nya.’” (HR. Al-Bukhori)

Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud dalam Ash-Shohihain:

«إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثلُكُم أَنسَى كَمَا تَنسَونَ»

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Beliau adalah manusia biasa. Maka, siapa saja yang berkata bahwa beliau tidak mengetahui hal ghoib dan tidak boleh berkeyakinan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa, memasukkan manusia ke Jannah, dan seterusnya, sesungguhnya dia hanya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

3 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (2)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Kedua: Memahami Kalimat Tauhid Berbeda dengan Makna Benarnya*

Betapa banyak universitas di dunia Islam yang menafsirkan kalimat tauhid (laa ilaha illalloh) dengan makna yang bertentangan dengan makna yang dibawa oleh Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul Alloh, termasuk Nabi Muhammad ﷺ!

Betapa banyak kaum Muslimin yang mengatakan bahwa makna laa ilaha illalloh adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” “tidak ada yang berkuasa menciptakan kecuali Alloh,” dan kalimat-kalimat lainnya yang intinya mengembalikan penafsiran kalimat tauhid kepada tauhid rububiyah, bukan tauhid uluhiyah.

Ini adalah kesalahan besar. Karena jika makna kalimat tauhid (laa ilaha illalloh) adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” maka Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang kafir Quroisy lainnya akan menjadi Muslim. Sebab mereka mengakui bahwa tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur kecuali Alloh.

﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾

“Jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Pasti mereka akan menjawab: “Alloh.” (QS. Luqman: 25)

Alloh berfirman:

﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَرَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Siapa yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapa yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

Jika makna laa ilaha illalloh adalah “tidak ada pencipta kecuali Alloh,” niscaya Abu Jahl dan Abu Lahab adalah orang yang pertama kali beriman. Mereka tidak akan berkata:

﴿أَجَعَلَ الْأَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ﴾

“Mengapa Muhammad menjadikan banyak sesembahan hanya satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shod: 5)

*Ini menunjukkan bahwa makna (laa ilaha illalloh) kembali kepada tauhid uluhiyah. Inilah medan pertempuran para Rosul dengan mereka, yaitu mengesakan Alloh dalam beribadah.*

Di antara yang disebutkan oleh Imam pembaru yang sholih Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) adalah bahwa orang-orang kafir Quroisy lebih baik daripada orang-orang yang terjerumus dalam syirik dari kalangan orang-orang belakangan. Beliau menyebutkan beberapa sebab, di antaranya adalah bahwa orang-orang terdahulu tahu makna kalimat tauhid, sedangkan orang-orang belakangan ini tidak tahu makna kalimat tauhid. Oleh karena itu, salah seorang dari mereka mengucapkan laa ilaha illalloh, padahal dia menyembelih untuk selain Alloh dan meminta pertolongan kepadanya.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

3 months ago | [YT] | 1

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 TERJEMAH KITAB (1)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Pertama* : Mengalihkan Ibadah kepada Selain Alloh
 
Betapa banyak kaum Muslimin yang mengucapkan kalimat tauhid dan menganggap diri mereka Muslim, padahal mereka telah tenggelam dalam lautan syirik!

Di salah satu negara tetangga, pada hari lahir salah satu orang yang mereka sebut “wali,” berkumpul di kuburannya tiga juta orang. Mereka thowaf mengelilingi kuburannya, menyembelih hewan, bernadzar untuknya, meminta kesembuhan, ampunan dosa, dan penghilangan kesusahan kepadanya. Meskipun demikian, mereka mengklaim diri mereka sebagai Muslim.

Di salah satu negara tetangga lainnya, di sebuah daerah yang tidak terlalu besar, terdapat 200 makam yang disembah selain Alloh.

Lihatlah keadaan kaum Muslimin di negara-negara tetangga, engkau akan melihat mereka mendatangi syirik secara berbondong-bondong atas nama agama. Kalau saja syaiton tidak mendatangi mereka melalui pintu agama (kultuskan orang sholih yang telah mati), maka rencana dan syubhatnya tidak akan laku.

*Maka kesalahan pertama yang dilakukan sebagian kaum Muslimin adalah mengalihkan ibadah kepada selain Alloh.* Demi Alloh, saya pernah mendengar dengan telinga saya sendiri saat thowaf di Ka’bah pada salah satu Romadhon yang lalu, seorang wanita tua berkata sambil thowaf mengelilingi Baitulloh: “Madad, madad, ya Rosululloh!” Maksudnya: “Wahai Rosululloh, berikan aku pertolongan untuk pengampunan, untuk dihilangkan kesusahan, dan untuk dikabulkan hajatku…” dan seterusnya.

