MULIA TV Sahabat Sunnah

Bismillahirrahmanirrahim, Channel ini di buat bertujuan untuk Dokumentasi Video Kajian Sunnah Kajian Islam Ilmiah dan Video pendek Islami untuk motivasi pribadi dan keluarga khususnya serta apabila channel bermanfaat untuk sesama muslim kami lebih sangat bersyukur bisa diambil manfaat kebaikannya dan semoga kita semua mendapatkan pahala jariyah darinya. Kami senantiasa menerima masukan yang baik dan positif membangun untuk lebih baik lagi demikian saya ucapkan Jazakumullahu Khairan


#muliatvsahabatsunnah
#sahabatsunnah
#cintasunnah
#sunnah
#katakatabermakna
#katabermakna
#quotesislami
#ceramahagama
#motivasihidup
#motivasikebaikan


MULIA TV Sahabat Sunnah

*🌙 Amalan Hari Jumat dengan Pahala Sangat Besar*

1️⃣ Hadits: Setiap langkah bernilai puasa & qiyam setahun

📜 Riwayat Shahih

Dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ، فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ: أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا



Artinya:
“Barang siapa mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal, berjalan kaki (tidak berkendara), mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan hal sia-sia, maka setiap langkahnya bernilai pahala amalan satu tahun: pahala puasa dan qiyamnya.”

📚 HR. Abu Dawud (345), At-Tirmidzi (496), An-Nasa’i — hadits shahih


---

2️⃣ Penjelasan Ulama Salaf

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:

✅ Besarnya keutamaan Jumat

Hari terbaik dalam sepekan

Momentum penghapus dosa

Ladang pahala yang luar biasa


✅ Syarat meraih pahala tersebut

Menurut penjelasan ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Rajab:

1. Mandi Jumat (ghusl)


2. Datang lebih awal


3. Berjalan kaki bila mampu


4. Duduk dekat imam


5. Khusyuk mendengarkan khutbah


6. Tidak berbicara atau bermain HP




---

3️⃣ Dalil Al-Qur’an tentang Keutamaan Jumat

Allah berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا البَيْعَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli.”
📖 QS. Al-Jumu’ah: 9



📌 Makna menurut para sahabat

Ibnu Abbas: “Bersegera dengan hati dan amal.”

Umar bin Khattab: menunjukkan pentingnya meninggalkan dunia demi ibadah.



---

4️⃣ Amalan Jumat dengan Pahala Besar (Berdasarkan Hadits Shahih)

🌟 A. Mandi Jumat

📚 HR. Bukhari & Muslim
“Ghusl pada hari Jumat wajib bagi setiap yang baligh.”

🌟 B. Datang lebih awal

📚 HR. Bukhari
Setiap waktu kedatangan dicatat seperti berkurban:

Awal: seperti kurban unta

Berikutnya: sapi

Kambing

Ayam

Telur


🌟 C. Memperbanyak shalawat

📚 HR. Abu Dawud (shahih)
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat.”

🌟 D. Membaca Surah Al-Kahfi

📚 HR. Al-Hakim (hasan shahih)
Mendapat cahaya antara dua Jumat.


---

5️⃣ Mengapa Pahalanya Sangat Besar?

Menurut para ulama salaf:

🕌 Karena Jumat adalah:

Hari terbaik dalam seminggu

Hari berkumpulnya kaum muslimin

Hari diampuni dosa

Hari mustajab doa


Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

> “Hari Jumat dibanding hari lain seperti Ramadhan dibanding bulan lain.”




---

✨ Nasehat untuk Kaum Muslimin

Hari Jumat adalah kesempatan emas yang datang setiap pekannya.
Bayangkan: hanya dengan melangkah ke masjid dengan adab yang benar, Allah memberi pahala puasa dan qiyam setahun untuk setiap langkah.

Mari kita:

Mandi dan bersiap dengan baik

Datang lebih awal

Tinggalkan kesibukan dunia

Khusyuk mendengarkan khutbah


Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang memuliakan hari Jumat dan meraih pahala besar darinya.


---
Semoga Bermanfaat Barakallahufiikum

1 week ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

*Nasehat untuk Para Penggiat Dakwah*
Menjaga Keikhlasan, Membersihkan Hati, dan Merawat Ukhuwah

Saudaraku para penggiat dakwah, semoga Allah menjaga hati kita semua.
Teruslah bersahabat, teruslah bersama, hingga Allah tetapkan waktunya kita pulang menghadap-Nya.

