Bapak penghulu pernah berpesan, "Berusahalah agar buku nikah ini tidak kembali ke pengadilan agama sebagai tanda perpisahan, tapi kembalikanlah ke departemen agama, sebagai syarat kalian berangkat haji bersama."
Kalimat sederhana itu mengandung makna yang dalam. Buku nikah bukan hanya lembaran kertas dengan tanda tangan dan stempel resmi. Ia adalah saksi lahirnya sebuah ikatan, janji di hadapan Allah, bahwa dua insan berkomitmen untuk berjalan bersama—dalam suka dan duka.
Namun kenyataannya, banyak buku nikah yang akhirnya kembali ke pengadilan agama. Bukan untuk disyukuri, melainkan untuk disesali. Bukan untuk disimpan, melainkan untuk diputuskan.
Pesan penghulu itu seolah menjadi doa, agar setiap pasangan menjaga ikatan pernikahan dengan kesabaran, saling memahami, dan saling menutupi kekurangan. Sebab rumah tangga bukan sekadar tentang cinta yang manis di awal, tapi juga perjuangan panjang menjaga janji hingga akhir.
Bayangkan indahnya, jika suatu hari buku nikah yang kita pegang bukan berakhir di meja sidang, melainkan kita serahkan ke departemen agama—sebagai salah satu syarat untuk menunaikan ibadah haji bersama pasangan tercinta. Berangkat berdua ke tanah suci, menyempurnakan cinta di hadapan Ka’bah, dan pulang dengan gelar haji mabrur.
Itulah makna dari pesan penghulu: jagalah pernikahanmu bukan untuk diputus, tapi untuk dipelihara hingga menjadi jalan menuju surga.
---
Ya Allah, jagalah rumah tangga kami dalam naungan kasih-Mu. Satukan hati kami dalam ridha-Mu, jauhkan dari perpecahan, dan karuniakanlah kesempatan untuk menunaikan haji bersama pasangan kami tercinta. Jadikan buku nikah ini bukan tanda perpisahan, tetapi saksi perjalanan menuju surga.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
"Seindah apapun kata nasihatmu, tak akan berarti jika matamu masih mencari aib orang." بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
"…hanyalah untuk Allah — satu-satunya tujuan yang membuat semua lelah terasa indah." بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Fitri Agustini
@hijrahmuslimah21
BUKU NIKAH: JANJI SUCI YANG HARUS DIJAGA
Bapak penghulu pernah berpesan,
"Berusahalah agar buku nikah ini tidak kembali ke pengadilan agama sebagai tanda perpisahan,
tapi kembalikanlah ke departemen agama,
sebagai syarat kalian berangkat haji bersama."
Kalimat sederhana itu mengandung makna yang dalam. Buku nikah bukan hanya lembaran kertas dengan tanda tangan dan stempel resmi. Ia adalah saksi lahirnya sebuah ikatan, janji di hadapan Allah, bahwa dua insan berkomitmen untuk berjalan bersama—dalam suka dan duka.
Namun kenyataannya, banyak buku nikah yang akhirnya kembali ke pengadilan agama. Bukan untuk disyukuri, melainkan untuk disesali. Bukan untuk disimpan, melainkan untuk diputuskan.
Pesan penghulu itu seolah menjadi doa, agar setiap pasangan menjaga ikatan pernikahan dengan kesabaran, saling memahami, dan saling menutupi kekurangan. Sebab rumah tangga bukan sekadar tentang cinta yang manis di awal, tapi juga perjuangan panjang menjaga janji hingga akhir.
Bayangkan indahnya, jika suatu hari buku nikah yang kita pegang bukan berakhir di meja sidang, melainkan kita serahkan ke departemen agama—sebagai salah satu syarat untuk menunaikan ibadah haji bersama pasangan tercinta. Berangkat berdua ke tanah suci, menyempurnakan cinta di hadapan Ka’bah, dan pulang dengan gelar haji mabrur.
Itulah makna dari pesan penghulu: jagalah pernikahanmu bukan untuk diputus, tapi untuk dipelihara hingga menjadi jalan menuju surga.
---
Ya Allah, jagalah rumah tangga kami dalam naungan kasih-Mu. Satukan hati kami dalam ridha-Mu, jauhkan dari perpecahan, dan karuniakanlah kesempatan untuk menunaikan haji bersama pasangan kami tercinta. Jadikan buku nikah ini bukan tanda perpisahan, tetapi saksi perjalanan menuju surga.
QS. Ar-Rum: 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
6 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Fitri Agustini
"Kekayaan mampu menunda segalanya, kecuali waktu sholat yang terlewat"
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
7 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Fitri Agustini
"Seindah apapun kata nasihatmu, tak akan berarti jika matamu masih mencari aib orang."
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
7 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Fitri Agustini
"…hanyalah untuk Allah — satu-satunya tujuan yang membuat semua lelah terasa indah."
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
7 months ago | [YT] | 0
View 0 replies
Fitri Agustini
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
7 months ago | [YT] | 2
View 0 replies