Tidakkah kalian lihat bagaimana banyak kaum Muslimin yang tenggelam dalam syirik? Inilah sebab utama mengapa orang-orang kafir bisa mengalahkan kita. Karena, demi Alloh, seandainya kita benar-benar menegakkan tauhid, niscaya Robb kita akan menolong kita.

Alloh berfirman:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾

“Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhoi untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun.” (QS. An-Nur: 55)

Alloh `Azza wa Jalla berfirman dalam surat Ar-Rum:

﴿وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Itu adalah janji Alloh. Alloh tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 6)

Sudah pasti, seandainya kita benar-benar menegakkan tauhid Alloh, niscaya Alloh akan menolong kita dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, demi Alloh, kita tidak layak mendapatkan pertolongan-Nya, karena tersebarnya syirik di antara banyak kaum Muslimin, kecuali jika Dia mengaruniai kita dengan keutamaan-Nya, dan Dia adalah Dzat Yang memiliki keutamaan dan karunia.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

3 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

*PENGGUGUR AMAL* - Seluruh dan Sebagian (1)

*MUQODDIMAH*

Allâh tidak menerima ibadah hamba kecuali harus terpenuhi dua syarat: ikhlas dan ittiba. Dikatakan ikhlas jika ditujukan hanya untuk Allâh, dan dikatakan ittiba jika ibadahnya dikerjakan sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ. Untuk mencapai dua syarat ibadah ini, tentu sangat sulit. Jika seorang hamba mampu mewujudkannya –dan ini sangat sulit– ia wajib menjaganya agar tidak hangus. Sungguh menderita orang yang susah payah beramal dengan sungguh-sungguh dengan memenuhi syarat dan rukun ibadahnya serta ikhlas dan ittiba, tetapi kemudian amalnya hangus dan dijadikan debu yang beterbangan sehingga tidak bisa ditimbang di Mizan. Allâh berfirman:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا﴾

“Dan Kami hadapikan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqon [25]: 23)

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾

“Katakanlah: ‘Maukah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia (gugur) amal kebaikannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah beramal sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-104)

Penggugur amal adalah sesuatu yang jika dilakukan akan menjadikan pahala dari amal shalihnya terhapus, baik secara menyeluruh atau tertentu.

Faktor penggugur ada dua tinjauan:

1. Faktor dalam; yaitu tidak terpenuhinya syarat dan rukun suatu ibadah. Misalkan shalat tanpa wudhu maka shalatnya batal dengan sendirinya. Gerakannya dari takbir hingga salam tidak dianggap, karena tidak terpenuhinya wudhu yang merupakan syarat shalat. Syarat dan rukun ibadah ini banyak dibahas di kitab-kitab fiqih dan kebanyakan orang sudah mengetahuinya. Adapun buku yang di tangan pembaca ini, tidak membahas penggugur jenis ini.

2. Faktor luar; yaitu apa yang tidak berkaitan langsung dengan ibadah. Misalkan memakai parfum ke masjid bagi wanita, maka hal ini membatalkan pahala shalatnya hingga ia mandi dan hilang aromanya. Pahala shalat ini terhapus meskipun si wanita tersebut sudah memenuhi syarat dan rukun shalat. Inilah yang dimaksud dengan penggugur faktor luar, dan inilah yang dibahas di buku ini, karena banyak kalangan yang tidak mengetahuinya sehingga perlu dikaji lebih mendalam.

Penggugur amal ada dua macam, yaitu penggugur kulli dan penggugur juz’i. Penggugur kulli adalah sesuatu yang jika dilakukan maka ia menghapus semua amal shalih yang pernah dikerjakannya selama hidupnya, dari A-Z. Misalkan murtad; ia menghapus seluruh amal yang pernah dikerjakannya selama menjadi Muslim: baik shalatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya, haji dan umrahnya, dan amalan kebaikan lainnya.

Adapun penggugur juz’i, adalah amalan yang jika dikerjakan maka menghapus amal tertentu, tidak berdampak pada amal-amal shalih lainnya yang pernah dikerjakannya. Misalkan melakukan mann (menyebut-menyebut pemberian), maka ia menghapus sedekah yang disisipi mann saja, adapun sedekah lainnya maka tidak terkena dampaknya.

_Apa saja yang bisa menghapus seluruh amal kebaikan? insyaaAllah bersambung..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

whatsapp.com/channel/0029VaG3UGwAojYtTPRKb00g

t.me/catatanilmoe

6 months ago | [YT] | 1

MULIA TV Sahabat Sunnah

TARGET KHATAM AL-QUR'AN 1 KALI DALAM BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah, termasuk membaca Al-Qur’an. Salah satu target yang sering dikejar adalah khatam Al-Qur’an dalam 30 hari. Untuk mencapainya dengan mudah, kita bisa mengikuti metode sederhana berikut:

Metode 1 Juz Per Hari

Al-Qur’an terdiri dari 30 juz dan masing-masing juz memiliki sekitar 20 halaman. Jika ingin menyelesaikan satu juz per hari, cukup membaca 4 halaman setiap selesai sholat wajib.