Sesungguhnya kebersamaan dengan sahabat mukmin dan mukminah bukan perkara ringan. Mereka adalah karunia Allah, bahkan dengan izin-Nya kelak bisa menjadi sebab syafaat di hari kiamat. Maka jangan mudah membuang ukhuwah hanya karena perbedaan pendapat, cara, atau sudut pandang.

Ada saatnya kita mengalah, dan itu bukan berarti kita kalah. Karena tidak selamanya sahabat kita salah, dan tidak selamanya kita benar.

Allah Ta‘ālā berfirman:

> وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)



Saudaraku, janganlah satu keburukan pada diri teman kita menghapus puluhan kebaikannya. Karena pada diri kita pun ada keburukan—dan bisa jadi Allah menutup aib kita melalui lisan saudara kita yang tidak mengungkitnya.

Setiap manusia membawa kebaikan dan keburukan. Maka belajar menerima saudara kita apa adanya adalah bagian dari keimanan dan kedewasaan dalam berdakwah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> المُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar.”
(HR. Ibnu Mājah, hasan)



Luruskan Niat, Jaga Hati

Dakwah bukan tempat untuk menonjolkan diri, bukan ajang merasa paling benar, dan bukan pula ladang memupuk hasad. Dakwah adalah ibadah—dan ibadah menuntut keikhlasan.

Allah Ta‘ālā berfirman:

> وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)



Hasad, iri, dan keinginan menonjolkan diri hanya akan melemahkan dakwah dan merusak ukhuwah. Padahal tujuan dakwah adalah memperbaiki, bukan memecah; menyatukan, bukan menjauhkan.

Al-Hasan Al-Baṣrī رحمه الله berkata:

> “Aku tidak pernah iri kepada seseorang kecuali kepada orang yang mengamalkan ilmunya.”
(Atsar)



Amar Ma‘ruf dengan Kasih Sayang

Amar ma‘ruf nahi mungkar—terutama kepada sahabat—disyariatkan dengan ruh kasih sayang, bukan dengan semangat permusuhan. Menasihati bukan untuk menjatuhkan, mengingatkan bukan untuk memenangkan ego.

Satu kesalahan tidak berarti salah semuanya. Dan satu kebenaran tidak menjadikan kita berhak meremehkan yang lain.

Allah Ta‘ālā berfirman:

> وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)



Berteman Karena Allah

Bertemanlah denganku apa adanya, bukan karena ada apanya.
Bersamalah denganku karena Allah, bukan karena kepentingan dunia.

Mari kita jaga interaksi kita agar tidak berubah menjadi musibah saat kita berdiri di hadapan Allah. Karena bisa jadi kebersamaan ini tidak lama, dan belum tentu kita dipertemukan kembali di dunia.

Sufyān Ats-Tsaurī رحمه الله berkata:

> “Tidak ada yang lebih sulit aku perbaiki selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
(Atsar)



Maka mari kita saling mendoakan, saling menutup aib, saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’, ujub, dan hasad. Menjadikan dakwah kita ikhlas, lembut, dan penuh hikmah.

Semoga Allah kumpulkan kita kelak bersama orang-orang yang saling mencintai karena-Nya.

Barakallāhu fīkum.

2 weeks ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

Harus Bergabung Dengan Kelompok Mana?

Pertanyaan:
Pada zaman ini banyak bermunculan kelompok-kelompok, seperti Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Quthbiyah, dan lainnya. Apa nasehat untuk saya? Apakah saya perlu bergabung dengan kelompok-kelompok tersebut atau tidak? Mohon bimbingannya, semoga Allah memberkahi anda.

Syaikh Dr. Shaleh bin Fauzan Al Fauzan حفظه الله menjawab:
Bergabunglah dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu bersama orang-orang yang disifati oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَنْ كَانَ مَا أَنَا عَلَيهِ وَأَصْحَابِي

“Yaitu mereka yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya”.

Jadikan hadits ini sebagai manhaj -prinsip beragama- yang engkau tempuh. Siapa saja yang berada di atas manhaj Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, maka bersamalah dengannya. Dan siapa saja yang menyelisihi, maka jauhilah dia. Inilah tolok ukurnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak meninggalkan kita dalam keadaan bingung, bahkan beliau telah menjelaskan manhaj dan jalan yang harus ditempuh. Allah tidak mewafatkan beliau kecuali setelah agama ini disempurnakan dan nikmatnya dilengkapi. Beliau shallallahu alaihi wasallam meninggalkan umatnya di atas jalan yang terang-benderang, malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.

Sebagaimana sabda Beliau:

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِن تَمَسَّكْتُم بِهِ لَن تَضِلُّوا بَعدِي كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitabullah dan Sunnahku”.

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

مَن يَعِشْ مِنْكُم فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ مِن بَعْدِي

“Barang siapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk sepeninggalku”.

Maka siapa saja yang berjalan di atas manhaj ini, ikutlah bersama dengan mereka. Dan siapa yang menyelisihinya, maka jauhilah.

Kita tidak boleh terikat dengan nama si fulan, bukan pula dengan kelompok anu atau itu. Nama-nama tidak menjadi ukuran bagi kita, begitu pula partai dan kelompok. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Ahlus Sunnah dan kebenaran, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah.

———————
Risalah “Madzhab Ahlis Sunnah fil Iman”, hal. 62-63, Syaikh Dr. Shaleh Al Fauzan. cet. Abdul Lathif Baasymil.

2 weeks ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

🌿 QONA‘AH: KUNCI KETENANGAN HIDUP SEORANG MUSLIM 🌿

(Renungan Al-Qur’an dan Hadits Shahih)

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Di zaman sekarang, banyak manusia punya harta tapi tidak tenang,
punya penghasilan tapi hatinya gelisah,
karena satu penyakit hati: tidak qona‘ah.

Padahal Rasulullah ﷺ dan para salafus shalih mengajarkan satu akhlak agung yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu qona‘ah.

📌 Apa Itu Qona‘ah?

Qona‘ah adalah:

Ridha dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, setelah berusaha secara halal.

Qona‘ah bukan berarti malas,
bukan berarti menolak rezeki,
dan bukan berarti pasrah tanpa usaha.

📌 Qona‘ah adalah sikap hati, bukan jumlah harta.

📖 Qona‘ah dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

1️⃣ Rezeki sudah Allah bagi dengan hikmah

﴿ أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ﴾
(QS. Az-Zukhruf: 32)

Artinya:
“Apakah mereka yang membagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang membagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”

➡️ Ayat ini mengajarkan:

Rezeki bukan kebetulan

Rezeki bukan semata usaha

Tapi pembagian Allah yang Maha Bijaksana

2️⃣ Larangan membandingkan dunia

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ ﴾
(QS. Thaha: 131)

Artinya:
“Janganlah engkau memandang kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.”

📌 Membandingkan diri dengan orang lain adalah awal rusaknya qona‘ah.

3️⃣ Jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridha

﴿ يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴾
(QS. Al-Fajr: 27–28)

➡️ Jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridha terhadap takdir Allah.

🕌 Qona‘ah dalam Hadits Shahih

🌿 Kekayaan sejati bukan harta

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kayanya jiwa.”
(HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051)

➡️ Orang qona‘ah hatinya kaya, meski hartanya sederhana.

🌿 Qona‘ah adalah keberuntungan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qona‘ah.”
(HR. Muslim no. 1054)

📌 Perhatikan: qona‘ah adalah karunia dari Allah, bukan semata kemampuan manusia.

🌿 Doa Nabi ﷺ tentang qona‘ah

Rasulullah ﷺ berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup.”
(HR. Muslim no. 1055)

➡️ Padahal Rasulullah ﷺ mampu meminta kekayaan, tapi beliau memilih qona‘ah.

⚖️ Qona‘ah Bukan Berarti Tidak Berusaha

Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

“Bukan qona‘ah namanya jika seseorang meninggalkan usaha.”

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Qona‘ah adalah ridha terhadap kecukupan, bukan ridha terhadap kemalasan.”

📌 Salafus shalih bekerja keras, tapi hati mereka tidak bergantung pada dunia.

🧠 Lawan Qona‘ah: Ketamakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga.”
(HR. Bukhari no. 6436, Muslim no. 1048)

➡️ Hati yang tidak qona‘ah tidak akan pernah kenyang.

🤲 Doa Qona‘ah yang Dianjurkan

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ

Artinya:
“Ya Allah, jadikan aku qona‘ah dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku dan berkahilah ia.”
(HR. Muslim no. 2720)

✨ Penutup Renungan

📌 Qona‘ah adalah ibadah hati
📌 Qona‘ah melahirkan syukur
📌 Qona‘ah mendatangkan ketenangan hidup

Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata:

“Qona‘ah adalah harta yang tidak akan pernah habis.”