Rincian Per Sholat:

✅ Setelah Subuh – 4 halaman
✅ Setelah Dzuhur – 4 halaman
✅ Setelah Ashar – 4 halaman
✅ Setelah Maghrib – 4 halaman
✅ Setelah Isya/Tarawih – 4 halaman

Dengan pola ini, setiap harinya kita membaca 20 halaman (1 juz) dan dalam 30 hari Ramadhan, insyaAllah kita akan khatam Al-Qur’an dengan mudah.

Keunggulan Metode Ini:

✔ Ringan dan Konsisten – Tidak terasa berat karena dibagi dalam waktu-waktu sholat.
✔ Terjaga dari Lupa – Karena dilakukan setelah sholat, jadi lebih mudah untuk diingat.
✔ Terasa Lebih Bermakna – Membaca dalam kondisi hati yang tenang setelah sholat membuat pemahaman lebih dalam.

Jika ingin khatam dua kali dalam sebulan, cukup membaca 8 halaman setiap selesai sholat wajib.

Dengan niat yang tulus dan usaha yang istiqamah, semoga Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna dengan keberkahan Al-Qur’an. Aamiin.

#ramadhan #bulanramadhan #bulanpenuhberkah #targetmembacaalquran #caramudahbacaalquran #syahrulmubarok #sidoarjo #tulungagung #tahfidzalquran #hafalalquran

10 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

*PENOLONG-PENOLONG DAKWAH*

Salah satu bentuk tolong menolong dalam kebaikan, adalah menolong dan membantu berjalan dan terselenggaranya dakwah. Dan semua yang terlibat dalam dakwah, adalah penolong-penolong dakwah.

Orang yang memiliki harta, menolong dakwah dengan hartanya, orang yang memiliki ilmu atau keahlian, menolong dengan ilmu dan keahliannya, orang yang memiliki kekuasaan, menolong dengan kekuasaannya, orang yang memiliki kekuatan atau tenaga, menolong dengan kekuatan dan tenaganya dan lain sebagainya.

Allah Ta'ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan Tolong- menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Al-Maidah: 2)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

يأمر تعالى عباده المؤمنين بالمعاونة على فعل الخيرات ، وهو البر ، وترك المنكرات وهو التقوى ، وينهاهم عن التناصر على الباطل . والتعاون على المآثم والمحارم .

Allah Ta'ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan yaitu kebajikan dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: hai ini dinamakan ketakwa­an. Allah Ta'ala melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diha­ramkan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Penolong-penolong dakwah akan diberikan pahala yang sama dengan para pendakwah, sebagaimana penolong-penolong kebaikan lainnnya.

Berkata Al-Imam Ath-Thobari rahimahullah :

أن كل من أعان مؤمنًا على عمل بر فللمعين عليه أجر مثل العامل

"Setiap orang yang menolong seorang mukmin dalam melaksanakan satu amalan kebaikan maka orang yang menolong tersebut mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [Syarhul Bukhari libnil Baththol, 5/51]

Berkata Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah :

فإذا أعنت طالب علم في شراء الكتب له أو تأمين السكن أو النفقة أو ما أشبه ذلك فإن لك أجرا أي مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا وهكذا أيضا لو أعنت مصليا على تسهيل مهمته في صلاته في مكانه وثيابه أو في وضوئه أو في أي شيء فإنه يكتب لك في ذلك أجر فالقاعدة العامة أن من أعان شخصا في طاعة من طاعة الله كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا

Maka jika engkau menolong seorang penuntut ilmu dalam membeli buku-buku baginya, atau menyediakan asramanya, membayarkan sekolahnya atau memberi infak kepadanya, atau yang semisal dengannya, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti penuntut ilmu tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Demikian pula jika engkau membantu seorang yang melaksanakan sholat agar mudah baginya melakukan sholat, baik tempat sholatnya, pakaiannya, air wudhunya dan apa saja yang dapat memudahkannya untuk melakukan sholat, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti pahalanya.

Ini adalah kaidah umum; barangsiapa yang menolong orang lain untuk melakukan suatu ketaatan kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang melakukan ketaatan tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” [Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/375]

Jika seseorang pensiun dari menolong jalannya dakwah ini, dia sendiri yang akan merugi, tidak mendapatkan pahala, dan bisa jadi kembali seperti orang awam. Dan pasti penggantinya akan datang menggantikan posisinya.

AFM

Copas dari berbagai sumber

2 years ago | [YT] | 0