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang qona‘ah, bersyukur, dan tenang hatinya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Semoga Bermanfaat Barakallahufiikum

Share Like Subscribe

2 weeks ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

🌙 *Nasehat Menyikapi Malam Nishfu Sya’ban*

Untuk Kaum Muslimin dan Jamaah sekalian

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan perintah-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya ﷺ. Saat ini kita berada di bulan Sya’ban, bulan yang penuh keberkahan dan merupakan jembatan menuju Ramadhan.

Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan ini sebagai persiapan ruhani sebelum Ramadhan¹.

Di tengah masyarakat kita, sering muncul pembahasan tentang malam Nishfu Sya’ban (malam tanggal 15 Sya’ban). Maka hendaknya kita menyikapinya dengan *ilmu dan dalil*, agar ibadah kita benar dan tidak terjatuh pada perkara yang tidak dicontohkan Rasulullah ﷺ.


---

📖 *Kedudukan Malam Nishfu Sya’ban*

Terdapat hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”²



Hadits ini menunjukkan: 👉 adanya keutamaan ampunan Allah pada malam tersebut.

Akan tetapi para ulama menjelaskan: 👉 tidak ada ibadah khusus, shalat khusus, dzikir khusus, ataupun perayaan tertentu yang dicontohkan Nabi ﷺ pada malam itu.


---

⚖ *Prinsip dalam beribadah*

Jamaah sekalian,

Ibadah harus berdasarkan tuntunan, bukan perasaan atau kebiasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang tidak ada tuntunannya, maka ia tertolak.”³



*Para ulama menetapkan kaidah*:

> “Hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada dalil.”⁴



Artinya: kita tidak boleh membuat tata cara ibadah baru tanpa contoh dari Nabi ﷺ.


---

✅ *Amalan yang boleh dilakukan*

Karena termasuk ibadah umum:

Shalat malam (tahajud)

Tilawah Al-Qur’an

Dzikir dan istighfar

Doa

Puasa sunnah di bulan Sya’ban

Taubat dan muhasabah diri


Semua ini baik tanpa mengkhususkan malam tersebut dengan tata cara tertentu.


---

❌ Amalan yang perlu dihindari

*Para ulama mengingatkan agar meninggalkan amalan-amalan yang tidak memiliki dalil shahih, seperti:*

shalat khusus 100 rakaat

shalat raghaib

baca Yasin 3 kali dengan niat tertentu

doa khusus berjamaah

perayaan atau ritual massal


Imam An-Nawawi رحمه الله menegaskan bahwa shalat-shalat khusus Nishfu Sya’ban adalah bid’ah mungkar⁵.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa mengkhususkan ibadah tertentu pada malam itu tidak memiliki dasar sunnah⁶.


---

❤️ *Pesan terpenting dari hadits*

Perhatikan isi hadits tadi…

Allah tidak mengampuni:

orang musyrik

orang yang bermusuhan


Maka yang paling utama justru:

membersihkan tauhid

menjauhi syirik

memaafkan sesama muslim

menghilangkan dendam dan iri hati

menyambung silaturahmi

memperbanyak taubat


Inilah amalan hati yang lebih besar nilainya di sisi Allah.


---

🌿 *Penutup*

Jamaah rahimakumullah,

Mari kita beribadah dengan: ✔ Ikhlas
✔ Sesuai sunnah
✔ Jauh dari bid’ah

Karena amalan yang sedikit tapi sesuai sunnah lebih dicintai Allah daripada amalan banyak tanpa tuntunan.

Semoga Allah mengampuni dosa kita, membersihkan hati kita, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan terbaik.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


---

📚 *Catatan Kaki / Referensi*

1. HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156 – Nabi ﷺ banyak berpuasa di bulan Sya’ban.


2. HR. Ahmad (6642), Ibnu Majah (1390); dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.


3. HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718.


4. Kaidah ushul fiqh, dinukil oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham.


5. An-Nawawi, Al-Majmu’ 4/56 – shalat Raghaib & Nishfu Sya’ban adalah bid’ah mungkar.


6. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa 23/132 – tidak ada ibadah khusus yang ditetapkan secara berjamaah pada malam tersebut.

---
Semoga Bermanfaat Barakallahufiikum

Silahkan di Share Ke Saudara Jama'ah Kaum Muslimin

2 weeks ago | [YT] | 1

MULIA TV Sahabat Sunnah

Memperbanyak berdoa ketika hujan.

1. Doa Ketika mendung dan langit diselimuti awan hitam

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا فِيْه

Allohumma innii a'uudzu bika min syarri maa fiihi

"Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini."
(HR. Bukhari)

2. Do'a Ketika Hujan Pertama Kali Turun

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Allohumma sho'iban nafi’an

"Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat."
(HR. Bukhari)

3. Do'a Ketika Hujan Turun Dengan Sangat Lebat

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allohumma hawaalainaa wa laa ’alainaa. Allohumma ’alal aakaami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthuunil audiyati, wa manaabitisy syajari.

"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, namun jangan untuk menghancurkan dan merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan."
( HR. Bukhari)

4. Do'a Ketika Angin Bertiup Kencang

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أرسلت بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أرسلت بِهِ.

Allohumma innii as aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), dan kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan dari tujuan angin itu dihembuskan. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, dan kejahatan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan dari tujuan angin itu dihembuskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Ketika Mendengar Petir

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِه

Subhaanalladzi yusabbihur ro'du bihamdihii wal malaaikatu min khiifatihi

“Maha Suci Allah yang halilintar/petir bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya."

6. Ketika Hujan Berhenti

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Muthirnaa bi fadhlillaahi wa rohmatihi.

“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.” (Muttafaq 'alaih)

3 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *Tauhid Adalah Inti Dakwah Para Nabi*

*Tauhid — mengesakan Allah dalam ibadah — adalah inti dari dakwah seluruh Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.”
(QS. Al-Anbiya: 25)

Demikian pula Allah berfirman,

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.’”
(QS. An-Nahl: 36)

Dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ, seluruhnya menyeru manusia untuk hanya beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk penyembahan selain-Nya.

Inilah dakwah yang paling mendasar — pondasi seluruh amal dan kunci keselamatan di dunia dan akhirat.

Semoga Bermanfaat Barakallahufiikum

3 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (5)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Kelima: Meyakini Bahwa Alloh Berada di Setiap Tempat*

Jika kamu bertanya kepada seseorang: “Di mana Alloh?” Dia akan menjawab: “Di setiap tempat.”

Ini adalah kekufuran, kemurtadan, dan keluar dari agama. Karena ini mendustakan Kitab Alloh, sunnah Rosul-Nya, ijma’ (kesepakatan) para ulama, fitroh, dan akal.

Adapun Kitab Alloh, itu mutawatir (diriwayatkan secara luas) dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾

“Ar-Rohman di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Juga firman-Nya:

﴿أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾

“Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16)

Adapun Sunnah Nabi, itu mutawatir dalam menjelaskan bahwa Alloh ada di atas langit. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada seorang budak wanita:

«أَيْنَ اللَّهُ؟» قَالَت: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَن أَنَا؟» قَالَت: أَنتَ رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ»

“Di mana Alloh?” Budak itu menjawab: “Di langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu menjawab: “Engkau adalah Rosululloh.” Beliau bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia adalah Mukminah.” (HR. Muslim)

Ijma’ (kesepakatan) bahwa Alloh ada di atas langit telah diceritakan oleh banyak ulama. Di antaranya adalah Imam Abu Al-’Abbas Ibnu Taimiyah (728 H) dalam ‘Aqidah Al-Wasiithiyyah, di mana dia menjadikannya sebagai keyakinan para Salaf.

Beliau juga berkata dalam Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubra, Abdullah bin Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnul Mubarok (181 H) bahwa dia ditanya: “Dengan apa kita mengenal Robb kita?” Dia menjawab:

«بِأَنَّهُ فَوقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَلَا نَقُولُ كَمَا تَقُولُ الجَهمِيَّةُ: إِنَّهُ هَاهُنَا فِي الأَرضِ»

“Dia di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Kita tidak mengatakan sebagaimana orang Jahmiyah mengatakan: ‘Dia ada di sini, di bumi.’”

Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.

Diriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Sulaiman bin Harb (224 H), seorang imam, bahwa dia mendengar Hammad bin Zaid (179 H) menyebut orang-orang Jahmiyah. Lalu dia berkata: “Mereka hanyalah berusaha untuk mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di langit.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab Ar-Rodd ‘ala Al-Jahmiyah dari Sa’id bin ‘Amir Adh-Dhoba’i (208 H)—imam penduduk Bashroh dalam ilmu dan agama, salah satu guru Imam Ahmad—bahwa ketika disebutkan orang-orang Jahmiyah di sisinya, dia berkata: “Perkataan mereka lebih buruk dari orang-orang Yahudi dan Nashoro. Orang-orang Yahudi dan Nashoro serta para penganut agama lain bersepakat dengan kaum Muslimin bahwa Alloh ada di atas ‘Arsy, sedangkan mereka (orang-orang Jahmiyah) mengatakan: ‘Tidak ada di atas sesuatu apa pun.’”

Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (311 H), imam para imam, berkata:

مَن لَم يَقُلْ: إِنَّ اللَّهَ فَوقَ سَمَوَاتِهِ عَلَى عَرشِهِ بَائِنٌ مِن خَلقِهِ، وَجَبَ أَن يُستَتَابَ، فَإِن تَابَ وَإِلَّا ضُرِبَت عُنُقُهُ، ثُمَّ أُلقِيَ عَلَى مَزبَلَةٍ؛ لِئَلَّا يَتَأَذَّى بِرِيحِهِ أَهلُ القِبلَةِ وَلَا أَهلُ الذِّمَّةِ

“Siapa yang tidak mengatakan bahwa Alloh berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya: wajib untuk diminta bertaubat. Jika dia bertaubat (maka baik), jika tidak, lehernya dipenggal, lalu dilemparkan ke tempat sampah. Agar penduduk kiblat dan ahli dzimmah tidak terganggu oleh baunya.”

Hal ini disebutkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang shohih.

Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abbad bin Al-’Awam Al-Wasithy (185 H), imam penduduk Wasith dari generasi guru-guru Asy-Syafi’i dan Ahmad, bahwa dia berkata:

«فَرَأَيتُ آخِرَ كَلَامِهِم يَنتَهِي أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ»

“Aku berbicara dengan Bisyr Al-Mirisy (218 H) dan teman-teman Bisyr. Aku melihat bahwa akhir dari perkataan mereka adalah mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’”

Dari Abdur Rohman bin Mahdi (198 H), imam yang terkenal, dia berkata:

«لَيسَ فِي أَصحَابِ الأَهوَاءِ شَرٌّ مِن أَصحَابِ جَهمٍ، يَدُورُونَ عَلَى أَن يَقُولُوا: لَيسَ فِي السَّمَاءِ شَيءٌ، أَرَى وَاللَّهِ أَلَّا يُنَاكِحُوا وَلَا يُوَارَثُوا»

“Tidak ada di antara penganut hawa nafsu yang lebih buruk dari pengikut Jahm. Mereka berkeliling untuk mengatakan: ‘Tidak ada sesuatu pun di langit.’ Demi Alloh, aku berpendapat agar mereka tidak dinikahi dan tidak diwarisi.” (HR. Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah)

Adapun fitroh (naluri): Kamu melihat kita, jika ingin berdoa, kita mengangkat tangan kita ke langit. Demi Alloh, beritahu aku: Apa yang membuat kita mengangkat tangan kita ke langit kecuali fitroh yang Alloh ciptakan pada diri kita?!

Adapun akal, jika kamu ditanya: “Mana tempat yang lebih baik, atas atau bawah?”

Tidak diragukan lagi, akal menunjukkan bahwa tempat yang tinggi lebih baik dari tempat yang rendah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam bantahannya terhadap orang-orang zindiq, dan Imam Ibnu Taimiyah (728 H) dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyyah, serta Imam Ibnul Qoyyim (751 H) dalam kitabnya Ash-Showaiq Al-Mursalah.

Maka, bersungguh-sungguhlah kita meyakini dengan yakin dan mantap bahwa Alloh ada di atas langit. Namun, ilmu-Nya ada di setiap tempat, Dia mengetahui kita dan segala yang terjadi.

Dia Subhanahu ada di atas, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Sedangkan ilmu-Nya, yang merupakan sifat-Nya, meliputi segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, dan seandainya sesuatu itu terjadi, bagaimana terjadinya, sesungguhnya Dia mengetahuinya Subhanahu.

Maka, janganlah kamu mencampuradukkan antara dua hal ini. Jika kamu ditanya: “Di mana Alloh?” Maka jawablah dengan yakin: “Dia di langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” Sebagaimana Dia kabarkan dalam tujuh ayat, dan di antaranya adalah firman-Nya:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾

“Ar-Rohman tinggi di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Sedangkan ilmu-Nya, ada di setiap tempat.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

5 months ago | [YT] | 0

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (4)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Keempat: Mendatangi Tukang Sihir, Dukun, dan Peramal*

Terkadang sebagian Muslim diuji dengan penyakit pada dirinya, istri, anak, atau teman dekatnya. Lalu dia pergi ke dokter, mengetuk pintu-pintu mereka, dan meminta kesembuhan kepada Allah dengan melakukan sebab-sebab yang Alloh mudahkan. Hal ini tidaklah tercela.

Namun, yang tercela adalah sebagian dari mereka, jika tidak menemukan kesembuhan dan obat dari dokter, setelah itu mereka pergi ke tukang sihir, peramal, dan dukun. Mereka meminta kesembuhan kepada mereka dan meminta pertolongan kepada mereka dan jin-jin mereka agar menghilangkan bahaya yang menimpanya. Ini adalah hal yang berbahaya.

Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

﴿وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَنُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ﴾

“Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi syaiton-syaitonlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 102)

Kemudian di akhir ayat, Alloh berfirman:

﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾

“Sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya (dengan iman), maka tidak ada baginya di Akhirat sedikit pun bagian.” (QS. Al-Baqoroh: 102)

Maksudnya, tidak ada baginya bagian sedikit pun di Akhirat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari sebagian istri Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

«مَن أَتى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَم تُقبَل لَهُ صَلاةٌ أَربَعِينَ يَومًا»

“Siapa mendatangi peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka Sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (HR. Ahmad)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Huroiroh:

«فَقَد كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ»

“Sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad)

Ini adalah masalah yang berbahaya. Seorang Muslim harus berhati-hati, dan tidak merusak agama serta Akhiratnya dengan harga yang murah. Kewajiban adalah bersabar, terus bersabar, dan berharap pahala dari Alloh. Hendaklah dia tahu bahwa apa yang menimpanya adalah takdir Alloh. Seandainya Alloh berkehendak, niscaya Dia akan menghilangkannya dengan firman-Nya: “Jadilah!” maka jadilah.

Maka, bersungguh-sungguhlah untuk kembali kepada Alloh dan bersabar. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿اصْبِرُوا وَصَابِرُوا﴾

“Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian.” (QS. Ali ‘Imron: 200)

Juga firman Alloh Ta’ala:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Hanyalah orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Sa’id, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«وَمَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيرًا وَأَوسَعَ مِنَ الصَّبرِ»

“Siapa yang berusaha bersabar, Alloh akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Al-Bukhori meriwayatkan secara mu’allaq dari ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu bahwa beliau berkata:

«وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ»

“Kami menemukan sebaik-baik kehidupan kami adalah dengan kesabaran.” (HR. Al-Bukhori)

Waspadalah terhadap tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama “tabib (dokter) tradisional.” Saya tidak bermaksud bahwa semua tabib tradisional adalah tukang sihir, tidak. Akan tetapi, maksud saya adalah bahwa ada tukang sihir dan peramal yang muncul di hadapan manusia dengan nama pengobatan tradisional dan Arab.

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana cara membedakan antara tabib yang jujur dan tukang sihir yang pendusta?”

Jawabannya: “Dengan melihat pertanyaan-pertanyaannya. Misalnya dia menanyakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Siapa nama ibumu?’

Atau dia menyebutkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, seperti: ‘Kamu telah membunuh kucing pada tahun sekian,’ atau ‘di perutmu ada tahi lalat,’ atau ‘ambillah uang ini lalu lemparkan di tempat ini,’ atau ‘ambil ayam betina atau jantan lalu sembelihlah di tempat buang air besar,’ dan seterusnya.

Jika kamu melihatnya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penyakit, maka lari dan selamatkanlah agamamu. Karena kamu sedang berada di hadapan tukang sihir dan penipu. Selamatkan agama karena ia paling berharga.

Saya memperingatkan kalian dari beberapa majalah yang memuat ramalan bintang, seperti bintang Taurus dan yang lainnya. Mereka mengatakan: ‘Jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu beruntung,’ dan ‘jika kamu lahir di bintang anu, maka kamu celaka,’ dan seterusnya.

Ini termasuk perdukunan dan peramalan, dan itu diharomkan dalam agama Alloh. *Siapa yang meyakini kebenaran mereka dan bahwa mereka mengetahui hal ghoib secara mandiri, maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar). Adapun orang yang melihatnya tanpa membenarkannya, Sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari* , dan ini termasuk kekafiran terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ, dengan rincian dalam masalah ini.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

5 months ago | [YT] | 1

MULIA TV Sahabat Sunnah

📖 *TERJEMAH KITAB* (3)
.................................................
Judul Asli: أخطاء بعض المسلمين في توحيد الله رب العالمين
Edisi Terjemah: *Kesalahan Sebagian Muslim dalam Tauhid*
Penulis: Fadhilatus Syaikh Dr. Abdul Aziz Ar-Royyis hafizhahullahu
.................................................

*Kesalahan Ketiga: Berlebih-lebihan dalam Mengagungkan Orang-orang Sholih*

Termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ. Betapa banyak sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih di antara anak cucu Adam. Cukuplah bukti bahwa syirik pertama kali terjadi karena sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, sebagaimana telah disebutkan dalam tafsir Ibnu ‘Abbas terhadap firman Alloh Ta’ala:

﴿وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Waddan, Suwa’an, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasron.” (QS. Nuh: 23)

Di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi kita Muhammad ﷺ adalah mengklaim bahwa beliau mengetahui hal yang ghoib. Betapa banyak kaum Muslimin, seperti kelompok shufiyah dan sejenisnya, yang mengklaim bahwa Rosul kita ﷺ mengetahui hal yang ghoib. Ini adalah pendustaan yang jelas terhadap Kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya ﷺ.

Alloh berfirman kepada Nabi-Nya:

﴿وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ﴾

“Seandainya aku mengetahui hal yang ghoib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak akan ditimpa keburukan.” (QS. Al-A’rof: 188)

Penjelasan bahwa ilmu ghoib hanya milik-Nya adalah firman Alloh:

﴿وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ﴾

“Hanya di sisi-Nyalah kunci-kunci ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” (QS. Al-An’am: 59)

Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di langit dan bumi serta hal ghoib kecuali Alloh. Maka, siapa saja yang mengklaim bahwa Rosul kita Muhammad ﷺ mengetahui hal yang ghoib, sungguh dia telah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam sesuatu yang merupakan kekhususan Alloh. Maka dia telah terjerumus dalam syirik akbar (besar) yang tidak akan diampuni.

Juga di antara bentuk berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholih, termasuk Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ, adalah mengklaim bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa dan memasukkan manusia ke Jannah atau mengeluarkan mereka dari Neraka.

Ini adalah kesalahan besar. Karena syafa’at —termasuk syafa’at Rosul kita ﷺ— tidak akan terjadi kecuali setelah Alloh mengizinkan dan ridho terhadap orang yang akan diberi syafa’at. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى﴾

“Mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang yang Alloh ridhoi.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Firman-Nya:

﴿مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾

“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa dia bertanya kepada Nabi ﷺ: “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?” Beliau menjawab:

«لَقَد ظَنَنتُ يَا أَبَا هُرَيرَةَ أَلَّا يَسأَلَنِي عَن هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنكَ لِمَا رَأَيتُ مِن حِرصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَومَ القِيَامَةِ مَن قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِن قَبلِ نَفسِهِ»

“Aku sudah menduga, wahai Abu Huroiroh, tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang hadits ini sebelum kamu, karena aku melihat betapa kamu bersemangat dalam mencari hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illalloh’ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Al-Bukhori)

Disebutkan dalam Ash-Shohihain dari Abu Huroiroh, dari Nabi ﷺ:

«فَيَأتُونِي فَأَسجُدُ تَحتَ العَرشِ فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارفَعْ رَأسَكَ، وَاشفَعْ تُشَفَّعْ، وَسَل تُعْطَهْ»

“Maka mereka mendatangiku, lalu aku sujud di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berikanlah syafa’at niscaya engkau akan diberi syafa’at, dan mintalah niscaya engkau akan diberi.’” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Jadi, beliau tidak akan memberikan syafa’at kecuali setelah Alloh `Azza wa Jalla mengizinkannya. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa? Ini sama sekali bukan merendahkan beliau, tidak demi Alloh. Akan tetapi, ini adalah bentuk ketaatan terhadap perintahnya dan perintah Alloh, serta menempatkan beliau pada kedudukannya.

Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari ‘Umar:

«لَا تُطرُونِي كَمَا أَطرَتِ النَّصَارَى ابنَ مَريَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبدُهُ، فَقُولُوا: عَبدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nashoro (Nasroni) berlebih-lebihan memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: ‘Hamba Alloh dan Rosul-Nya.’” (HR. Al-Bukhori)

Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud dalam Ash-Shohihain:

«إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثلُكُم أَنسَى كَمَا تَنسَونَ»

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Beliau adalah manusia biasa. Maka, siapa saja yang berkata bahwa beliau tidak mengetahui hal ghoib dan tidak boleh berkeyakinan bahwa beliau memiliki hak untuk mengampuni dosa, memasukkan manusia ke Jannah, dan seterusnya, sesungguhnya dia hanya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

_Bersambung insyaaAllah..._

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

Semoga bermanfaat...
Barakallahu fiikum

♻️ Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan postingan yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial yang Anda miliki.

Silahkan dishare tanpa perlu izin, semoga Allahﷻ catat sebagai amal jariyah.

5 months ago | [YT] | 0